Na Hyun
"Aku bersyukur memilikimu, terima kasih" pria itu membelai lembut rambut wanita yang duduk didepannya.
Wajah wanita berkulit putih itu memerah sambil tersenyum malu, ia membiarkan pria di depannya ini memajukan wajahnya.
"Sae Ra, kau wanita pertama dan satu-satunya yang ku cintai." Pria itu mengecup kening wanitanya dengan lembut.
Secara perlahan dia meniup-niup poni wanita itu. Tatapannya turun pada bibir mungil berwarna peach milik gadis itu.
"Kau tau, aku belum pernah bertemu wanita sepertimu" dia mengecup lembut bibir wanita itu. Perlahan-lahan, gadis itu mulai membalas ciumannya dengan lembut sampai-
"Kau tahu aku belum pernah bertemu perempuan sepertimu, alah dasar buaya!" Momen itu begitu romantis sampai seorang gadis melompat dari atas pagar berbahan batu-bata menghampiri mereka sambil menirukan ucapan pria tadi dengan tampang alay.
Bangku di tepi g**g kecil ini dibentuk bernuansa klasik. Pagar berbahan batu-bata dilukisi mural warna-warni. g**g kecil ini adalah surga tersembunyi yang merupakan incaran para pecinta media sosial.
Meski lokasinya yang unik ditambah lagi sinar matahari yang cukup, seharusnya membuat g**g ini cocok tempat untuk kasmaran.
Tapi tidak ada pasangan yang berani bermesraan disini. Karena apa? tentu saja karena keberadaan gadis berambut blonde ini yang ikal diujung.
"Ah yang benar saja! kenapa aku s**l sekalu hari ini? Kenapa aku bertemu pria b******k ini di areaku terus!" gadis itu menendang botol kaleng yang ada di minumnya tadi sembari melihat adegan sok romantis yang pernah dilihatnya.
"Kau lagi, kau lagi!" tampaknya pria itu sudah hapal dengan gadis itu. Dia selalu muncul mengagalkan suasana romantis dan rencananya.
"Apa kau terus membuntutiku ah jangan-jangan apa kau menyukaiku?" pria itu memasang wajah pura-pura terkejut. Mendengar itu Na Hyun tetap bergeming didepan mereka.
"Tapi maaf tapi aku sudah punya pacar yang jauh lebih manis darimu" gadis yang disampingnya tersenyum sombong mendengarnya, bangga sekali dia dibela seperti itu.
Dengan senyum sinis gadis itu mendekati pacar pria itu. Dia menunjukkan ponselnya pada pacar pria itu. Mengetahui sesuatu yang diponselnya itu berkaitan dengannya, pria itu gelagapan berusaha mengambil ponselnya.
Gadis itu berambut blonde memutar rekaman video percakapan pria itu dengan gadis lain. Ucapannya sama persis dengan yang dia ucapkan pada gadis itu.
Gadis berambut blonde ini tertawa geli melihat mereka berdua. Satu tangannya mencekram leher pria yang sedang berusaha keras merebut ponselnya. Pria itu terkejut dengan kekuatan cengkramannya, dia bisa merasakan kakinya tidak lagi menginjak tanah.
Selesai video itu diputar, gadis itu baru melepaskan cengkeramannya sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
"Setidaknya carilah pacar yang kreatif. Aku muak mendengar kalimat itu terus." Gadis itu tersenyum sinis melihat gadis yang tadinya memandangnya remeh sekarang justru memerah menahan malu setengah mati.
"Jangan terlalu sok. Pria b******k seperti dia terlalu murah untuk didapat. Tinggal kasih lowong dikit ya beres " Pacar pria itu menunduk, tak sanggup menatap mata gadis ini. Tinggi badan gadis itu jelas berbeda. Pacar pria itu hanya setinggi bahunya. Dengan tinggi segitu ditambah ada bekas luka di wajah, tidak ada gadis manapun yang tahan menatapnya. Kharismanya terlalu kuat.
"Dan kau," gadis berambut blonde itu menunjuk jari tengahnya kearah pria itu.
"Jangan pernah coba-coba berpacaran lagi di daerahku!" Gadis itu pergi meninggalkan mereka setelah berhasil mengacaukan kesenangan pria itu.
"Kau, woi dasar gadis s****n kau pikirkan kau preman ha?" pria itu berlari mengejar gadis itu, meninggalkan pacarnya yang berusaha menahan tangisnya tanpa penjelasan apapun. Sia-sia, diujung g**g, helai rambut gadis itu sudah tidak tampak lagi.
Im Na Hyun, gadis berambut blonde dengan banyak bekas luka ini sangat ahli lima bela diri. Karena kharisma dan kemampuannya itu, dia memiliki banyak daerah kekuasaan.
Di umurnya yang masih tujuh belas tahun, dia sudah memimpin kurang lebih ratusan anggota petarung jalanan. Im Na Hyun, gadis ini terlahir dari keluarga kaya raya. Ada banyak hal yang dibencinya, salah satunya, buaya.
...
"Bos, apa kau mengusir pasangan tadi? ah padahal seru melihat mereka ciuman bos" Salah satu petarung jalan dengan rambut keriting mempertemukan kesepuluh jari yang di kuncupkan seperti sedang mencium.
"Iya benar bos, kitakan jarang nonton sinetron" dua petarung jalanan itu tertawa terbahak-bahak saling menirukan adegan menjijikan bagi Na Hyun.
Tae Jang dan Haeng Bok, merupakan anggota pertama dari Na Hyun crew. Mereka lima tahun lebih tua daripada Na Hyun.
Na Hyun tidak pernah terpikir untuk membuat sebuah crew, hanya Tae Jang dan Haeng Bok yang bertekad. Melihat usaha mereka, akhirnya Na Hyun setuju untuk mendirikan sebuah crew.
"Kemarin saat aku lewat dari Red Area, ada menerima laporan dari Hyun Red, katanya ada pria yang tiba-tiba saja menggangu area itu. Kalian sudah mencari tahunya?"
"Sudah, anak itu masih anak-anak. Masih tujuh belas tahun. Tapi dari yang kudengar, bocah itu kuat dan dia punya teknik bela diri" Tae Jang mengambil dua batang rokok dari saku celananya.
"Jadi dia bukan petarung jalanan bos. Dia juga tidak memiliki crew, jadi kurasa dia bukan ancaman" Tae Jang tetap menjelaskan. Dua rokok itu sudah berada dimulutnya.
Melihat itu, Haeng Bok memalingkan wajahnya pura-pura tidak mengenal Tae Jang. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat berniat menyulut rokoknya, Na Hyun sigap mengambil lalu menginjak dua batang rokok yang tadinya mau dihidupkan Tae Jang.
Tae Jang menggaruk tengkuknya, dia lupa kalau bosnya yang suka berkelahi ini sangat membenci asap rokok. Tak peduli muda atau tua, jika didekatnya ada yang merokok, dia akan menginjak rokok tersebut.
"Kenapa gak langsung saja kau suruh aku menghancurkan paru-parumu? Kenapa harus menunggu lama? Menghabiskan duit saja." Na Hyun menusuk-nusuk paru-paru Tae Jang dengan jarinya.
"Bos, ngomong-ngomong besok sudah masuk sekolahkan?"
"Apa kok bisa?" Na Hyun segera mengecek kalender di ponselnya. Benar saja, waktu liburan yang ditandainya dengan emoticon hati sudah tidak ada lagi. Sekarang yang muncul adalah tanggal 4 yang diberinya emoticon pistol.
"Kenapa.." Wajah Na Hyun yang tadinya mengerut berubah menjadi sendu seperti baru saja di tinggal jomblo oleh mantan kekasihnya.
"Ehm bos masih waraskan?" Sambil menahan tawa, Tae Jang dan Haeng Bok melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Na Hyun.
"Kenapa jahat? ini terlalu menyakitkan"
"Dia pergi meninggalkanku tanpa merasa perlu menjelaskan sama sekali?! Tanpa bertanya apa aku siap atau tidak" wajah Na Hyun memelas.
Melihat tingkah Na Hyun, kedua anggotanya itu tidak lagi bisa menahan tawanya. Mereka berdua berjongok sambil memegang perutnya yang sakit.
"Selamat datang murid baru dan pelajar SMA Gangsil, pendidikan adalah kehidupan" Na Hyun mencibir banner yang terpampang besar di atas pagar megah sekolahnya.
"Pendidikan apanya? munafik" tahun lalu juga banner itu dipasang untuk menyambut murid baru ataupun murid disana. Hari ini Na Hyun sengaja datang lebih cepat agar bisa mendapat tempat duduk.
Tahun lalu dia terlambat, tempat duduknya sudah ditempati. Na Hyun harus masuk kantor guru hanya karena dia memukul anak laki-laki yang tidak mau memberikan tempatnya.
Dia berada di kelas tingkat dua E. Kelas paling ujung. Usai menemukan namanya, dia beranjak pergi menuju kelasnya. Merasa tidak perlu mencari tahu siapa saja teman sekelasnya.
"Lihat ini, anak-anak kelas dua E isinya banyak anak preman loh. Anak-anak tidak berguna"
"Wah kelas monster akhirnya lahir. Syukurlah mereka disatukan."
"Tapi kasihan ya si tampan Choi Seo Jun, padahal dia pintar"
"Yah itulah ujian orang pintar hahaha"
Im Na Hyun tetap berjalan mengabaikan cibiran-cibiran kumpulan cewek penggosip seperti mereka.
"Kelas monster katanya? Ha" Im Na Hyun tersenyum sinis. Dia menaikkan sebelah alisnya.
"Kelas monster lahir dari sekolah monster. Anak monster berasal dari keluarga monster. Jadi, tentu saja omongan sampah berasal dari sampah!" Seorang gadis berikat rambut tiba-tiba muncul dari sampingnya menyambung perkataan Na Hyun.
Tinggi badan mereka sama. Gadis ini hanya menggunakan kaus dan rok sekolah saja.
"Siapa kau berani menyambung omonganku?" Na Hyun menatap penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Tomboy pikirnya.
"Kenapa gak boleh? Wah apa ada aturan yang melarang itu juga disini?" Gadis itu berpura-pura takut. Dia lanjut berjalan meninggalkan Na Hyun.
"Hei kau!" Na Hyun berteriak. Gadis itu tidak menoleh sama sekali. Murid-murid di koridor menoleh melihat Na Hyun berteriak.
"Hei kau perempuan gila berhenti!" Murid-murid dikoridor sibuk berbisik saling bergosip melihat Na Hyun dan gadis itu.
Gadis itu kembali ketempat Na Hyun. Mereka saling beradu tatapan tajam. Suasana jadi semakin bising.
"Aku Hyeri, murid kelas dua E. Selamat datang di kelas monster" Hyeri diam sejenak.
"Na Hyun, Im Na Hyun." Murid-murid disana jadi semakin heboh.
"Wah ini benar-benar gila, Na Hyun dan Hyeri satu kelas!" gerombolan murid itu heboh sekali.
"Belum masuk saja suasananya sudah seperti di neraka" Hyeri lanjut berjalan ke kelasnya mengabaikan mereka. Disusul Na Hyun dibelakangnya. Tersadar sesuatu, Na Hyun segera bergegas. Dia takut Hyeri mengambil bangku belakang.
Barulah setelah melihat masih ada tujuh bangku di belakang. Na Hyun duduk disebelah meja Hyeri. Jarak mereka terpaut satu kursi kosong disebelah Hyeri.
Na Hyun melihat Hyeri yang asik memandang kearah halaman lapangan basket dari jendela. Na Hyun memperhatikan gerakan bibirnya Hyeri. "Bodoh" Na Hyun mengerutkan keningnya.
"Apa dia bilang aku bodoh? ah s****n padahal aku hanya sebentar mengamatinya." Na Hyun berhenti memperhatikan Hyeri.
Kelas sekarang sudah mulai ramai. Wajah mereka terlihat ketakutan sekaligus sedih. Padahal Na Hyun tidak akan menganggu mereka jika mereka tidak menganggu Na Hyun.
"Apa ini kelas dua E?" Seorang siswa berbadan tinggi besar berteriak didepan pintu. Semua yang didalam kelas melihat kearahnya, kecuali Na Hyun. Na Hyun melihat Hyeri melihat kearah pintu, penasaran Na Hyun juga ikut menoleh.
Laki-laki itu membawa seorang cowok yang sedang berlutut. Rambut cowok itu dijambak oleh laki-laki berbadan besar itu. Dia seperti membawa binatang.
Laki-laki itu bertatapan mata dengan Hyeri. Dia melihat kesamping kearah Na Hyun. Dia tersenyum senang.
"Wah aku kasihan melihatmu Jin Gyu. Kau sekelas dengan dua monster." dia menggeleng-geleng menatap cowok yang dijambaknya. Sambil menyeretnya, laki-laki itu membawanya kearah bangku kosong diantara Na Hyun dan Hyeri.
"Kau harus duduk disini!" Laki-laki tadi menunjuk kearah bangku disebelah Hyeri. Cowok itu hanya bergeming menunduk. Kakinya gemetaran ketakutan. Na Hyun geram sekali melihat laki-laki sok jagoan ini.
"Atau kau disini?" dia menunjuk kearah bangku disebelah Na Hyun. Na Hyun semakin geram melihat gaya soknya itu.
"Bangku ini sudah ada pemiliknya!" Entah sejak kapan murid-murid berkumpul memandangi di depan jendela. Mereka berdecak kagum saat melihat cowok yang kini sudah duduk disebelah Na Hyun tanpa permisi. Melihat itu Na Hyun semakin geram.
Pria itu berambut biru lebih keunguan. Matanya tajam, hidungnya mancung dan bibirnya terlihat merah sempurna. Pantas saja banyak yang kagum padanya.
Dia menopang pipinya kirinya dengan satu tangan sambil memandang Na Hyun. Na Hyun terkejut melihat siapa yang duduk disampingnya itu.
"Kau siapa! Minggir!" harusnya Na Hyun yang berkata seperti itu bukan pria sok jagoan. Laki-laki itu dan Na Hyun masih sibuk saling pandang. Dia tidak menghiraukan omongan si sok jagoan itu.
"Kau mau apa mengikutiku sampai sini?"
"Kau masih ingat ternyata. Aku memang sekolah disini, kau saja yang gak pernah melihatku" si rambut biru itu tersenyum nakal melihat Na Hyun.
"Oh jadi kau sudah berbuat yang gituan padahal masih kelas satu ya wow" Na Hyun pura-pura takjub sambil bertepuk tangan melihatnya.
"Kau kenapa berdiri disitu? Ayo duduk sini. Kosong kok." Hyeri menarik tangan pria itu berdiri. Fokus Na Hyun jadi berganti melihat Hyeri. Na Hyun penasaran sekali dengan Hyeri.
Tangan si sok jagoan itu tidak mau melepas rambutnya. Hyeri membaca name tag diseragam cowok yang dijambak.
"Lee Jin Gyu duduk disini biar aku duduk disini" Hyeri memindahkan tasnya kebangku kosong. Sekarang tidak ada jarak antara Hyeri dan Na Hyun.
Pria sok itu bertambah kuat menarik rambut Jin Gyu kembali berlutut di lantai. Wajah Jin Gyu jelas menahan rasa sakit. Dia menantang Hyeri.
Hyeri memegang tangan yang menarik rambut Jin Gyu. Pria sok itu semakin gencar menarik rambut Jin Gyu.
"Lepaskan atau kau tidak akan melihat tanganmu ini lagi" aura Hyeri menakutkan. Hilang sudah wajah riangnya tadi. Ruangan yang tadinya bising mendadak bisu. Na Hyun semakin tertarik melihatnya.
"Na Hyun, aku Park Ha Joon" pria berambut biru itu memperkenalkan diri memecahkan kebisuan. Na Hyun hanya meliriknya tajam.
"Okay okay okay" Ha Joon mengangkat kedua tangannya pertanda tak akan menganggu. Meskipun gemetar, pria sok jago itu tetap tidak mau melepaskan rambut Jin Gyu.
"Harga dirimu tinggi juga ya. Kau mau harga dirimu iti hilang bersamaan dengan tanganmu" Jari telunjuk Hyeri mengetuk-ngetuk tangan pria itu. Si sok jago berusaha mati-matian menahan ekspresi soknya itu.
Melihat itu Na Hyun tertawa kecil. Dia berdiri untuk membaca nama tagnya pria itu. Ah Cheol.
"Pergilah Ah Cheol sebelum badan besarmu itu menyangkut di ring" Na Hyun menepuk pundaknya.
"Sekarang kau sudah mirip kecebong. Mana tampang sokmu tadi?"
"Kalian pasti menyesal" Pria itu akhirnya melepaskan rambut Jin Gyu. Hyeri segera menarik tangan Jin Gyu berdiri. Dia langsung menarik Jin Gyu ke belakangnya.
"Kalian belum tahu siapa aku. Tunggu saja" dia mengeluarkan ponsel dan menelpon teman-temannya. Hyeri menyuruh Jin Gyu duduk.
Na Hyun memberikannya s**u pisang yang dibelinya tadi malam. Bahkan Ha Joon tidak bisa berkata-kata.
"Siapa yang mau mati disini?" didepan pintu sudah menunggu lebih dari sepuluh orang tak berseragam. Wajah mereka penuh codet serta berbadan besar. Murid yang memenuhi koridor menjauh dari mereka.
"Siapa pula orang-orang ini?
"Kenapa kau pergi libur! Kau tidak mencintaiku lagi?" Na Hyun berteriak frustasi seperti orang yang tengah depresi. Pecah sudah tawa Tae Jang dan Haeng Bok.
Im Na Hyun, meskipun memiliki saham lima persen di sekolahnya, gadis tujuh belas tahun ini benar-benar membenci sekolah.
Anehnya, enggan sekali untuk bolos.