Bab 5

1085 Words
Langit Hawaii memamerkan warna biru sempurna pagi itu, diselingi awan tipis seperti kapas. Elmira berdiri di balkon vila, mengenakan gaun sundress putih dengan rambut digerai santai. Matanya menatap laut, namun pikirannya tidak setenang pemandangan di depannya. Sejak insiden malam itu dan konfrontasi mereka di pantai, suasana antara dirinya dan Malik berubah. Tidak lagi hanya dingin—melainkan membingungkan. Malik tak menyebut-nyebut lagi soal kontrak. Ia tidak lagi menghindar. Bahkan beberapa kali mengajaknya makan bersama tanpa canggung. Tapi semua itu tidak membuat Elmira tenang. Ia tak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Mungkin kecewa. Mungkin lega. Mungkin… berharap. Pintu kaca di belakangnya terbuka. Malik muncul dalam setelan linen santai, rambut sedikit berantakan namun tetap tampak seperti model iklan mahal. “Kau siap?” tanyanya datar. Elmira menoleh, mengangguk singkat. “Kau tidak bilang kita akan ke mana.” Malik mengambil kunci mobil dari meja. “Ada acara makan siang di resort milik rekan bisnis. Kau akan ikut sebagai istriku.” Elmira membeku sejenak. Kata “istriku” masih terasa asing di telinganya. Tapi ia tetap berjalan mengikuti Malik, memasuki mobil yang sudah menunggu di depan vila. --- Restoran tepi pantai tempat acara itu berlangsung begitu mewah, dengan kursi-kursi berhiaskan taplak linen putih dan kelopak bunga tropis berserakan di atas meja. Para tamu mengenakan pakaian semi-formal, dengan sunglasses mahal dan suara tawa yang menggema ringan. Elmira berjalan di sisi Malik. Ia bisa merasakan banyak mata memandang ke arah mereka—terutama ke arah pria di sebelahnya. Malik memang mencuri perhatian ke mana pun ia pergi. Dan kali ini, Elmira sadar betul bahwa perhatian itu tidak hanya datang dari satu arah. “Malik!” seru sebuah suara ceria dari arah kanan. Seorang wanita tinggi dengan rambut pirang bergelombang dan gaun biru langit mendekat cepat. Wajahnya cantik, senyumnya lebar, dan cara jalannya percaya diri. Elmira langsung tahu: wanita ini bukan orang biasa. Malik tersenyum tipis. “Delphine.” Mereka saling berpelukan sebentar—terlalu dekat, terlalu akrab. Elmira berdeham pelan, namun tak ada yang memperhatikan. “Kapan terakhir kita bertemu? Paris? Atau Tokyo?” tanya Delphine, matanya berbinar. “Tokyo,” jawab Malik, masih tenang. Delphine lalu menoleh pada Elmira. “Dan ini...?” “Istriku,” jawab Malik sebelum Elmira sempat membuka mulut. Delphine menatap Elmira beberapa detik, senyumnya tidak berubah—tapi mata itu menilai, menelanjangi. “Oh! Jadi kamu gadis beruntung itu.” Elmira mengulurkan tangan, berusaha sopan. “Elmira.” Delphine menjabat tangan itu sejenak. “Kau cantik. Tapi berbeda sekali dari tipe Malik biasanya.” Kalimat itu meluncur dengan halus namun penuh racun. Elmira tersenyum, mencoba tidak terpancing. “Mungkin Malik juga sedang butuh perubahan.” Delphine menatapnya lebih lama, lalu terkekeh pelan. “Menarik.” Makan siang berlangsung penuh basa-basi. Elmira duduk di sebelah Malik, tapi sepanjang acara, Delphine terus berbicara pada pria itu—mengenang masa lalu, tertawa, menyinggung hal-hal yang jelas tak Elmira ketahui. “Aku masih menyimpan lukisan itu, kau tahu,” kata Delphine sambil menyeruput anggur putihnya. “Yang kita beli di pameran seni di Paris. Kau bilang hanya aku yang bisa melihat maknanya.” Elmira memaku pandangan pada piringnya. Sesuatu di dadanya terasa hangat… dan menyakitkan. Ia tidak tahu apa namanya, tapi rasanya tidak enak. Ia tak tahan melihat Delphine menyentuh lengan Malik dengan ringan, seperti mengklaim sesuatu yang masih menjadi miliknya. Ketika Malik menoleh dan menyadari ekspresi Elmira, ia mengerutkan alis. “Kau baik-baik saja?” “Baik,” jawab Elmira cepat. “Sangat baik.” Tapi Malik tidak menjawab. Matanya menatap lebih lama, seolah membaca sesuatu yang tak Elmira katakan. --- Setelah acara berakhir, mereka berjalan kembali ke mobil. Malik membuka pintu untuk Elmira—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. “Aku tidak tahu kalau kau punya selera wanita seperti itu,” ucap Elmira tiba-tiba, saat mobil melaju pelan meninggalkan resort. Malik menoleh cepat. “Apa maksudmu?” Elmira mengangkat bahu. “Wanita seperti Delphine. Cantik. Kaya. Percaya diri. Punya sejarah bersamamu. Rasanya seperti menonton film asing tanpa terjemahan.” “Kau cemburu?” suara Malik terdengar tenang, nyaris mengejek. Elmira tertawa pendek. “Tidak lucu.” “Aku tidak bercanda.” “Aku hanya mengomentari. Bukan cemburu.” Malik tidak menjawab. Tapi Elmira bisa merasakan atmosfer di dalam mobil berubah—lebih pekat, lebih tajam. “Kau tahu, Delphine dan aku sudah tidak ada apa-apa sejak lama,” ucap Malik akhirnya. “Kami dulu hanya… sempat dekat.” “Hanya sempat dekat?” Elmira mendesis pelan. “Dia menyimpan lukisan yang kalian beli bersama. Sepertinya lebih dari sekadar dekat.” “Kau ingin tahu semuanya?” tanya Malik mendadak. Elmira terdiam. “Aku tidak keberatan menceritakan masa laluku. Tapi kau juga harus siap membuka semua tentangmu.” Mata Elmira membulat. “Apa maksudmu?” “Kau bukan orang tanpa rahasia, Elmira. Kau juga belum menceritakan semuanya tentang dirimu. Tentang keluargamu. Tentang apa yang membuatmu menerima kontrak ini.” Elmira menunduk. “Kita punya kesepakatan…” “Dan aku ingin mengubahnya.” Kalimat itu meluncur cepat, begitu saja. Elmira menoleh. “Apa?” Malik menatap lurus ke depan. “Aku mulai merasa… kita tidak bisa terus bersikap seolah semuanya hanya soal kontrak.” Elmira membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Ia ingin marah. Atau senang. Atau… apa pun. Tapi yang ia rasakan justru kekacauan. “Karena itu,” lanjut Malik, “aku butuh waktu berpikir. Kau juga.” Mereka tiba di vila dalam diam. Langkah Elmira berat saat masuk ke kamarnya sendiri. Di sana, ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya yang tampak asing dengan sorot mata yang kacau. Ia menyentuh dadanya. Perasaan aneh itu masih ada. Dan baru kali ini ia sadar: mungkin, hanya mungkin… ia memang cemburu. Tapi bukan karena Delphine yang menyentuh Malik. Melainkan karena Malik tidak pernah menyentuhnya… dengan cara yang ia inginkan. Dengan cara yang tulus. Belum. Atau mungkin… tidak akan pernah. Elmira menunduk. Ia mencoba mengusir pikiran itu, tapi tak bisa. Sejak pertemuan di restoran hotel siang tadi, semuanya terasa ganjil. Malik yang biasanya cuek, mendadak terlihat gelisah. Tidak seperti dirinya yang dingin dan tak peduli. Bahkan saat memperkenalkan Elmira sebagai istri kontraknya—dengan nada sarkastik yang membuat perut Elmira mual—tatapan Malik pada Delphine tak pernah benar-benar lepas. Dan Delphine? Perempuan itu menyambut Elmira dengan senyum manis yang terlalu tenang. Ia menyebut dirinya teman lama Malik. Tapi Elmira tak buta. Tatapan yang Delphine berikan pada Malik tidak seperti tatapan teman. Itu tatapan yang penuh ingatan. Dan sesekali, Elmira merasa Delphine menatapnya seperti seorang ratu yang melihat bidak catur. Terlalu lembut, terlalu tenang, terlalu… menguasai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD