Sudah lebih dua minggu Aurora menjauhi Dio. Rasanya masih belum siap jika dia harus bertemu Dio. Aurora benar-benar menutup dirinya. Rentetan pesan yang di kirim oleh Dio, Aurora abaikan begitu saja, begitupun dengan panggilan telepon. Setiap Dio berkunjung ke rumahnya, Aurora akan berada di kamar.
Kalau bicara rindu, jelas hatinya sangat rindu. Kalau bicara cinta dan sayang, kedua perasaan itu masih tetap ada, bahkan utuh. Aurora juga belum bertanya kepada Dio mengenai sosok perempuan yang membuat dirinya bersikap seperti ini. Dia takut. Dia takut jika jawaban yang akan Dio berikan bukanlah jawaban yang ingin dia dengar, sebuah jawaban yang hanya membuat semua ketakutan dia nyata.
"sayang, minggu ini kamu sibuk gak?"
Aurora mengalihkan pandangannya dari televisi. Pandangannya memang terarah ke depan, tapi tidak dengan pikirannya yang melayang ke mana-mana. "kenapa ma?"
"Ini, Qiana sama Valdo ngundang makan malem hari sabtu nanti"
"ada acara?"
"si bungsu ulang tahun. Karena tahun ini gak pergi jalan-jalan, jadi di ganti sama makan malem bareng"
Aurora menghela napas "aku absen dulu deh ma"
"masih gak mau ketemu Dio?"
Aurora mengangguk "gapapa kan ma?"
Syeril tersenyum lembut, tangannya mengusap kepala Aurora "gak apa-apa sayang."
"makasih ma"
"iya. Tapi boleh gak mama minta sesuatu?"
"apa?"
"apapun pilihan Rara, apapun yang Rara lakukan, mama minta agar Rara selalu bahagia. Mama kangen liat Rara yang suka tersenyum atau suka marah karena dijahilin papa."
"maafin Rara ya ma" lirih Aurora.
"loh? kenapa minta maaf sayang? Rara gak salah apa-apa"
Aurora menggeleng "maaf karena selalu bikin mama dan papa khawatir"
"sayang" Syeril langsung membawa Aurora ke dalam pelukannya. Mengusap dengan lembut punggung Aurora, menyalurkan rasa cinta dan sayang.
"Rara sedang berusaha ma. Rara sedang berusaha untuk terbiasa tanpa Kak Dio. Saat Rara sudah terbiasa, Rara siap akan menerima kenyataan sepahit apapun." jelas Aurora.
"lakukan sayang. Lakukan apapun yang membuat Rara bahagia. Mama dan papa akan selalu dukung"
"terima kasih ma"
"ada apa nih? kok pelukan gak ajak papa?"
Aurora dan Syeril melepaskan pelukan mereka, menatap Ega yang datang. "girls time pa" sahut Shyeril.
Ega berdecak, lalu duduk di sofa single "kamu udah bukan girl lagi, ma" sahut Ega santai sambil meraih remote dan mengganti tayangan televisi.
"dasar. Si tua nyebelin"
"tua juga kamu makin cinta, ma"
"dih narsis"
"kenyataan kali ma"
Di sisi lain, Aurora tersenyum melihat perdebatan kedua orang tuanya. Perdebatan kecil yang membuat rumahnya terasa hangat.
***
"Ciyeeee. Sepet banget itu muka? datang bulan ya?" goda Chala pada Dio yang tengah bersantai di teras belakang.
"kakak lagi gak mau berantem ya Chal"
"lah, emang aku ngajak berantem?"
Dio memilih tidak menanggapi. Pandangannya kembali menatap air kolam renang.
"kenapa sih kak? pusing? kerjaan lagi gak lancar?"
Dio menoleh "kamu sebenernya mau jadi dokter atau wartawan? banyak tanya"
Chala berdecak "emang kalau jadi dokter gak boleh banyak tanya? dokter juga perlu tanya ke pasien kali"
Dio menghela napas "kakak perhatiin, kamu kok sekarang rajin ada di rumah? gak suka nongkrong?"
"aku betah di rumah di omongin. Aku keluar mulu juga di omongin. Heran deh, aku ini perempuan atau laki-laki sih? kok serba salah mulu. Katanya yang serba salah itu laki-laki" cerewet Chala.
"jawabnya santai aja bisa?"
"gak!"
"udah sana."
"dih ngusir. Rumah kakak juga bukan"
"Chala!"
"apa sih kak?. Sensi banget! cerita dong"
"gak ada"
"gak mungkin. Aku itu adik kakak loh, aku tinggal bareng kakak bukan baru satu hari, satu minggu atau satu bulan. Aku tahu kalau Kak Dio lagi seneng atau sedih tuh kaya gimana."
"seneng atau sedih, kakak tetep ganteng"
Chala langsung melayangkan pukulan di lengan Dio "aku serius! nyebelin banget" kesal Chala.
"kakak beneran lagi gak ada masalah Chal. Serius"
"terus?"
"ya lagi ngerasa mumet aja dan pengen sendiri"
"Kak Rara apa kabar?"
"kok tanya kakak?"
"terus tanya siapa? Abian? mana ngerti. Hp aja cuma di pake main game"
"ya kamu kan bisa tanya langsung sama Aurora. Emang kalian gak saling chat? tumben"
"aku lagi sibuk banget kak sama urusan bimbel. Jadi gak sempet chat Kak Rara"
"terus kenapa tanya kakak?"
"kak please!" Chala mengepalkan tangannya menahan kesal "aku bukan bocah polos yang gak tahu apa-apa. Meskipun mulut kakak berbusa ngomong kalau kalian gak pacaran, tapi kalian bukan orang asing yang akan saling mengabaikan"
"kakak gak tahu"
"kak"
"beneran Chala. Kakak gak tahu"
"kenapa? kalian berantem?"
Dio mengangkat bahunya "entah. Dia minta supaya kita gak ketemu"
"loh, kok bisa? kenapa?"
"gak tahu"
"seriusan?"
"serius. Sampai sekarang kakak gak tahu kenapa Rara minta hal itu"
"udah ngobrol? udah tanya alasannya?"
Dio menggeleng "gak bisa. Dia gak bales pesan kakak. Gak angkat telepon kakak"
"coba di inget-inget, siapa tahu kakak ada salah tapi gak sadar" saran Chala.
"hmm"
"teteeeeeeh"
Chala dan Dio sontak menoleh ke belakang, ke arah pintu saat suara si bungsu masuk ke telinga mereka.
"sana samperin. Nanti rewel" suruh Dio pada Chala.
"Teteeeeeeh" teriak Abian kembali terdengar.
"iya deeek" Chala bangun dari duduknya. Lalu meninggalkan Dio sendiri dan pergi menghampiri Abian yang tengah mencari keberadaannya.
***
"Ma, nanti aku izin pulang telat ya"
"mau kemana dulu sayang?"
"aku mau ke mall dulu, mau beli kado buat si bungsu"
"jadi ikut makan malem?"
Aurora menggeleng "engga. Aku titip kado aja"
"ogitu. Perginya di anter sopir ya"
"iya ma, nanti aku hubungi Pak Agus buat jemput. Sekarang aku pamit ya"
"iya sayang. Belajar yang fokus ya"
"iya ma" Aurora mencium tangan sang mama lalu keluar rumah. Menaiki mobil dan berangkat ke kampus.
Tiba di kampus, Aurora langsung masuk ke kelas. Suasana hatinya masih sama, abu-abu dan entah sampai kapan.
"sakit lo?" tanya Sinta saat Aurora duduk di sebelahnya.
Aurora menggeleng "engga. Biasa aja"
"sumpah sih Ra, lo makin ke sini makin mirip ayam yang kena hujan."
"apa sih! enak aja lo!"
"heh! gue bukan bocil yang bisa di bohongi ya! gue tahu lo lagi gak gwenchana alias lagi gak baik-baik aja"
"engga Sin. Cuma lagi capek aja"
"capek sama hidup? sama. Mabok aja yuk!"
Aurora langsung melayangkan tatapan tajam pada Sinta, sedangkan Sinta malah tertawa puas. "sesat lo!"
"canda kali! gue bisa di coret dari KK kalau mabok. Tapi gak tahu ya kalau nyabu"
"SINTA!"
Sinta kembali tertawa puas "elah Ra. Canda. Kalau nyabu, gue emang gak bakal di coret dari KK, tapi status gue langsung berubah jadi almarhumah. Alias, bakal langsung di gorok emak gue"
"lo balik kuliah sibuk gak?"
"sibuk banget!"
"dih bohong"
"lah, lo nanya, gue jawab!"
"sibuk apaan?"
"main tinder alias cari jodoh"
Kali ini giliran Aurora yang tertawa "ampun deh Sin. Gue tobat sama kelakuan lo. Ternyata lo se b****k ini"
"ya bagus dong. Lo berteman sama gue di jamin gak akan tersesat karena bakal sering tobat"
"oke. Back to topic. Lo sibuk gak? anter gue ke mall dong"
"dih, jomblo lo?"
"Sinta"
"oke gass ngeeeng. Tapi beliin gue es krim ya"
"iya. Aman"
"yang mahal. Gue gak level yang murah"
"lebay lo! es krim dua ribu juga lo embat"
Percakapa keduanya terhenti saat dosen masuk. Mereka langsung bersiap dan mengumpulkan segala fokus mereka agar materi yang di sampaikan dosen dapat di serap dan bertahan lama dalam pikiran mereka.
***
"sumpah, gue bingung" keluh Aurora.
"gak usah bingung. Lo punya duit. Beli dua-duanya" saran Sinta karena Aurora belum dapat memutuskan akan membeli mobil dengan remote control atau action figur Captain America, tokoh super hero favorit Abian.
"gak! itu namanya pemborosan. Bunda Qiana gak suka kalau boros"
"gak kenal gue, Ra. Bunda Qiana, nugu?"
Aurora menghela napas "lo keseringan maraton drakor jadi makin alay, Sin"
"biarin. Drakor itu jalan ninja gue untuk bahagia meskipun gak punya pacar."
"ya, terserah. Jadi, gue pilih yang mana nih?"
"mobil aja udah. Action figur dia udah banyak kali"
"tapi, dia juga pasti punya mobil yang pake remote control begini"
"terserah Ra. Terserah. Angkat tangan gue" Sinta mulai kesal kepada Aurora.
"yaudah. Mobil aja" putus Aurora akhirnya dan Sinta menghela napas lega.
"cepet bayar. Terus beliin gue es krim. Udah panas banget nih tenggorokan"
"ciri-ciri orang yang bakal masuk neraka"
Sinta langsung memukul lengan Aurora "lo juga ya!"
Selesai membayar kado mainan untuk Abian, Aurora dan Sinta melanjutkan perjalanan mereka menyusuri mall dengan tujuan selanjutnya adalah es krim, sesuai permintaan Sinta.
"Sour Sally dong Ra" pinta Sinta.
"oke, gas"
Sinta tersenyum lebar, lalu mereka membeli es krim yang Sinta inginkan.
"duduk dulu lah, abis ini makan. Laper gak lo?" tanya Aurora.
"laper lah"
"dimsum enak kali ya. Gue pengen bakpao nya"
"yaudah. Abis ini makan dimsum"
"sip"
Segera setelah es krim habis, keduanya pergi ke salah satu restoran China untuk memakan dimsum.
"pesen apa?" tanya Aurora sambil melihat menu.
"dimsum aja udah. Macem-macem juga, pasti kenyang"
"yaudah, gue pesen bakpao, siomai, hakau, xiao long bau, spring roll sama mantau. Masing-masing satu porsi. Cukup?"
"cukup"
Aurora mengangguk, lalu memanggil pelayan dan mengatakan semua pesanannya.
"abis ini balik ya" pinta Sinta.
"oke. Lo gak ada yang mau di beli?"
"gak ada. Dua hari lalu gue abis beli baju sama emak gue. Belum di pake semua"
"lo emang panggilnya emak ya?"
Sinta tertawa "engga. Aslinya sih panggil mamih. Tapi gue suka aja panggil emak"
"dasar"
Pesanan mereka datang. Keduanya makan dengan lahap. Meskipun terlihat santai, kenyatannya berjalan di mall cukup melelahkan dan menguras tenaga. Selain menguras isi dompet tentunya.
Makan selesai dan Aurora yang membayar lalu keduanya keluar dari restoran. Awalnya Sinta yang ingin membayar, tapi Aurora menolak dengan alasan terima kasih kepada Sinta yang sudah mau menemaninya.
"pokoknya nanti kalau kita jalan lagi, gue yang bayar"
"iya. Bawel lo!"
Setelah turun dari eskalator, langkah Sinta langsung terhenti. Wajahnya terlihat linglung.
"kenapa Sin?" tanya Aurora.
"hp gue, Ra!"
"coba cek di tas" suruh Aurora.
Sinta langsung memeriksa tasnya dengan cepat "gak ada"
"di kantong"
"gak ada juga Ra"
"tadi pas di resto, lo masih pegang"
"anjir, ke tinggalan di resto ini mah"
"yaudah, ayo susul"
"gak. Lo tunggu sini. Gue mau lari" tolak Sinta.
"yaudah. Kalau sepuluh menit lo gak datang. Gue susul"
"Sip" Sinta langsung berbalik arah dan menaiki eskalator yang bergerak naik.
Aurora menunggu Sinta di dekat pilar agar tidak mengganggu pengunjung mall yang baru turun dari eskalator. Sesekali dia menoleh untuk memastikan kedatangan Sinta. Hingga matanya bertatapan dengan seseorang yang lebih dari dua minggu ini dia jauhi dan yang membuat hatinya berdenyut. Pria itu lagi-lagi tengah bersama wanita yang sudah Aurora ketahui bernama Amira.
"Ra" panggil Dio pelan dengan ekspresi terkejut.
Aurora hanya diam, pandangannya dari Dio beralih kepada Amira.
"kamu-"
Aurora langsung melangkah pergi. Dia tidak ingin mendengar apapun. Rasanya semua sudah semakin jelas. Dia, harus benar-benar bersiap menerima fakta menyakitkan.
***