Sebelas: Bertambahnya Tanggung Jawab

2026 Words
Dio menghela napas panjang, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan memijat keningnya yang terasa berdenyut. Pekerjaannya belum selesai, tapi energinya terasa sudah sangat sedikit. Dilihatnya jam yang ada di dinding yang ternyata sudah menunjukkan waktu pukul sepuluh malam. Dia harus pulang, sudah beberapa hari ini bundanya mengeluh karena Dio selalu pulang larut dan meminta Dio untuk istirahat. Dio ingin, tapi tidak bisa. Ada tanggung jawab yang besar di pundaknya tengah menunggu dan harus dia selesaikan. Meraih ponselnya, Dio berdecak karena benda kotak itu ternyata mati. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali mengisi daya ponselnya. Bukan karena tidak pernah menyentuhnya, dia memegang benda tersebut hanya saat ada telepon masuk. Setelahnya, dia akan kembali menyimpannya di meja dan fokus kepada pekerjaannya lagi. Memaksakan diri, Dio bangkit dari duduknya. Menutup laptopnya, merapihkan berkas dan memasukkan ke dalam tas, lalu meraih ponsel dan kunci mobil, Dio melangkah keluar ruangan. Melalui pintu belakang, dia keluar cafe. Setelah memastikan pintu benar-benar sudah kemabli terkunci. Dio pergi meninggalkan cafe dengan mobilnya menuju rumah. Tiba di rumah, Dio langsung meletakkan semua barangnya di meja, lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tidak butuh waktu lama Dio sudah siap dengan pakaian tidurnya, dia tersenyum hangat saat melihat sebuah toples berisi cookies ada di mejanya. Lengkap dengan sebuah kertas catatan kecil menempel di atas tutupnya. "kakak, bunda tebak kalau malam ini kakak lembur lagi. Bunda sama adek bikin kue, enak loh. Bunda pisahin untuk anak hebat bunda. Hari ini bunda libur tungguin kakak ya. Langsung istirahat ya kak. Bunda sayang kakak" Hati Dio menghangat, di umurnya yang sudah bukan anak-anak lagi dan bisa dibilang dewasa, sang bunda selalu memperlakukan dia sehangat ini. Mungkin bagi bundanya, Dio tetaplah bocah menggemaskan. Meletakkan kertas catatan dari sang bunda, Dio membuka toples dan memakan cookiesnya. Tentang rasa, tidak perlu di ragukan, Bunda Qiana tidak pernah mengecewakan. Terbaik dalam segala hal. Di tengah kegiatan menyantap cemilannya, Dio berdecak karena teringat jika dia harus mengisi daya ponselnya. Setelah Dio menyambungkan ponsel dengan pengisi daya, tanpa menunggu daya terisi penuh, Dio langsung menyalakannya. Sekalipun di layar menunjukan jika ponselnya baru terisi dua persen, ada orang yang harus dia hubungi. Dengan sebelah tangan yang terus memasukkan cookies kedalam mulutnya, satu tangan lagi Dio pakai untuk mencari kontak Aurora. Rasa rindu tengah menggerogoti hatinya kini, Sudah lama dia tidak menyapa si cantik kesayangannya itu. Masuk ke ruang obrolan, Dio langsung mengetik pesan. Menanyakan apakah Aurora sudah tidur. Tiga menit menunggu, Dio tersenyum saat pesannya di balas, meskipun sedikit heran mengapa Aurora begadang. Tanpa menunggu lama, Dio langsung menghubungi Aurora. "Ra" panggil Dio setelah teleponnya di terima Aurora. "hmm" "kenapa belum tidur?" tanya Dio dengan lembut. "gapapa" "gimana hari ini?" "gak gimana-gimana" Dio menghela napas, dia tahu jika Aurora tidak dalam suasana hati yang baik. Terdengar dari nada suaranya yang tidak hangat. "Ra" panggil Dio masih dengan nada suara lembut. "hmm" "maaf ya" "ngapain minta maaf?" "karena aku salah" "Kak Dio gak punya salah apa-apa" "Aku gak ngabarin kamu beberapa hari ini, itu salah Ra" "udah ya, aku ngantuk" ucap Aurora dengan cepat lalu menutup sambungan telepon dengan Dio. *** Di sisi lain, Aurora tengah mengigit bantalnya untuk menahan teriak yang akan keluar dari mulutnya. Waktu sudah tengah malam. Jika dia berteriak, sudah dipastikan akan ada keributan di dalam rumahnya. Orang tuanya akan berpikir jika hal buruk tengah terjadi kepadanya. Meskipun kenyataannya dia memang baru saja mendapatkan hal buruk tapi menyenangkan, tepat di hatinya.Hatinya baru saja di booomm! Setelah menunggu sekian purnama, Dio akhirnya menghubungi Aurora. Aurora benar-benar kesal karena pria itu baru sekarang menghubunginya. Terlebih setelah dua hari yang lalu Aurora melihat Dio tengah makan bersama beberapa orang di sebuah restoran dua wanita yang dia lihat saat di bioskop juga ada di sana, ikut makan bersama. Kenapa baru sekarang menghubunginya? menyebalkan! "Kak Dio jahat. Kenapa baru sekarang? Apa jangan-jangan posisi aku udah tergantikan? atau selama ini memang aku gak pernah punya posisi tetap di hati Kak Dio?! jahat" Kesal Aurora “eh, tapi kalau gak di hubungi juga nyebelin. Ih hatiiii, kamu tuh maunya apa sih?” Aurora menghela napas "aku harus apa kak? aku harus apa kalau kakak sudah menemukan orang yang tepat untuk kakak?" Terlalu lelah karena berpikir, Aurora akhirnya tertidur. Hingga dia mendengar suara ketukan pintu membangunkannya. Dengan kepala yang terasa berat, Aurora mencari ponselnya. Melihat jam yang ternyata sudah pukul enam. Dia ada kuliah pagi dan harus segera bangun. Aurora langsung bersiap, dia keluar dari kamarnya pukul tujuh kurang lima. Kuliahnya masuk pukul delapan, dia masih memiliki waktu untuk sarapan. "lama banget sayang, Dio dari tadi nungguin loh" ucap sang mama. Aurora langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dio. Setelah apa yang terjadi, pria itu kini ada di rumahnya. "sarapan di jalan ya, mama udah buatin bekel. Dio katanya mau ada meeting" "yaudah, meeting aja ngapain ke sini?" "dia jemput kamu sayang, udah sana." "maaa" rengek Aurora karena tubuhnya di dorong agar segera pergi. "tante, Dio pamit" ucap Dio. "iya sayang. Hati-hati, jangan ngebut" Dio mengangguk. Lalu menyusul Aurora yang sudah melangkah lebih dulu. Aurora masuk kedalam mobil Dio dengan wajah cemberut, dia masih kesal kepada pria itu dan dengan seenaknya pria itu muncul. Menyebalkan. "masih pagi jangan cemberut, gak baik" ucap Dio dengan padangan fokus menatap jalan. "hmm" sahut Aurora semaunya lalu mulai membuka kotak makan yang di berikan sang mama dan mulai sarapan. "beberapa hari ini aku sibuk banget, tapi beberapa hari kedepan juga masih tetep sibuk sih. Aku gak sempet ngabarin kamu karena aku memang jarang pegang hp. Aku pegang hp kalau ada telepon masuk urusan kerjaan. Selain itu, aku fokus ke banyak laporan. Maaf ya" jelas Dio. "Kasih kabar gak sempet, tapi jalan sama cewek lain sempet aja. Gelo!" ingin sekali Aurora mengatakan itu, tapi terlalu malas hingga akhirnya mengabaikan Dio dan fokus pada menyantap bekal. Setelah tidak mendapat respon dari Aurora, Dio juga memilih diam dan fokus mengemudi, hingga akhirnya mobil yang dia kendari berhenti di parkiran fakultas kedokteran tempat Aurora menuntut ilmu. "pulangnya naik taksi ya, aku yang pesenin, hari ini aku belum bisa jemput" ucap Dio sambil menoleh ke arah Aurora yang tengah melepas sabuk pengaman. "gak perlu, aku gak gaptek kalau cuma buat pesen taksi online. Aku bisa sendiri" jawab Aurora dengan ketus. Dio menghela napas "Ra, maaf" Aurora menatap Dio "ngapain minta maaf, ngerasa ada salah?" "nanti aku pesenin taksinya pas kamu pulang" Dio memilih untuk kembali membahas cara kepulangan Aurora dari kampus. Kekesalan Aurora bertambah, dengan hati yang bergemuruh, Aurora langsung membuka pintu mobil dan keluar tanpa berpamitan. Bukan itu yang ingin dia dengar dari Dio! Dio memang bercerita tentang kesibukannya, tapi itu tidak cukup, dia ingin Dio bercerita siapa saja yang ada di sampingnya, menemaninya makan dan nonton film. Disisi lain, Dio menghela napas kasar setelah kepergian Aurora, bingung dengan apa yang harus dia lakukan lagi, sepertinya, semua yang menjadi alasan mengapa Dio sibuk sudah dia jelaskan. Lalu kenapa Aurora masih marah? bingung. Dio benar-benar bingung. *** "nih, udah lengkap semuanya. Jelas, gak ada salah dan kuat" Dio menoleh ke arah Amira yang menyodorkan map merah ke arahnya. "beres semua?" Dio memastikan. Amira mengangguk dengan wajah yakin "iya dong." "thank you Mir" Amira mengibaskan tangannya "selow, udah kerjaan gue. Enak kan selesai lebih cepet?" Dio mengangguk, lalu melihat laporan yang Amira sodorkan "keren lo. Gue periksa dulu" "yoi. Seenggaknya, lo udah gak perlu pulang malem lagi. Kasian banget gue liat lo, macem duda gak ke urus" "kurang asem lo!" "yaudah, gue pergi dulu ya, santai dulu gue. Kepala gue udah panas banget" "okee. Tagihan lo kirim ke gue aja, nanti gue ganti" Amira tertawa "seriusan lo? mau gue porotin sekalian kalau gitu" "gak tahu diri namanya" "dasar lo, kutil!" Ledek Amira lalu keluar dari ruangan Dio. Dio menghela napas lega, akhirnya salah satu pekerjaannya bisa selesai. Harus Dio akui jika Amira sangat pintar. Pekerjaan yang dia kira akan selesai dua hari lagi kini sudah selesai dan berada di hadapannya. Amira sendiri adalah teman yang dia kenal saat masih di bangku kuliah, mereka bertemu saat menjadi anggota kelompok KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Mereka berasal dari fakultas yang sama, Ekonomi dan Bisnis, hanya saja berbeda jurusan karena Amira dari jurusan Akuntansi. Kehadiran Amira beberapa hari ke belakang adalah untuk membantu Dio mengurus laporan keuangan salah satu cabang restoran milik sang papa, Valdo. Ada beberapa keanehan yang terjadi di sana. Di mana data keuangan di cabang tersebut mengalami penurunan, sedangkan pengeluaran cukup banyak. Singkatnya, retoran tersebut selalu ramai, tapi pemasukan selalu kurang. Setelah memeriksa keseluruhan laporan, Dio langsung menghubungi sang papa. Dia menjelaskan secara singkat hasil dari laporan yang Amira kerjakan. "langsung pulang dulu aja kak, bisa gak? kerjaan yang lain di tinggal dulu atau bawa ke rumah" pinta Valdo yang kini memang berada di rumah. "bisa, setengah jam lagi Dio jalan" "oke. Hati-hati kak" "iya pa" Dio menutup sambungan telepon. Dia langsung bersiap merapihkan barang-barang dan berkas-berkas yang belum selesai dia kerjakan. "Kalau Amira balik lagi dan nanyain, saya pulang karena ada hal penting" pesan Dio kepada salah satu pegawainya. "oke, siap pak boss" Dio mengangguk, lalu keluar dari cafe dan pergi menuju rumah. "Kakak Dioooooo" Abian berteriak heboh melihat Dio pulang. "adek, kotor sayang" tegur Qiana. Langkah Abian langsung terhenti saat mendengar suara Qiana. Dia memang tengah bermain tanah dengan sang bunda, modus ingin membantu sang bunda menanam tanaman, dia malah lebih fokus bermain tanah. "papa ada di mana bun?" "di ruang kerja kak, katanya kakak di suruh langsung ke sana aja" Dio mengangguk "okedeh bun, kakak kesana dulu ya" "iya kak" "adek, kakak mau ke papa dulu ya" pamit Dio pada Abian. "yes broder" Dio tertawa pelan "lucu banget. Siapa yang ajarin?" "sist Chal" Dio hanya menggelengkan kepalanya lalu melangkah pergi, masuk ke dalam rumah. "pa" sapa Dio sambil masuk kedalam ruangan Valdo. "gimana Do?" tanya Valdo tanpa basa-basi. "jelas pa. Penggelapan" jawab Dio sambil menyerahkan laporan kepada Valdo. Valdo langsung memeriksanya. "sudah yakin?" tanya Valdo mengalihkan pandangan dari laporan ke arah Dio. "sudah pa, rekeningnya juga sudah di telusuri, dan punya anaknya" Valdo mengangguk, lalu menutup laporannya "jadi, gimana?" "baiknya gimana pa?" "kok balik tanya sama papa?" "ya papa kan pemiliknya" "kamu yang tanggung jawab, resto-resto itu kan sekarang tanggung jawab kamu semua" "tapi pa" "bisa, papa tahu kamu bisa. Udah waktunya papa pensiun. Kasian bunda kamu kalau papa sibuk" "dih, itumah papa aja yang emang pengen deket-deket terus sama bunda. Bunda mah santai aja tuh kalau papa kerja" "nah itu kamu ngerti. Papa kesel kalau bunda kamu biasa aja padahal papa kangen banget tapi kehalang kerjaan" "dasar bucin" "dihh, papa ketawain kamu kalau ketulah" "udah deh pa, terus gimana?" "ya kamu maunya gimana? coba papa pengen denger solusi dari kamu" Dio menghela napas "Dio akan kasih dia opsi, pertama, dia balikin uang yang dia korupsi dan masalah tidak akan dia bawa ke meja hijau, tetapi kasus ini akan di sebar ke beberapa owner perusahaan yang menjadi rekan bisnis kita, kalau perlu di up di media sosial. Kedua, uangnya tidak perlu di kembalikan, tapi kasus ini akan di bawa ke ranah hukum." jelas Dio. Valdo mengangguk "boleh juga, toh kalau dia gak balikin uangnya, uangnya juga bakal tetep abis, ngurus kasus kan gak murah, belum lagi sewa pengacara" "jadi pa?" "kok jadi tanya papa lagi? eksekusi lah. Kita juga ada tim pengacara kan? konsul, papa gak mau ikut campur" "pa..." "Kak, udah saatnya kakak ambil porsi lebih banyak. Kakak mau denger papa ngomong sampe mulut papa berbusa dulu? emang telinga kamu gak panas denger omongan yang sama dari mulut papa?. Udah. Pokoknya sekarang terserah kamu. Papa gak mau ikut campur, papa cuma mau jadi penonton" ucap Valdo dengan final. Dio menghela napas "kalau Dio gagal?" "gagal apa sih kak?, nyoba aja belum. Lagian kalau gagal kenapa? kamu berubah jadi monyet?" "pa..." "gagal itu wajar, asal setelahnya kamu belajar dari kegagalan itu kemudian bangkit. Case closed. Sekarang kamu naik ke kamar, ganti baju, cuci kaki dan tangan terus tidur. Bunda kamu ngomel mulu sama papa karena kamu begadang dan kurang tidur." titah Valdo dengan niat meledek. "pa, aku bukan bocah!" protes Dio. "iya tahu. Udah bisa hasilin bocah juga kan?" Dio berdecak lalu bangun dari duduknya "Dio pamit" "hmm. Jangan pulang malem. Bunda kamu kalau ngomel serem" "iya" Sahut Dio sambil menutup pintu ruang kerja Valdo. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD