Aaron terperanjat dalam lelap tidurnya yang tak maksimal. Dalam rasa terkejutnya pasca bermimpi yang cukup mengerikan, kini ia pun menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Rasa kagetnya lantas berlipat ganda ketika ia tak menemukan keberadaan sang gadis yang seharusnya ada di sebelahnya.
"Ke mana gadis itu?" gumam Aaron yang masih sedikit linglung. Sejenak, ia pun mengusap mukanya yang terasa sedikit lengket berikut mengucek sebelah matanya beberapa saat.
Kepalanya terasa pusing setelah ia terbangun secara dadakan sekaligus dalam kondisi terkejut. Untuk sesaat, Aaron pun mengintip ke balik jendela mobilnya di tengah mulutnya yang menguap lebar.
Di luar, langit sudah menampilkan semburat kekuningan. Artinya, waktu sore sudah mulai habis. Lalu spontan Aaron pun melirik arlojinya untuk memastikan sudah memasuki pukul berapa saat dirinya baru saja terbangun dari tidurnya sesaat lalu.
"Pukul 6?" pekik Aaron memelotot. Bagaimana mungkin? Batin pria itu tak mengerti.
Dia memang tidak ingat betul tepat di pukul berapa dirinya memutuskan untuk tidur sejenak selagi menunggu sang gadis menyantap camilan yang dibelikan olehnya. Tapi jika tidak salah ingat, Aaron merasa bahwa tadi langit belum meredup seperti sekarang. Bahkan kecerahan masih mendominasi warna langit meskipun tak seterik di siang hari sebelumnya. Itu artinya, Aaron tidur dalam waktu yang cukup lama. Entah kenapa Aaron merasa dirinya bisa tidur di tempat setidaknyaman itu.
Padahal sebelumnya, Aaron sempat mengkritik perihal cara tidur sembarangan yang telah dilakukan oleh si gadis pada saat Aaron menemukan gadis itu tertidur sekembalinya ia dari mini market. Lalu, ke mana perginya gadis itu sekarang?
"Sial, apa jangan-jangan gadis itu sudah pergi di saat aku tertidur tadi?" gumam Aaron menerka. Sampai ketika ia melihat ke arah dashboard, di sana ia pun menemukan secarik kertas yang ditindih oleh botol kaleng minuman berikut satu batang cokelat yang ia beli di mini market sebelum dirinya tertidur tadi.
Teruntuk Tuan Aaron yang terhormat~
Maaf jika aku sudah bertindak lancang. Tapi aku harus segera pulang sebelum ayahku benar-benar murka mengingat aku yang sudah pergi sejak pagi tadi.
Maaf karena aku tidak membangunkan tidurmu yang begitu lelap. Dan terima kasih atas makanannya. Perutku terasa kenyang. Aku sisakan juga satu kaleng minuman dan sebatang cokelat untuk kau konsumsi sebangunnya kau dari tidur.
Sekali lagi maaf dan terima kasih.
Dari aku, gadis asing yang sudah kau bantu~
Aaron mendecak di tengah pandangannya yang ia tujukan ke arah dashboard. Di sana memang terdapat sekaleng minuman dan cokelat yang sempat ia lihat juga sebelum dirinya meraih secarik kertas di bawah kaleng tersebut. Entah kenapa, Aaron merasa sangat sedih karena sudah membiarkan gadis itu pulang tanpa pengawasannya. Padahal, Aaron sudah berniat untuk mengantar gadis itu tepat ke depan rumahnya sesuai janjinya kepada sang adik. Tapi gara-gara dirinya yang tertidur tanpa tahu waktu, alhasil kini ia pun telah kehilangan jejak gadis itu yang bahkan belum sempat ia mintai nomor ponselnya.
"Maafkan kakakmu ini, Maxime. Sepertinya, gadis itu tidak ditakdirkan untuk bisa dekat denganmu jika ceritanya saja seperti ini...." tukas Aaron melenguh lunglai.
Sejurus kemudian, pria itu pun lekas menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan Porsche Caymannya itu guna meninggalkan lahan parkiran mini market yang sempat ia gunakan sebagai tempat pemberhentian sementara setelah ia memasukkan secarik kertas berisi tulisan Pricilla ke dalam laci dashboardnya.
***
PLAK
Lagi, Pricilla mendapatkan tamparan keras di pipi kirinya. Kali ini, bukan oleh ayahnya. Tapi wanita yang berstatus sebagai calon istri ayahnya lah yang mendaratkan tamparan tak berperasaan tersebut.
"Anak bodoh sialan! Dari mana saja kau, ha? Apa kau tidak tahu bahwa kami sedang kelaparan gara-gara kau yang tak menyediakan makan siang untuk kami?" damprat Janira mencerocos. Matanya memelotot menyalang seakan-akan ia sudah mempunyai hak paten untuk melayangkan makiannya pada calon anak tirinya itu.
Pricilla tak menyahut. Dia pun tidak berusaha untuk menyentuh bagian yang terkena tamparan barusan. Tapi sepertinya, gadis itu sedang mencoba untuk menahan emosinya. Terbukti dari cara kedua tangannya yang tengah mengepal kuat di masing-masing sisi tubuhnya.
"Apa yang ada di pikiranmu, Anak bodoh? Kenapa kau malah asyik keluyuran sementara aku dan ayahmu sedang menahan lapar di sini sepanjang hari. Kau ingin kami mati?" lanjut Janira semakin melantangkan suaranya. Bahkan, saking kencang nada suaranya, mungkin dapat dipastikan kalau makiannya itu terdengar juga ke rumah tetangganya yang bersebelahan. Tapi, apa peduli Janira? Yang penting, dia bisa memaki calon anak tirinya itu sepuas hati. Toh, dia pun sudah memiliki izin dari ayah kandung gadis itu.
"Kenapa kau hanya diam saja, ha? Apa jangan-jangan pita suaramu sudah rusak? Lalu bagaimana caramu untuk mengadukan nasibmu nanti pada nisan ibumu yang sudah mati? Apa kau hanya akan menangis dalam diam saja tanpa mengeluarkan kata-kata?" lontar Janira lagi seolah ia belum merasa puas dalam mengutarakan segala kedongkolannya terhadap Pricilla.
Mendengar ibunya diseret, kali ini Pricilla pun tidak bisa diam saja. Tanpa diduga, Pricilla lantas mengarahkan kedua tangannya ke arah leher Janira guna mencekiknya. Kontan, mata Janira pun membelalak lebar di sela kegigihannya yang mencoba untuk melepaskan kedua tangan Pricilla yang sedang berusaha menekan urat lehernya.
"PRICILLA, APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?" teriak sebuah suara yang bersumber dari ayahnya. Secepat kilat, Benson pun berlari ke arah anaknya dan langsung menarik Pricilla guna menjauhkan kedua tangannya itu dari leher Janira.
Setelah terlepas, Janira pun terbatuk-batuk dengan posisi tubuh yang membungkuk. Sementara itu, Benson mendorong tubuh Pricilla ke lantai sekuat tenaga.
Brug.
Tubuh gadis itu kini sudah terjatuh ke lantai dalam posisi setengah berbaring. Tak lama dari itu, Benson pun menarik ikat pinggang yang semula melingkar di celananya dan kemudian mencambuk tubuh Pricilla sesuka hatinya.
"Ayah, ampun! Maafkan aku, sakit Ayah. Tolong hentikan!" racau Pricilla yang berusaha melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya. Tapi tetap saja, cambukan itu mengenai lengannya yang tak berperisai. Rasa sakit nan perih menjalari sekujur tubuhnya. Pricilla yakin, akan ada bekas yang tercetak di kulit tubuhnya nanti.
"Dasar anak kurang ajar! Tidak tahu sopan santun. Berani kau mencekik calon ibu barumu. Berengsek. Rasakan ini!" desis Benson kalap. Tidak peduli anaknya meronta-ronta meminta ampun. Bagi Benson, gadis itu perlu ia beri pelajaran setelah tertangkap basah sedang berusaha mencekik Janira meski tak tahu duduk perkaranya seperti apa.
Melihat calon anak tirinya dicambuki tanpa ampun, Janira hanya tersenyum puas di tengah posisinya yang bersedekap santai. Tidak masalah jika sebelumnya ia nyaris kehilangan napas selama dicekik Pricilla, toh saat ini gadis itu sedang menerima pembalasan yang setimpal. Janira merasa senang, sebab Benson lebih menyayangi dirinya ketimbang putri kandungnya sendiri.
"Ayah, kumohon ... Hentikan. Tubuhku terasa sakit. Aku minta maaf ... Tolong, Ayah...." rintih Pricilla yang sudah kehabisan tenaga. Bersamaan dengan itu, Benson pun menghentikan perbuatannya diiringi dengan napasnya yang terengah.
"Jika sampai aku melihatmu lagi mengulangi hal seperti tadi. Maka aku bersumpah akan melenyapkan nyawamu detik itu juga!" seru Benson memperingatkan. Kemudian, ia pun pergi melengos sembari merangkul Janira dan mengajaknya meninggalkan Pricilla yang sedang terkulai lemah di permukaan lantai yang dingin dengan air mata yang bercucuran deras.
"Ibu, rasanya aku ingin ikut denganmu saja. Ayah sangat jahat. Dia lebih menyayangi calon istri barunya dibanding anak kandungnya sendiri. Apa dosaku, Tuhan? Kenapa hidupku harus semenderita ini...." gumam Pricilla lirih. Tangisannya semakin terdengar jelas seiring dengan merambatnya malam yang kian larut.
***
Aaron menutup pintu mobilnya dan mulai berjalan meninggalkan Porsche Cayman tersebut yang langsung ia masukkan ke dalam garasi rumahnya. Sambil menenteng jas hitam kerjanya yang ia sampirkan di bahu, Aaron lantas mengayunkan kedua kakinya memasuki rumah yang untungnya tidak dikunci.
"Aku pulang!" seru pria itu datar. Sejujurnya, Aaron tidak terlalu suka berseru seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Hal itu sangat diharuskan oleh sang mommy yang kemaunnya harus selalu dituruti.
"Kakak!" seru sebuah suara muncul menghampiri. Dilihatnya, Maxime datang mendekat dengan raut wajah yang begitu penasaran.
"Kakak, bagaimana dengan Pricilla? Apakah kau sudah mengantarnya pulang sampai ke rumah? Lalu, kau bertemu dengan ayah kejamnya? Bagaimana tanggapan dia saat melihatmu mengantarkan anaknya pulang? Apa dia marah atau--"
"Stop, Maxime! Aku lelah...." sela Aaron menghentikan kalimat adiknya yang mencerocos tanpa henti.
Mendengar itu, Maxime lantas berdecak. "Ayolah, Kak. Aku penasaran dengan reaksi ayah gadis itu. Kudengar, ayahnya sangat kejam dan tak berperasaan. Dia suka menyiksa Pricilla tanpa ampun. Itulah sebabnya aku memintamu untuk mengantarkan gadis itu pulang tepat ke depan rumahnya...." ujar Maxime kembali berceloteh. Namun Aaron justru malah hanya menghela napas panjang seolah ia belum siap menceritakan fakta yang ia alami kepada adiknya tersebut.
Di tengah Maxime yang masih menantikan sang kakak bersuara, tiba-tiba derap langkah lainnya terdengar mendekat. Tak lama kemudian, Daisy pun muncul disertai dengan senyuman khasnya kala melihat putra sulungnya telah pulang.
"Kau sudah pulang," gumam Daisy mendekat. Seperti biasa, wanita berambut demimor itu meraih kedua sisi wajah sang anak yang kemudian ia berikan kecupan ringan di masing-masing pipinya.
"Bagaimana hari yang kau lalui tadi? Menyenangkan?" tanya Daisy bak ia seolah memberi pertanyaan pada anak kecil yang baru saja pulang dari sekolah.
"Mom, bahkan Kak Aaron sudah bukan anak playgrup lagi. Tapi Mommy bersikap seolah Kak Aaron itu adalah anak berusia dini yang masih harus ditanyai seperti itu...." sambar Maxime tak habis pikir.
"Diam kau, Maxime! Setidaknya, aku harus tahu mengenai keseharian kakakmu selama tidak di rumah. Siapa tahu, kakakmu itu mengalami kejadian buruk di kantornya. Tidak ada yang tidak mungkin bukan?" sahut Daisy mencoba menanggapi ucapan anak bungsunya itu.
"Mom, Maxime ... Aku lelah. Jadi, izinkan aku untuk meninggalkan kalian dan beristirahat di dalam kamarku. Kalian mengerti?" ujar Aaron membuka suara.
Kontan, perhatian Daisy pun kembali teralih pada anak sulungnya tersebut. "Tapi, Aaron ... Kau belum sedikit pun menjawab pertanyaan Ibumu ini. Tidakkah kau mau berbagi cerita mengenai sepanjang hari yang kau lalui di luar rumah?" tutur Daisy bersikeras.
Sigap, Aaron pun mendecak kesal sembari memutar bola mata jengah. "Maxime benar, Mom. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Jadi berhentilah untuk merecokiku apalagi di saat aku sedang merasa lelah seperti ini. Aku mau ke kamar, selamat malam!" tandas Aaron sambil berlalu.
Meninggalkan ibu beserta adiknya yang sama-sama sedang memperlihatkan cebikan kesalnya akibat tak mendapat sedikit pun respon dari Aaron sesuai ekspektasinya semula.