4. Hamil?

1638 Words
Satu bulan lebih setelah kejadian yang tidak Nadin inginkan saat liburan dengan teman-teman kerjanya. Tanda tanya masih menggelayuti pikiran Arman. Berkali-kali Arman mencoba menanyakan tentang perubahan sifat Nadin pada wanita cantik itu. Namun, berkali-kali juga Arman mendapatkan jawaban tidak jelas dari Nadin. Bahkan Nadin seperti tidak mau dekat lagi dengan Arman. Entah apa yang disembunyikan oleh Nadin darinya. Meskipun Nadin tidak menghiraukan keberadaan dirinya lagi, tetapi satu yang selalu Arman ingat kalau dia akan selalu ada untuk Nadin. Nadin adalah wanita yang sangat dia cintai. Nadin memang tidak tau akan hal itu karena dia belum sempat mengucapkan kata-kata cinta pada Nadin. Pagi ini Arman bersiap ke kantor, dengan menaiki motor ninja kesayangannya yang berhasil dia beli dari jerih payahnya sendiri. Jaket jeans melekat erat di tubuhnya, serta tak lupa sepatu kets menambah image tampannya terlihat jelas. Meskipun dia hanya seorang pelayan resto, tetapi Arman selalu berpakaian rapi. Arman melaju dengan kecepatan sedang, kondisi jalanan pagi itu masih lengang karena Arman berangkat pukul 06.30. Arman memang sengaja berangkat di jam-jam tersebut agar tidak terkena macet dan dia bisa melakukan kendaraannya dengan santai. Tiba di lampu merah, motor Arman berhenti. Dia mengambil ponsel di saku dan mengirim pesan pada Nadin. [Nad, pulang nanti kita bareng ya. Ada yang mau aku omongin sama kamu] Arman mengembuskan napasnya setelah mengetik pesan untuk Nadin. Dia berharap Nadia tidak menolak ajakan ke sekian kalinya ini. Ya, sebelumnya Nadin juga berkali-kali menolak ajakan Arman untuk pulang bareng. Aneh memang, padahal sebelumnya Nadia sangat dekat dengannya dan selalu pulang dengan dirinya. Namun, setelah liburan kala itu, Arman menilai perubahan Nadin sangat drastis pada dirinya. Nadin belum juga membalas pesan Arman. Saat Arman mengedarkan pandangannya ke arah trotoar jalan, Arman melihat Nadin sedang duduk ditempat pemberhentian bus. Sepertinya wanita itu sedang menunggu bus datang untuk ke tempat kerjanya. Tanpa pikir panjang, saat lampu berwarna hijau, Arman menancap gas dan menghampiri Nadin. "Nad," panggil Arman membuat Nadin mendongak. "Arman." Nadin beranjak dan hendak pergi, tetapi Arman lebih dulu menangkap pergelangan tangannya. "Aku mohon jangan pergi, Nad. Please," mohon Arman dengan wajah memelas. Beberapa mata tertuju pada keduanya. Tidak mau dinilai tidak baik oleh orang-orang, Nadin pun mengalah dan mengikuti ucapan Arman. "Kita pergi bareng ya." "Aku bisa naik bus, Man. Gak usah repot-repot," tolak Nadin dengan bahasa lebih halus. "Aku mohon, ikut denganku. Lagian busnya belum datang kan? Lebih baik kita bareng biar cepat sampai ke resto." Tatapan Arman yang meyakinkan membuat Nadin menuruti Arman meskipun dia merasa tidak pantas duduk bersama dengan Arman. Lelaki baik yang selama ini sudah menemani dirinya, menjadi teman curhatnya, tempat dia berkeluh kesah tentang keluarga, kerjaan, dan Arman adalah orang yang paling dia percaya. "Pegangan ya, Nad." Arman menarik tangan Nadin melingkar ke perutnya. Arman menekan pedal gas dan menjalankan motornya. Sepanjang perjalanan Arman merasa bersyukur karena ini kali pertama Nadin mau lagi pergi dengannya setelah hari itu. Nanti siang dia akan mengutarakan keinginannya. Dia tidak bisa lagi membendung perasaan yang teramat bergejolak di dalam d**a. Dia tidak peduli akan jawaban Nadia nanti, yang jelas dia harus mengungkapkan semua rasanya pada Nadin. "Nad, nanti sore pulang bareng ya. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." "Aku gak bisa, Man," tolak Nadin. Sebenarnya Nadin juga tidak tega berlaku seperti ini dengan Arman. Hanya saja,dia merasa dirinya tidak pantas menjadi teman Arman. Dirinya sudah hina dan ternoda. Apa yang akan Arman pikirkan jika dia tau kalau Nadin sudah digagahi oleh orang. Arman pasti mengira kalau dirinya adalah w************n. "Maafkan aku, Man. Aku … aku sudah ternoda. Aku gak mau kamu terlalu dekat denganku," gumam Nadin dalam hati. Tak terasa air mata menetes dan jatuh ke jaket Arman. "Aku mohon jangan tolak, Nad. Kali ini aja, please. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Arman berusaha meyakinkan Nadia dan memegang tangan Nadin. "Ada hal penting apa, Man?" tanya Nadin lirih. Gerahamnya beradu. Kenapa dia merasa asing dengan Arman. Bukan Arman yang memberi jarak, melainkan dirinyalah yang membangun jarak dengan Arman. Tidak ada lelaki sebaik Arman. Sejauh ini Arman adalah lelaki paling baik yang dia kenal. Namun,masih pantaskah dia berteman dengan Arman? Masih pantaskah rasa yang dulu pernah hinggap di hatinya dia pertahankan? Sebisa mungkin Nadin membuang jauh-jauh rasa itu. Rasa yang tak seharusnya dia simpan, apalagi kini dirinya kotor dan hina. Mana ada lelaki yang mau dekat dengan wanita yang sudah kotor. Kalau saja Arman tau, dia tidak yakin jika Arman masih bersikap sama seperti saat ini. *** Sesampainya di resto tempat kerja mereka. Arman segera turun dan menyusul Nadin yang turun lebih dulu menuju ke ruangan karyawan. "Nad, tunggu!" Arman menghentikan langkah Nadin dan berdiri tepat di depannya. "Aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja." "Jangan sok tau, Man. Aku baik-baik saja, kok. Minggir, aku mau beres-beres." "Nad, kamu boleh kasar sama aku sekalian, kamu boleh sakiti aku dengan ucapanmu, tapi satu yang harus kamu tau." Arman menatap Nadin dengan lekat seraya berkata, "Kapanpun kamu butuh aku, aku akan selalu ada buat kamu. Jujur … aku sakit banget liat kamu kek gini sama aku. Mending kamu pukul aku sekalian daripada kamu diemin aku begini. Apa salahku Nad? Aku tidak tau kenapa kamu berubah sampe segininya sama aku." Arman berkaca-kaca mengatakan hal itu. Dia tidak mau Nadin berubah padanya. Dia sangat mencintai Nadin. Sementara Nadin masih terdiam melihat tatapan Arman padanya. Begitu berarti kah dia bagi Arman hingga Arman melakukan semua ini kepadanya? Apa Arman memiliki rasa lebih padanya? Ya, tatapan itu bisa Nadin lihat di mata lelaki yang cukup tampan di hadapannya. Belum sempat mengucapkan kata-kata, Nadin malah merasa perutnya kembali mual. Ya … sebulan terakhir ini dia sering merasa mual mendadak tanpa sebab yang jelas. "Oek." Sambil memegangi mulut dan juga perutnya, Nadin gegas berlari ke kamar mandi. Arman tentu tidak mau tinggal diam. Dia mengikuti Nadin. "Nad, kamu kenapa?" Nadin tidak menghiraukan kata-kata Arman. Bahkan dia mengusir Arman dan tidak memperkenankan lelaki itu mengganggu dirinya. "Ya Tuhan … apa aku hamil? Hiks." Badan Nadin melemah dan luruh di dinding kamar mandi. Air matanya tak mampu dia bendung. Meskipun belum pasti, tetapi jadwal menstruasinya pun sudah terlewat. Selama ini dia diliputi rasa takut, dia takut jika semua itu benar terjadi dan apa yang harus dilakukan? "Aku harus beli test pack. Ya … aku harus beli test pack. Aku harap aku hanya masuk angin biasa. Aku mohon Tuhan, jangan hukum aku dengan semua ini. Aku mohon." Nadin masih memandangi pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi. Besar harapan jika hal buruk yang dia takutkan tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. "Lelaki itu …." Nadin mencoba mengingat lelaki yang pagi itu berada di sebuah ranjang bersama dirinya tanpa sehelai benang pun. "Aku kotor, aku benci pada diriku sendiri." Nadin kembali meraung meratapi nasibnya saat ini. Suasana resto yang masih sepi membuat suara Nadin tidak terdengar oleh siapapun. Hanya Arman yang masih tidak tega melihat keadaan Nadin saat ini. "Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Nadin? Apa?" Arman kemudian pergi sesuai permintaan Nadin. Dia memberikan waktu untuk Nadin sendiri. Dia akan berbicara lagi setelah pulang dari resto dan mengajak Nadin untuk berbicara di tempat yang sudah dia rencanakan. Sementara itu, di tempat yang berbeda, tetapi di jam yang sama. Dua orang lelaki sedang duduk di ruang makan. Dua potong roti selai dan segelas s**u sudah tersedia di depan keduanya. "Gimana? Kamu udah temuin wanita itu?" tanya Arya sambil memotong roti, lalu menyantapnya perlahan. Tatapan Arya penuh penekanan. Siapa lagi yang sedang berbicara dengannya kalau bukan Galang, teman yang sudah menjerumuskan dirinya dalam satu malam b*******h bersama wanita yang tidak dia kenal. Sejak malam itu, Arya dihantui rasa bersalah sekaligus penasaran akan wanita yang telah dia gagahi malam itu. "Belum lah. Lagian kamu benar-benar ingin bertemu dengan wanita itu? Aku saranin sih mending kamu udah aja nggak usah cari dia kalau kamu mau nanti aku akan carikan lagi wanita jika kamu mau bersenang-senang lagi." "GALANG!!!" Arya menggebrak meja lalu berdiri, geram kepada teman lamanya yang ternyata begitu kaget melihat reaksi Arya saat itu. "Kamu pikir ini main-main, hah? Aku serius … jangan samakan aku denganmu yang suka bermain dari satu wanita ke wanita yang lain. Wanita itu pasti menderita karena ulahku saat itu. Sementara aku …." Arya mengarahkan telunjuk ke dadanya sendiri seraya berkata, "Aku bahkan tidak meminta maaf padanya. Kenal saja tidak, bagaimana aku menebus kesalahanku." "Selow, broo … selowwww. Jangan marah dulu. Iya aku minta maaf. Aku janji aku bakal cari wanita itu." "Oke, aku tunggu janjimu." Arya beranjak dan meninggalkan Galang yang masih sarapan. "Ya, Lo mau ke mana?" "Kantor," jawab Arya singkat sambil terus berjalan menuju ke depan dimana mobil sudah terparkir di halaman depan. "Tungguin Ya, jangan tinggalin gue." Galang pun meminum s**u yang disediakan asisten rumah tangga Arya, kemudian berlari menyusul Arya. "Ya, jangan lupa kita ada meeting sama klien besar nanti sore di resto." "Iya, cepat masuk. Bawel banget!" Terik matahari mulai mereda, tandanya hari mulai sore. Nadin mengambil sesuatu dari dalam kresek hitam yang isinya dia sembunyikan dari teman-temannya. Tebak apa isinya? Ya … isi kresek itu adalah alat test kehamilan yang baru saja dia beli di apotik tidak jauh dari resto tempatnya bekerja saat jam istirahat. Nadin membawanya ke toilet, tanpa dia sadari Arman mencium gerak-gerik mencurigakan dari wanita yang dia cintai itu. "Apa yang Nadin bawa itu?" Arman diam-diam berdiri tidak jauh dari pintu toilet. Dia yakin Nadin menyembunyikan sesuatu darinya. Hal ini tidak dia inginkan, hanya saja siapa tau dengan diam-diam mengikuti Nadin, Arman jadi tau apa yang sedang Nadin sembunyikan selama ini. Nadin membuka alat itu dan mulai mengecek urinnya. Dengan hati yang tak menentu, tangan yang gemetaran serta keringat menetes dari dahinya. Dua garis biru berhasil membuat badannya luruh ke lantai dan tangisan kini terdengar hingga ke luar toilet. "Tidak … tidak mungkin aku hamil. Tidak mungkin!" Suara Nadin cukup bisa didengar dari luar dan tangisnya kembali pecah. "Apa? Nadin hamil?" Arman terasa tak kuat menahan beban tubuhnya dan bersandar di dinding toilet dengan lemah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD