Bagian 5

1559 Words
Sekitar pukul 10 pagi, Pricilla memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah setelah sebelumnya ia membersihkan seisi rumah sekaligus menyiapkan sarapan untuk ayah dan calon istri barunya. Jika teringat lagi dengan wanita yang merupakan calon ibu baru untuknya, rasanya nasib Pricilla semakin malang saja. Sepertinya, sikap wanita itu sebelas dua belas dengan ayahnya. Kasar dan suka memerintah. Hal itu, tentu saja membuat Pricilla kembali merana karena tidak satu orang pun yang bisa berlaku baik padanya. Seandainya ada sedikit keajaiban saja yang Tuhan berikan pada Pricilla, maka gadis itu hanya berharap bahwa salah satu dari mereka bisa bersikap baik dan setidaknya menghargai setiap jerih payah yang Pricilla lakukan untuknya. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, mengingat dengan perlakuan kasar yang wanita itu berikan sama seperti ayahnya, maka lagi-lagi Pricilla hanya mampu meratapi nasibnya di tengah helaan napas panjang nan lelahnya. "Entah kapan aku bisa merasakan kebahagiaan. Rasanya, aku ingin mati saja seandainya tidak ada secuil kebahagiaan pun yang bisa kudapat di muka bumi ini!" gumam gadis itu dalam kefrustrasiannya. Kemudian, ia terus melangkah gontai sembari sesekali menendang kerikil kecil yang menghalangi derap langkahnya yang belum memiliki arah dan tujuan. Kebetulan, hari ini Pricilla sedang kebagian giliran libur di kafe tempatnya bekerja. Maka, tidak ada tempat yang bisa ia datangi selain membawa langkahnya ke sembarang arah. Berharap ada satu tempat tujuan yang bisa ia kunjungi  agar dirinya memiliki sebuah alasan ketika nanti dirinya ditanyai oleh sang ayah sekembalinya ia ke rumah nanti. Di tengah ayunan langkahnya yang tak menentu, Pricilla pun tidak sempat melirik ke kanan dan ke kiri saat dirinya hendak menyeberangi jalan. Lantas, tanpa diduga, sebuah lajuan motor pun datang dan hampir menabrak gadis itu seandainya si pengemudi motor tidak segera mengerem kendaraan yang dinaikinya. Ckittt. Pricilla yang baru sadar nyaris tertabrak pun seketika menjerit sembari menjongkokkan tubuhnya diiringi oleh kedua tangannya yang melindungi kepala. Bersamaan dengan itu, si pengemudi motor pun bergegas turun setelah dirinya melepas helm yang membungkus kepalanya terlebih dahulu dan menaruhnya ke atas motornya tersebut. Meninggalkan motor yang ia hentikan di tengah jalan, pengemudi itu pun kini telah melenggang menghampiri si gadis yang masih berjongkok di tempatnya. Lalu setibanya ia di dekat sang gadis, pengemudi yang berjenis kelamin lelaki itu lantas berkacak pinggang seraya berkata, "Kau sudah bosan hidup, ha?" Mendengar suara yang datang menghampiri indra pendengarannya, sontak Pricilla pun mengenyahkan perlindungan kedua tangannya yang semula ia letakkan di kepala. Setelah kedua tangannya ia turunkan, perlahan gadis itu pun mendongakkan kepalanya guna memeriksa si pemilik suara yang barusan sempat terdengar menegurnya. Untuk sesaat, lelaki berjaket kulit cokelat itu terkesima melihat paras cantik nan polos gadis di hadapannya. Tanpa berkedip, ia pun terus memokuskan pandangannya ke arah gadis tersebut. Sampai ketika si gadis bangkit berdiri, barulah lelaki itu tersadar dan mulai merasa salah tingkah karena sudah sempat menunjukkan raut terpukaunya sejak pertama kali gadis itu mendongak dan menampilkan kecantikan di parasnya. "Ma-maafkan saya, Tuan. Saya memang sudah bosan hidup, tapi saya tidak bermaksud untuk menghambat perjalanan Tuan. Saya hanya sedang melamun ketika saya menyeberang dan setahu saya, jalanan ini biasanya jarang dilalui oleh kendaraan. Maka, saya pun tidak berpikir bahwa akan ada kendaraan yang melintas di tengah penyeberangan saya tadi. Tolong maafkan keteledoran saya, Tuan!" cerocos Pricilla membungkuk-bungkukkan badannya bersikap santun. Seketika, membuat si pengemudi motor itu setengah melongo dan merasa kaget kala mendapati ada seorang gadis cantik yang memiliki sifat sepolos itu. Pasalnya, ia baru kali ini menemukan gadis cantik sejenisnya. Rupanya, kepolosan yang sempat ia temukan dari sorot matanya tadi memang selaras dengan sifat yang dimiliki sang gadis. Pikir si pengemudi tak mengira. "Tuan, apa kau mendengarku?" tegur Pricilla menatap lurus ketika dilihatnya lelaki di hadapannya tidak merespon sama sekali. Bahkan, gadis itu pun mengangkat sebelah tangannya dan melambai-lambaikannya di depan wajah si pengemudi yang tak diketahui namanya itu. Sampai akhirnya, lelaki itu tersadar dari ketermenungannya. Sigap, kini ia pun balas menatap sang gadis seraya berujar, "Kau sungguh sudah bosan hidup?" Kali ini, giliran Pricilla yang termangu di tempatnya. Secara tidak sadar, ia pun sudah mengemukakan tentang hal yang seharusnya tidak ia katakan pada lelaki asing yang saat ini masih menatapnya begitu penasaran. *** Gadis itu sedang menikmati pemandangan indah yang terhampar luas sejauh mata memandang. Sesaat kemudian, sebuah es krim cone pun telah disodorkan ke depan matanya oleh seseorang yang kini ikut duduk di sebelahnya. Melirik, gadis yang tak lain adalah Pricilla pun tersenyum sungkan. "Terima kasih, Tuan...." ucapnya sembari menerima es yang disodorkan. Kemudian, lelaki itu lantas menyahut, "Tidak usah seformal itu jika sedang berbicara denganku. Namaku Maxime, kau bisa memanggilku dengan nama itu tanpa embel-embel Tuan yang sedari tadi kau sebut saat memanggilku!" Meringis, Pricilla pun mengangguk mengerti. "Baik, Tuan. Eh, ma-maksudku, Maxime...." balas sang gadis yang seketika membuat lelaki itu terkekeh pelan di tengah kegiatannya menjilati es miliknya. Setelah kejadian hampir menabrak sang gadis, Maxime pun tiba-tiba berinisiatif untuk mengajak gadis itu ke suatu tempat yang bisa mereka kunjungi di hari kerja seperti ini. Padahal, seharusnya Maxime itu mengarahkan tujuannya ke kampus di mana ia berkuliah selama ini. Tapi setelah sempat menelaah perihal kesedihan yang ia temukan di sorot mata polos sang gadis, secara kebetulan, dia pun malah mengajak Pricilla untuk mendatangi tempat yang saat ini mereka berada. Mulanya, Pricilla tidak mau menerima ajakan si lelaki. Alasannya sederhana, Pricilla belum kenal dengan lelaki itu, maka tidak ada alasan lagi selain dirinya berwaspada diri terhadap orang asing. Tapi setelah dibujuk dan diyakinkan oleh Maxime yang sama sekali tidak mempunyai niatan jahat, pada akhirnya Pricilla pun menerimanya juga. Lagipula, bukankah tadi gadis itu sempat meminta pada Yang Maha Kuasa agar diberikan sebuah tempat yang bisa dituju olehnya? Untuk itu, Pricilla merasa, mungkin pertemuannya dengan Maxime di kesempatan ini merupakan jawaban dari Tuhan bahwa di dunia ini, masih ada sosok manusia yang bisa memberikannya sedikit kebahagiaan sekalipun itu hanya sesaat. "Omong-omong, aku belum mengetahui siapa namamu?" ujar Maxime melirik, lidahnya masih terus saja menjilati es krim cone yang mulai menipis. Gadis itu balas melirik. Menyunggingkan senyumannya dan mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Maxime. "Kenalkan, namaku Pricilla. Senang bisa berkenalan denganmu, Maxime...." ucap gadis itu riang. Sontak, Maxime pun segera menerima uluran tangan sang gadis disertai dengan senyuman manisnya yang tersungging di bibir. *** Jemari Aaron sedang sibuk menari di atas keyboard laptopnya. Walau sebentar lagi sudah memasuki waktu jam makan siang, tapi dia tampak masih sibuk mengerjakan seluruh tugasnya. Di setiap harinya, Aaron memang selalu dilimpahi banyak pekerjaan oleh presiden direktur perusahaan yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Selaku seorang CEO, Aaron memang harus mengemban banyak tugas yang wajib ia kerjakan selama hari kerja berlangsung. Hal itu memang disengaja oleh Osvaldo--ayah Aaron. Pasalnya, kelak ketika Osvaldo menuruti jabatannya, Aaron adalah kandidat utama yang akan meneruskan tahtanya tersebut. Meskipun masih ada Maxime yang juga mempunyai hak serupa, tapi entah kenapa Osvaldo lebih memilih putra pertamanya guna dijadikan sebagai penerusnya di masa depan nanti. Dering ponsel yang berbunyi keras seketika membuat Aaron terkesiap kaget dalam duduknya. Sigap, ia melirik sejenak ke arah layar tanpa benar-benar menghentikan kegiatan mengetiknya. Lalu, saat ia menemukan nama Gabriella tertera di layar menyala ponselnya, barulah Aaron berhenti dari kegiatannya dan menggeliat sejenak sebelum akhirnya meraih ponsel dilanjut dengan menjawab panggilan masuk yang menunggu untuk disahutinya. Setelah menggeser tanda hijau ke atas, Aaron lantas menempelkan benda itu ke telinga kanannya. Sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang ia gerakkan setengah berputar, pria itu lantas berseru halo sebagai tanda mengawali percakapan. "Hai, Aaron! Kuharap, kau sedang tidak sibuk saat ini...." sapa suara yang tak lain adalah milik Gabriella. Menghela napas, Aaron pun menjawab, "Ada apa, Gabe? Jika kau meneleponku hanya untuk berbasa-basi seperti itu, maka aku akan memilih untuk mengakhirinya saja detik ini juga!" "Ayolah, mau sampai kapan kau bersikap sedingin itu padaku? Bahkan, kita sudah saling mengenal bukan dari kemarin sore. Tapi justru, kau selalu menyamakan sikapmu itu baik terhadapku atau pun orang asing sekalipun. Apa kau tidak bisa membedakan sedikit saja soal perlakuanmu khusus untukku?" rajuk Gabriella sedikit menuntut. Kontan, hal itu pun tentu saja membuat Aaron jengah dan refleks memutar bola matanya malas seraya berkata, "Seperti kataku tadi. Aku akan mengakhiri percakapan ini saja jika kau tidak segera mengatakan tujuanmu untuk menghubungiku. Sampai jumpa, Gabe!" "Aaron jangan lakukan itu! Mari kita makan siang bersama. Apa kau bersedia?" pekik Gabriella tepat di detik Aaron yang nyaris saja memutuskan sambungan teleponnya. Mengurungkan niatnya, pria itu lantas menyeringai puas karena sudah berhasil menggertak sang wanita yang sebelumnya terlalu banyak berbasa-basi saja. Padahal, Aaron sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak suka dengan kalimat basa-basi. Jika butuh, maka katakan saja secara langsung. Tapi jika tidak ada kepentingan yang ingin disampaikan, maka lebih baik tidak pernah menghubungi atau Aaron tidak akan pernah menggubris sekalipun si penelepon bersikeras memaksanya. "Aaron!" panggil Gabriella sesaat kemudian. Tersadar dari pikirannya, Aaron pun berdeham. "Baiklah. Setengah jam lagi kita bertemu di restoran Marieta. Kau mengerti?" lontar Aaron menentukan. "Tapi kenapa harus di Marieta? Kenapa kau tidak datang ke kafeku saja? Bukankah--" "Aku sedang tidak berminat untuk menyentuhmu, Gabe. Jadi jangan paksa aku atau kau tidak akan bisa bertemu denganku lagi selama satu bulan ke depan!" tandas Aaron mengultimatum. Seketika, membuat Gabriella mendecak kesal karena rupanya Aaron tampak tahu betul apa yang sedang wanita itu inginkan. Selepas tidak ada lagi yang ingin Aaron bahas dan Gabriella pun tidak lagi berbicara, maka pria itu pun menyudahi percakapannya secara sepihak. Tidak peduli apakah wanita itu akan suka atau justru ia akan berujung kesal dan marah, Aaron tetap akan berperilaku sesuai dengan kemauannya sendiri tanpa bisa dipaksa-paksa oleh siapa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD