"Apa maksudmu?"Tanyaku ketus. Aku menatap Kara tajam.
"Chill. Aku kan cuma ngasih tahu, kalau papamu ada sembunyiin sesuatu,"jawab Kara.
"Ya sesuatu itu apa?"Tanyaku lagi. Ini anak bikin penasaran aja. Kara mengangkat bahunya.
"Ya. Ada deh sesuatu, yang kamu dan keluarga gak tahu. Mungkin gak boleh tau juga,"jawab Kara. "Kenapa kamu gak tanya ke papamu saja langsung?"Tanya Kara. "Yah kalau beliau mau menjawabnya sih,"lanjut Kara.
"Apa itu .. rahasia besar?"Tanyaku. Kara mendekatkan wajahnya.
"Jika bukan, untuk apa beliau merahasiakannya seperti itu?"Tanya Kara balik. Ah ya, benar juga. Tapi apa rahasia itu?
"Oh ya, sekali lagi aku tanya, bener papamu kerja di Hello Tech?"Tanya Kara lagi.
"Ya. Kayak yang papa bilang kemarin,"jawabku. "Memang ada apa sih?"Tanyaku lagi.
"Aku gak bisa beritahu. Lebih baik kamu tahu dari papamu,"jelas Kara. "Atau biarkan waktu yang memberitahu semuanya."
Kara mendekatkan wajahnya. Ia menatapku lamat-lamat. "Tunggu saja, kau pasti akan sulit percaya dengan apa yang terjadi."
Aku menolak badan Kara. Kara menahan badannya agar tidak jatuh limbung karena aku menolaknya terlalu kencang. Aku kembali duduk dan membuka tablet. Kubuka playlist lagu, memasang earphone di telinga, dan tidur. Masih ada setengah jam. Lumayan untuk tidur, daripada harus meladenin ocehan Kara.
****
Sepanjang pelajaran, aku tidak konsentrasi. Memang terkadang aku suka bosan di tengah pelajaran, tapi ini bukan begitu. Aku tidak konsentrasi sepenuhnya. Pikiranku melayang ke perkataan Kara tadi. Masih bertanya-tanya apa maksud Kara tadi.
Papa punya rahasia apa? Yah, aku yakin sih semua orang punya rahasia, keluargaku pun begitu. Aku bukan tipe orang yang kepo dengan rahasia orang lain, kalau mereka tidak mau menceritakannya ya sudah. Tapi kali ini aku sangat penasaran.
Kenapa Kara bisa tahu rahasia papa? Darimana dia tahu rahasia itu? Apa Kara dekat dengan papa? Tapi kayaknya itu tidak mungkin sih. Setauku, papa tidak dekat dengan anak muda sebayaku. Papa tidak bisa mengobrol dengan anak muda, topiknya terlalu susah di mengerti. Mana ada anak muda jaman sekarang yang mau di ajak bahas politik dan teknologi? Oh oke kalau masalah teknologi sih generasi jaman sekarang pada melek, nah kalau politik? Haduh, mana sampai pula pengetahuan kami ke sana.
“Althea Miranda Putri,”panggil bu Siska. Aku tidak merespon. Bu Siska berdehem. “Althea Miranda Putri,”panggil bu Siska sekali lagi. Kara menendang bangku dari belakang. Aku menoleh dengan tatapan kesal.
“Di panggil itu,”bisik Kara sambil menunjuk ke depan.
“Althea Miranda Putri,”panggil bu Siska untuk ketiga kalinya.
“Iya bu,”jawabku kaget.
“Coba kamu tandain, sampai mana tadi ibu bawain materinya?”Tanya bu Siska. Aku menatap tabletku. Aku gelagapan, bingung karena sedari tadi hanya termenung memikirkan perkataan Kara tadi dan tidak memperhatikan pelajaran sama sekali.
“Sampai mana tadi ibu bawain materinya? Hm?”Tanya bu Siska lagi. Aku menelan ludah, mencoba menerka- nerka sampai mana tadi bu Siska menjelaskan.
“Kara, coba kamu! Baca sampai mana ibu jelaskan materinya tadi,”perintah bu Siska pada Kara. Kara berdiri sambil memegang tabletnya.
“… But when we nearly arrived, there was a long traffic jam so we hardly to get into the beach…” Kara membacakan sepenggalan kalimat yang ada di dalam paragraf cerita. Bu Siska mangut- mangut.
“Bagus. Silakan duduk Kara,”pinta bu Siska. Kara duduk kembali ke tempatnya. Bu Siska menatapku. “Althea, karena kamu tidak memperhatikan pelajaran ibu, maka nilai kamu ibu kurangi, -5. Lain kali kalau kamu ulangi lagi akan ibu kurangi lagi. Mengerti?” Aku melongo sesaat mendengarnya, tapi aku tidak bisa membantahnya. Aku hanya bisa mengangguk.
“Iya buk,”jawabku. Duh, apes banget. Padahal untuk dapat nilai dengan bu Siska sendiri susah luar biasa, dan ini malah di kurangin, -5 pula. Dia harus berusaha sekuat tenaga untuk meraih hati bu Siska hingga rela memberinya nilai tinggi, untuk menutupi pengurangan nilainya. Bisa di omelin dia dengan mama kalau sampai nilai Bahasa Inggrisnya turun. Mama pasti mengomel, “ibunya dulu ngajar Bahasa Inggris kok nilai Bahasa Inggris anaknya jelek.”
Aku mencari sampai mana materi yang di jelaskan bu Siska. Aku konsentrasi memperhatikan penjelasan bu Siska, berusaha melupakan perkataan Kara tadi. Ah sudahlah, paling Kara hanya becanda. Kan dia begitu, memang suka menganggunya dari awal dia tiba di sini.
Akhirnya pelajaran bu Siska selesai juga. Bel tanda pergantian pelajaran berdering kencang. Bu Siska menaruh tablet ke dalam tasnya dan pergi keluar kelas.
“Kalian jangan lupa belajar, minggu depan kita akan ulangan lisan. Persiapkan diri kalian baik- baik,”pinta bu Siska sebelum keluar dari kelas.
“Bu, ujian lisannya tentang apa?”Tanya Gerald.
“Semuanya yang kalian pelajari. Intinya persiapkan saja diri kalian. Belajar saja,”jawab bu Siska, lalu pergi keluar kelas. Ah, bu Siska selalu begitu. Kalau ujian lisan, pasti soal ujiannya sering tidak terduga. Kadang sedikit melenceng dari yang kami pelajari. Beliau sangat susah untuk di tebak.
Gerald berdiri di depan kelas. Ia mengetuk papan tulis beberapa kali. Papan tulis ini jarang di gunakan untuk menulis, biasanya para guru menggunakannya sebagai pengganti layar proyektor.
“Perhatian teman- teman! Aku ada sedikit pengumuman ini!”ujar Gerald. Tak ada yang memperdulikan. Semua sibuk berceloteh dengan yang lainnya. Geram, Gerald menggebrak meja guru.
“WOI! DENGER DULU SINI!”Teriak Gerald terdengar kencang. Seisi kelas terdiam dan menatap Gerald. Gerald berdehem, lalu mengeluarkan tabletnya.
“Jadi teman- teman, barusan bu Frida chat aku, katanya tugas tulis tangan yang beliau kasih kemarin itu harus segera di kumpulkan sebelum jam 10 pagi ini,”ujar Gerald di depan kelas. “… yang terlambat kumpul aka nada pengurangan nilai, -10 kata ibu,”lanjut Gerald. Kami sekelas tersentak kaget. “… dan yang halamannya kurang, tulisannya tidak rapi, terlalu banyak spasi juga akan di kurangi,”lanjut Gerald. Gerald geleng- geleng kepala. “Edan sih, kurang nilainya gak nanggung,”komentar Gerald.
“Kamu udah kumpul tugasnya?”Tanyaku pada Sheila. Sheila mengangguk sambil mengemut permen lollipop.
“Lah kapan? Kok aku gak tau?”Tanyaku heran.
“Tadi pagi, aku langsung kumpul. Tadinya mau ajak kamu, eh kamunya malah tidur,”jawab Sheila. Aku melirik jam di tanganku. Sudah hampir jam 10! Bu Frida termasuk guru yang on time, apalagi untuk masalah tugas. Terlambat mengumpulkan semenit saja sudah tidak beliau terima.
“Waduh!”Gumamku. Buru- buru aku mengambil tugas di dalam tas dan pergi keluar kelas.
“Eh, Teh! Aku nitip kumpulin tugasnya ya.” Karina memberikan lembar tugasnya padaku.
“Tapi aku ..” Belum juga aku selesai bicara, Karina sudah pergi.
“Ah, sialan!” Aku langsung lari keluar kelas secepat mungkin, menghindari orang- orang yang nitip tugas seperti Karina.
****
Agaknya hari ini aku apes. Setelah tadi dapat pengurangan nilai dari bu Siska, hampir saja aku mendapat pengurangan nilai juga dari bu Frida. Aku tiba di ruang guru yang jaraknya dari kelas itu ujung barat ke ujung selatan tepat di jam 10.05. Aku masuk lewat pintu belakang dan mengendap menaruh lembar tugas di atas meja bu Frida. Untung saja bu Frida sedang tidak ada di ruangan. Tapi tetap saja aku apes karena ketahuan menggunakan sepeda listrik di lorong sekolah tadi. Tentu saja itu aku lakukan agar bisa tiba di ruang guru lebih cepat. Mang Jajang, janitor sekolah memarahiku dan menyuruhku untuk membersihkan bekas roda sepeda yang menempel di lantai, jika tidak beliau akan memberitahu pak Aqsha untuk menyita sepedaku. Dengan berat hati aku melakukannya.
Aku bersyukur aku tiba di kelas sebelum guru masuk. Aku terduduk lemas di bangku dengan baju yang sudah penuh keringat.
“Lama amat Teh, dari ruang guru doang,”ujar Sheila.
“Kena apesnya aku,”jawabku.
“Telat kumpulnya?”Tanya Sheila.
“Ya, gitu. Untungnya gak ketahuan bu Frida sih, kalau engga ya bakal double apesnya,”jawabku.
“Terus apesnya kenapa?”Tanya Sheila lagi.
“Apesnya di suruh pel lorong sekolah, karena aku naik sepeda di sana. Kalo engga mang Jajang nanti lapor pak Aqsha, suruh sita sepedaku sebulan,”jelasku. Sheila menatapku dengan tatapan tak percaya, lalu mengeleng- gelengkan kepalanya.
“Memang ajaib ya kamu. Ada aja tingkahnya,”gumamnya.
“Ya gimana ya, kan biar gak telat gitu loh Shei,”ujarku. Sheila mengangguk.
“Iya deh iya. Gak kaget lagi aku mah sama tingkahmu,”jawab Sheila. Sheila menyodorkan botol minuman padaku. “Nih buat yang capek kerja bakti tadi,”ujar Sheila. Aku mendengus mendengarnya dan menerima botol minuman itu.
“Thanks,”ujarku. Aku meminumnya hingga habis tak bersisa dalam sekejap. Ah, segar banget rasanya. Aku membuang botol minuman itu ke tong sampah plastik. Oh tentu saja, zaman sekarang tong sampah sudah di pisah sesuai dengan jenisnya. Setelah melakukan pelatihan dan penjelasan bertahun- tahun, akhirnya semua penduduk mulai patuh akan aturan membuang sampah. Hal ini sudah berlaku sejak 16 tahun lalu. Jadi lingkungan sekitar sudah lebih bersih dan asri tanpa adanya sampah yang berserakan dimana- mana.
Sheila sibuk dengan tabletnya. Entah apa yang sedang ia lakukan di sana. Ia tampak begitu serius mengerjakan sesuatu. Mungkin mempelajari pelajaran selanjutnya, kan Sheila begitu. Selalu siap sedia. Sifat perfeksionisnya kadang sedikit mengangguku, tapi terkadang aku merasa sedikit terbantu juga.
“Agaknya ini bukan hari yang apes lagi deh,”gumam Sheila. Aku mengernyitkan alis.
“Maksudmu?”Tanyaku bingung. Belum juga Sheila menjawab, terdengar suara seseorang mengetuk mic di speaker kelas.
“Ehem, selamat siang anak- anak. Ada sedikit pengumuman dari saya. Karena adanya acara yang di haruskan seluruh guru hadir di Kantor Kementrian Dinas Pendidikan dan Budaya, maka hari ini kalian semua akan di pulangkan pukul 12 siang. Saat ini guru- guru sedang rapat. Harap jangan ada yang ribut, tetap di kelas, jangan pergi ke kantin apalagi bolos pulang duluan.” Pengumuman yang amat santai itu di sampaikan oleh Pak Gangga, salah satu guru muda yang terkenal supel dan tampan di kalangan siswi. Beliau guru olahraga idaman setiap siswi dan membuat iri semua siswa karena badannya yang sangat bagus. Para murid sering menjodohkan pak Gangga dengan bu Frida. Tapi sayang, yang namanya jodoh memang ada di tangan Tuhan. Belum lama ini pak Gangga mengumumkan kalau beliau sudah bertunangan dengan salah satu juniornya semasa di perkuliahan. Kabarnya, calon pak Gangga ini guru dari sekolah lain yang tak kalah cantik dengan bu Frida.
Pengumuman yang di berikan pak Gangga sontak membuat sekelas bersorak kegirangan. Jelas ini sangat jarang terjadi, mengingat sekolah ini menerapkan sistem full day dimana kami selalu pulang jam 4 sore.
“Ingat, siapapun yang membuat keributan ataupun keluar dari kelas, akan mendapatkan penambahan poin sikap 30 point. Perlu di ingat anak- anak bapak sekalian,”lanjut pak Gangga di speaker. Sekelas langsung diam hening.
“Gini aja, kalian boleh ribut, tapi jangan sampai terdengar sampai keluar. Jangan ada yang teriak- teriak, pokoknya jangan sampai mancing guru datang kemari. Gimana?”usul Gerald. Sekelas setuju dengan usulan Gerald.
“Dan tidak ada yang boleh keluar kelas!”Lanjut Gerald. “Aku udah aktifin ini, fitur baru. Kalau keluar harus kasih ID dulu! Jadi jangan ada yang keluar ya kawan- kawanku sekalian.” Gerald menunjukkan ID-nya. Selalu ada privilege untuk ketua kelas. Setiap ketua kelas di sekolah ini akan di berikan tablet yang berbeda dengan anak lain. Tablet mereka di lengkapi dengan fitur- fitur yang bisa di gunakan untuk mencatat siapa saja yang membuat bandel di dalam kelas. Tidak hanya ketua kelas, semua siswa yang memilik jabatan pun begitu. Tentu dengan fitur yang berbeda. Karena itu, seleksi untuk menjadi pemilik jabatan di sekolah sangat ketat. Untuk menjadi ketua kelas saja, kamu harus berturut- turut memegang rangking 3 besar tanpa adanya penurunan sekali pun dan juga harus berhasil mencari hati guru. Gerald berhasil menjadi ketua kelas karena pencapainnya sebagai anak dengan rangking tertinggi seangkatan.
“Cih, Gerald gak seru banget! Dahal aku mau ke kantin, pengen makan mie ayam mpok Narmi,”gerutuku.
“Jangan deh Teh. Gerald mah nanti bakal ngadu. Kalau dia catat namamu di tabletnya berabe deh,”jawab Sheila. Iya, tablet ketua kelas terhubung langsung dengan milik wali kelas, sehingga nama siapa saja yang ia catat akan langsung terkirim ke wali kelas.
“Masih untung sih ini Gerald kasih izin kita ribut, biasanya juga dia kan kaku gitu. Gak bisa denger ribut dikit,”lanjut Sheila. Aku mangut- mangut. Benar juga, biasanya Gerald tidak bisa dengar suasana bising.
“Beni! Tedi! Turun kalian! Ngapain kalian di atas meja bawa sapu segala?!”Perintah Gerald. Beni dan Tedi yang tadinya main perang- perangan dengan sapu pun terhenti.
“Kalila! Karina! Jangan cekikian begitu, nanti terdengar sampai keluar!” Gerald memperingat Karina dan Kalila yang asik cekikian di tempatnya. Mereka berhenti tertawa dan menatap Gerald.
“Kenapa sih Ger? Kan kami cuma ketawa doang elah. Kagak keluar kelas juga,”protes Kalila. Karin mengangguk setuju, di ikuti dengan Beni dan Tedi.
“Eh Beni Tedi gak usah sok setuju. Kalian itu salah tau, mainin sapu kelas. Memangnya kalian anak SD?!”Protes Gerald balik.
“Baru juga di bilangin ..”bisik Sheila.
“Ya biasalah, namanya juga Gerald,”ujarku. Aku memakai earphone dan mengambil tablet pribadiku. Tadinya aku ingin lanjut menonton film yang belum selesai aku tonton, tapi aku membatalkan niatku. Nenek baru saja mengirim foto ke Qwily, salah satu sosial media yang digunakan untuk chatting. Nenek mengirimkan foto martabak telur yang lengkap dengan kuah cuka dan acar di atasnya.
“Nenek buatin ini buat kamu. Teh kapan pulang? Nanti Sheila ke rumah juga nggak? Pulang nanti jangan keluyuran ya, langsung pulang. Kalau engga martabaknya nenek habisin.”
Begitu isi pesan dari nenek. Aku tersenyum kecil membacanya. Nenek memang paling tau makanan favoritku. Aku membalas pesan nenek.
“Iya nek. Teh hari ini pulang cepat, nanti jam 12 Teh udah pulang. Jangan nenek habisin, Teh mau!”
“Shei, nanti pulang ke rumah mau gak? Nenek buatin martabak telur,”ajakku. Sheila mengangguk.
“Boleh. Nanti aku request sama nenek martabak manis mau gak ya nenek?”Tanya Sheila.
“Ya maulah! Kamu kan udah kayak cucu nenek juga,”jawabku. Aku segera mengirimkan chat tambahan kepada nenek.
“Nek Sheila mau martabak manis juga katanya nek.”
“Eh eh Shei, kamu udah nonton film ini belum?”Tanyaku sambil menunjukkan tabletku. Sheila melihat tabletku dan mengeleng pelan.
“Nonton yuk! Daripada bosen,"ajakku.
“Boleh deh, yuk.”
****
Akhirnya jam 12 tiba. Kami semua berbondong- bondong keluar kelas sambil berteriak kegirangan. Sungguh, ini sangat jarang terjadi. Aku pergi ke parkiran untuk mengambil sepedaku bersama Sheila. Baru saja kami tiba di parkiran, mobil Tesla berwarna abu- abu menyalakan klaksonnya. Jendela mobil terbuka dan tampaklah nenek di sana. Aku dan Sheila tampak kaget.
“Lah nenek?”Tanya kami terkejut. Kami menghampiri nenek. “Nenek ngapain di sini?”Tanyaku.
“Ya nenek kan mau jemput cucu- cucu nenek,”jawab nenek sambil mengelus pelan kepala kami. “Daripada panas- panasan naik sepeda kan. Ayok naik,”pinta nenek. Aku langsung melipat sepedaku menjadi tas. Sheila tampak terbengong sesaat. Sepeda Sheila memang sepeda lipat, tapi model lama. Tidak bisa di jadikan tentengan tas.
“Shei sepedanya taruh di bagasi aja,”usulku.
“Oh iya ya.” Sheila melipat sepedanya. Nenek membuka pintu garasi. Sheila memasukkan sepeda di garasi dan masuk ke dalam mobil. Sheila duduk di kursi belakang, sedangkan aku duduk di kursi depan.
“Jangan lupa seat belt.” Nenek memperingatkan. Kami memakai seat belt. Mobil pun melaju meninggalkan halaman sekolah.
“Nek, nenek beneran sengaja jemput kami?”Tanyaku.
“Engga sih, tadinya sekalian. Tadi nenek belanja buat masak martabak manis, Sheila mau kan martabak manis?”Tana nenek. Sheila menatapku dengan tatapan curiga. Aku nyengir lebar.
“Eh, iya nek. Kalau gak repotin nenek,”jawab Sheila.
“Nenek tadi udah selesai buat martabak manisnya. Sheila mampir dulu ya ke rumah,”pinta nenek. Sheila mengangguk.
“Jadi sekarang nenek keluar cuma mau jemput kami aja?”Tanyaku lagi.
“Enggak sih, nenek keluar karena mau ambil obat. Itu, papamu beliin nenek obat sama temennya. Sekalian aja nenek ambil, toh nenek juga bosen di rumah. Mamamu sibuk kerja mulu, belum ada keluar dari ruangannya,”cerita nenek panjang lebar.
“Biasa deh mama memang gitu,”gumamku.
“Loh nenek sakit? Sakit apa nek?”Tanya Sheila khawatir. Nenek tertawa kecil.
“Oh engga, nenek sehat kok. Kalau gak mana mungkin nenek nih bawa mobil sekarang,”jawab nenek. “Yah nenek aktifin auto pilot sih,”lanjut nenek.
“Nenek sehat kok Shei. Cuma minum vitamin aja kok,”jelasku. “Tapi nek, kenapa gak beli vitaminnya di apotek? Kenapa harus perantara lewat teman papa?”Tanyaku penasaran.
“Oh, itu. Vitaminnya gak ada di jual di apotek. Dia vitaminnya itu belinya pakai kartu member gitu deh, jadi kemaren itu papa daftarin nenek jadi member. Kalau bukan member bisa sih beli vitaminnya, tapi mahal deh gitu kata papamu,”jawab nenek.
“Kok gitu nek?”Tanyaku lagi.
“Karena vitaminnya bagus, bahan- bahannya kualitas langka gitu deh katanya. Makanya gak di sebar luas ke apotek. Tapi udah lulus BPOM kok,”jawab nenek. “Kalau vitaminnya gak bagus, ya mana mungkin kan nenek sehat. Harusnya nenek sekarang sakit kan, jadi gak jemput kalian dong?”
“Hem, ya juga sih ya nek.”
****