Kehidupan seperti Tarsan harus Nila jalani. Tidak mungkin ia berdiam diri disaat berada di pulau asing. Entah apa salahnya sampai harus menerima hal ini. Nila mulai berjalan ke hamparan pohon. Dalam ketidak-pastian ini ia bertekad untuk bertahan. Dengan menahan rasa sakit setelah didorong dari pesawat, ia berjalan tertatih. Tak lupa ia mengambil pisau yang ditemparkan pria itu. Mata gadis itu mengawasi sekitar. Ia juga mencari cari sesuatu yang bisa dimakan. Sejujurnya Nila merasa lapar. Sudah sejak kemarin siang ia belum makan. Lebih tepatnya setelah ia dan Anggara terlibat dalam kegiatan panas di hotel. "Ah lapar sekali..." Nila tidak menemukan apapun. Hanya mata air yang berada di akar pohon. Ia cukup bersyukur setidaknya ia bisa minum sampai kenyang. Nila kembali berjalan. Ia k

