“Kamu itu,” jawabku menggantung. “Aku apa? Apakah aku bukan pria berkualitas?” tanyanya. “Kamu adalah pria yang sangat berkualitas,” jawabku yang bingung. “Kenapa kamu bingung dengan jawabanmu?” tanyanya dengan sedikit memaksa. “Bagaimana aku bisa menjawabnya? Kalau kita baru menjalaninya hari ini?” tanyaku. “Kamu tidak mengenalku?” tanyanya dengan nada dingin. “Aku sudah mengenalmu,” jawabku. “Bukan berarti aku tidak tahu kamu.” “Apakah aku berkualitas?” tanyanya. “Apa maksudmu?” tanyaku balik. “Nanya kok malah dibalikin pertanyaan. Sabar... Punya calon istri labil ya gini,” sindirnya. “Aku enggak labil. Tapi aku hamil,” jawabku yang mulai memejamkan mata. “Hey... Jawab dulu. Baru kamu tidur,” bisiknya. “Apa sih Darren? Aku sudah

