Awalnya Arya ragu akan melampiaskan gejolak hasrat yang ada di dalam d**a. Namun, hasrat itu kini tidak mampu dia tahan hingga mengalahkan logikanya sendiri. Arya memandangi wajah cantik Nadin yang kini terbaring di ranjang.
Hanya sekedar melihatnya saja, tenggorokan Arya terasa tercekat dan susah untuk menelan. Jakun Arya terlihat naik turun melihat body wanita di depannya. Entah mengapa napsunya kini semakin meningkat berkali-kali lipat. Ini tidak bisa dibiarkan, rasa panas itu tidak akan segera hilang sebelum Arya melampiaskannya.
"Maafkan aku."
Arya mulai melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya dan tubuh Nadin dan melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Saat seseorang dikuasai hawa napsu, logika dan perasaan tidak akan ada gunanya karena yang ada hanya bagaimana caranya menuruti napsunya. Mereka yang sudah dikuasai napsu setan kadang tidak akan memikirkan resiko yang akan diterima setelah melakukan hal itu. Baik ataupun buruk bukan menjadi prioritas lagi, melainkan terserah nanti saja.
Sinar rembulan yang indah nyatanya tak seindah nasib Nadin malam ini. Dirinya kini tengah dikuasai dan berada di bawah kungkungan Arya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Begitupun dengan nasib Nadin malam ini.
Semakin larutnya malam semakin membuat pergerakan Arya menggelora. Dia benar-benar memuaskan dan melampiaskan segalanya pada gadis malang itu.
Saat pagi tiba, Nadin perlahan membuka matanya. Tangannya terulur memegang bagian belakang leher yang terasa sakit. Entah apa yang terjadi dengannya dia hampir lupa. Namun, hal terakhir yang dia ingat yaitu, dia ditarik oleh lelaki masuk ke dalam sebuah mobil, setelah itu dia tidak ingat apa yang telah terjadi.
Nadin baru sadar dan mengedarkan pandangannya pada langit-langit yang seolah terasa asing di pandangannya. Keningnya bahkan mengkerut dalam menyaksikan pemandangan asing itu. Bukannya villa tempatnya menginap tidak memiliki langit-langit yang begitu mewah? Akan tetapi kenapa yang ada sekarang malah pemandangannya begitu indah atau hanya Nadin yang salah lihat. Nadin menggeser tubuhnya ke kanan dan betapa terkejutnya Nadin mendapati seorang lelaki yang kini ada di ranjang bersama dirinya.
Keterkejutannya bukan hanya di situ saja, dirinya ternyata kini hanya dililit selimut, tanpa busana sehelai benang pun.Selain itu, Nadin juga merasakan sedikit nyeri di bagian sensitifnya. Sadar atas apa yang menimpa dirinya, Nadin pun menitikkan air mata. Dia merasa jika dirinya kini kotor, hina, dan telah ternoda. Badannya luluh ke lantai dan dia memunguti pakaiannya.
Mendengar suara tangisan yang mengganggu tidurnya nyenyaknya, Arya pun membuka mata dan melihat gadis malang yang telah dia nodai semalam. Gadis itu terlihat menyedihkan dengan rambut yang acak-acakan dan tubuh dililit selimut. Arya tercengang begitu sadar akan apa yang dia lakukan. Dia segera memunguti pakaian dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta mengenakan kembali pakaiannya. Setelah itu, Arya akan berbicara pada gadis yang telah dia renggut kesuciannya. Bagaimanapun dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat.
Galang memang keterlaluan mengerjai dirinya dengan berbuat hal demikian. Dia akan membuat perhitungan saat bertemu dengan lelaki itu nanti. Saat ini yang harus dia lakukan adalah berbicara dan meminta maaf kepada wanita yang ada di kamar bersamanya. Sebelum keluar kamar mandi, Arya mengumpulkan niat dan merangkai kata agar berani mengatakan dan mengakui kesalahannya.
"Aku harus tanggung jawab. Wanita itu … aku telah merusaknya," sesal Arya.
Arya mengusap rambutnya dengan kasar. Bisa-bisanya dia terjebak dengan hawa nafsunya sendiri. Harusnya semalam dia tidak melakukan hal itu. Kalau saja dia tidak menuruti kemauan Galang untuk datang ke club, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Penyesalan hanya sebuah penyesalan, kala nasi sudah menjadi bubur, maka takkan bisa lagi diubah menjadi nasi lagi.
Arya pun keluar, tetapi dia sudah tidak mendapati wanita itu. Ke mana dia? Arya mencoba mendekati pintu dan memutar handle-nya. Pintu itu masih dalam keadaan terkunci. Saat Arya melihat ke arah jendela, ternyata jendela itu terbuka. Itu berarti wanita itu kabur lewat jendela saat dirinya membersihkan diri.
"Sial, kenapa dia kabur?" geram Arya.
Tentu hal itu dia pertanyakan, melihat beberapa pengalaman. Saat wanita sudah berhasil didapati manisnya oleh sang lelaki, maka dia akan meminta pertanggungjawaban kepada lelaki itu. Akan tetapi, kenapa wanita tadi malah kabur? Dia tidak bisa membiarkan hal itu.
Arya terduduk dan kembali membayangkan wajah cantik wanita tadi. Entah kenapa dia masih sangat jelas mengingat wajah itu.
Tidak lama kemudian saat Arya masih memikirkannya, suara handle pintu yang diputar pun membuat perhatiannya beralih.
"Hei Bro. Gimana semalam? Nikmat bukan? Mana wanita itu?" tanya Galang tanpa merasa berdosa.
Galang malah terlihat mengangkat kedua sudut bibirnya dengan pipi yang mengembang sempurna seolah dia puas dan tidak sabar menunggu cerita dari Arya.
Sementara Arya semakin mengeratkan rahangnya mendengar setiap perkataan dari mulut temannya itu.
"Kurang ajar kamu, Lang."
Buggh
Bukannya menjawab pertanyaan Galang, Arya malah membernya bogeman mentah di wajah Galang dan membuat Galang terkejut.
"Hei, aku salah apa? Kenapa kamu ini? Bukannya bilang terima kasih udah dikasih enak-enak, malah mukul aku!" geram Galang tidak Terima diperlakukan kasar oleh Arya.
"Denger ya, apa yang kamu lakuin itu kelewatan. Sekarang wanita itu kabur dan aku gak tau dia siapa." Kata-kata Arya penuh penekanan menandakan jika dirinya benar-benar marah pada Galang.
"Loh, ya bagus dong. Ngapain kamu mikirin dia. Biarin aja dia pergi yang penting kamu udah senang-senang sama dia kan," cerocos Galang yang memang sudah biasa dalam lingkup wanita dan dunia malam.
"Lagian dia bukan perawan, 'kan?"
"Dia perawan!" jawab Arya dengan malas. Ya, malas meladeni Galang.
"Serius?" Galang segera melihat ke arah ranjang, ternyata apa yang dikatakan Arya benar. Terbukti ada bercak di sprei itu.
"Tau dia perawan mah, aku juga mau, Bro."
"Sinting!"
Arya menghempaskan tubuhnya ke kursi seraya mengacak rambut. Merasa frustasi atas apa yang telah menimpa dirinya. Apa yang dikatakan oleh Galang memang tidak sepenuhnya salah, toh ini bukan salah dirinya. Bukan dia tidak ingin bertanggung jawab, tetapi wanita itu yang pergi meninggalkan dirinya.
Satu sisi dia merasa harus bersikap biasa saja, toh circle dirinya dan Galang memang tidak jauh dari wanita, tetapi di sisi lain tetap saja dia merasa jika telah merusak wanita itu. Terlebih lagi, dia tidak mengenal siapa wanita yang wajahnya sampai saat ini masih jelas di pelupuknya meski dia sudah pergi. Satu hal lagi yang tidak kalah penting, dia bahkan tidak mengetahui siapa nama wanita yang semalam dia gagahi.
***
"Nad, kamu ke mana aja, kok semalam aku gak liat kamu?" tanya Devina, teman sekamar Nadia di vila.
Bukannya menjawab, Nadin malah segera mengemasi barang-barang dan pergi ke luar villa. Pikirannya tidak karuan, hatinya benar-benar hancur. Kini dirinya sudah tidak punya harga diri yang bisa dibanggakan lagi sebagai seorang perempuan. Seharusnya kejadian malam itu tidak terjadi pada dirinya.
"Nad, kamu habis nangis? Kamu kenapa?" Devina bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Nadin. Mata Nadin terlihat bengkak, wajahnya pun terlihat lusuh dan pandangan temannya terlihat kosong.
'Ada apa dengan Nadin? Apa sesuatu telah terjadi padanya?' gumam Devina dalam hati.
Tanpa mempedulikan Devina yang terus bertanya-tanya, Nadin segera pergi.
"Nadin, Nad," panggil Devina lagi.
Nadin terus berjalan, dia menunggu bus ke arah Jakarta. Antara sadar dan tidak sadar dia mencoba untuk pulang. Dia tidak mau menunggu sampai besok untuk pulang. Meski nyeri di bagian bawahnya masih sangat terasa dan seperti ada yang mengganjal di sana, tetapi dia harus segera pulang. Kejadian itu membuat dirinya terpukul.
Bayangan lelaki itu masih terlintas di matanya. Saat Nadin mencoba mengingat apa yang dilakukan lelaki itu, dia tidak berhasil mengingatnya. Yang dia ingat hanya saat dirinya terbangun dengan keadaan yang menyedihkan, bahkan kini dirinya tidak tau harus berbuat apa. Bagaimana kalau dirinya hamil?
Nadin memandang jauh ke arah jendela, air mata yang sedari tadi dia tahan, kembali membanjiri pipinya. Kedua tanganya kini mengepal sempurna, gigi-giginya saling bergemeretak dengan rahang yang semakin mengeras. Kini tubuhnya bergetar, segera dia ambil tisu untuk meredam suara tangisnya agar penumpang lain tidak mendengar isakannya.
Niat hati ingin berlibur, tetapi petaka yang dia dapat. Kini hal paling berharga dalam dirinya telah direnggut, bahkan oleh orang yang tidak dia kenal. Kenapa tadi dia harus lari? Bukannya dia bisa meminta pertanggungjawaban pada lelaki itu. Pikiran Nadin kosong, dia tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya tidak mau jika kembali diperlakukan tidak baik oleh lelaki itu jika dia tidak kabur.
Puas menangis, Nadin mendengar suara ponselnya yang berdering. Nama Arman terlihat di layar ponselnya. Saat ini Nadin tidak ingin menerima telepon dari siapapun. Arman memang baik, tetapi dia tidak mungkin menceritakan apa yang telah terjadi dengannya pada Arman. Apa yang akan Arman pikirkan tentang dirinya nanti jika lelaki itu tau kalau dirinya kini sudah tidak suci lagi.
Ting
Nadin memberanikan diri membuka pesan di aplikasi berwarna hijau. Sudah dia duga jika yang mengiriminya pesan adalah Arman. Arman memang begitu perhatian dengan dirinya, bahkan Arman adalah teman laki-laki paling dekat dengan Nadin di tempat kerja.
[Nad, kamu di mana? Ada apa denganmu? Kenapa kamu buru-buru balik ke Jakarta?] pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur di kepala Arman tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadin?
Devina bilang jika semalam Nadin tidak tidur dengannya. Dia pikir semalam Nadin sudah tidur sesaat setelah dirinya ke kamar mandi. Perilaku Nadin tiba-tiba membuat dirinya kepo.
"Ada apa sebenarnya dengan kamu, Nad? Semalam kamu ke mana?" Tanpa pikir panjang, Arman pun melakukan pembicaraan dengan teman-temannya dan memutuskan untuk menyusul Nadin dan pulang lebih dulu.
Sementara itu, Nadin kini sudah sampai di rumahnya setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan bus. Ada rasa takut yang menjalar dalam dirinya saat kembali pulang. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga dengan baik dirinya sendiri.
"Nad … kok udah pulang? Katanya sampai besok liburannya, Nak?" tanya Irma—ibu Nadin—yang tiba-tiba muncul di belakang Nadin dan memegang bahunya.
Apa yang harus dia katakan? Ingin rasanya dia mengadukan semuanya pada sang ibu, tetapi rasanya itu tidak mungkin. Apa yang akan terjadi jika orang tuanya sampai tau kalau dirinya telah mengalami hal yang paling menyakitkan.
"Mmh, i-iya, Bu. Aku pulang duluan," jawab Nadin gagap dengan denyut jantung yang menghentak.
"Kenapa, Nak?"