3. Ingin Sendiri

1455 Words
Kenapa, Nak? Kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Irma yang melihat raut wajah anaknya sedih. "Bu, aku …." Nadin tak mampu melanjutkan kata-katanya. Genangan dalam matanya ingin sekali tumpah, tetapi Nadin sekuat mungkin menahannya. Dia tidak mau menambah beban sang ibu yang sudah susah. Lalu bagaimana dengan nasibnya? Bagaimana kalau sesuatu hal terjadi padanya. "Kenapa, Din? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Irma khawatir dengan anak sulungnya. Irma mengelus rambut Nadin. Sepertinya anak sulungnya itu tidak nampak baik-baik saja. Seperti ada sesuatu hal yang sedang Nadin sembunyikan. Firasat seorang ibu sering sekali benar, begitupun dengan yang dirasakan oleh Irma. Dia tau jika ada hal yang sedang disembunyikan Nadin, tetapi Nadin seperti enggan untuk menceritakannya pada Irma. "Kenapa kamu diam, Din? Coba cerita sama Ibu apa yang membuat kamu sedih? Apa teman-temanmu mengucilkan kamu karena keadaan kita?" Irma mengajak Nadin duduk di sofa. 'Bukan, Bu. Bukan karena itu. Aku telah dinodai seseorang.' Andai saja Nadin bisa mengeluarkan kata-kata itu pada ibunya. Akan tetapi, hal itu hanya akan menambah beban hidup ibunya. Bagaimana kalau sampai tetangga-tetangga tau tentang hal memalukan yang terjadi pada dirinya. Ada jijik yang Nadin rasakan pada dirinya sendiri. "Din," panggil Irma dengan lembut. Kening Irma semakin mengerut bercampur dengan kerutan yang memang sudah terlihat di wajahnya karena umur yang sudah mulai menginjak angka lima puluh tahun. "Ya, Bu. Aku nggak apa-apa, kok, Bu. Aku pulang karena aku kangen banget sama Ibu. Aku sedih jauh dari Ibu." Nadin memeluk Irma dengan erat. Dia tumpahkan air mata di balik tubuh Irma agar Irma tidak terlalu mengetahui jika dirinya tengah menyimpan rahasia yang begitu menyakitkan bagi dirinya. 'Biar rahasia ini kusimpan saja, aku gak mau menambah beban ibu.' "Kamu ini aneh, Din. Baru juga sehari gak ketemu Ibu. Masa udah kangen sampe nangis gitu," celoteh Irma. "Aku sayang sama Ibu dan juga adek-adek." Irma lekas memeluk anaknya. Selama ini mereka hidup serba pas-pasan. Nadin yang hanya lulusan SMA memutuskan untuk menunda cita-citanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia memilih untuk membantu orang tuanya dan menjadi tukang punggung keluarga setelah ayahnya sering sakit-sakitan. Dulu, ayah Nadin pernah punya rumah makan yang cukup ramai. Namun, saat itu ayahnya ditipu habis-habisan oleh salah satu temannya hingga dia pun jatuh bangkrut. Nadin kecil harus merasakan pindah-pindah tempat dari kontrakan satu ke kontrakan lain demi menyambung hidup. Keadaan keluarga menjadi tidak karuan saat sang ayah mulai sakit-sakitan. Nadin harus melanjutkan perjuangan sang ayah menyekolahkan adik-adiknya dan menghidupi keluarga, hingga akhirnya dia bekerja di sebuah restoran yang cukup ramai dan lumayan membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. Sementara untuk berobat ayahnya, dia masih mengumpulkan uang agar bisa membawa sang ayah ke rumah sakit yang lebih bagus dan lengkap. Setelah bangkrut kondisi kesehatan ayah Nadin terus menerus menurun. Ardan masih sulit menerima jika dirinya ternyata ditipu mentah-mentah oleh sahabatnya sendiri. Setelah kejadian itu, Ardan sudah tidak pernah melihat batang hidung teman yang menipunya. Nadin kini berada di dalam kamarnya, dia menutup pintu kamar setelah tadi dia sempatkan menengok keadaan sang ayah yang masih terbaring lemah di tempat tidur. Badan Nadin luruh ke lantai di balik pintu kamarnya. Kepalanya dia benamkan di antara kedua kakinya yang ditekuk. Kini air matanya berhasil tumpah ruah. Sambil sesenggukan Nadin merasakan sakit di bagian inti yang masih begitu terasa. Sakit hatinya jauh lebih dari sakit yang dia rasakan. Kenapa bebannya begitu berat? Kenapa seolah cobaan terus-menerus datang dalam hidupnya? Setelah jatuh miskin, lalu sang ayah sakit, kini dia harus menerima kenyataan bahwa dia telah digagahi oleh orang yang tidak dikenal. Cobaan apa lagi yang akan datang pada Nadin selanjutnya? "Tuhan, bisakah aku bahagia? Masih adakah harapan setelah apa yang sudah aku alami selama ini? Aku ingin bahagia, Tuhan," lirih Nadin dalam isakannya. Jika saja ada yang mendengarnya, isakan Nadin begitu menyayat hati. Dihantam oleh keadaan yang begitu berat, membuat Nadin kadang merasa jika hidupnya sudah tiada guna. Namun, bagaimana dengan adik-adiknya, ibunya, dan juga sang ayah yang butuh dirinya. Jika saja dia tidak punya iman,maka pilihan bunuh diri yang melintas dalam pikirannya. Nadin sadar, seberapapun banyak masalah yang datang silih berganti. Dia tidak boleh sedikitpun berpikir tentang hal memalukan itu. Seberat apapun masalah yang dia lalui, dia sadar jika bunuh diri bukanlah sebuah solusi. Setelah berlama-lama membiarkan air mata terus mengalir, Nadin pun merasa lelah. Dia membersihkan diri dari apa yang telah dia alami. Ada rasa jijik saat dia menyentuh anggota tubuhnya yang malam kemarin telah disentuh oleh orang tidak dikenal. Wajah lelaki itu tiba-tiba mengambang di pikiran Nadin. Meski dia tidak mengenal lelaki itu, Nadin masih ingat betul dengan wajahnya yang kala pagi itu berada di atas ranjang bersama dengan dirinya dalam keadaan tanpa busana. Namun, dia tidak mengingat kejadian malam itu. Apa yang dilakukannya dengan lelaki itu dia pun tidak tau. Namun, bekas merah di tubuhnya menjadi pertanda jika malam itu merupakan malam yang menjijikkan bagi Nadin, malam yang penuh petaka. Nadin memukuli badannya sendiri, merasa kotoran terhina. Sudah hilang harga dirinya sebagai seorang wanita. Kesuciannya telah direnggut, di mana dia harus mencari lelaki itu? "Aku benci diriku, aku kotor, aku hina." Nadin kembali meraung di dalam kamar mandi. Air keran sengaja dia nyalakan agar suara tangisannya tidak terdengar oleh orang rumah. *** Pagi ini Nadin kembali menjalani rutinitasnya. Dia pamit dengan ibu dan ayahnya yang masih di dalam kamar. Dia juga sempatkan diri untuk menyapa dua adiknya, yaitu Saka dan Bilqis. Bilqis sudah berpakaian rapi. Tahun ini dia menginjak usia delapan belas tahun dan duduk di kelas tiga SMA. Sementara itu, Saka sang adik baru menginjak usia lima belas tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Demi mereka Nadin harus terus berjuang. Dia berjanji akan mengembalikan kondisi keuangan orang tuanya seperti sedia kala. Entah kapan waktunya Nadin yakin jika hal itu akan terjadi. Pukul sembilan Nadin sudah berada di restoran tempatnya bekerja. Dia lebih banyak diam meski disapa oleh beberapa temannya. Entah kenapa teman-teman Nadin merasa ada