“Yah, walau papamu mungkin menurutmu kadang nyebelin, tapi ya tetap aja orangtua kudu di hormati. Udahlah, bodo amat ajalah sama kata si Kara itu,” ujar Sheila memperingatkan.
“Ya gak salah sih memang Shei. Ah udahlah, papa mah gak mungkin ya macam- macam. Papa mah bukan orang yang bakal nyari masalah begitu, ya kan?” tanyaku berusaha meyakinkan diri. Sheila mengangguk.
“Oh ya ini kita jadinya belajar daring dong ya? Online dong?” tanya Sheila. Aku mengangkat bahu.
“Memang iya ya? Udah di konfirmasi sama pihak sekolah?” tanyaku balik.
“Entah deh ya. Biasanya sih jadi online gak sih kalau lagi kondisi begini,” jawab Sheila sedikit ragu.
“Udah kayak 20 tahun lalu aja sih, belajarnya online,” ujarku.
“Mengulang masa- masa mama kita dulu dong ya jadinya,” timpal Sheila. “Tapi gak kebayang sih bakal gimana kalau daring,” gumam Sheila.
“Ya kayak biasa gak sih. Kayak kita video call begini kan?” tanyaku.
“Ya tapi masa cuma berdua doang? Kan gak mungkin. Toh muridnya banyak. Mana sekarang pada pakai hologram. Bayangkan betapa pusingnya guru kita handle sebanyak itu,” ujar Sheila.
“Ya juga sih ya Shei …” gumamku. Ya ampun, pasti bakalan bingung banget deh liat hologram murid berjejer di depannya. Berasa di demo kali ya. Belum lagi ada masalah signal yang bikin hologramnya hilang timbul. Aku gak bisa ngebayangin deh.
“Aku yakin sih kemungkinan besar tuh kita bakalan gak sekolah. Lusa kan udah selesai ya Nyepian Mahkota, tapi semuanya masih tutup. Ya kan? Pada tutup semua kan?” tanya Sheila. Aku mengangguk.
“Iya. Tadi aku mau ke bioskop aja gak jadi. Padahal nenek dapat premium card,” jawabku.
“Wih gila kok bisa? Enak banget dong bisa masuk bioskop kapan aja gratis!” tanya Sheila kagum.
“Gatau deh si nenek. Memang nenek orang yang beruntung, ada aja sih yang dia bisa dapat,” jawabku.
“Dih kalau bioskop buka aku ikutan kamu deh nonton di bioskop. Kapan lagi dapat kursi premium dan cemilannya juga ambil sesuka hati secara gratis!” ujar Sheila.
“Iya, nanti aku ajak kamu,” timpalku.
“Eh Teh, kalau kita gak jadi sekolah ya enak dong kamu,” ujar Sheila. Aku mengernyitkan alis.
“Maksudnya enak gimana nih?” tanyaku bingung.
“Jadi bebas kan dengan hukuman pak Arya!” jawab Sheila, lalu dia tertawa kecil.
“Iya juga sih ya. Ya ampun, aku lupa kalau masih ada hutang hukuman dengan pak Arya ini,” ujarku. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa ya?
“Enak juga kamu bisa gak ketemu dengan Kara! Ya kan?” tanya Sheila. Yah, Sheila tidak salah memang. Benar banget malah.
“Iya sih gak salah. Bener lu! Syukurlah, duh seneng banget aku akhirnya gak ketemu sama si nyebelin Kara! Tapi kalau ketemu sih gak apa,” jawabku.
“Gak apa gimana?” tanya Sheila.
“Gak apa buat di pukul!” jawabku. “Minta di pukul mulu emang bawaan itu anak!” gerutuku. Aku mengepalkan tangan dan memukul telapak tangan satunya. “Kalau ketemu sini, by one kita. Terus kita hantam- hantaman di sana, yang kalah yang mati duluan,” lanjutku. Sheila tertawa kecil mendengarnya.
“Emang deh kamu barbar banget,” komentar Sheila. Terdengar suara anak kecil dari sana. Ah, pasti salah satu dari adik Sheila. Sheila membuka pintu dan tampaklah Nakula dengan rambutnya yang kriwil. Sheila menggendong adiknya dan kembali ke layar mr. communicator.
“Hai Kula!” sapaku ramah sambil melambaikan tangan. Nakula membalas lambaian tanganku. Duh, gemas. Sekarang sih lagi gemas, belum liat nanti kalau lagi nyebelin. Pasti sangat luas biasa sesuatu sekali.
“Duh Teh kayaknya udahan dulu ya. Ini Kula gatau kenapa deh nemplok mulu kayak rewel,” pamit Sheila.
“Oalah okelah,” ujarku. Sheila baru saja mendekatkan layar mencoba mencari tombol untuk mematikan video call di tengah adiknya yang semakin rewel. “Oh ya btw Shei …” Sheila menoleh ke arahku.
“Kenapa Teh?” tanyanya.
“Bunda kamu kerja gak?” tanyaku.
“Enggak. Bunda di rumah aja tuh. Katanya sih pelan- pelan bunda udah mulai kerja di rumah,” jawab Sheila. “Ih adek tunggu bentar!” gerutu Sheila pada adiknya.
“Loh bunda kerja dari rumah? Kok papa malah ke kantor?” tanyaku bingung. Sheila mengangkat bahunya.
“Mungkin karena papamu udah jadi atasan, jadi kayak harus ready siap di kantor gitu,” jawab Sheila asal. “Hanya dugaan, tapi aku gak tahu juga,” lanjut Sheila.
“Bisa jadi sih ya,” gumamku. Alasan yang sedikit masuk akal, setidaknya begitu. Nakula semakin rewel di ujung sana. Dia terus memberontak saat Sheila memeluknya.
“Ya ampun, duh dek Kula. Udahan dulu ya Teh. Lagi riweuh nih si Kula. Kula Kula …” panggil Sheila sambil menunjuk ke arahku. Nakula menoleh. Ia melihat ke arah yang di tunjuk. “Pamit dulu sama kak Teh,” pinta Sheila. Sheila melambaikan tangannya ke kamera. Nakula mengikutinya.
“Dadah kak Teh. Hati-hati di jalan ya,” ujar Nakula pamit. Aku tertawa kecil.
“Lah kok hati- hati di jalan sih?” tanya Sheila. Aku tertawa kecil. Nakula yang di tanya hanya menjawabnya dengan nyengir lebar.
“Iya, kakak bakal hati- hati kok. Babay Kula, nanti kapan- kapan kita main lagi ya!” Aku melambaikan tangan ke kamera.
“Iya dadah kak Teh!”
****
Aku merebahkan diri di kasur. Ya ampun, aku amat sangat bosan dan malas hari ini. Aku tiduran sambil memakan keripik kentang. Tidak baik, jangan di tiru ya. Tapi aku suka secara tidak sadar malah melakukan itu. Aku menatap kosong langit- langit kamar. Duh, bosen banget deh. Enaknya ngapain ya?
Aku menggulingkan badanku di atas kasur. Putar ke dua arah dari kanan ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Ya ampun, aku bosan. Ini kalau berguling di atas kasur apa udah termasuk olahraga ya? Kan kita gerakin tubuh, tidak kaku kayak kanebo kering. Aku melirik ke sekitar sambil mulut tetap mengunyah cemilan yang ada.
Saat itulah, sebuah chat masuk ke Quirk. Malas, aku mengambilnya sambil menggulingkan badan ke arah kanan dan mengambil mr. communicator yang terletak di meja dekat lampu tidur. Aku membuak chat yang masuk. Lagi, dari sebuah kontak yang tidak kukenal. Belum sempat aku membuka pesan itu, ada sebuah telpon masuk dari nomor asing. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ya ampun, jujur aku paling takut untuk angkat nomor asing yang langsung menelpon seperti ini.
“Ya, halo?” sapaku berusaha ramah.
“Hallo. Selamat siang. Ini benar nomornya Althea?” tanya seseorang di ujung sana.
“Iya benar. Ini siapa ya?” tanyaku balik.
“Oh ya. Ini saya, Althea. Pak Arya, guru kamu,” jawab seseorang di ujung sana. Aku menelan ludah. Sialan. Kenapa bisa pak Arya menelponku.
“Oh iya ada apa ya pak menelpon saya?” tanyaku berusaha kalem. Ini guru darimana sih tau kontak Quirk aku? Apa dia bongkar data siswa di sekolah demi bisa nemuin kontak Quirk aku? Heran deh.
“Saya mau membahas soal hukuman kamu dan temanmu si Kara tempo hari …” jawab pak Arya. “Jadi seperti yang kamu tahu kita lagi gak di kondisi aman. Semuanya tutup kan, sekolah juga bakal tutup sementara kok,” lanjut pak Arya. Ya ampun, aku harus rasain senang duluan apa sedih dulu sih?
“Sekolah di tutup sampai kapan pak?” tanyaku basa- basi. Berharap pak Arya lupa soal hukuman itu.
“Belum ada konfirmasi lebih lanjut juga. Katanya semingguan ini sekolah bakal tutup dulu,” jawab pak Arya. “Ah ya soal hukuman kamu …” Aku menelan ludah. Pak, kenapa sih harus terpotong gitu ngomongnya?
“Hukuman khusus kamu. Tulis tangan ya. Surat permintaan maaf. Harus rapi dan nanti kumpul ke bapak. Kamu scan dulu sebelum kamu kumpulin. Oh ya, minimal 2 halam portofolio ya,” lanjut pak Arya. Aku melongo.
“Pak kenapa harus tulis tangan?” tanyaku.
“Mau minimalnya jadi 10 halama?” tanya pak Arya mengancam. Aku langsung terdiam dan mengeleng.
“Enggak pak. Enggak. Baik pak saya kerjakan segera ya,” jawabku.
****