Bagian 8

1621 Words
Pricilla tidak pernah membayangkan sedikit pun bahwa hari ini ia akan diantar pulang oleh seorang pria tampan yang begitu mempesona. Sayang, sikapnya berbanding terbalik dengan adiknya yang sudah lebih dulu ia kenal. Jika Maxime adalah tipikal lelaki suka berceloteh dan berkarakter hangat nan manis, maka Aaron adalah kebalikannya. Sepanjang perjalanan, dimulai dari Pricilla yang menduduki kursi penumpang hingga kini kendaraan itu sudah hampir setengah jalan menempuh jarak yang hendak dituju, belum sedikit pun Pricilla mendengar pria di sebelahnya mengucap satu kalimat bahkan satu kata pun rasanya berat untuk ia utarakan. Entah kenapa, Pricilla merasa bahwa pria itu begitu dingin dan kaku. Tidak, tidak. Pricilla bukan hanya merasa tapi memang yang dilihatnya dari pembawaan Aaron memanglah seperti itu adanya. Dia adalah pria dingin yang sepertinya sulit untuk sekadar diajak berbincang. "Tuan, apakah aku boleh bertanya?" lontar gadis itu memecah sunyi. Sejenak, Aaron pun bergumam asal sebagai perwakilan dirinya yang mempersilakan sang gadis untuk bertanya. "Kau ini kakak kandungnya Maxime?" celetuk Pricilla melayangkan pertanyaannya. Sontak, Aaron yang semula sedang fokus menyetir pun melirik spontan di tengah kernyitan yang menghiasi dahi. "Kau sedang mencoba menginterogasiku?" balas pria itu setelah dirinya kembali memokuskan pandangan ke arah jalanan. Menggeleng, Pricilla pun menjawab, "Tidak. Hanya saja, aku merasa aneh seandainya kau memang sungguhan kakak kandungnya Maxime...." "Maksudmu?" tanya Aaron tak mengerti. Pricilla membuang napas pelan. Lalu mengangkat bahunya tak acuh seraya berkata, "Sikapmu dan Maxime jauh berbeda. Ibarat permen dan cuka. Maxime permennya dan kau--" "Cukanya?" sela Aaron melirik cepat. Seketika, Pricilla menyengir lebar sembari mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. "Maaf jika aku lancang. Tapi sesungguhnya, aku ini memang selalu berkata sejujur ini. Aku paling tidak suka dengan kesunyian. Karena bagiku, rasa sunyi itu hanya akan perlahan-lahan membunuh keadaan. Kau tahu? Orang mati pun berada di dalam kesunyian yang mencekam. Maka, aku tidak suka dengan rasa sepi. Karena ketika aku berada dalam kondisi yang begitu sepi, aku merasa bahwa aku sudah mati sekalipun nyawaku masih menempel bersama jasadku sendiri...." tutur gadis itu beranalogi. Aaron hanya terdiam. Sesekali dia pun mengangguk seolah dia menyimak apa yang sedang gadis itu celotehkan. Tidak peduli dengan analogi yang dibuatnya, yang jelas Aaron malah suka berada dalam keadaan sepi. Baginya, kesepian adalah teman. Dengan menyepi, Aaron bisa mendapatkan ketenangan yang tak mengusik batinnya. Krukk~ Memelotot horor, Pricilla pun meraba perutnya yang berbunyi tanpa melihat keadaan. Bagaimana bisa bunyi memalukan itu muncul di saat dirinya masih berada di dalam mobil mewahnya Aaron. Seandainya bisa, Pricilla ingin sekali memaki isi perutnya itu karena sudah membuatnya malu hingga ke akar-akar. "Bunyi apa itu?" tegur Aaron melirik. Meringis, Pricilla pun mencicit pelan, "Itu, suara perutku, Tuan. Maafkan perutku yang tak tahu sopan santun. Kadang, jika belum terisi oleh makanan ... Perutku suka meraung kesal meminta jatah." Gadis itu menggigit bibirnya. Merasa dongkol setelah tahu bahwa Aaron pun bisa mendengar suara ajaib tersebut. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. Lalu tanpa diduga, ia melajukan kemudinya sedikit lebih cepat dari kecepatan yang semula ia tempuh. Namun, saat Pricilla berpikir bahwa Aaron hanya ingin segera sampai ke lokasi yang dituju, justru pria itu malah membelokkan setirnya memasuki parkiran mini market yang seketika membuat Pricilla tertegun heran. "Tuan, kenapa kau menghentikan mobilmu di sini?" tanya Pricilla yang selalu merasa gatal jika dirinya tidak segera bertanya. Akan tetapi, alih-alih pria itu memberikan jawaban atas pertanyaannya, Aaron justru malah buru-buru melepas salt belt-nya seraya bergegas keluar dari mobil. Namun sebelum ia benar-benar melangkah pergi, Aaron pun menolehkan kepalanya ke arah Pricilla lantas berujar, "Tunggu di sini sampai aku kembali nanti!" Setelah itu, Aaron pun segera melenggang meninggalkan mobilnya berikut Pricilla yang sedang mengernyit bertanya-tanya. "Entah apa yang terjadi pada pria kaku itu," bisiknya mendengkus pelan. Lalu, kini gadis itu pun menurunkan pandangannya ke arah perut yang sempat berbunyi memalukan seperti tadi. "Perutku lapar sekali. Entah kapan aku bisa mendapatkan asupan makan yang bergizi...." keluhnya mengusap perut. Padahal, jika tadi tidak keburu bertemu dengan kakaknya, Maxime berencana untuk mengajak Pricilla makan siang di restoran mewah itu. Sayang,   bahkan sepertinya Tuhan belum mengizinkan gadis itu untuk mencicipi makanan lezat yang bisa mengenyangkan perutnya. Alhasil, kini Pricilla pun hanya bisa menelan ludahnya saja disusul dengan rasa kantuk yang menyerang. *** Aaron baru saja selesai bertransaksi. Sambil menenteng kantung kertas berisi sejumlah makanan instan yang bisa dikonsumsi secara langsung, pria itu lantas meninggalkan kasa mini market dan bergegas melangkah kembali menuju mobilnya. Dia tidak sedang memberi perhatian pada gadis yang saat ini bersamanya, tapi Aaron berusaha untuk menunjukkan rasa bersalahnya karena secara tak langsung ia sudah menggagalkan acara makan siang yang akan dilangsungkan oleh sang gadis beserta adiknya Maxime. Tapi mau bagaimana lagi? Aaron pun tidak akan cuma-cuma membiarkan adiknya bolos kuliah. Seandainya saat itu Maxime sedang tidak memiliki mata kuliah yang harus diisinya, mungkin Aaron pun tidak akan mengusik mereka yang berniat untuk makan siang di restoran serupa yang sudah lebih dulu dikunjunginya bersama Gabriella. Maka, ketika tadi Aaron mendengar bunyi keroncongan yang berasal dari perut gadis itu, secara spontan Aaron pun mempunyai keinginan untuk membelikan setidaknya beberapa roti dan camilan lainnya guna diberikan pada sang gadis. Bagi Aaron, anggap saja semua itu sebagai pengganti untuk Pricilla yang tak jadi ditraktir makan oleh adiknya. Bukan maksud Aaron untuk memandang rendah gadis itu. Hanya saja, jika ditelisik lebih dalam, rasanya Aaron tidak yakin jika gadis tersebut mampu membayar makanan yang ia pesan di restoran Marieta. Mengingat harga satu jenis menu saja begitu fantastis, maka tidak salah bukan seandainya Aaron berasumsi tentang adiknyalah yang akan mentraktir gadis bernama Pricilla itu. Langkah Aaron sudah mendekat ke arah mobil. Kantong kertasnya pun telah ia dekap menggunakan satu tangan seiring dengan tangan satunya lagi ia ulurkan guna membuka pintu mobil. Lalu, saat pintunya sudah terbuka, Aaron pun bersiap masuk ke dalam mobilnya. Namun, bersamaan dengan pria itu yang sudah kembali duduk di belakang kemudi, Aaron pun menemukan pemandangan menggelikan dari tempat di mana Pricilla yang tengah tertidur dengan posisi kepala terkulai ke arah kaca jendela dan mulut yang setengah terbuka. Tak lupa, dengkuran khas orang tidur pun terdengar menggelitik di telinga Aaron yang saat ini sedang mendecak tak habis pikir. "Bagaimana bisa gadis ini tertidur dalam keadaan yang tak nyaman seperti itu," gumam Aaron geleng-geleng. Dan lagi, Aaron merasa dirinya masuk ke mini market tidak memakan waktu berjam-jam. Tapi, baru ditinggal sebentar saja, gadis itu malah sudah terlelap yang seketika membuat Aaron menghela napas panjang. *** Siang telah berganti menuju sore. Udara panas mulai meredup seiring dengan berkurangnya sengatan matahari yang semula sangatlah terik. Aaron merebahkan kepalanya dengan jok mobil yang agak diturunkan. Kedua tangannya ia jadikan sebagai bantalan demi menopang tengkuknya di sela keterpejaman matanya. Akan tetapi, saat baru saja pria itu hendak benar-benar memasuki masa lelapnya, tiba-tiba saja sebuah hantaman mengenai wajahnya yang seketika membuatnya kembali membuka mata dan mendapati sebuah tangan yang tengah merentang sesuka hati. "Oh ya ampun! Rasanya enak sekali tidur siangku kali ini...." gumam suara sang gadis sembari mengerang pelan. Melirik dari ekor matanya, Aaron pun menangkap senyuman lebar yang tersungging kentara di bibir gadis tersebut. Lalu, mengingat tangan berjemari lentik itu masih berada tepat di hadapan wajahnya, Aaron lantas berujar, "Bisakah kau mengenyahkan tangan tak sopanmu ini dari depan wajahku?" Secepat kilat, si pemilik tangan pun menoleh spontan ke arah suara yang disusul oleh pelototan lebar nan terkejutnya. Sigap, ia pun menarik tangannya itu dan menunjukkan raut permintaan maafnya. "Astaga, Tuan. Maafkan aku. Kupikir, aku sedang berada di kamarku sendiri. Masalahnya, sudah menjadi kebiasaanku ketika bangun tidur selalu merentangkan tangan seperti itu. Kumohon ... Maafkan kelancanganku barusan, Tuan," cerocos Pricilla lagi. Seperti yang dilakukannya saat meminta maaf perihal Maxime tadi, dia selalu berujar panjang lebar tanpa sedikit pun berniat untuk menjedanya sebelum dirinya merasa puas dalam berucap. Sementara itu, Aaron hanya memutar bola matanya malas seraya meraih kantong kertas yang ia simpan di atas dashboard guna diserahkannya pada gadis di sebelahnya. "Ambil!" titah Aaron singkat. Mengerjap, Pricilla pun menatap Aaron tak mengerti. Sejenak, ia pun mengucek sebelah matanya sembari menerima kantong kertas yang barusan Aaron sodorkan kepadanya. "Ini apa?" tanya gadis itu menatap. "Aku sudah telanjur membelinya. Maka manfaatkanlah jika kau mau! Selagi itu, berikan kesempatan untukku kembali memejam mata setidaknya sampai rasa kantukku menghilang...." tutur Aaron yang kembali pada posisinya semula. Pricilla mengintip ke dalam kantong kertas yang saat ini ada di pangkuannya. Rupanya, ada sejumlah roti sandwich, dua batang cokelat berkemasan hijau, satu botol air mineral dan beberapa jenis camilan lainnya yang mengisi kantong tersebut. Melihat itu semua, mendadak Pricilla pun kembali merasa lapar. Buktinya, suara ajaib nan memalukan itu pun kembali bersua. Secepat kilat, Pricilla menepuk perutnya seraya berkata, "Dasar perut tidak sopan! Mentang-mentang ada makanan sebanyak ini, lalu kau kembali bersuara? Memalukan!" desis gadis itu tak habis pikir. Sejenak, Pricilla kini melirik ke arah Aaron yang tengah terpejam. Namun, mengingat semua isi yang ada di dalam kantong kertas itu sudah diberikan Aaron khusus untuknya, maka tanpa segan Pricilla pun langsung merogoh salah satu roti sandwich dan membuka kemasannya guna dilahap isinya. Seakan ia lupa pada waktu yang sudah merambat menuju petang, Pricilla pun tampak asyik menyantap satu persatu makanan yang ia dapat dari Aaron. Sungguh, selain gadis itu bisa mendapatkan waktu tidur yang berkualitas tanpa adanya gangguan dari sekitar, kini ia pun bisa merasakan juga memakan berbagai macam camilan sultan yang ia tebak harganya mungkin bukan dari kalangan abal-abal yang bisa ia beli kapan pun ia mau. Bersyukurlah ia bisa diantar pulang oleh Aaron, dengan begitu, perutnya pun bisa terjamin dan tidak akan lagi mengeluarkan bebunyian memalukan sampai batas waktu penghabisan hari ini. Lalu ketika ia teringat dengan kata pulang, tiba-tiba saja wajah berikut perlakuan kasar ayahnya pun mendadak berkelebatan di dalam benaknya. Sontak, di tengah ia yang sedang mengunyah cokelat matcha yang sudah ia habiskan setengahnya, matanya pun membulat sempurna bersamaan dengan teringatnya ia pada sang ayah yang akan benar-benar menyiksanya ketika dia sadar di jam sesore ini belum juga menampakkan batang hidungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD