Malam turun pelan, menggantikan langit senja yang memudar. Lampu-lampu vila mulai menyala, menciptakan semburat hangat yang memantul di permukaan kolam. Elmira duduk di teras belakang, membungkus tubuhnya dengan syal tipis sambil menatap laut yang kini hanya sebatas siluet gelap. Segelas cokelat panas tersisa setengah di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam buku catatan kecil yang selalu ia bawa sejak remaja.
Di halaman pertama tertulis dengan tinta pudar:
"Impian terbesar: Menjadi seseorang yang dicintai, tanpa harus meminta."
Elmira menatap tulisan itu lama. Ia hampir lupa bahwa dulu pernah menuliskannya. Dulu, ketika dunia masih sederhana, dan cinta belum tampak seperti beban yang menyesakkan.
Langkah kaki mendekat membuatnya tersentak. Ia menoleh.
Malik.
Pria itu berdiri di ambang pintu kaca, mengenakan kaus putih dan celana santai gelap. Tanpa berkata apa-apa, ia duduk di kursi di seberangnya.
Tak ada suara selain desir angin dan detak waktu yang menggantung di antara mereka.
"Aku tidak tahu caranya," ujar Malik akhirnya, pelan, nyaris seperti bisikan.
Elmira menatapnya. "Caranya apa?"
"Meminta maaf."
Elmira memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas. Ia meletakkan buku catatan itu di pangkuan, menatap Malik lurus-lurus.
"Jangan minta maaf karena kau merasa bersalah. Minta maaf karena kau benar-benar ingin berubah."
Malik terdiam. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, matanya menatap ke arah laut namun jelas pikirannya sedang tidak di sana.
"Aku terbiasa membuat orang menjauh. Itu lebih mudah. Aman," lanjutnya. "Saat seseorang terlalu dekat, aku… kehilangan kendali. Dan itu membuatku takut."
Elmira nyaris ingin tertawa. "Kau? Takut?"
"Ya." Malik menoleh, dan untuk pertama kalinya, sorot matanya bukan dingin. Tapi rapuh.
Elmira tak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan kembali ke laut. Hening itu lagi-lagi hadir. Tapi kini, terasa berbeda. Lebih ringan.
"Besok pagi, ada jadwal naik helikopter keliling pulau," ucap Malik pelan. "Kau mau ikut?"
Elmira mengerutkan dahi. "Aku pikir kau benci tempat terbuka."
"Aku benci apa pun yang tak bisa kukendalikan," jawab Malik singkat, lalu berdiri. "Tapi kalau kau mau, aku akan ikut."
Ia melangkah pergi, meninggalkan Elmira dengan jantung yang berdebar tanpa sebab jelas.
** Pagi datang dengan cahaya emas yang menerobos tirai. Elmira mengenakan jumpsuit putih sederhana dan menyematkan scarf kecil di leher, membiarkan rambutnya tergerai. Ketika ia turun ke ruang makan vila, Malik sudah menunggu, duduk dengan secangkir kopi dan tablet di tangan. Namun kali ini, ia menoleh saat Elmira masuk.
"Kau siap?"
Elmira mengangguk. "Kalau aku muntah di helikopter, itu salahmu."
Sudut bibir Malik terangkat. Bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat Elmira terdiam sesaat.
Mereka naik mobil golf menuju landasan kecil di sisi tebing. Sebuah helikopter privat sudah menunggu, baling-balingnya mulai berputar pelan. Malik membantu Elmira menaiki tangga logam kecil, tangannya menyentuh pinggang Elmira sekilas—hangat, tapi tak memaksa.
Di dalam, suara mesin memekakkan telinga. Elmira mengenakan headset, lalu duduk di samping jendela. Malik duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
Helikopter perlahan naik, tubuh Elmira terhuyung sedikit, tapi pemandangan yang terhampar di bawah membuatnya tak bisa berkedip.
"Holy… ini gila," gumamnya, terpaku pada air terjun tinggi yang menyembul di antara dinding tebing hijau. Hutan lebat terbentang, dan ombak menghantam karang dengan irama yang menghipnotis.
"Ini pertama kalinya aku lihat dunia dari atas," ucap Elmira lirih.
"Dan?" Malik melirik.
"Indah. Tapi juga… menakutkan."
Malik tak menjawab, tapi ia menyentuh tangan Elmira sebentar. Sebuah gerakan kecil, tapi cukup untuk membuat Elmira menoleh padanya.
"Aku akan pegang kendali. Jangan takut."
Kata-kata itu sederhana. Tapi Elmira tahu, bagi Malik, itu adalah bentuk kepedulian yang hampir langka.
** Setelah penerbangan selesai, mereka mendarat di sebuah area tersembunyi yang ternyata merupakan bagian dari resor mewah milik perusahaan Malik. Sebuah pondok bambu kecil di pinggir laguna menjadi tempat makan siang mereka.
Makanan laut segar disajikan, tapi Elmira lebih sibuk mengamati sekitar daripada makan. Anak-anak lokal bermain bola di pantai. Seorang ibu muda menggendong bayi, menyuapinya dengan pisang lembek.
"Malik," Elmira memanggil sambil menunjuk. "Lihat itu. Mereka tidak punya apa-apa, tapi lihat caranya mereka tertawa."
Malik menatap sekilas.
"Kau tahu," Elmira melanjutkan, "kadang aku iri pada mereka. Hidupku penuh kerja keras, tapi aku tidak pernah benar-benar merasa cukup. Sementara mereka… seolah cukup hanya dengan tertawa bersama."
Malik membuka botol air mineral, lalu menatap Elmira.
"Karena mereka tidak tumbuh dengan trauma kehilangan seperti kita."
Elmira tertegun. "Apa maksudmu?"
"Ayahku membunuh diri ketika aku berumur dua belas. Ibuku menikah lagi seminggu setelah pemakaman."
Elmira menutup mulutnya, syok. "Aku… tidak tahu."
"Tak banyak yang tahu." Malik menatap lautan. "Sejak hari itu, aku bersumpah untuk tidak pernah bergantung pada siapa pun. Termasuk cinta."
Elmira menggenggam tangannya sendiri. Perasaannya campur aduk—marah, kasihan, dan… mengerti.
"Jadi kau pikir cinta adalah beban?" tanyanya pelan.
Malik menggeleng. "Aku pikir… aku hanya belum tahu caranya menerima."
Hening kembali menyelimuti. Tapi kali ini, Elmira tak merasa ingin lari.
** Malam itu, Elmira duduk sendirian di balkon kamarnya, memandang bintang yang berkerlip pelan. Angin membawa aroma laut dan suara gitar akustik dari kejauhan. Ia baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Pikirannya belum bisa berhenti memutar semua percakapan hari ini.
Ketukan lembut di pintu membuatnya menoleh.
Saat dibuka, Malik berdiri di sana. Tangannya membawa sepotong cheesecake di piring kecil.
"Aku dengar kau suka yang manis."
Elmira mengerutkan alis, separuh bingung. "Dari siapa kau tahu?"
"Pengurus vila bilang kau minta madu ekstra saat sarapan."
Elmira tertawa kecil. Malik menyodorkan piring itu, dan Elmira menerimanya. Di atas cheesecake, tertancap satu lilin kecil yang menyala.
"Apa ini… ulang tahunku?"
"Bukan. Tapi kau pantas dapat sesuatu yang manis setelah hari yang panjang."
Elmira menatap lilin itu, lalu meniupnya pelan. Saat ia menatap Malik lagi, pria itu masih berdiri di ambang pintu.
"Terima kasih."
"Aku masih belajar," gumam Malik. "Jadi kalau aku melakukan kesalahan lagi, ingatkan aku."
Elmira menatapnya lama. Lalu mengangguk.
"Kalau begitu, jangan takut untuk belajar pelan-pelan. Aku tidak akan ke mana-mana."
Untuk pertama kalinya, Malik tersenyum. Bukan sekadar anggukan basa-basi. Tapi senyum yang hangat, tulus, dan mungkin, untuk pertama kalinya… mengandung benih cinta yang sesungguhnya.
Dan malam itu, Hawaii tak hanya menjadi latar bulan madu dua orang asing. Tapi titik awal dari sesuatu yang belum mereka beri nama, sebuah kemungkinan, atau bahkan… harapan.
mungkin....
Elmira tidak pernah tahu apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan.