Chapter 12 : Basket

1037 Words
"Murid baru? Siapa?" Avelo mengambil botol air mineral dan meneguknya cepat. "Dia bilang, dia kenal sama lo!" Sontak Velo langsung menoleh pada Alfa— terkejut. "Kenal gue?" *** Avelo menaikkan sebelah alis bingung, ia penasaran dengan orang yang mengaku mengenalnya— tunggu, bukannya ini hal biasa, banyak orang mengenalnya karena dia populer bukan? Tiba-tiba ketertarikan akan orang yang mengenal dirinya ditanggapi dengan gelak tawa lebar. "Hahaha, jelaslah orang semua kenal gue, mungkin salah satu fans gue," dengan pedenya Avelo menjawab. Alfa hanya terkekeh menatap saudaranya yang penuh percaya diri itu. "Lo kepedean." "Ya jelas dong, harus malah," Avelo menyangkal. Tin...tin... Klason mobil terdengar dari arah gerbang depan sampai ketelinga Avelo dan Alfa. Bisa dipastikan mobil itu milik ayahnya yang baru saja pulang. "Papa tumben sudah pulang?"tanya Alfa. Avelo langsung bangkit, ia mengambil bola basket dan mulai mendribelnya kembali. Ia bermain sendiri. *** "Di mana anak-anak?"tanya Exel yang baru saja datang dan disambut hangat Sharen yang membantu melepas jas hitam miliknya. "Ada di belakang, mungkin sedang bermain basket bersama, ada apa?" tanya Sharen dengan nada ingin tahu, tak seperti biasanya Exel langsung mencari anak-anak setelah pulang kerja. "Aku ingin berbicara dengan Velo," ungkapnya. Sharen langsung paham, "tentang kejadian tadi pagi, Exel kamu terlalu keras dengannya. Kamu juga tahu gimana sifat Velo selama ini." "Aku tahu, karena itu aku pulang cepat." Sharen mengulas senyum tipis, dibalik sifat keras Exel ia sangat mencintai putranya itu. "Cepatlah berbaikan, aku nggak mau, dua jagoan di rumah ini saling bermusuhan," canda Sharen. Exel terkekeh, setelah mencium dahi istrinya Exel segera beranjak menuju ke belakang rumah, tempat dimana Velo dan Alfa sedang bermain. Kedatangan Exel langsung dilihat Alfa yang tengah duduk setelah puas bermain dengan Velo. Sementara Velo—ia ta menyadari kedatangan ayahnya itu. Exel mengisyaratkan Alfa untuk tak mengeluarkan suara terlebih dahulu sampai Exel mendekati Velo yang tengah sibuk memasukkan bola dari arah jauh. "Yes!" Velo bersorak senang saat berhasil memasukkan three point dari keseluruhan bola yang berhasil dimasukkannya. Saat Velo berbalik, sontak ia dikejutkan dengan kedatangan ayahnya yang sudah berdiri di belakangnya. "Papa!" "Permainanmu masih sangat lemah Velo!" ejek Exel memulai. Avelo menaikkan alis menatap kesal kedatangan ayahnya," oh ya? Papa tahu apa soal permainan basket?" Exel menghela nafas panjang, ia lalu berjalan sembari menggulung lengan kemejanya jadi seperempat tak lupa dasi yang melilit di lehernya ia kendorkan. Exel lalu mengambil satu bola basket dan langsung memasukkan ke dalam ring dalam sekali lompatan—masuk. Alfa yang melihat takjub dengan keahlian ayahnya yang ternyata jago bermain basket. Velo berdecak kesal, ayahnya pasti sedang menguji kemampuannya. "Apanya yang keren, hanya satu tembakan, aku sudah memasukkan bola lebih dari sepuluh. Lebih jago mana?" Velo seakan menantang ayahnya. "Mau bukti?" Exel mulai terpancing. "5 tembakan, kalau papa bisa memasukkan 5 bola, Velo bisa akui." "Baiklah, ayo!" Priiit, belum sempat Avelo dan Exel memulai, suara peluit panjang menahan mereka untuk tak memulai. Sharen berjalan dengan peluit yang menghantung di lehernya, ia juga sudah berganti dengan kaos santai dan rambut yang sudah dikuncir ke belakang. "Mau bermain sendiri nih? Alfa, kamu di tim mama." Alfa langsung bangkit dan penuh semangat. "Tentu!" "Sayang?!" Exel tak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya saat ini. "Dua lawan dua, imbang bukan?" ucap Sharen. Avelo menoleh ke samping ayahnya. "Dua lawan dua? Maksud mama?" Exel menerima tawaran Sharen, "siapa takut, ayo Velo kita kalahkan mereka!" Posisi berubah, kini tak lagi antara pertandingan Exel dan Velo, melainkan satu keluarga karena Sharen dan Alfa ikut di dalamnya. Exel melempar senyum pada Alfa, tak disangka rencana mereka berhasil. "Siapa takut!" Velo pun mulai ancang-ancang dengan formasi baru. Sharen memang tak terlalu jago dalam basket, tapi Alfa cukup pintar kalau hanya melawan mereka berdua. Priit, Albert kini jadi wasit diantara mereka. Setelah ia meniup peluit, pertandingan antr keluarga pun berlangsung. "Alfa tangkap!" Sharen melempar bola itu pada Alfa dan dengan gerakan cepat, Alfa langsung melempar bola tepat sasaran ke ring basket. Dua poin untuk Alfa-Sharen. "Mama curang, ini kan baru mulai," Velo kesal. "Eits, Velo. Pertandingan tetap pertandingan. Mama sama Alfa mendapatkan poin. Iyakan Albert?" seru Sharen berteriak ke arah Albert sebagai wasit di luar lapangan. "Benar Nyonya!" Sahut Albert. Sharen tersenyum penuh kemenangan. Velo berdecam kesal. "Baiklah, pah. Ayo kita cetak poin yang banyak dan kalahkan mereka," seru Avelo mulai bersemangat. Satu demi satu dari mereka bergantian mendapatkan poin. Namun tetap saja Alfa dan Sharen lebih unggul. Bagaimana bisa?? Begini kejadiannya .... Diluar rencana awal, Sharen memang tak jago dalam hal bermain basket, bahkan dibanding Exel dan Velo, mereka sangat jago. Akan tetapi siasat Sharen untuk menjatuhkan mereka agar tak mendapatkan poin selalu berhasil. Ketika Sharen membawa bola basket dan Exel menghadangnya, Sharen selalu menunjukkan seringai seperti ancaman untuk Exel agar mengalah padanya. Dan tentu saja, mendapat seringai tajam dari istrinya membuat Exel ciut dan membiarkan Sharen melewatinya. Exel bisa saja dengan mudah mengambil bola dari tangan Sharen—sangat mudah. Tetapi berhadapan dengan Sharen hanya akan meruntuhkan nyalinya. Ia mengalah. "Papa bisa nggak sih mainnya? Kita kalah nih!" Gerutu Exel kesal. "Yeaaah, kita berhasil unggul Alfa!" Kedua anak dan ibu itu saling 'tos' tanda kemenangan dengan skor 15 -10. Tim Sharen-Alfa unggul 5 angka. "Velo, lawan kita itu Mama. Bagaimana bisa Papa lawan mama?" ungkap Exel terlihat ngos-ngosan—lelah. "Papa lemah!" Pertandingan kembali dilanjut, dan tersisa 5 menit waktu pertandingan. Arghh, langkah Alfa terhenti saat merasakan sakit di dadanya. Ia limbung menatap orang di sekeliling menjadi kabur. Berusaha kuat, Alfa mengatur nafas untuk terus bertahan. Perlahan ia bisa mengontrol dirinya dan tak lagi merasakan sakit di dadanya. "Yeaaahh, kita menang!" Sharen bersorak senang ketika peluit dibunyikan. Poin masih tetap sama. 15-10. Tim Sharen dan Alfa menang. "Papa sih!" geram Exel kesal. Sharen tersenyum pada Exel. "Terima kasih sayang," ucap Sharen. "Fa!" panggil Velo menghampirinya. "Alfa, kita menang!" Seru Sharen dari kejauhan. Sementara Alfa hanya tersenyum. Rencana berhasil untuk menyatukan Velo dan ayahnya. "Untuk merayakan kemenangan ini. Hari inj kita akan makan besar!" Seru Sharen. "Yeaaahh!!" Avelo bersorak senang. *** Bruk, seorang gadis kuncir kuda terjun dari atas pagar dan mendarat ke bawah dengan sempurna. Ia terlihat sangat gembira bisa kabur dari orang-orang yang mengejarnya. "Kalian nggak bisa kejar, weeek!" Gadis itu segera berlari menjauh meninggalkan orang-orang yang mengejarnya. "Jangan lari kamu, gadis sialan!" "Sial, kita kehilangan dia. Cepat telepon bos!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD