Aurora menatap kesal pada benda kotak yang ada di hadapannya. Sudah cukup malam dan lagi-lagi Dio tidak mengirimnya pesan atau mengabarinya. Terakhir, pria itu menghubungi Aurora saat sore, menanyakan kepulangan Aurora dari kampus. Seperti yang di katakan saat mengantar Aurora, Dio akan memesankan taxi, tapi Aurora menolak dan memilih memesannya sendiri.
Pikiran-pikiran buruk tentang hubungan yang dia jalani kembali memenuhi setiap sudut kepalanya.
"bakal baik banget nget nget nget kalau ladi pendekatan. Giliran udah deket banget, dianya malah suka ilang-ilangan. Jadi kaya ajang uji coba rasa penasaran aja." ucapan Sinta siang tadi yang lagi-lagi membuat Aurora ovethinking disaat malam. Apa laki-laki memang seperti itu?
Menghela napas, Aurora mencoba membuat kepalanya tenang. Tangannya kembali meraih benda kotak yang sebelumnya tergeletak, bukan untuk menghubungi Dio, tapi untuk berselancar di dunia maya guna mengusir pikiran menyebalkan. Siapa tahu, dia bisa tertawa dan lebih tenang kalau menemukan meme yang lucu. Who knows?
Aurora masuk pada menu explore di aplikasi berbagi foto dan video, i********:. Dia memilih foto dan video secara acak yang menurutnya akan menghibur. Cara tersebut ternyata cukup membantu, perlahan pikirannya mulai teralihkan. Jari Aurora terus melakukan scroll pada layar ponsel, sesekali tersenyum atau tertawa saat menemukan hal lucu, hingga sebuah foto muncul dan menghancurkan segala usaha Aurora untuk tidak overthinking.
Foto Dio dengan perempuan yang lagi-lagi membuat Aurora bertanya, siapa perempuan itu?. Perempuan yang sama, yang membuat dia galau. Tapi kali ini, lebih dari galau, Aurora bahkan seperti mendengar suara hatinya yang patah saat membaca caption yang di tulis wanita tersebut pada foto yang di unggahnya.
Terima kasih. Laki-laki yang gue kenal selalu hebat. Laki-laki paket komplit. Ganteng, baik, pintar, pekerja keras. Terima kasih sudah berusaha dengan hebat selama ini. Proud of you.
Tanpa Aurora sadar, air mata mengalir membasahi pipinya. Apakah ini jawaban dari segala gundah yang dia rasa? apakah ini jawaban dari segala doanya tentang hubungan yang dia jalani. Apakah ini jawaban jika ternyata Dio memanglah bukan jodohnya dan hanya memikili peran sebagai kakak laki-laki dalam hidupnya?. Kenapa terasa begitu menyakitkan?
Aurora menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Dia ingin menangis kencang, tapi tak bisa di lakukan, dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir karena mendengar dia yang menangis di tengah malam.
Memilih menahan perihnya luka di hati. Aurora mematikan ponselnya. Lalu menghempaskan tubuhnya dan menutup mata. Sesulit apapun, dia harus segera masuk ke alam mimpi sebelum lukanya semakin terasa dan dia tidak bisa lagi menahan air mata.
***
Dio tersenyum melihat Aurora keluar dari gedung fakultasnya bersama seorang teman perempuan. Setelah nomor Aurora sulit di hubungi, Dio memutuskan untuk langsung pergi ke kampus Aurora untuk menjemputnya.
"ciyeeee, udah di jemput ayang tuh. Gue duluan ya" pamit Sinta.
Aurora hanya mengangguk, setelah Sinta pergi, dia menatap sinis Dio.
"kamu kenapa?" tanya Dio yang merasa aneh ditatap seperti itu.
Aurora masih diam.
"aku telepon kamu tapi gak aktif. Lowbet?" Dio kembali bertanya dan Aurora masih diam dengan ekspresi yang sama.
"Ra"
"ngapain kesini?" tanya Aurora akhirnya.
"jemput kamu"
"gak usah. Gak perlu. Aku bisa pulang sendiri" tegas Aurora lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Dengan cepat Dio menahan Aurora. "Ra, kenapa?"
"lepas!" Aurora mencoba menghempaskan tangan Dio.
"Ra" Dio memanggilnya dengan begitu lembut.
Air mata Aurora tidak bisa ditahan lagi, dia menoleh menatap Dio, pandangan sinis yang sebelumnya dia layangkan pada Dio telah hilang, berganti dengan pandangan sendu yang menyayat hati "aku bisa pulang sendiri kak" lirih Aurora.
Dio menggeleng. Tidak akan pernah dia biarkan Aurora sendirian dengan keadaan seperti ini.
"No, kita pulang bareng ya. Please" Dio memohon.
Aurora menutup matanya beberapa detik, mencoba menenangkan dirinya sendiri hingga akhirnya mengangguk, setuju dengan ajakan Dio.
Dengan lembut Dio menuntun Aurora ke arah mobil, membukakan pintu dan memasangkan sabuk pengaman.
Melihat segala perlakuan Dio kepadanya, air mata Aurora semakin deras. Berpikir jika bukan hanya dia yang diperlakukan seperti itu oleh Dio.
"Ra-"
"jalan" potong Aurora.
Dio menghela napas, lalu menuruti ucapan Aurora meskipun di kepalanya penuh dengan tanda tanya besar.
Tiga puluh menit dalam diam, mobil yang di kendarai Dio akhirnya tiba di rumah Aurora. Tanpa menunggu lama, Aurora membuka sabuk pengaman, tapi tangan Dio tidak kalah cepat, dengan lembut, dia menahan Aurora.
"Ra, ada apa?" tanya Dio dengan lembut. Pandangannya menatap Aurora yang hanya menunduk.
"Ra"
"aku mau turun" ucap Aurora dengan suara yang teramat kecil.
"Bilang dulu sama aku, kamu kenapa Ra? ada apa?"
Aurora hanya menggelengkan kepalanya.
"Ra, jangan bikin aku khawatir"
Aurora tetap Diam.
"Ra, please. Ada apa sayang?"
Dio masih tidak mendapatkan respon.
"Demi Tuhan Ra, kamu buat aku khawatir. Ada apa sayang?" Dio sudah merasa putus asa karena keterdiaman Dio.
Bukan bersuara, Aurora malah terisak.
"Sayang" Dio menarik Aurora kedalam pelukannya dan saat itulah tangis Aurora pecah. Sakit yang dia tahan semalaman akhirnya meledak. Aurora menangis dengan sangat kencang, di dalam perlukan Dio dan mungkin pelukan terakhir yang akan dia miliki.
Dio semakin gundah, rasa khawatirnya semakin besar kala tangis menyayat hati Aurora terdengar. Auroranya, wanitanya, tengah begitu rapuh dan sialnya dia tidak tahu penyebabnya.
Setengah jam hanya memeluk Aurora yang tengah menangis, perlahan tangis Aurora sudah mulai tenang.
"Kak" panggil Aurora yang napasnya masih belum beraturan"
"iya sayang?" Dio mengusap Air mata yang mengalir di pipi Aurora.
"jangan temui aku dulu"
Dio membulatkan matanya, terkejut dengan permintaan Aurora "maksud kamu?"
"please. Aku gak mau ketemu Kak Dio" Aurora akhirnya menatap mata Dio.
Hati Dio seperti di remas karena menerima tatapan kesakitan dari Aurora. "Ra, ada apa sayang?"
Aurora menggeleng "please kak" Aurora kembali memohon.
Dio menghela napas , lalu terpaksa mengangguk "oke. Tapi setelah membaik, kita harus bicara"
"ya" lirih Aurora.
Dio mencium kening Aurora sebelum Aurora turun dari mobil. Dia akan mengikuti keinginan Aurora untuk tidak menemuinya, tapi dia akan tetap mengawasi Aurora.
Menghela napas kasar saat Aurora sudah keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Dio kemudian menghubungi Ega untuk bertemu. Dia tidak mungkin hanya diam tanpa melakukan hal apapun saat melihat kondisi Aurora sekarang ini.
"Om ada di kantor Di, ada apa?" Ega balik bertanya saat Dio bertanya di mana keberadaan Ega.
"sibuk gak om? bisa ketemu sekarang?"
"ya sibuk lah. Om bukan pengangguran"
"om, Dio serius"
Ega berdecak "gak anak, gak bapak, sama-sama ngeselin. Datang aja Di"
"iya om"
"oke. Sekalian beliin om makan siang dong Di, belum makan nih"
"iya om. Dio tutup"
"iya"
Setelah menutup sambungan telepon dengan Ega, Dio langsung pergi menuju kantor Ega dan mampir terlebih dahulu untuk membeli makan siang, pesanan Ega.
Setelah hampir empat puluh menit berkendara, Dio tiba di kantor Ega. Tanpa bertanya, Dio melangkah pasti menuju lift, dia sudah hafal di mana letak ruangan Ega dan para pegawai juga sudah hafal, siapa sosok Dio.
Tiba di depan ruangan Ega, sekretaris mengatakan jika Ega ada di dalam dan tidak ada tamu, jadi Dio bisa langsung masuk.
"Siang om" sapa Dio setelah membuka pintu.
Ega mengalihkan pandangannya dari berkas ke arah Dio. "Eh Di, masuk. Kamu bawa pesenan om kan?"
Dio mengangguk, lalu masuk dan menutup pintunya lagi. Ega sudah berpindah, dari kursi kerja ke sofa yang biasanya di pakai untuk menjamu tamu.
"ini om" Dio meletakkan makan siang di atas meja.
"thank you. Jadi, ada apa nih? tumben banget ngajak ketemu di jam kerja" tanya Ega sambil mulai membuka makan siang siangnya.
Dio menghela napas "Rara nangis"
Gerakan tangan Ega terhenti, pandangannya langsung berfokus kepada Dio "kamu yang bikin nangis?"
