Malam Petaka
Di sebuah klub malam tepatnya di daerah puncak. Dengan gemerlap lampu berwarna-warni, terlihat banyak pria dan wanita yang sedang asyik menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang dimainkan dj. Tubuh mereka meliuk-liuk begitu lincah bak ular kepanasan. Rok mini serta pakaian serba sexi melilit menampilkan setiap lekukan tubuh mereka.
Sementara itu, di salah satu sudut ruangan terdapat beberapa lelaki yang sedang asyik bercengkrama dengan wanita sexi. Dua dari mereka duduk ditemani wanita sexi itu. Sementara salah satunya terlihat sedang meminum segelas air. Lelaki nan rupawan bernama lengkap Arya Santana Bagaskara itu tidak mengetahui jika temannya telah memberi bubuk perangsang pada minumannya.
Setelah Arya berhasil menghabiskan minuman tadi, lelaki yang duduk di sebelah Arya pun mengangkat kedua sudut bibirnya seolah dia puas dengan apa yang dia lakukan sambil tangannya merangkul wanita yang ada di samping kanannya. Sang wanita mengambil minuman memabukkan itu dan menuangkan ke dalam gelas Galang.
Beberapa saat setelah meminum air itu, Arya merasa tubuhnya terasa panas. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dalam dirinya. Arya pun menoleh pada Galang yang ternyata mengangkat kedua sudut bibirnya seraya menggoda Arya.
"Gimana, Bro. Udah ngefek ya?" tanya Galang tersenyum puas mengerjai Arya.
"Kamu campurin apaan sama minumanku, Lang?" tanya balik Arya yang menaruh curiga pada temannya itu. Pasalnya temannya yang suka bergonta-ganti cewek itu pernah mengatakan jika malam ini mereka akan berpesta ria. Arya yang awalnya tidak ingin ikut pun tidak bisa mengelak saat disebut lelaki Cemen oleh kedua temannya jika dia tidak ikut serta dalam pesta apa itu namanya. Entahlah, bukankah orang kaya memang tidak butuh alasan untuk berpesta. Kapanpun mereka mau mereka bisa setiap malam merayakan sebuah perayaan apapun itu.
"Udah ngefek kan? Tenang … banyak wanita di sini yang akan memuaskan kamu. Tinggal pilih mau yang mana. Yang ini." Galang meraih dagu wanita yang melendot genit di bahunya.
"Yang itu, yang di sana, di mana saja kamu mau. Pokoknya malam ini kita akan berpesta ria, aku sudah menyiapkan satu kamar VVIP untuk kita," kata Galang dengan jarinya yang menunjuk ke seluruh arah ruangan dimana terdapat banyak wanita di sana. Tawanya terdengar lepas meski samar karena suara alunan musik yang terus memekakkan telinga.
"Kamu gila!" Dengan menahan panas yang dia rasakan di sekujur tubuhnya tentu saja Arya sudah bisa menebak bubuk apa yang dimasukkan oleh temannya itu.
Tidak mau menunggu lama, Arya pun memilih meninggalkan keramaian klub malam itu dan keluar menuju mobilnya. Melihat Arya berjalan menuju pintu keluar, Galang pun mengumpat dan mengikuti Arya. Panggilan Galang tidak digubris oleh Arya. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju mobil dimana sang sopir sedang berdiri di samping mobil. Arya pun segera masuk diikuti oleh Galang yang duduk di samping Arya.
"Ngapain kamu ikut?" tanya Arya menatap sinis lelaki di sampingnya masih dengan menahan gairah panas di tubuhnya yang kini mulai menjalar.
"Kamu gila, kita kan mau senang-senang, malah cabut," protes Galang.
"Kamu yang gila! Ngapain pake acara campurin obat perangsang ke minumanku!" Omel Arya yang sudah tentu tebakannya memang benar.
"Kamu tau ternyata. Haha."
"Dasar gila!" maki Arya pada Galang. Seberapapun makian yang Arya lontarkan pada Galang, tetap saja aura panas yang dia rasakan semakin menjadi-jadi. Melihat wajah Arya yang sudah gelisah, Galang pun tahu jika saat ini Arya sudah merasakan gairahnya semakin menjadi.
"Harusnya kamu jangan pergi, kamu bisa melampiaskan gairah kamu pada wanita yang ada di klub tadi. Bukankah kamu bisa memilih wanita yang mana yang mau kamu tiduri malam ini. Bukan hanya satu wanita, bahkan beberapa wanita pun kamu bisa memilihnya. Yang pasti kita bersenang-senang sampai pagi," ucap Galang dengan nada mengejek.
Mendengar ucapan Galang, rasa panas dalam diri Arya semakin meletup-letup bahkan telinganya gini terlihat merah. Tanpa mempedulikan ucapan demi ucapan yang dikatakan oleh Galang, Arya memerintahkan pada sang sopir agar terus melakukan mobilnya dengan cepat. Dia harus segera sampai dan meredakan efek obat itu.
***
Di tempat lain, tepatnya di sebuah vila terlihat empat wanita dan dua lelaki yang sedang menikmati liburan mereka. Mereka datang dari Jakarta sengaja untuk berlibur dari penat dan macetnya ibu kota. Selain itu, mereka ingin merilekskan tubuh dan pikiran dengan berlibur di daerah yang lebih sejuk.
Saat ini mereka sedang ada di halaman belakang villa, dimana semua yang ada di sana sedang mengadakan pesta barbeque.
"Nad, pake jaket gih. Udah malem, nanti dingin," seru Arman, salah satu teman kerja Nadin. Tanpa basa-basi Arman membuka jaketnya dan melingkarkannya di bahu Nadin. Nadin tersenyum canggung melihat perhatian dari Arman.
"Makasih, Man."
"Mau lagi dagingnya?" tanya Arman menyodorkan sepiring daging yang sudah dibakar dan diberi bumbu sedemikian rupa.
"Udah, Man. Aku kenyang," tolak halus Nadin dengan menepuk pelan perutnya menandakan jika dirinya sudah kenyang.
Nadin berbicara jujur karena dirinya memang merasa kalau perutnya sudah terisi penuh. Lagi pula, memakan daging dalam jumlah yang banyak bukankah hal yang tidak baik. Ya, tentu saja. Segala sesuatu yang berlebihan pastinya tidak baik, termasuk juga dengan makanan.
"Ya udah kalo gitu." Arman menaruh piringnya ke meja persegi di belakang mereka.
"Aku ke dalam dulu ya. Benar katamu, Nad. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Nih buktinya perutku udah mules," kata Arman memegang perutnya dengan ekspresi seperti menahan sesuatu yang sudah tidak bisa dia tahan.
"Udah ah, aku gak tahan." Arman berlari tunggang langgang dari hadapan Nadin dan teman-temannya.
"Dasar si Arman, lucu banget dia." Nadin tertawa dengan beberapa temannya.
Nadin menatap langit, di sana terdapat ribuan bintang yang gemerlap. Seperti halnya bintang di langit, Nadin yang saat ini sedang melihat pun merasa bersyukur masih diberi waktu untuk bisa melihat indah ciptaan Yang Kuasa.
Malam tanpa bintang rasanya kurang lengkap. Gemerlapnya membuat suasana malam semakin indah. Tidak mau melewatkan malam begitu saja, Nadin yang ingin berjalan-jalan keluar pun meminta izin kepada temannya yang bernama Jihan untuk keluar dan akan segera kembali. Awalnya Jihan menawarkan untuk menemani Nadin, tetapi Nadin merasa jika dia berani dan tidak akan pergi jauh dari villa.
Nadin pun melangkahkan kakinya perlahan sambil menikmati udara malam yang begitu sejuk. Maklum saja jarang udara sesejuk ini dia dapatkan. Oleh karena itu dia ingin memuaskan dirinya dengan berjalan santai di malam hari tanpa dia sadari jika banyak kemungkinan yang bisa tersesat berjalan sendirian di malam hari. Tanpa terasa Nadin kini melangkah lebih jauh dari villa hingga menuju ke jalan utama. Dia melihat sebuah toko yang masih buka, Nadin pun berusaha akan menyeberang, tetapi langkahnya kemudian terhenti saat sebuah mobil sedan hitam mengkilap tiba-tiba berhenti di samping dirinya.
Awalnya Nadin mengira penumpang di dalamnya hendak menanyakan sesuatu hal seperti alamat atau yang lain pada dirinya, ternyata dugaannya salah. Bukan kaca mobil yang terbuka, melainkan pintu mobil tengah tiba-tiba terbuka dan orang yang ada di dalamnya sontak menarik Nadin masuk ke dalam mobil.
"Kalian siapa? T-t-tolong. Hmmpft." Tidak banyak kata yang diucapkan Nadin karena mulutnya lebih dulu dibungkam oleh Galang dan didudukkan di pinggir.
Nadin berusaha melawan, tetapi tenaganya kalah jauh dibanding tenaga Galang yang terasa kuat dan menutup pernapasannya.
Melihat Galang menarik wanita masuk, dengan menahan gejolak dalam dirinya dan rasa pusing luar biasa karena pengaruh alkohol ditambah obat perangsang, Arya pun bingung apa yang akan dilakukan oleh temannya itu.
"Apa-apaan kamu, Lang. Lepasin cewek ini!" tutur Arya dengan nada menuntut.
"Udah kamu diem aja. Jalan Roy!" titah Galang pada supir Arya.
Sadar akan tidak banyak yang bisa dilakukan mengingat kepalanya yang terasa begitu berat, Arya pun menyandarkan kepalanya di jok. Arya memandang wajah wanita di kini sudah ada di samping dirinya. Satu yang kini dia tau, kalau wanita itu saat ini telah pingsan akibat ulah temannya.
Tidak lama kemudian, mobil mereka kini sampai di vila mewah. Mobil itu kini mulai merangsek masuk ke dalam gerbang. Merasa hawa panasnya tidak tertahan, Arya pun keluar lebih dulu dan masuk ke dalam kamar. Tanpa dia tau jika Galang malah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam kamar dimana Arya berada. Saat Galang masuk, Arya sudah membuka seluruh pakaiannya, kini yang tersisa hanyalah pakaian dalam saja.
"Ngapain kamu bawa cewek ini ke kamar aku, Lang. Bawa dia keluar!" suruh Arya melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya takut-takut kalau wanita itu tiba-tiba bangun. Bagaimana mungkin temannya itu berpikir memasukkan wanita itu ke dalam kamarnya sementara temannya itu tau kalau saat ini dia akan berusaha meredakan efek obat yang terasa begitu menyiksa dirinya.
"Sudah kamu nikmati malammu di sini. Lampiaskan semua padanya. Aku akan kembali lagi besok."
"Gila kamu!"
"Jangan buang kesempatan. Bersenang-senanglah, Ya. Sudah lama kamu tidak merasakannya, bukan?" Galang berlari keluar lalu mencabut kunci kamar dan mengunci mereka dari luar. Terdengar gelegar tawa Galang yang terdengar hingga ke kamar Arya.
Apa maksud perkataan Galang barusan? Bersenang-senang? Apa sebaiknya dia memang lampiaskan semua pada wanita ini?