POV Dimas.
Di tempat berbeda seorang pria baru saja pulang dari kantor dengan mengendarai mobil sportnya dan masuk ke sebuah rumah mewah. Pria itu pun keluar dari mobil dan langsung melangkah ke dalam rumah. Namun di dalam rumah itu sedang berkumpul keluarga besar nya.
"Nah, orang nya datang pas banget sedang kita bicarakan" Ucap salah satu wanita paruh baya di rumah itu yang tak lain adalah nenek sang pria.
"Ada apa nek, kok kelihatan bahagia banget? " Tanya sang pria sambil memeluk sang nenek.
"Sini duduk dulu nanti nenek cerita" Ajak sang nenek pada pemuda itu.
Sang pria pun duduk di samping sang nenek.
"Kamu lihat deh Dim" Ucap sang nenek pada pemuda itu sambil memperlihatkan foto seorang perempuan.
"Ini kan foto cewek yang tadi nabrak mobil gue" Pikir sang pemuda yang tak lain adalah Dimas.
"Gimana cantik kan? " Tanya sang nenek membuyarkan lamunan Dimas.
"Em... " Gumam nya.
"Sayang gadis yang ada di foto itu akan di jodohkan sama kamu, dia cucu dari temennya nenek kamu" Penjelasan sang bunda yang membuat Dimas semakin kaget.
"Jodohkan? " Kagetnya.
"Iya sayang" Jawab sang nenek.
"Tapi nek" ucapnya mencoba menolak.
Namun dia langsung diam saat melihat tatapan sang Papa.
Dimas langsung diam saat melihat sang papa melotot padanya di tambah tatapan sang nenek yang penuh harapan.
"Kalau kamu setuju malam minggu kita ke rumah nya" Ucap sang nenek lagi.
"Iya nek" Jawabnya dengan terpaksa.
Dimas pun masuk kamarnya dan dia langsung mengumpat di dalam kamar karena dia gak mau kalau harus di jodohkan dengan wanita yang belum dia kenal walau dia sudah bertemu dengannya tapi dia belum mengenalnya. Namun tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar dan Dimas langsung membukanya dan ternyata itu sang bunda.
"Bunda boleh masuk? " Tanya sang bunda saat pintu terbuka.
"Masuk saja bun" Jawab Dimas lalu berjalan masuk dan di ikuti sang bunda setelah menutup pintu kamar.
Dimas duduk di pinggir tempat tidur dan di susul sang bunda duduk di sebelahnya. Sang bunda mengusap tangannya lalu berkata "bunda harap kamu gak mengecewakan nenek, dia sangat ingin melihat kamu menikah".
Dimas diam menunduk karena saat ini dia sedang bingung apa yang harus dia lakukan.
" Usia kamu sudah pantas untuk menikah jadi bunda berharap kamu mengambil keputusan yang benar jangan sampai Mengecewakan nenek kamu, dia sudah tua. "nasihat bundanya.
"Bun, Dimas hari ini baru bertemu gadis itu" Ucap Dimas memberitahu bundanya.
"Di kantor kan, karena dia memang kerja di sana" Ucap bunda.
Dimas pun langsung melirik sang bunda karena dia pikir bunda tidak tahu.
"Nenek yang menyuruh dia untuk kerja di sana karena saat itu dia butuh kerjaan" Beritahu bunda.
"Jadi keluarga dia keluarga sederhana? " Tanya Dimas pada sang bunda.
"Iya, tapi untuk anak laki-laki dari kelurga kita tidak akan mempermasalahkan istrinya dari kalangan apa saja karena kamu yang akan membahagiakan mereka, beda lagi dengan wanita dari keluarga kita yang harus menikah dengan kelurga yang setara dengan keluarga kita karena kami gak mau anak perempuan kami hidup susah" Jawab sang bunda menjelaskan.
Namun pembicaraan mereka terhenti karena sang papa memanggil sang bunda, sang bunda pun keluar dan Dimas langsung memikirkan tentang perjodohan ini.
Esoknya saat di kantor Dimas jadi ingin tahu keseharian Aqila jadi dia terus memperhatikannya dari CCTV. Gadis berjilbab itu sedang fokus bekerja dan dia bahkan meminta lemburan pada atasannya.
"Ngapain tuh cewek ingin lembur segala" Pikir Dimas.
Saat jam pulang ternyata Aqila masih belum pulang dan Dimas langsung menghampirinya.
"Kenapa belum balik? " Tanya nya membuat Aqila kaget.
"Aduh pak, bisa gak jangan tiba-tiba datang gitu kaget aku" Omel Aqila tanpa takut.
"Kamu marahin saya? " Tanya Dimas dengan kesal.
"Bukan marahin bapak, tapi aku kaget" Ucap Aqila menjelaskan.
"Terserah, lebih baik sekarang kamu balik sana! " Perintahnya membuat Aqila kesal dan mengumpat.
Setelah Aqila pulang barulah Dimas keluar kantor dan dia tidak langsung pulang melainkan pergi nongkrong bersama sepupunya yang tinggal di kota ini. Namun lagi-lagi dia harus bertemu dengan Aqila lagi namun sekarang Dimas hanya diam saja memperhatikannya dari jauh karena Aqila datang ke kafe ini tidak sendiri melainkan bersama seorang pria.
"Bang, lihatin apa? " Tanya Tio pada Dimas.
"Gak lihat apa-pa ko" Jawab Dimas berbohong.
"Ya elah bang jujur saja, abang lihatin teh Aqila kan? " Tebalnya membuat Dimas langsung melotot.
"Bang, semua orang sudah tahu kalau abang di jodohkan sama teh Qila karena nenek sebelum memberitahu abang dia ngasih tahu semua keluarga, lagian teh Qila sering lo ke rumah nenek" Penjelasan Tio yang membuat Dimas kaget dan dia sudah tidak bisa menolak perjodohan itu. Namun ternyata Aqila datang ke kafe itu hanya mengantar temannya untuk bertemu wanita.Setelah wanita itu datang Aqila langsung pulang dan entah kenapa Dimas merasa lega saja kalau cowok yang bareng dengan Aqila bukan pacarnya.Dimas dan Tio pun pulang. Dimas langsung memberitahu jawabannya akan perjodohan ini pagi pagi saat mereka sarapan.
"Nek, aku Terima perjodohan ini" Ucapnya memberitahu semua orang.
Nenek langsung tersenyum lebar dan dia pun bangkit dari duduknya dan mendekati Dimas dan langsung memeluknya.
"Makasih sayang, sudah setuju, malam minggu kita ke rumahnya dan minggu depan kalian langsung menikah" Ucap sang nenek membuat Dimas tersedak makanannya. lalu sang mama memberi air minum.
"Aduh sayang kalau makan yang benar" Ucap sang nenek sambil menepuk pundak Dimas. Setelah merasa baikan Dimas langsung bicara.
"Kok langsung nikah, apa gak ada pengenalan dulu?Dimas kan belum mengenalnya. " Protesnya.
"Kalau kamu sudah setuju buat apa di tunda lagi, lebih cepat lebih baik lagian kalian bisa mengenal sama lain setelah menikah. " Jawab sang nenek.
Dimas hanya bisa pasrah kalau sudah seperti ini karena dia sudah tidak bisa menarik ucapannya lagi, namun yang salah Dimas tidak bertanya tentang kelanjutannya karena dia pikir dia dan Aqila akan tunangan dan mengenal satu sama lain. Setelah keputusan itu Dimas tidak bisa fokus kerja karena dia memikirkan kalau sebentar lagi dia akan menikah dengan gadis yang baru dia kenal berapa hari dan membuat pekerjaannya terbengkalai. Namun sampai hari pertemuan mereka tiba Dimas tidak pernah berkata apa-apa sama Aqila karena orang tuanya memberitahu kalau Aqila belum tahu siapa pria yang akan di jodohkan dengan nya. setelah keputusan yang diambil Dimas jadi sering memperhatikan Aqila bahkan dia diam-diam sering memperhatikan nya.