Setelah acara pertunangan ini mereka sedang berada di belakang rumah Aqila yang masih lumayan asri karena banyak pohon.
Mereka duduk di sebuah saung yang ada di tempat itu.
"Apa yang mau kamu bicarakan? " Tanya Aqila pada Dimas.
"Gue terpaksa Terima perjodohan ini karena itu semua demi nenek" Ucapnya.
"Terus? " Tanya Aqila.
"Gue cuman mau ngajak lo kerja sama biar saat kita melakukan peran ini tidak ada kesalahan. " Jawab nya.
"Imbalan buat aku apa? " Tanya Aqila.
"Lo minta imbalan, yang benar saja" Ucap Dimas.
"Aku akan turuti semua perintah kamu tapi aku minta imbalan dengan kamu balikin kalung aku dan kamu anggap lunas hutang perbaikan mobilnya gimana? " Saran Aqila.
"Pintar juga lo, oke deal" Ucap Dimas setuju dengan saran Aqila.
Setelah mereka membuat keputusan mereka masuk dan ikut bergabung dengan keluarga mereka. Keluarga Dimas pun pulang karena sudah larut. Aqila masuk kamar dan dia langsung membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Tiba-tiba sang adik Nindi datang dan mengajaknya ngobrol.
"Teh, tadi aku lihat saat teteh bicara sama bang Dimas kok kaya kenal? " Tanya Nindi.
"Ya dia kan bos aku di kantor ya wajar kami kenal" Jawab Aqila.
"Iya sih teh, tapi kan biasa Formal bahasa yang di gunakan tapi tadi aku lihat tadi enggak" Ujar Nindi.
"Karena dia sendiri yang pakai bahasa gue lo, kalau teteh ya aku kamu" Jelas ku.
Nindi pun mengerti padahal Aqila sudah degdegan takut Nindi tau apa yang di bicarakan mereka. Setelah Nindi keluar Aqila langsung tidur karena sudah mengantuk juga.
Paginya dia sudah bangun dan membantu mama di dapur. Saat siang hari Dimas datang ke rumah mereka dan itu membuat Aqila dan keluarganya bingung.
"Maaf nak Dimas ada perlu apa kesini? " Tanya mama.
"Maaf tante saya kesini mau ajak aqila ke rumah karena nenek ingin bicara" Jawab Dimas.
"Oh kirain ada apa nak Dimas, ya sudah bentar tante panggilkan kan ya." Ucap mama lalu memanggil Aqila.
Aqila sedang di belakang menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
"Teh, ada nak Dimas"panggil mama pada Aqila.
" Ngapain dia kesini? "Tanya Aqila.
" Dia bilang nenek ingin ketemu sama kamu"jawab mama memberitahu.
Akhirnya Aqila pun menunda pekerjaannya dan langsung menghampiri Dimas yang duduk di ruang tamu.
"Ada apa? " Tanyanya sedikit ketus.
"Nenek ingin ketemu" Jawab nya tak kalah dingin.
"Bentar aku siap siap dulu" Jawabnya lalu masuk kamar.
Aqila pun mandi dan siap-siap, setelah siap dengan memakai rok atasan kaos yang di pasukan dengan kardigan dan sepatu cet, Aqila pun keluar kamar dan menghampiri Dimas.
"Aku sudah siap" Ucapnya sambil berdiri di depan Dimas.
Dimas pun mengangkat kepalanya dan melihat Aqila dari bawah sampai atas. Lalu dia berdiri dan langsung pamit pada orang tuan Aqila. Aqila pun mengikuti Dimas setelah mencium tangan kedua orang tuanya. Aqila naik ke mobil Dimas dan Dimas pun langsung menjalankan mobilnya, selama dia jalan tidak ada yang bicara mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama mereka pun sampai di rumah mewah yang sering Aqila datangi. Aqila turun dan langsung masuk tanpa menunggu Dimas.
"Assalamualaikum nek"ucapnya saat melihat sangat nenek sedang duduk sambil membaca majalah.
" Waalaikumsalam"balasnya sambil berdiri menyambut Aqila.
Aqila langsung mencium tangan sang nenek dan itu semua tidak luput dari perhatian Dimas yang berdiri tak jauh dari mereka.
Aqila langsung duduk dan mengobrol sama nenek sedangkan Dimas dia masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa nenek menyuruh aku kesini? " Tanya Aqila.
"Ada yang mau nenek bicarakan sama kamu" Jawab nya sambil mengusap tangan Aqila.
"Apa nek? " Tanya Aqila penasaran.
"Nenek cuman ingin tanya apa yang kamu inginkan untuk mas kawan dan berapa nominalnya? " Tanya sang nenek.
Aqila terdiam memikirkan pertanyaan sang nenek.
"Kenapa diam? " Tanya nya.
"Aqila gak bisa nentuin nek, Aqila giman Bang Dimas saja berapa yang mau dia kasih" Jawabnya pad akhirnya.
"Kamu yakin? " Tanya nenek lagi.
"Aku yakin nek" Jawabnya pasti.
Akhirnya sang nenek memanggil sang bibi menyuruhnya memanggilkan Dimas di kamarnya. Bibi pun pergi dan tak lama Dimas turun dan menghampiri sang nenek.
"Ada apa nek? " Tanya nya sambil duduk.
"Kamu ngapain masuk kamar, tani Aqila disini nenek mau masuk kamar dulu" Jawabnya dengan nada kesal.
"Loh kan nenek yang mau bicara kenapa jadi aku? " Protesnya.
"Udah temani saja nenek mau istirahat" Ucapnya lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
Setelah nenek pergi akhirnya Aqila mengajak Dimas untuk bicara tapi gak di rumah karena ada satu hal yang ingin dia bicarakan. Mereka pun pergi dan Dimas membawa Aqila ke suatu tempat yang menurut dia sedikit tenang yaitu sebuah taman.
"Sekarang lo mau bicara apa? " Tanya Dimas sambil menatap sebuah danau di depannya.
"Kamu sudah yakin dengan perjodohan ini? " Tanya Aqila pada Dimas.
"Gue lakuin ini demi nenek dan gak ada alasan lain" Jawabnya tanpa melihat Aqila.
"Aku kalau bukan gara-gara Nindi mau di lamar pacarnya mungkin aku gak akan Terima perjodohan ini tapi karena mama dan ayah yang minta aku gak bisa menolak" Ucapnya.
Dimas hanya meliriknya sekilas tanpa bicara apa-apa.
"Tapi buat aku pernikahan ini gak bisa di jadikan main-main jadi aku akan menjalaninya dengan ikhlas dan ku anggap sebagai ibadah, tapi sebelumnya ada yang mau aku sampaikan" Lanjut Aqila yang langsung membuat Dimas menatapnya.
"Apa? " Tanya nya penasaran.
"Aku bukan wanita suci, karena aku sudah.... " Ucap Aqila terhenti.
Dimas dia hanya tersenyum miring lalu berkata "lo tenang saja mungkin setelah kita nikah gue gak akan sentuh lo jadi lo ngasih tau itu semua sama gue, itu gak penting, tapi gue hargai kejujuran lo".
" Makasih"ucap Aqila merasa lega, walau ada rasa kecewa karena dia hanya akan jadi seorang istri tapi itu status saja.
Mereka akhirnya diam dengan pikiran masing-masing karena tak ada yang bicara sampai akhirnya mereka merasakan hujan dan langsung berlari menuju mobil mereka. Sesampainya di mobil Dimas melihat Aqila bajunya sedikit basah. Dia langsung mengambil handuk yang ada di jok belakang.
"Nih wajah kamu basah, keringkan dulu" Ucapnya sambil menyerahkan handuk.
Aqila pun mengambilnya dan langsung mengelap wajah dan bajunya yang sedikit basah. Setelah selesai dia melihat rambut Dimas basah dan dia bermaksud untuk mengeringkannya namun Dimas langsung menghindar.
"Maaf, rambut kamu basah" Ucapnya.
Dimas langsung mengambil handuk yang ada di tangan Aqila dan langsung mengeringkan rambutnya sendiri.