hal yang aneh dengan Nadin setelah dia pulang dari liburan. "Nad, kamu kenapa sih keknya diem mulu dari tadi?" tanya Devina yang memang cukup dekat dengan Nadin. Nadin hanya menjawab seperlunya saja. Selebihnya, dia hanya melakukan pekerjaannya hari itu. Saat waktu kerja selesai, Nadin hendak pulang. Namun, tangannya dicegah oleh Arman. Arman yang memang mendengar perkataan Devina yang mengatakan jika ada yang aneh dari seorang Nadin. Arman pun memutuskan untuk menemui Nadin. Tidak biasa-biasanya Nadin bersikap acuh terhadap dirinya. Biasanya Nadin selalu ceria dan selalu menyapa dirinya. Tidak pernah ada hari yang terlewatkan tanpa gurauan di antara mereka. Akan tetapi, kali ini benar apa yang Devina katakan, Arman pun menyadari akan hal itu. "Ada apa, Man?" Nadin segera melepas tangan Arman. Wajahnya yang sayu membuat Arman bertanya-tanya tentang apa yang menimpa gadis itu. "Kamu kenapa, Nad?" "Kenapa apanya, Man?" tanya balik Nadin seolah tidak mengerti apa yang Arman katakan. Bukannya dia tidak peka, sebenarnya Nadin pun tau kalau teman-temannya menaruh curiga karena sikapnya yang pendiam kali ini. Namun, Nadin berusaha menutupi segalanya dari siapapun. Dia kini malu bercengkrama lama-lama dengan teman-temannya meskipun tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi dengan Nadin. "Kamu aneh tau, Nad," tutur Arman. "Aneh kenapa, Man? Aku biasa aja," timpal Nadin. "Kamu itu aneh semenjak pulang kemarin. Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu kemarin, Nad? Aku juga tau kalau kamu malam itu tidak pulang ke villa. Sebenarnya ada apa sama kamu, Nad. Kamu bisa cerita ke aku. Kamu percaya kan sama aku?" desak Arman yang merasa curiga kepada Nadin. "Sudah, Man. Aku bilang aku gak apa-apa. Aku cuma mau sendiri dan fokus dengan keluargaku." Belum sempat Arman membuka mulutnya lagi,Nadin malah lebih dulu pergi meninggalkan Arman. "Nad, Nadin." Arman mengejar Nadin dan menghentikan langkah Nadin dengan berdiri di depan Nadin. "Ada apa lagi sih, Man?" Kali ini suara Nadin sedikit meninggi. "Aku mau bicara sama kamu, Nad. Aku mau kamu cerita." "Cerita apa? Ga ada apa-sama aku. Aku baik-baik aja. Aku cuma mau sendiri, Man!" Nadin berjalan kembali, membiarkan Arman terus mengikutinya sambil berbicara terus meminta Nadin menceritakan apa yang terjadi sehingga gadis itu bersikap aneh hari ini. "Nggak, aku gak percaya. Kamu pasti sedang nyimpen sesuatu. Iya kan? Apa kamu sedang ada masalah keluarga? Cerita please sama aku, Nad," desak Arman terus-menerus. "Aku bilang tinggalin aku sendiri, Man! Ada atau tidak ada masalah itu urusanku. Kamu bukan siapa-siapa aku, ngerti!" teriak Nadin membuat Arman terdiam. Baru kali ini dirinya dibentak oleh Nadin. Nadin yang biasanya bersikap lembut, ceria, kini menjadi Nadin yang tertutup. Sikapnya benar-benar membuat Arman tanda tanya tentang hal apa yang sedang Nadin sembunyikan darinya. Arman memang bukan siapa-siapa bagi Nadin. Namun, bagi Arman Nadin segalanya. Gadis itu tidak tau jika selama ini Arman telah memendam perasaannya dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nadin. "Aku emang bukan siapa-siapa kamu, Nad. Tapi aku cinta banget sama kamu," celetuk Arman melihat kepergian Nadin yang semakin menjauh dari pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD