Pesawat telah mendarat sejak setengah jam lalu, dan kini kaki Elmira berpijak di Hawaii. Saat mereka keluar dari area bandara menuju area resort pribadi yang disewa Malik, Elmira langsung terpukau.
Hamparan laut biru membentang luas, menyatu dengan langit cerah dan garis pasir putih yang nyaris tak tersentuh. Angin tropis menyapa wajahnya, menyibakkan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
“Ya Tuhan… indah sekali…” gumamnya, nyaris berseru. “Aku belum pernah melihat laut sejernih ini!”
Elmira berlari kecil ke arah pagar pembatas, memandang ke kejauhan sambil tertawa kecil. Matanya berbinar penuh antusias, seperti anak kecil yang baru pertama kali liburan.
Namun saat ia menoleh ke belakang, Malik sudah berjalan menjauh, tanpa sepatah kata, tanpa menoleh sedikit pun.
“Hei!” Elmira buru-buru mengejarnya. “Tunggu! Kau meninggalkanku!”
Pria itu tidak menjawab. Langkahnya tetap stabil, dingin, dan tak terganggu oleh sorak bahagia Elmira.
Elmira mengepalkan tangannya, kesal karena dari sejak di bandara, di mobil, hingga pesawat, Malik tak mengucapkan satu patah kata pun padanya. Bahkan melirik pun tidak. Seolah ia hanyalah bayangan.
**
Vila tempat mereka menginap tampak seperti surga. Bangunan luas dengan dinding kaca, kolam pribadi, dan pemandangan langsung ke laut. Elmira melangkah masuk penuh kagum, matanya menyapu ruangan demi ruangan hingga ia menemukan kamar utama.
Ranjang king-size dengan kanopi putih dan balkon pribadi yang langsung menghadap ke pantai.
“Wow…” Elmira mendesah kagum. Ia berbalik, hendak duduk di ujung ranjang namun suara Malik menghentikannya.
“Itu bukan kamarmu.”
Suara dingin itu menghantam udara seperti batu.
Elmira menoleh cepat. “Wah kau bicara juga akhirnya,” ujarnya tajam.
Malik hanya menatapnya datar.
Elmira bangkit, berdiri berhadapan dengannya. “Apa ini semua karena ciuman tak sengaja itu?” tanyanya penuh tekanan. “Kau marah? Diam seharian? Tak bicara sama sekali? Hanya karena insiden konyol yang bahkan tidak kuinginkan?”
Tatapan Malik mengeras. “Kau yakin tidak menginginkannya?”
“Kau pikir aku sengaja?”
“Ya, kau yang mengatakannya semalam.”
“Aku mabuk, Malik! Aku bahkan tak pernah minum sebelumnya!”
“Begitu ya?” Malik maju satu langkah. “Kau minum satu gelas wine mahal, dapat satu ciuman, dan sekarang apa? Apa kau juga ingin malam pertama?”
Elmira terperangah. “Apa?!”
“Jika itu yang kau mau,” ucap Malik tajam. “Kita bisa melakukannya sekarang. Tanpa cinta, dan aku tidak akan tanggung jawab apa pun yang terjadi setelahnya. Tapi kau harus siap terima risikonya.”
Sebelum Elmira sempat bicara, Malik mencengkeram bahunya dan mendorongnya ke atas ranjang. Tubuh Elmira terpental ringan di atas kasur empuk, matanya membulat karena syok.
Malik menunduk, mencium bibirnya dengan kasar, dingin, dan tanpa perasaan.
Elmira tersentak.
Tangannya terangkat, mendorong d**a Malik sekuat tenaga hingga pria itu mundur sedikit.
PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Malik.
“Dasar manusia dingin!” teriak Elmira, matanya berkaca. “Kau benar-benar tidak punya hati!”
Ia turun dari ranjang, melangkah cepat, dadanya naik turun menahan amarah dan air mata yang tak terbendung lagi.
Elmira berlari keluar kamar, membuka pintu vila, dan berlari ke arah pantai tanpa tahu harus ke mana. Ia ingin menjauh sejauh mungkin dari pria yang baru saja menghancurkan harga dirinya.
Ketika pintu tertutup dengan keras, keheningan menyelimuti kamar vila mewah itu.
Malik mendesah panjang, lalu mengacak rambutnya dengan geram. Napasnya berat, ia merasa kehilangan kendali.
“Apa yang sudah aku lakukan?” gumamnya frustasi.
Ia masih merasakan panas di pipinya akibat tamparan Elmira. Tapi bukan itu yang mengganggunya. Yang membuat dadanya terasa sesak adalah… ucapan gadis itu.
Kepalanya dipenuhi kilasan semalam.
Elmira dengan gaun sederhana berdiri di balkon, tertawa sendiri pada angin malam. Lalu tiba-tiba menangis saat membicarakan neneknya. Setelah itu menari kecil di bawah cahaya bulan sambil bersenandung lagu tak jelas, dengan langkah sempoyongan dan mata sayup. Ia terlihat seperti anak kecil yang terluka dan lelah… namun masih ingin terlihat kuat.
Dan di tengah kegilaan itu, Elmira sempat bertanya padanya dengan suara pelan dan linglung,
“Apa kau benar-benar tidak tahu apa itu cinta?”
Malik menghentikan langkahnya. d**a kirinya terasa aneh.
“Apa kau tidak pernah ingin mencintai seseorang… meski sekali saja?”
Suara Elmira malam itu kembali menggema di kepalanya, menyusup masuk seperti racun lambat.
Malik mengepalkan tangan. Ia telah mengunci dirinya dalam logika dan perhitungan sejak bertahun-tahun lalu. Baginya, cinta adalah konsep rapuh, pengalih fokus, dan tidak efisien. Ia membangun segalanya tanpa bantuan siapa pun. Ia tidak butuh pasangan, apalagi perasaan.
Tapi Elmira… entah bagaimana, hadir seperti retakan di dinding yang sudah ia bangun dengan kokoh.
Satu pertanyaan sederhana dari mulut seorang gadis yang bahkan tak mengenalnya benar-benar, cukup untuk mengguncangnya.
Ada hal yang tidak ia mengerti, dan dengan cepat Malik keluar dari kamar menyusul Elmira.
***
Langit mulai berwarna oranye keemasan saat matahari perlahan turun ke balik cakrawala. Ombak menyapu pelan pasir pantai, meninggalkan jejak buih yang cepat menghilang. Elmira melangkah menyusuri garis air, sepatunya digenggam di tangan, sementara kaki telanjangnya menyentuh pasir yang mulai dingin.
Angin sore membelai wajahnya yang masih basah oleh sisa air mata. Tapi tatapannya lurus ke depan, pada lautan luas yang seolah tak berujung seperti pikirannya saat ini.
Langkah kaki lain terdengar di belakangnya.
Elmira tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang menyusulnya.
“Kenapa kau ke sini?” tanya Elmira dingin.
“Aku tidak mengerti.” suara Malik terdengar akhirnya.
Elmira menghentikan langkahnya. Tak menatap ke belakang, hanya menunggu.
Malik berdiri tak jauh darinya, menatap punggungnya yang diam di bawah cahaya senja.
“Kenapa kau menamparku?” tanyanya akhirnya. “Bukankah… kau yang melanggar kontrak lebih dulu?”
Elmira perlahan menoleh, alisnya terangkat, wajahnya tak percaya.
“Serius?” suaranya tajam tapi gemetar. “Kau datang ke sini, setelah semua yang kau lakukan, dan menanyakan itu?”
Malik tak menjawab.
Elmira menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandang ke laut. “Aku mabuk, Malik. Aku bahkan tak sadar sepenuhnya apa yang kulakukan malam itu. Tapi kau sadar sepenuhnya saat mendorongku ke ranjang dan menciumku begitu saja.”
“Kau bilang ingin ciuman pengantin,” jawab Malik pelan.
“Ya Tuhan...” Elmira memejamkan mata. “Itu bukan permintaan. Itu... itu cuma ucapan dari orang mabuk yang tidak tahu apa-apa.”
Ia menatap Malik dengan sorot terluka. “Kalau kau memang tidak punya perasaan, bukankah seharusnya semua itu tidak berarti? Kenapa harus marah? Kenapa harus memperlakukanku seperti aku melakukan dosa besar?”
Mata mereka bertemu di tengah cahaya senja yang hampir padam. Ombak terus bergulir, mengisi keheningan yang panjang dan menggantung.
Malik tak menjawab. Perlahan sorot matanya berubah tak lagi sedingin batu.
Di antara mereka, sesuatu bergeser. Bukan permusuhan. Bukan juga cinta. Tapi mungkin… awal dari sebuah pemahaman yang belum sempat tumbuh.