Dio menggeleng "gak tahu"
Ega berdecak, duduknya berubah tegak, makan siangnya bisa menunggu, tapi urusan putri kesayangannya, tidak "kenapa gak tahu?"
"karena Aurora gak bilang. Pulang kuliah aku jemput, dia nangis. Aku tanya kenapa dia gak jawab. Aku khawatir, makanya aku datang ke sini. Aku udah terlalu bingung om harus gimana" jelas Dio.
"tapi kamu ngerasa kalau Rara angis karena kamu?"
Dio menggeleng ragu "entah. Selama ini aku selalu cerita apapun ke Rara, Om. Belakangan ini aku emang sibuk banget dan komunikasi aku sama Rara jadi kurang lancar, tapi aku udah bilang kalau aku sibuk banget sama kerjaan"
Ega mengangguk, dia memang tahu jika belakangan ini Dio sangat sibuk. Valdo yang bercerita kepadanya tentang salah satu cabang restoran mengalami kejanggalan di laporan keuangan.
"nanti biar om yang tanya, berharap gak ada hal buruk yang terjadi."
"tolong ya om, nanti kabari Dio"
"ya. Kalau inget"
"om..."
"iya. Udah, sekarang kamu balik kerja sana" usir Ega dengan santai.
Dio menarik napas dalam lalu mengembuskannya. Dia belum tenang, tapi setidaknya sedikit merasa lebih baik.
***
Di dalam kamar, Aurora masih menangis. Air matanya seolah terus berlomba untuk membasahi pipinya.
pintu kamar di ketuk, kemudian di buka perlahan "sayang" Syeril langsung menghampiri Aurora setelah menutup pintu kamar.
"mama" panggil Aurora dan tangisnya kembali pecah.
Syeril langsung memeluk Aurora. Mengusap punggung anak semata wayangnya agar merasa lebih tenang.
lima belas menit kemudian, Aurora sudah lebih tenang. Syeril melepas pelukan dengan Aurora, menangkup wajah Aurora "mau cerita?" tanya Syeril dengan lembut.
Aurora mengangguk, air matanya masih terus mengalir. "Rara bingung ma"
"bingung kenapa sayang?"
Aurora menarik napas cukup panjang, mengembuskannya lalu menerima tissue yang di berikan oleh Syeril untuk mengeluarkan sumbatan di hidungnya karena terlalu lama menangis.
Setelah merasa lebih siap dan tenang, Aurora akhirnya mulai bercerita. Bagaimana hubungan yang dia jalani dengan Dio. Bagaimana perasannya kepada Dio. Hingga merasa jika beberapa hari ke belakang Dio terasa berubah. Juga tentang perempuan yang dia lihat bersama Dio di beberapa kesempatan. Di biskop dan juga makan bersama juga caption foto yang dia baca.
"udah tanya langsung sama Dio?"
Aurora menggeleng "belum"
"kenapa?"
"aku pengennya Kak Dio sendiri yang bilang ma"
"sayang, gimana kalau ternyata itu temennya?"
"tapi captionnya begitu ma, temen tapi mesra kaya aku?"
"dengar sayang, bukan karena mama sayang sama Dio dan sudah anggap dia juga anak mama, tapi mama percaya kalau Dio gak akan melakukan hal se jahat itu sama kamu. Mungkin memang ada alasan besar kenapa dia gak mau kalian pacaran sekarang dan alasan itu mama yakin bukan karena di luar sana dia memiliki wanita lain atau menjaga hati wanita lain."
"mama yakin?"
Syeril mengangguk "yakin. Karena kalau sampai dia melakukan itu, bukan hanya kamu, mama dan papa yang aka kecewa sama dia. Tapi kedua orang tuanya juga. Kamu tahu sebesar apa cinta Dio untuk bunda dan papanya. Mengecewan orang tua adalah hal yang paling Dio hindari"
"tapi ma, hati orang gak ada yang tahu"
"betul. Hati orang gak ada yang tahu dan gak ada yang bisa dengar. Jadi, lebih baik Rara tanya langsung sama Dio daripada mengira-ngira sampai overthinking dan sedih begini. Mama gak mau lihat Rara sedih, papa juga pasti sedih liat Rara nangis kaya tadi"
"kalau Rara masih gak mau tanya dan tetap memilih untuk menunggu Kak Dio yang jelasin?"
"itu pilihan Rara, Rara tahu akibatnya dari memilih itu. Siapa tahu, kenyatannya adalah kalian lagi salah paham aja."
"tapi ma-"
"sayang" Syeril memotong ucapan Aurora "pilih apa yang menurut kamu yakin, mama hanya memberikan saran dan tidak wajib untuk kamu turuti, mama hanya mengatakan solusi yang baik dari sudut pandang mama. Semuanya balik lagi ke kamu. Kamu yang lebih tahu hati kamu. Tapi satu hal, jangan sedih. Mama ikut sedih kalau kamu sedih"
***