Sebuah mobil berhenti di salah satu perusahaan besar milik keluarga Vernandes dengan nama WG group yang kini dipimpin oleh Direktur utama Exelio Arjuan Vernandes.
Kedatangannya di kantor langsung disambut oleh sekretaris pribadinya Gisa Anastasia yang sudah dipercayai sejak lama.
Exel masuk dengan didampingi client dari perusahaan yang hari ini akan menandatangani kontrak kerjasama.
"Selamat pagi tuan Exel!" sapa Gisa menyapa sembari mengikuti langkah Exel menuju ruangannya.
Kedatangan di kantor cukup membuat para karyawan kagum. Exel termasuk laki-laki idaman yang dimimpikan banyak karyawan terutama perempuan yang menaruh hati padanya--tapi sayang ia sudah memiliki istri.
Namun tak hayal pesona Exel selalu membuat karyawannya kagum. Mereka hanya bisa sekedar menyapa sambil tersenyum saat Exel lewat di depan mereka.
"Selamat pagi pak Exel!"
Exel hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman. Yah, walau terkadang sikapnya ketus.
"Selamat pagi pak Exel!" sapaan demi sapaan selalu diterimanya, Exel tahu mereka memiliki maksud lain dari sapaan yang selalu dilontarkan setiap pagi.
Gisa yang berjalan beriringan dengan Exel nampak sibuk dengan berkas yang ada di tangannya sambil sesekali mengecek jadwal dari atasannya.
"Rapat akan diadakan 30 menit lagi pak Exel. Apa pak Exel memerlukan sesuatu?"
Exel mengecek jam yang bertengkar di tangan kanannya yang menunjuk pukul 09.00. "Tidak perlu Gisa."
Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju ke lantai tempat kerja Exel tentunya.
Ting...
Lift berhenti tepat di lantai yang dituju. Exel melangkah menuju ke ruangannya. Tak hanya di bawah waktu ia masuk ke kantor tadi, disini pun beberapa karyawan menyapanya setiap kali berpapasan, dan Exel hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman.
"Pak Exel ini jadwal bapak setelah rapat nanti. Ada pertemuan dengan client di restoran jam satu nanti... Dan nanti sore, pertemuan dengan salah satu direktur di perusahaan Axila Group," jelas Gisa sembari memilah berkas-berkas dan beberapa dokumen yang akan ditandatangi oleh Exel.
"Atur semua Gisa!"
"Baik pak Exel."
Suara ketokan terdengar dari luar, Albert masuk dengan sedikit tergesa-gesa.
"Selamat pagi Tuan!" sapa Albert.
"Ada apa Albert, kenapa kamu sangat panik hari ini. Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.
"Begini Tuan, tadi ada telepon dari sekolah...."
"Anak itu berulah lagi?" potong Exel menebak.
"Tuan muda Avelo melakukan pengeroyokan dengan salah satu temannya, dan saat ini dia berada di ruang BK." jelas Albert.
"Lakukan seperti biasa, pergilah ke sekolah untuk menggantikan saya."
"Tapi Tuan... Alangkah lebih baik kalau tuan yang datang ke sekolah." sela Albert.
"Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Lakukan seperti biasa." perintah Exel.
Albert tertunduk dengan ucapan Exel.
"Baik tuan!"
Selepas kepergian Albert dari ruangannya, Exel menghela napas panjang sembari menyandarkan punggung di kursi meja kerjanya, sesekali ia memijat pelipisnya yang pusing memikirkan salah satu anaknya selalu berulah di sekolah.
"Anak itu..."
*
Dan kini kembali ke tempat dimana Exel berada, setelah perdebatan panjang dengan Guru BK tadi, Avelo hanya bisa menerima hukuman. Bukan berarti dia anak dari penyumbang dana terbesar di sekolahnya, Avelo dengan gampang lepas dari hukuman. Avelo tetap harus menjalankan hukuman lari keliling lapangan sekolah sebanyak 20 kali, dan ditambah ia harus membereskan buku-buku sepulang sekolah bersama anggota pengurus perpustakaan.
Namun kali ini Avelo memilih berada di balkon atap sekolah sambil tertidur di sana. Tempat yang sepi dan tenang. Tenang saja, hukuman lari keliling lapangan 20 kali sudah ia kerjakan dan waktunya untuk mengistirahatkan tubuh sambil mendengarkan musik di headset yang terpasang di kedua telinganya.
Suara semilir angin membuatnya menutup mata sejenak. Nyaman, itulah yang dirasakan saat ini.
.....
Sementara itu di tempat lain, Alfa sang ketua OSIS di sekolah Season Star mulai memimpin rapat anggota OSIS dengan sangat bijaksana. Banyak anggota OSIS lain terpuaskan dengan kepemimpinan Alfa. Ia juga sosok murid yang juga dibanggakan di sekolah.
"Baiklah, rapat hari ini cukup , kita akan lanjutkan minggu depan dengan agenda yang sama..." ujar Alfa mengakhiri rapat hari ini.
Semua langsung berhamburan keluar dari ruangan OSIS. Berbeda dengan Alfa yang masih harus menyusun berkas proposal yang ada di meja.
"Gue bantuin ya Fa." sahut salah satu teman perempuan berkacamata bernama Adista.
Saat keduanya masih menyusun berkah di atas meja, seorang laki-laki teman sekelasnya datang dengan sedikit terburu-buru.
"Gawat Fa...gawat!!"
Laki-laki bertumbuh kurus itu masuk ke ruangan OSIS sambil mengatur napas setelah berlarian.
"Kenapa Dan?" tanya Alfa pada salah satu teman kelasnya bernama Danu.
"Itu Fa...Si Velo... Dia....dia ..." Danu seakan kesulitan dengan napas terengah-engah.
"Kenapa Velo?"
"Itu Velo... Dia ada di lapangan basket..."
"Ngomong yang jelas!" keluh Alfa.
"Dia... Dikeroyok sama anak kelas 3C. Senior kita..."
Alfa mendengus kesal. Avelo pasti berulah lagi. Segera Alfa mulai berlari menuju ke lapangan tempat Avelo dikeroyok.
Dan benar saja, Avelo dikeroyok tiga laki-laki bertubuh gempal yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri yang terkenal brandalan. Banyak murid yang menyaksikan perkelahian mereka namun tak ada satupun yang berani untuk melerai mereka.
Para murid seakan ngeri melihat pemandangan di depan mereka, Avelo mendapat luka yang cukup parah di sudut bibir dan matanya.
"Banyak bacot lo, lain kali kalau lo mau deketin pacar gue lagi, gue habisin lo hari ini..." bentak salah satu kakak kelas bernama Joni.
Avelo hanya terkekeh mendengar pengakuan dari Joni yang mengatakan mendekati pacarnya-- adanya juga pacarnya si Miranda yang deketin dia.
"Cih! gue nggak pernah deketin pacar lo, adanya cewek lo yang deketin
gue. " bantah Avelo.
"b******k!!"
Joni kembali melayangkan pukulan di wajah laki-laki di hadapannya, namun beruntung terdengar suara peluit panjang yang diketahui dari Guru olahraga datang melerai mereka.
"Apa-apaan ini... Kalian mau jadi preman? Avelo... Joni berhenti kalian!" bentak Guru olahraga itu sembari berkacak pinggang. Wajah beringasnya cukup mampu membuat murid-murid yang lain lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Keduanya langsung berhenti dan saling menunduk. Alfa datang bersama Danu, nampak dari kejauhan melihat Guru olahraga sudah melerai keduanya.
"Velo!" ucapnya terengah-engah setelah berlarian.
Terlihat Avelo dan Joni mendapat teguran dari Guru mereka. Suasananya yang tadi ramai kini perlahan sepi setelah beberapa murid kembali ke kelas masing-masing.
Setelah mendapat teguran dari Guru olahraga yang akhirnya melepas mereka untuk kembali ke kelas. Dari jauh Alfa nampak begitu khawatir melihat Avelo.
"Velo!"panggil Alfa pelan saat Avelo berjalan ke arahnya.
Namun bukannya menjawab, justru tatapan cuek ia perlihatkan pada Alfa. Ia dengan santai melewatinya.
"Lo lagi marahan ya sama Velo?" tanya Danu menatap keduanya bergantian.
Tak ada jawaban dari Alfa, ia masih menatap punggung Avelo dari kejauhan.
*
Sepulang sekolah, Alfa dan Avelo pulang bersama dengan sopir yang selalu menjemput mereka setiap hari.
Keduanya memasuki perumahan mewah keluarga Vernandes. Avelo langsung melempar tas ke sembarang arah berbeda dengan Alfa yang langsung duduk untuk menaruh tas dengan hati-hati.
Dua jus jeruk telah disiapkan pelayan untuk keduanya di meja. Langsung saja Avelo menyerobot gelas dan langsung meneguknya dengan cepat.
"Mama mana bik?" tanya Avelo setelah menaruh gelas kembali di meja.
"Nyonya ada di dapur tuan!" jawabnya.
Segera, Avelo berjalan menuju ke dapur menemui Mamanya yang saat ini tengah memasak disana.
Langsung saja Avelo memeluk pinggang mamanya dengan manja.
"Wah... Kayaknya enak tuh!!"
"Velo, kamu sudah pulang?" Kejut Sharen mendapat pelukan tiba-tiba.
"Udah dong Mah..." Sharen mulai memutar tubuhnya menghadap tubuh Avelo lebih jelas.
"AVELO... apa-apaan ini, wajah kamu. Kenapa bisa luka-luka gini?" tanya Sharen terlihat sangat khawatir.
"Biasa Mah, laki-laki kan harus kuat."
"Kamu berantem lagi? Jawab
Mama..." bentak Sharen tegas.
"Enggak..."
"Kamu jangan bohong Velo, tadi pak Albert ke sekolah karena kamu berulah lagi. Iyakan?"
Avelo langsung tergugup sembari menundukkan wajah ke arah lain.
"Ini lagi... Udah diobati belum... Nanti bisa infeksi..." tak sengaja Sharen menekan luka Avelo dan sontak saja membuatnya memekik kesakitan.
"Aduhh... Mahh... Sakit!!"
Alfa yang berada di belakang hanya tersenyum simpul. Selalu pemandangan ini yang terlihat setiap hari. Keluarga harmonis yang selalu membuatnya tersenyum.
"Alfa... Sini kamu!!" panggil Sharen melihat satu lagi anaknya tersenyum dari belakang.
Satu tarikan memutar dilakukan pada telinga anaknya yang satu ini hingga Alfa meringis kesakitan.
"Aduh mah, ampun..." Alfa meringis kesakitan.
"Kenapa kamu membiarkan Velo berupa lagi..." omel Sharen gemas pada kedua anaknya.
Sontak saja Avelo tertawa puas melihat Alfa diomeli Sharen dengan menjewer telinganya.
"Ini lagi...mau ikut-ikutan juga, huh?" Sharen menarik telinga Avelo kemudian, hingga ia memekik kesakitan dengan jeweran pedas Sharen.
"Ampun Mah...iya maafin Velo!"
"Velo memang susah diatur Mah, Alfa udah ngasih tahu sebelumnya!"bela Alfa.
"Enak aja lo, ngadu sama Mama..."
"Avelo!!" Sharen semakin kuat dengan jeweran di telinga Avelo hingga membuatnya berteriak lebih kencang.
"Iyaa mah... Ampunn sakit!!" rintih Avelo.
Sharen mulai mengontrol emosinya melihat kedua anaknya terutama Avelo yang susah diatur. Kini ia melepas jeweran di kuping keduanya.
Mungkin akan menimbulkan bekas kemerahan nantinya.
Masing-masing memegang telinga yang sudah memerah karena jeweran tadi.
"Mamah sadis banget sama anak sendiri!"celetuk Avelo sembari mengelus telinganya yang masih terasa nyeri.
"Ini karena kamu susah diatur!" tukas Sharen.
"Sekarang masuk ke kamar kalian, ganti pakaian lalu makan siang!" suruh Sharen.
"Siap kapten!" seru Avelo meringis.
Keduanya segera keluar dari dapur menuju ke kamar yang berada di atas.
Belum sempat mereka keluar dari ujung pintu, Sharen lebih dulu memanggilnya. "Alfa, nanti Mama mau bicara sama kamu!" .
Avelo yang berada di sampingnya mengernyit heran dan bertanya-tanya kenapa hanya Alfa yang dipanggil?
"Iya mah!"
Avelo memang penasaran, namun ia tak terlalu mempersoalkan itu. Mungkin memang sesuatu yang penting dan itu bukan urusannya.
Di rumah, Avelo dan Alfa memang nampak seperti saudara yang terlihat akrab satu sama lain saat di hadapan Sharen tentunya. Namun di luar itu semua, kadang di sekolah--keduanya bahkan lebih cuek. Bukan tanpa alasan kenapa Avelo sangat menentang kehadiran Alfa di keluarga mereka.
Dulunya saat Sharen pertama kali mengenalkan Alfa menjadi saudaranya, Avelo langsung tak menerimanya. Kehadiran Alfa seakan telah menggeser posisinya sebagai anak tunggal di keluarga Vernandes.
Sharen bahkan lebih menyayangi Alfa dari pada dirinya. Walau berulang kali Sharen menjawab kalau Alfa dan dirinya berbeda.
Apanya yang berbeda...
Justru dia yang berbeda, masuk ke keluarga ini dan mengambil semua kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Namun seiring berjalan waktu, Avelo mulai menerima kehadiran Alfa menjadi bagian di keluarganya. Walau ia tak pernah memanggil sebutan Kakak untuknya.
Hanya satu alasan yang masih membuat Avelo bingung, apa karena keluarga Alfa sudah tiada, Sharen mengangkat Alfa sebagai anaknya, atau sesuatu yang lain...
Entahlah ...
Memikirkan siapa Alfa dan asal usulnya justru membuatnya pusing.
***
Di sebuah panti asuhan Mentari seorang gadis turun dengan membawa koper besar dan berjalan masuk ke pekarangan panti yang nampak sepi.
Gadis berambut pendek sebahu dengan Syal melilit di lehernya berdiri tepat di pintu depan panti asuhan itu sembari mengetuk pintu.
"Alea!!"gadis itu menoleh saat seseorang memanggilnya dari samping.