CHAPTER 3 : Panti asuhan & Alea

969 Words
Di panti asuhan Mentari Keceriaan dari anak-anak tergambar jelas saat Aleania Arista, gadis berambut pendek dengan poni menutupi hampir seluruh dahinya, masuk ke dalam rumah itu. Suasana yang begitu hangat dengan beberapa anak yang tertawa riang. Sungguh pemandangan yang mungkin jarang ia temukan saat masih di rumah lamanya. Bandung. "Alea!" panggil seorang laki-laki berkacamata bernama Faris yang tak lain adalah adik dari ibu kandungnya. Aleania Arista, gadis 17 tahun berwajah oriental khas asia. Kulitnya putih dengan lesung di kedua pipi saat ia tersenyum. "o*******g kamu bisa datang kesini. Anak-anak disini pasti juga akan senang dengan kedatangan kamu." Ujar Om Faris mengulas senyuman. Om Faris adalah satu-satunya keluarga yang ia punya, setelah kematian mamanya 5 tahun yang lalu. Om Faris jugalah yang membiayai semua kebutuhan Alea saat di Bandung mulai dari sekolah dan juga biaya hidup selama tinggal di rumah lamanya. "Disini, ada beberapa kamar. Di atas ada tiga kamar yang digunakan untuk lima anak. Ada kamar kosong yang mungkin bisa kamu tempati selama tinggal disini. Om juga sudah membersihkannya, jadi kamu tinggal memakainya." keduanya berjalan beriringan menuju ke setiap kamar dan berhenti tepat di salah satu kamar yang sepertinya kosong Alea hanya membalas setiap ucapannya dengan senyuman. Tanpa suara. Sesekali ia menatap tempat itu, mungkin terlihat asing harus mulai membiasakan dengan kehidupan baru di Jakarta. Sekolah baru, teman baru, akan lebih sulit saat ia bersekolah nanti. Mungkin. "Om yang mengurus panti ini sendirian?" tanya Alea akhirnya bersuara. "Yah, begitulah. Bagi Om tempat ini adalah peninggalan dari istri Om sebelum meninggal." "Oh ya, nanti Om akan kenalin kamu sama anak-anak sini satu persatu." Alea mengangguk setuju. "Anggap saja ini rumah kamu sendiri. Dan jangan sungkan pada Om. Mama kamu sudah menitipkan kamu untuk Om rawat, jadi semoga kamu betah disini. Kalau perlu apa-apa kamu bisa minta sama Om." "Terimakasih Om." hanya guratan senyum tipis yang terukir dari bibir gadis itu. Alea mulai memasukkan koper yang ia bawa ke kamarnya. Nuansa kamar yang ditempati sangat ceria. Mungkin ini hasil dari tangan-tangan anak panti disini. Di dinding juga bergambar bunga matahari dan beberapa origami burung kertas yang menggantung. Kamar yang ia tempati berhadapan langsung dengan halaman belakang dimana anak-anak saat ini tengah bermain bersama. Keceriaan mereka mengingatkan akan dirinya saat kecil. Sebelum ibunya meninggal. ... "Kak Lea... Kita main yuk!" ajak seorang anak kecil berkuncir dua menariknya menuju ke ayunan di taman itu. "Kak Lea... Main petak umpet yuk!" ajak anak lain yang tidak kalah cerewetnya. "Iya kak... Ayo main petak umpet.",rengek anak yang kini membawa boneka tedy bear. Tarik ulur anak-anak itu sedikit membuat Alea pusing. Ternyata diluar dari perkiraannya, anak-anak jauh lebih agresif dan hiperaktif. "Iya... Iya... Kakak akan ikut kalian main. Tapi ada satu syaratnya!" pinta Alea menunduk mensejajarkan kepala dengan anak-anak di depannya. "Jangan jauh-jauh ngumpetnya. Mengerti!" "HOREE!!" suara sorakan menggema dari anak-anak yang begitu antusias. Alea hanya tersenyum. Kehidupan barunya mungkin akan lebih menyenangkan dengan hadirnya anak-anak disini. Pikirnya. Selagi anak-anak berlarian mencari tempat persembunyian, Alea yang kedapatan untuk berjaga mulai menghitung. "1...2...3...4..." Suara cekikilan anak-anak terdengar sambil membungkam mulut dengan tangannya saat mereka bersembunyi. "5...6...7...8...9...10..." Biarkan hari ini jiwa anak-anak yang mengikutinya. Selesai menghitung Alea mulai membuka mata dan mencari anak-anak yang saat ini bersembunyi. "James... Rika...Peter... ke mana kalian?" Alea berkeliling di sekitar tempat itu. Berhubung panti asuhan tersebut terletak di dekat bukit. Akan sangat sulit mencari kalau anak-anak itu berlarian menuju ke bukit--tapi Alea sudah memperingatkan sebelumnya untuk tidak bersembunyi di tempat yang jauh. "Kemana kalian...." "Mungkin kak Lea harus cari lebih teliti..." Suara gesekan semak dedaunan mengalihkan pandangan tepat ke suara itu. Alea tersenyum. Yah, sebentar lagi pasti ia akan menemukan anak-anak yang tengah bersembunyi. Sementara itu di lain tempat, Avelo dengan membawa sepeda mini nya diiringi anak-anak tengah bersiap-siap melakukan pertandingan. "Ehh... Kalian semua. Jangan nangis kalau kakak bakal ngalahin kalian adu sepeda." celetuk Avelo begitu percaya diri. "Kita juga nggak akan kalah dengan Kak Velo" ujar salah satu anak penuh percaya diri. "Siap!!" Dengan aba-aba, sepeda itu menuruni perbukitan yang mengharuskan mereka melewati turunan yang sedikit terjal. Avelo nampak bersemangat sambil berteriak girang. "Wooooo...." layaknya anak kecil yang sedang belajar bersepeda. Itulah ibarat dari Avelo saat ini. Tanpa disadari karena saking asyiknya. Sepeda yang ditumpangi Avelo hilang kendali-dan pada akhirnya ia terperosok jatuh ke bawah dengan sedikit berguling-gulingan. "Kak Avelo!!" teriak anak-anak cemas. Avelo meringis mendapati luka di kedua sikunya. "Kakak nggak papa... Kalian tenang aja!" Avelo nyengir sambil menunjukkan jempol kanannya. Avelo mulai bangkit dan berdiri. Untung saja ia jatuh tidak terlalu dalam--dan beruntung ia hanya mendapat lecet. "James...Arin... Rika!!" suara seorang gadis mengintrupsinya, Avelo yang saat ini jatuh, melihat ada sebuah panti asuhan di depannya. Pandangannya teralihkan pada sosok gadis berlesung pipi manis itu. "Cantik!" "Kak Avelo... Baik-baik aja kan?" Avelo tersenyum. Beruntung ia membawa handphone di saku celananya, ada sedikit goresan di layar handphone itu--mungkin karena jatuh tadi. Beruntung benda itu masih menyala. Klik... Satu jepretan terfokus pada gadis itu dari samping. "Kak Avelo nggak papa?" teriak anak- anak dari atas mencemaskannya. "Sstttt!" desis Avelo memperingatkan anak-anak itu untuk berhenti memanggilnya. "Lo semua pergi aja!" bisik Avelo pada anak-anak itu. Tanpa sadar, Avelo yang kini bisa berdiri lagi diam-diam mulai bersembunyi dari balik semak-semak sambil sesekali menatap gadis yang tengah mencari sesuatu. Meong... "WAAAHH!!"teriak Avelo saat seekor kucing putih mendekatinya. "Minggir lo... Minggir...hush hush!!" Meong... "Pergi nggak lo!" Avelo sangat geli saat kucing itu justru mendekat. "Waaahhh!!!" "Siapa di sana?" Glup. Avelo membungkam mulutnya, ia mengambil satu ranting pohon untuk mengusir kucing itu pergi. "Siapa di sana?" "James... Rika?" "Hush..hush...!!" Avelo masih berusaha mengusir kucing itu pergi. Alea menatap curiga dengan semak-semak di depan yang terus bergerak. Mungkinkah ada orang disana? Atau anak-anak panti yang bersembunyi? "James!!" "Siapa disana?" panggil Alea lagi. Ia semakin penasaran. "Ku-kucing!" Avelo bersuara. "BWAAAAA!!!" karena saking tak tahan, Avelo menampakan diri tepat di depan Alea. Keduanya sama-sama terkejut. "Kamu siapa?" teriak Alea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD