58

1073 Words

(Tidak juga, sudah kubilang aku ingin menikmati waktu,) balasku dengan senyum miring. Kuletakkan kembali ponsel di atas permukaan meja kayu. Kunikmati sarapanku dengan pemandangan kebun teh dan danau yang tenang. Embun masih membasahi kelopak daun teh dan bunga Camelia tapi sikap Mas Alvin seakan membakar suasana. "Ah, kenapa pula dia harus menelponku." Sambil menyobek lembaran roti dan menikmatinya dengan sesendok madu asli. Manisnya madu sayangnya tak semanis hidupku, aku harus menghadapi nasib yang getir dan berlembar lembar luka akibat perbuatan suami sendiri. Harusnya, setelah menikah, kami torehkan tinta emas dalam buku perjalanan hidup dan cinta kami, tapi sayang, buku itu terbakar bahkan sebelum setengah bab cerita berjalan. Semuanya hancur oleh pengkhianatan. Dan bodohnya aku,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD