POV Aqila.
Setelah pembicaraan malam itu sikap Aqila jadi murung karena dia benar-benar tidak siap jika harus di jodohkan dengan pria yang sama sekali dia gak kenal. Namun saat bekerja dia berusaha untuk tidak memikirkannya karena dia gak mau menganggu pekerjaan nya. Namun walau gak di pikirkan tetap saja membuat Dewi merasa aneh dengan sikap Aqila.
"La, kamu sedang ada masalah? " Tanya nya saat makan siang.
"Gak ada Wi, memang kenapa? " Jawabnya.
"Aku lihat dari kemarin kamu sepertinya kurang semangat" Ucapnya.
"Aku gak mikirin apa-apa cuman bingung saja harus ganti perbaikan mobilnya pak Dimas" Ucapnya berbohong.
"Kamu ceritakan saja sama orang tua mu agar mereka bantu" Saran Dewi.
"Gak deh aku gak mau buat mereka jadi beban" Tolaknya.
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka. Aqila pulang seperti biasa namun saat di parkiran dia melihat Dimas berjalan ke arahnya.
"Ngapain tuh orang" Pikirnya.
Dimas pun sudah berada di depan Aqila lalu dia mengambil tangan Aqila dan menyerahkan kalung yang tempo hari di jadikan jaminan oleh Aqila.
"Kenapa di kembalikan pak? " Tanya nya.
"Gue lihat sepertinya kalung nya berharga banget" Ucapnya.
"Ya berharga lah karena barang berharga satu-satunya" Jawab Aqila dengan santai.
"Makanya gue balikin" Ucapnya.
"Makasih pak" Ucap Aqila.
Dimas pun langsung pergi dan Aqila pun naik ke motornya dan langsung pergi dari tempat parkiran. Sesampainya di rumah Aqila melihat ada mobil yang sering dia lihat.
"Ada nenek" Gumamnya sambil membuka helem.
Saat masuk Aqila langsung mencium tangan nenek Laras dan kedua orang tuanya.
"Nenek apa kabar? " Tanya Aqila sambil duduk di sebelahnya.
"Baik sayang" Jawabnya dengan tersenyum.
"Nenek sejak kapan di Bandung? " Tanya Aqila.
"Nenek di sini sudah satu minggu sayang, nenek kesini mau ingin tau jawaban kamu tentang perjodohan ini? " Ucap sang nenek membuat Aqila terdiam.
"Sayang" Panggil sang nenek.
"Iya nek" Jawab nya.
"Gimana? " Tanya nya lagi.
Akhirnya Aqila mengangguk dan nenek tersenyum senang.
Setelah cukup lama berbincang sang nenek pamit pulang dan Aqila pun masuk kamar dan dia rebahan di tempat tidur sambil melihat atap kamarnya yang berwana putih.
"Apa keputusan ku dengan menyetujui perjodohan ini tidak akan membuat semua orang kecewa" Pikir Aqila.
Tak terasa air mata Aqila menetes begitu saja di saat dia mengingat kejadian yang membuat Aqila terpuruk dan membatasi cowok yang mendekatinya.
Aqila pun langsung bangun dan dia berusaha untuk baik-baik saja karena gak mau membuat semua orang kecewa maka nanti sebelum menikah dia akan memberitahu cowok itu dan sepertinya cowok itu gak masalah karena dia orang kota yang mungkin sudah biasa melakukan itu. Aqila keluar kamar setelah selesai mandi untuk ikut makan malam. Setelah selesai makan malam sang Ayah memberitahunya kalau nanti malam minggu calonnya akan datang ke rumah untuk bertemu dengannya. Aqila cuman mengangguk karena dia sudah setuju jadi apa pun yang di ucapkan sang ayah tidak akan bisa dia tolak.
Dua hari sebelum acara keluarga besar Aqila sudah datang mereka sibuk menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan. Saat ini Aqila baru keluar dari kamar karena hari ini libur jadi dia bisa santai bangun siang. Aqila pergi ke dapur untuk makan karena perutnya lapar.
"Duh yang baru bangun langsung makan saja" Sindiran seorang wanita.
Aqila menghentikan suapan nya lalu melihat ke arah wanita itu.
"Apa masalahnya dengan lo? " Tanya Aqila sedikit marah.
"Duh jangan marah dong kan gue bercanda" Jawab nya
Namun karena suasana Aqila sedang tidak baik-baik saja jadi Aqila langsung menghentikan makannya dan pergi ninggalin cewek itu. Namun entah kenapa cewek itu malah ngikutin Aqila ke belakang rumah sambil menggendong anaknya.
"Akhirnya lo mau nikah juga ya, gue pikir lo akan jadi perawan tua" Ucapnya membuat Aqila kesal namun karena gak mau ribut jadi Aqila cuekin saja sampai akhirnya dia bosan juga dan pergi. Namun Aqila tidka tahu kalau mama ada di belakang nya.
"Yang sabar ya sayang" Ucap mama sambil mengusap tangan Aqila.
Aqila hanya tersenyum rak membalas ucapan sang mama.
"Ini yang mama takut kan sayang jika kamu sampai nolak perjodohan ini, mama gak mau buat kamu jadi pembicaraan orang kampung" Ujar mama.
"Aqila tau ma, Aqila ikhlas ma kalau Aqila harus di jodohkan" Balas Aqila agar sang mama tidak sedih.
Karena sudah sore jadi Aqila si suruh siap-siap dan dia akan di bantu make up oleh sang adik Nindi. Setelah mandi Aqila keluar untuk mencari Nindi. Namun saat melewati ruang makan Aqila di buat bingung dengan menu yang disediakan untuk acara malam ini.
"Teteh kenapa bengong? " Tanya Nindi tiba-tiba.
"Ini makanan pada enak kaya nya" Jawab Aqila.
"itu ayah yang nyuruh karena tamu nya spesial"ucap sang adik.
Aqila langsung di tarik Nindi untuk di dandani agar kelihatan cantik. Selama di make up Nindi bercerita kalau cowok yang di jodohkan dengan Aqila itu ganteng banget karena Nindi pernah melihat hanya sekilas.
"Teteh harus bersyukur kalau calon n teteh itu orang kaya biar teteh bisa hidup senang gak harus kerja lagi" Ucap Nindi.
"Ya tetap saja Nin, kalau bukan cowok ya g kita suka akan susah untuk membiasakannya" Ucap Aqila.
"Iya sih teh, tapi kan salah teteh sendiri gak mau cari pacar" Ucapnya nya.
Namun belum sempat Aqila membalas ucapan Aqila tiba-tiba mama masuk.
"Tamu nya udah datang sayang, gimana udah siap belum? " Tanya nya.
"Udah dong ma, gimana cantik kan? " Jawab Nindi.
"Cantik sayang, ayo keluar" Ajak mama.
Aku pun di bantu Nindi untuk keluar dan entah kenapa aku hanya bisa nunduk karena malu. Aku pun duduk dihimpit mama dan ayah. Pak ustad pun mulai bersikap cara dan sampai saatnya calon ku berbicara karena di tanya pak ustad.
"Silahkan nak Dimas bicara" Titah pak Ustad.
"Dimas" Pikir ku.
"Jangan-jangan dia" Gumam ku sambil mengangkat wajahku dan melihat ke arah cowok itu dan aku benar-benar di buat kaget saat melihat atasan ku yang akan jadi calon suamiku. Dimas dia hanya tersenyum melihat Aqila kaget. Sampai akhirnya mereka di suruh berhadapan dan tukar cincin Aqila masih tak percaya kalau cowok yang di jodohkan dengannya adalah pria yang membuatnya kesal karena maslah tabrakan itu.
"Kalau gak lihat banyak orang aku udah berteriak sama dia" isi otak Aqila.
Bahkan Dimas seolah-olah mengejeknya dengan senyuman nya membuat Aqila benar-benar kesal.