3. Pengakuan

1045 Words
Di dalam mobil itu, suasana kembali canggung. Beginilah karakter asli Robert, dia adalah sosok yang tidak banyak bicara, apalagi untuk sesuatu hal yang tidak penting. Sejak tadi matanya fokus pada tablet yang ada di tanganya. Bahkan sosok Joycelline di sampingnya tidak membuatnya terganggu sama sekali. “Apa yang kalian bicarakan tadi? Kalian terlihat sangat asyik.” Joycelline menoleh ke arah Robert. Dia terkejut karena tiba-tiba Robert mengeluarkan suaranya. “Siapa yang Kakak maksud?” Jujur saja Joycelline memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Robert, sebab tiba-tiba bertanya saat dirinya sedang melamun membayangkan Nelson. “Kamu dan Addison bersaudara itu,” jawab Robert tanpa ekspresi. Inilah sisi lain yang tidak orang-orang tahu. Mungkin orang lain akan berpikir jika hubungan mereka berdua sebagai saudara kandung sangat hangat dan harmonis, tapi nyatanya Joycelline selalu merasa jika Robert tidak pernah menganggapnya sebagai saudaranya. Robert selalu menunjukkan citra jika dia begitu mencintai Jeslyn, bahkan tidak segan untuk cepat menikahinya, tapi dia bahkan menyebut calon istri dan calon kakak iparnya saja dengan sebutan - Addison bersaudara. “Tidak ada hal serius yang kami bicarakan, Kak Jeslyn hanya ingin memperkenalkan aku dengan Kak Nelson saja. Kami hanya membahas hal-hal random, tidak ada hal yang perlu Kakak cemaskan,” jawab Joycelline dengan santai. “Kamu tidak memiliki kewajiban untuk mengenal Nelson. Yang akan menjadi keluarga mereka itu aku, bukan kamu,” jawab Robert dengan dingin. Inilah yang Joycelline maksud dengan Robert seolah tidak menganggap jika dirinya adalah saudaranya, adik kandungnya. Atau jangan-jangan dulu dia bayi yang tertukar? “Kamu mengatakan seolah aku bukanlah adikmu. Yang akan menjadi keluargamu juga tentunya akan menjadi keluargaku juga,” jawab Joycelline dengan sebal. Robert sudah berdecak lidah dan siap akan marah, tapi interupsi dari David menghentikan aksinya. “Kita tidak harus memperpanjang hal ini, Robert,” ucap David dengan sarkas. David menatap muka kesal Joycelline dari balik kaca dashborad. Sedangkan Robert kini kembali diam dan acuh. Fokus pada tablet di tangannya. Sudah seminggu Robert perjalanan dinas ke Belanda. Selama waktu itu, Joycelline banyak menghabiskan waktu bersama dengan Jeslyn. Joycelline mencari banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan calon kakak iparnya itu, selain karena ingin mengenal bagaimana orang yang akan bersanding dengan kakaknya, Joycelline juga memiliki motif tersembunyi yakni mengenal lebih seorang Nelson Richard Addison dari sumber yang terpercaya, yakni adiknya sendiri. Setiap malam Joycelline menghabiskan waktunya untuk menjelajah dunia maya hanya untuk mencari segala informasi tentang Nelson. Joycelline bahkan sampai rela membuat sebuah second account untuk mengikuti social media Nelson. Memata-matai segala hal tentang Nelson. Kali ini sepertinya Joycelline benar-benar sedang jatuh cinta. Hari ini Jeslyn mengajak Joycelline untuk mengunjungi mansionnya. Keberuntungan memang seang berpihak padanya karena dia bisa bertemu dengan Nelson mengingat hari ini adalah akhir pekan. Joycelline menahan nafas melihat tubuh atletis Nelson yang sedang menari-nari di dalam air. Ketika tubuh itu akhirnya muncul dari dalam air tanda sehelai kain yang menutupi d**a bidangnya, Joycelline sampai ingin meneteskan liurnya, anggap saja dia berlebihan. Joycelline biasa melihat Robert maupun para pengawalnya topless ketika mereka sedang berlatih, tapi rasanya akan sangat berbeda jika itu di lakukan oleh orang yang sedang dia cintai. Nelson keluar dari air lalu mengambil handuk untuk menutupi tubuh atasnya yang terbuka. “Hai Joycelline,” sapa Nelson dengan ramah yang membuat pipi Joycelline tersipu malu. Mereka saling bertegur sapa untuk sekedar berbasa-basi lalu Jeslyn mengajak Joycelline ke kamarnya. Jeslyn tersenyum melihat Joycelline yang kagum dengan isi kamarnya. “Aku yakin milikmu jauh lebih besar dan lengkap,” ucap Jeslyn sembari berbaring di ranjangnya. “Ada hal yang sangat ingin aku ceritakan padamu, Kak. Tapi aku bingung mau memulainya dari mana,” ucap Joycelline sembari ikut berbaring di ranjang Jeslyn. “Katakan saja, aku siap menjadi teman ceritamu,” jawab Jeslyn dengan memejamkan mata. “Apakah Kak Robert adalah cinta pertamamu? Atau kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?” tanya Joycelline sembari tatapan matanya mengarah ke atap langit kamar. Membayangkan tubuh atletis Nelson yang baru saja dia temui. “Robert adalah cinta pertamaku, aku tidak pernah mencintai orang lain. Jika didekatnya, aku merasa nyaman dan bahagia. Jika Robert tidak ada, aku merasa sepi dan sendirian.” “Apakah dadamu berdebar saat dia berada di dekatmu? Selalu merasa ingin dia menyentuhmu?” Mata Jeslyn seketika terbuka, dia menoleh ke arah Joycelline lalu tersenyum. “Aku suka saat Robert menyentuhku, tapi dia adalah pria yang menjaga kesucian tubuhku. Aku beruntung memilih dia menjadi calon suamiku.” Joycelline agak sedikit terheran ketika Jeslyn menyebut jika kakaknya menjaga tubuhnya? Sedangkan yang dia tahu, kakaknya itu seperti pria b******k yang suka membawa wanita berganti-ganti di mansionnya, meskipun sekarang Joycelline baru sadar jika Robert tidak lagi pernah dekat dengan para wanitanya semenjak memperkenalkan Jeslyn sebagai calon istrinya. “Apakah kamu sedang jatuh cinta, Joy?” Pertanyaan Jeslyn sontak membuat Joycelline terkejut. Apakah seterlihat itu sampai Jeslyn menyadarinya. “Aku menyukai seorang pria yang tidak akan pernah di takdirkan untuk bersamaku,” jawab Joycelline dengan lesu. “Kenapa kamu berpikir seperti itu? Pria mana yang akan menolakmu? Apa dia sudah gila!” jawab Jeslyn tidak terima dengan jalan pemikiran Joycelline. “Mungkin sekarang kamu bisa mengatakan hal itu, tapi saat mendengarnya nanti kamu akan marah. Aku tahu jika apa yang aku rasakan ini salah, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kak Jeslyn, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Aku tidak tau rasanya jatuh cinta itu seperti apa, tapi aku mulai menyadarinya setelah aku bertemu denan pria ini. Dia membuat dadaku berdebar, di dekatnya aku sungguh bahagia meskipun aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya. Aku hanya bisa mencintainya dalam diam.” Joycelline nampak sedih ketika mengeluarkan segala jenis gelisah di hatinya. Joycelline ingin sekali Jeslyn tahu pada siapa hatinya berlabuh, tapi dia takut jika pada akhirnya Robert akan tau. Kakaknya pastiakan sangat murka. “Kenapa kamu berpikir jika kalian tidak pantas bersama? Dengan segala hal yang kamu miliki, apa yang membuatmu tidak berani untuk mendekatinya? Kamu sempurna Joycelline, aku bahkan sealu iri ketika melihatmu, kamu begitu cantik, kamu menarik, kamu cerdas, kamu putri keluarga Hamilton, kamu adik dari Robert Elliot Hamilton, lalu apa lagi yang membuatmu tidak percaya diri?” Jeslyn sampai bangun dari posisi berbaringnya, menatap ekspresi Joycelline yang menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. “Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal ini lebih jauh. Jika memikirkannya selalu membuatku bersedih,” ucap Joycelline dengan tersenyum getir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD