“Iya ya, mama bakar aja deh. Kita bakar di halaman belakang ya,”ajak mama. Aku mengangguk. Aku pergi ke dapur untuk mengambil mancis. Mama dan nenek pergi ke halaman belakang. Mama menyapu halaman yang penuh dengan daun kering dan mengumpulkannya di satu tempat.. Mama menaruh kotak paket dan mengeluarkan semua isinya di atas tumpukan daun kering. Setelah semua isinya keluar, mama melempar kotak paket ke sana.
“Kamu yakin ini bukan dari Dion? Mungkin Dion lupa,” tanya nenek tidak yakin.
“Hem … mungkin ya ..” gumam mama. “Apa aku tanya lagi ke mas Dion ya ma ..”
“Nggak,” sanggahku. “Nggak, itu bukan dari papa. Papa gak mungkin lupa. Papa bukan orang yang pelupa,” lanjutku.
“Tapi nak, nenek kasian loh ini banyak banget isinya,” ujar nenek.
“Banyak, tapi ini bisa aja barang berbahaya nek! Gimana kalau isinya obat terlarang dan nanti kita yang di tangkap polisi? Mau bilang apa kita? Mana kita gak tau dari siapa ini paket!” sanggahku lagi. “Udah deh kalau mama sama nenek gamau bakar. Biar Teh bakar aja.”
Aku mengambil secarik kertas. Aku menyalakan mancis dan membakar kertas itu. Sebelum kertas itu habis terbakar, aku langsung melemparnya ke tumpukan daun kering. Aku mengais tumpukan daun bakar agar lebih cepat terbakar. Tak lupa aku menambahkan sedikit minyak tanah. Api semakin membesar, begitu pula asap yang mengepul.
“Woi kebakaran dimana itu?!” tanya seseorang dari ujung sana. Kami menoleh. Pak Fuad, tetangga sebelah keluar dari rumahnya dengan tampang panik. Ia keluar hanya memakai singlet putih dan sarung, serta seember air.
“Mana kebakarannya bu mana?” tanya pak Fuad pada mama panik.
“Anu pak … bukan kebakaran kok pak. Saya lagi bakar sampah daun kering …” jawab mama. Pak Fuad terdiam kaku. Ia melirik ke tumpukan sampah daun kering yang terbakar. Pak Fuad bernapas lega dan mengelus dadanya.
“Ya ampun. Saya kaget banget tadi, tadi saya kirain ada kebakaran dimana,” ujar pak Fuad. Ia mengambil kembali ember air yang tadi nyaris saya ia ceburkan ke asal tempat. “Ya sudah, saya masuk dulu. Tapi hati- hati ya bu, apinya di perhatikan. Itu apinya agak besar untuk bakar sampah daun kering doang.” Pak Fuad mengingatkan. Beliau kembali masuk ke dalam rumahnya.
“Kamu sih Teh, semangat banget tuang minyak tanahnya!” gerutu mama sambil menyenggolku.
“Ya maap ma, kirain sikit tadi,” ujarku ngeles. Biar aja deh kebanyakan, asal itu paket terkutuk cepet kebakar! gumamku dalam hati.
“Kayaknya udah kebakar semua deh,” gumam nenek sambil mengais sampah kering yang perlahan sudah menjadi abu. Aku mencoba sedikit mendekat.
“Belum nek, itu ada yang belum kebakar,” ujarku. Aku mengambil dahan kayu dan mencoba mendorong botol obat ke arah api. Aku memperhatikan api dengan seksama. Kotak paket dan botol- botol obat multivitamin itu ikut terbakar bersamaan dengan tumpukan daun kering yang ada.
Selamat tinggal paket terkutuk!
****
Akhirnya api berhasil padam setelah menunggu selama beberapa saat. Kami tetap stay di luar untuk memperhatikan api agar tidak merembet ke tempat lain. Aku menutup pintu kamar dan menghela napas lega. Paket itu telah habis terbakar tak bersisa sedikit pun. Kuharap tidak ada lagi kejadian seperti itu lagi nanti.
Aku baru saja ingin bersantai dengan rebahan di kasur sambil menonton film, tapi sebuah notif yang masuk ke Quirk menghentikannya. Sebuah chat masuk dari ... Kara. Ya, aku memang tidak menyimpan kontak Quirk dia, tapi aku yakin dari isi chatnya ini sudah pasti Kara.
Gimana? Senang gak dengan paketnya? Jangan di buang dong kan aku jadi sedih ….
Sialan! Aku hendak membalas chat itu, tapi terhenti karena sebuah telpon masuk dari nomor yang sama.
“Ha …” Belum juga Kara selesai mengucapkan salam, aku sudah lebih dulu menyelanya.
“Maksud kamu apaan sih?!” gerutuku sebal. Terdengar suara tawa Kara dari ujung sana.
“Ya ampun galaknya mbak … ya seengaknya izinkan saya bilang halo dulu,” ujar Kara di ujung sana.
“Ya harus galaklah sama orang yang udah kirimin paket terror ke rumah orang! Malah pengen aku bunuh kamu!” jawabku mengebu- ngebu. Sialan ini anak, tidak sadar diri banget ya?
“Ih, itu kan paket istimewa. Masa kamu malah kesel gitu sih nerimanya. Malah di bakar lagi, kan aku jadi sedih,” ujar Kara. Aku melongo. Bagaimana dia bisa tahu?
“Kenapa? Kaget ya karena aku tau?” tanya Kara. Aku langsung tersadar.
“Bagaimana kamu tahu …?” tanyaku bingung.
“Ya tahu dong, hebat kan aku? Keren kan?” tanya Kara dengan bangga. Duh, ingin rasanya aku menampol dia saat ini juga.
“Keren apanya?! Sialan! Lu bikin panik yang ada ya taik!” Aku mengumpat karena sudah terlalu kesal.
“Sebenarnya kamu gak perlu khawatir sih, karena itu bukan apa- apa. Obatnya aman kok bisa di minum, tapi ya kayaknya sih..” ujar Kara. Kayaknya? KAYAKNYA? Anak sialan emang!
“Heh lu! Lu gilak ya? Gaada belas kasihan kau sama orang lain yaa? Dendam banget apa lu sama gue?!” tanyaku setengah berteriak.
“Ya. Gue dendam sama lu. Sama ayah lu juga. Serius ya, kalian tuh sama busuknya tau gak!” jawab Kara. Kenapa sih ini anak bawa- bawa papa melulu?
“Kenapa sih, kamu selalu bawa- bawa nama papa? Memangnya papa udah lakuin apa sih ke kamu? Jelasin deh biar aku mewakili papa buat minta maaf,” tanyaku sebal.
“Dih siapa lu deh main mewakili aja. Agaknya lu sampai sekarang belum tau ya akal- akalan busuk ayah lu,” jawab Kara. Kan, selalu saja dia jawab begini. Ini mah bukannya bikin penasaran, malah bikin emosi sih.
“Eh! Lu apaan sih, selalu bilang papa punya akal- akalan busuk! Akal- akalan busuk apaan hah? Bilang!” tanyaku memaksa.
“Sudahlah, kalau di jelaskan sekarang kamunya kasian. Nanti shock. Nanti juga ketahuan sendiri kok busuknya gimana,” jawab Kara. “Ya sudah, mari kita akhiri percakapan saat ini. Nantikan kejutan dariku yang lain ya,” pamit Kara.
“Gak perlu!”Aku membanting mr. communicator ke atas kasur. Kara sialan!
****
“Apa? Kara?” tanya Sheila saat video call. Aku mengangguk. “Emang dia kirim apa?” tanya Sheila lagi.
“Ih Shei ini! Gak denger ya aku cerita apa tadi?!” gerutuku sebal.
“Maaf maaf. Aku tadi lagi fokus pakai kuteks. Lihat nih,” Sheila menunjukkan kuku- kuku di jari tangannya yang berwarna merah. “Bagus kan?” tanya Sheila.
“Aku kurang suka sih. Terlalu mencolok warnanya,” jawabku. Sheila cemberut sambil memperhatikan kuku- kukunya.
“Padahal aku suka loh. Ini warnanya cantik,” gumam Sheila.
“Jadi gini Shei, biar aku ceritain lagi ya…” ujarku. Akhirnya aku menceritakan ulang semua kejadian yang terjadi seharian ini. Mulai dari datangnya paket misterius dengan kartu berbentuk hati berisikan pesan manis yang katanya sih dari papa, nyatanya dari si Kara sialan. Juga saat Kara tiba- tiba menghubungiku dan hack mr. communicator, entah darimana dia bisa mendapat akses kontakku. Saat aku membakar paket itu dan entah bagaimana Kara bisa tahu akan hal itu dan mengatakan bahwa papa adalah akal busuk dari banyak hal menurutnya.
“Kok bisa ya si Kara berpikir kayak gitu ..” gumam Sheila heran.
“Ya kan? Aneh banget deh. Kayak dia kenal aja sama papa deh,” ujarku setuju.
“Tapi sih Teh, ya kalau dia tahu papamu sih wajar. Kalau dia kenal juga wajar toh. Kayaknya siapa sih di sekolah dan di kota ini yang gak tahu papamu,” ujar Sheila. Benar juga. Entah bagaimana, papa merupakan salah satu orang yang berpengaruh di kota. Papa sering membantu petinggi- petinggi di kota untuk menyelesaikan tugas mereka yang berbau dengan teknologi, mengingat kebanyakan petinggi ini entah bagaimana masih gagap teknologi banget. Makanya papa banyak di kenal oleh masyarakat sekitar, bahkan mengira papa adalah ajudan para petinggi itu.
“Ya gak salah sih memang, tapi kan dia anak pindahan toh kok bisa sih dia sok kenal banget. Padahal ngobrol sama papa aja aku yakin gak pernah deh, palingan liat sekilas gitu aja. Papa juga gak kenal tuh sama dia. Sok kenal banget tuh orang memang!” gerutuku sebal.
“Yah, mungkin saja dia tahu soal papamu dari orang yang benci papamu juga. Kayak kena doktrin gitu deh, ngerti ga sih?” tanya Sheila.
“Kayak kena hasut gitu ya?” tanyaku balik. Sheila mengangguk dan menjentikkan tangannya.
“Yup, bingo! Kali aja toh. Kan biasa ya kalo orang gak suka tuh begitu, nyebar info yang enggak- enggak biar ada temen untuk saling membenci orang itu,” jawab Sheila. Aku mangut- mangut.
“Tapi dia ngapain sih bawa- bawa gue?!” tanyaku heran. Sheila mengangkat bahu.
“Mungkin dia kayak, pukul rata deh. Kalau benci papanya ya bakal benci anaknya dan anggota keluarganya yang lain juga,” jawab Sheila. Aku menepuk jidat dan geleng- geleng kepala.
“Ada ya orang kayak gitu…” gumamku. “Tuh orang buat gue suudzon aja sama papa. Bawaan negatif thinking aja,” gerutuku.
“Udah deh gak usah di pikirin Teh. Emang dianya aja yang benci itu. Udah kamu jangan suudzon lagi sama papamu. Orangtua sendiri loh, ya masa tega kamu curiga yang engga- engga. Biarin aja deh si Kara itu,” ujar Sheila mengingati.
“Ya bener juga si Shei …”
****