"Kamu kenal dengan Avelo?"
❤❤❤
Tangan Alea beralih menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinga, ia tampak canggung, "Yah, beberapa kali, kami bertemu saat di panti asuhan," ujarnya.
"Panti asuhan?"
Baik Alfa dan Calvin saling memandang bergiliran—tak percaya, Velo pergi ke panti asuhan.
"Apa Velo sekolah di sini juga?" tanya balik Alea.
Alfa mengangguk.
"Benarkah, dia sekolah di sini?" Entah kenapa mendengar Velo satu sekolah dengannya membuat Alea justru senang.
"Kenapa kamu kelihatan seneng banget soal Avelo?" Calvin menatap curiga.
Wajah Alea sontak malu. "Ah, enggak kok."
"Tunggu...tunggu, apa kamu memiliki hubungan khusus dengan Avelo?" lanjut Calvin semakin curiga.
Merasa dicurigai membuat Alea bersemu merah. Ia menampik semua ucapan laki-laki itu. "B-bukan kok, kami hanya temenan."
"Velo pergi ke panti asuhan? Kenapa dia nggak pernah cerita sama gue?" Kini giliran Alfa yang penasaran.
Calvin mendekati Alfa, dan berbisik." Fa, kayaknya nih cewek punya hubungan khusus deh sama Velo."
"Jangan bercanda, Nggak mungkinlah!"
"Tapi dia kenal sama Velo."
Alfa memperingatkan Calvin untuk tak terlalu membicarakan Alea di depannya.
"Oh ya Lea, aku kayaknya nggak bisa lanjutin nemenin kamu keliling sekolah. Aku ada urusan lain," ucapnya.
Alea hanya mengangguk, ia sangat berterimakasih dengan Alfa. "Nggak papa kok, aku bisa jalan-jalan sendiri."
"Aku duluan ya!" Alfa pun segera pergi meninggalkan keduanya yang masih berdiri.
"Selalu aja kalau urusan Velo, Alfa nggak pernah absen buat khawatir." Calvin menggelengkan kepala sembari menyilangkan kedua tangan di d**a.
Alea melirik pada Calvin saat ia membicarakan Alfa dan Velo. "Memang Alfa itu siapanya Velo?" Alea bersuara.
"Kakaknya Velo," jawabnya.
"Oh, kakak ya?" Mendengar namaa Kakak membuat Alea seketika terdiam.
***
Di kantor kepolisian.
Sepeninggalan Exel, kini Velo harus mendekam selama semalaman di penjara. Ia menyayangkan sikap ayahnya yang begitu keras dan pilih kasih padanya.
Alfa, selalu Alfa yang lebih penting dari gue. Semua tentang Alfa. Memang apa hebatnya si Alfa itu? Arghhh...
Avelo yang masih kesal hanya bisa pasrah sendirian di balik jeruji, kekesalannya semakin menjadi dan ia lampiaskan ke tembok di depannya.
"Alfa, gue benci sama lo!"
Ceklek, seseorang tiba-tiba membuka pintu. Terlihat seorang anggota kepolisian menghampirinya. "Avelo, kamu bebas sekarang!"
"Bebas?" Ia melirik ke arah luar. Pak Albert ada di depan. Velo berdecak kesal.
"Maaf Tuan Velo. Saya mendapat perintah Tuan untuk membebaskan Anda!"
"Papa? " Avelo tiba-tiba tertawa, " dia barusan menjebloskan saya ke penjara, dan tiba-tiba dia berubah pikiran?"
"Mohon maaf Tuan Velo."
"Terserah." Avelo pun akhirnya keluar dari penjara setelah Albert membayar kompensasinya.
Di dalam mobil, Velo masih terlihat kesal. " Tuan muda baik-baik saja?" tanya Albert.
"Ya, " jawab pendek Avelo.
"Mohon Tuan Velo jangan berburuk sangka dengan ayah Tuan. Sebenarnya Tuan sangat menyayangi Tuan Velo," kata Albert.
"Jangan mencoba menghiburku Albert. Aku sedang tak ingin membicarakan orang itu." Avelo tak bersemangat sekarang, ia lebih memilih menatap ke luar jendela untuk mengalihkan pembicaraan.
Aahh, Avelo menghela napas panjang. Ia juga menyayangkan kejadian tadi pagi saat perkelahian dengan Nick. Sebenarnya sudah lama keduanya bersitegang. Nick adalah ketua geng di sekolah Elios. Sudah hampir dua tahunan mereka selalu jadi musuh.
Drttt, suara ponsel di jaket mengejutkannya, ia mengambil untuk mengetahui siapa yang menelponnya siang ini.
......
Halo
Hai Velo, ini gue Nick
Brengsek lo. Ngapain lo nelpon gue?
Urusan kita belum selesai.
Lo jebak gue tadi?
Mana gue tahu kalau polisi
tiba-tiba datang,
tapi gue yakin elo pasti udah bebas sekarang.
Apa mau lo?
Temui gue nanti malam
Lo cari masalah sama gue?
Urusan kita belum selesai Velo. Inget itu. Temui gue di tempat biasa.
.......
Tut tut tut...
Nick memutus sambungan telepon sepihak.
"Tuan baik-baik saja?" Albert sejak tadi menyimak pembicaraan Velo dari dalam telepon.
"Yah." Velo bersikap seolah baik-baik saja.
***
Sepulang sekolah.
Alfa bergegas masuk ke rumah dan langsung terburu-buru mencari keberadaaan Avelo.
"Alfa, kamu sudah balik sayang?" Sharen menyambutnya.
"Velo di mana Ma?"
"Velo ada di kamar," jawab Sharen terlihat bingung. Tanpa basa-basi ia langsung naik ke atas menuju ke kamarnya.
Brak,pintu terbuka dan mendapati Velo tengah tiduran di sofa sambil membaca komik kesukaannya.
"Vel"
Velo tak menghiraukan Alfa yang masuk ke kamarnya tanpa izin. Ia tetap fokus dengan bacaan.
"Vel, lo baik-baik aja?"
"Hmm." deheman Velo menandakan ia malas berdebat dengan saudaranya itu.
"Gue denger elo tawuran lagi?"
"Iya."
"Kenapa lo selalu cari masalah Vel?"
Malas menanggapi, ia mengambil komik yang lain dan kembali membacanya.
"Velo!" Alfa geram.
"Apaan sih Fa?" gerutu Velo agak kesal.
"Lo tadi nggak masuk sekolah, dan kata Calvin lo tawuran sama anak Elios sampai masuk penjara kan?"
"Kalau udah tahu, ngapain nanya?" Velo kesal.
"Lo ngapain masih berurusan sama Nick?" tanya Alfa lagi.
Mendengar nama Nick kembali disebut membuat Velo geram, ia lalu menutup komik dan langsung bangkit dari sofa—berhadapan dengan Alfa.
"Ngapain lo tanya gue? Tanya aja sama mantan Sahabat lo itu!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Velo memilih menghindar dan keluar dari kamarnya meninggalkan Alfa yang masih terdiam di tempat.
Sementara itu di tempat lain, Exel terlihat tak konsen dengan pekerjaanya kali ini, beberapa kali ia terlihat melamun dan membuat Gisa, asisten pribadinya khawatir.
"Tuan baik-baik saja, sepertinya Tuan sedang banyak pikiran. Apa perlu saya buatkan sesuatu?" tawarnya.
"Tidak perlu Gisa. Saya hanya sedikit lelah."
"Lebih baik Tuan segera pulang dan istirahat," nasihatnya.
"Kamu benar, saya terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini."
Exel kembali mengingat kejadian tadi saat ia dengan kasarnya menampar anaknya Velo. Exel menatap tangan kanan yang ia gunakan untuk menampar Velo. Ia menyayangkan sikapnya yang terlalu berlebihan anaknya itu.
***
"Velo!" panggil Alfa melempar bola basket ke arah Velo yang terdiam di belakang rumah, dengan sigap Velo menangkapnya.
"Mau main basket?" tawarnya tiba-tiba.
Awalnya Velo tak merespon, ia kembali melempar bola itu pada Alfa dan memilih menghindar tanpa suara.
"3 tembakan, gue akan masukin 3 tembakan hari ini, kita taruhan," seru Alfa membuat Velo terhenti. Alfa kembali melempar bola itu pada Velo.
"Lo yakin?"
"Kali ini gue yang akan menang." Alfa sangat percaya diri.
Merasa tertantang,Velo pun mengambil bola basket itu. Ia mulai mendribel pelan bola itu dan maju mendekati Alfa.
"Lo lupa siapa gue?" Avelo mulai mengulas senyum, melupakan kejadian tadi pagi dan soal Alfa.
"Lo juga lupa siapa gue dulu?" Alfa tak mau kalah, ia mulai menerima senyuman saudaranya itu.
Sangat mudah membujuk Velo di situasi seperti. Ia tahu Avelo hanya sedikit kesal dengan kejadian tadi, dan mungkin tentang Ayah mereka, walau Alfa tak tahu kejadian yang dialami saat di kantor kepolisian tadi, tapi bagi Alfa saling diaman diantara saudara justru membuatnya kesal—apalagi ini soal Velo. Walau sikapnya yang bisa dibilang menjengkelkan itu, tapi melihat Velo yang kesal atau marah padanya membuat hati Alfa tak tenang.
Walau keduanya sering terlihat cekcok dan adu mulut, terutama di sekolah, tapi saat di rumah, mereka tak hayal layaknya saudara, kakak-adik. Avelo yang kadang manja dengan Alfa, begitu juga dengan Alfa yang selalu tertawa dengan kekonyolan Avelo. Dan sekarang, seperti tak memiliki masalah, keduanya justru berbaikan dengan cara yang sederhana.
Basket—itu yang menyatukan mereka.
"Vel, tadi di sekolah, ada murid baru," kata Alfa saat keduanya selesai bermain basket dan berhenti.
"Murid baru? Siapa?" Avelo mengambil botol air mineral dan meneguknya cepat.
"Dia bilang, dia kenal sama lo!" Sontak Velo langsung menoleh pada Alfa— terkejut.
"Kenal gue?"