"Ra, kamu beneran udah gak mau terima job lagi?"
"gak mau, aku mau fokus kuliah aja. Kenapa kak?" Aurora balik bertanya sambil menoleh, menatap Dio.
"gapapa. Temen aku kemarin nanya, dia mau bikin produk skincare, terus butuh BA"
Aurora mengerutkan kening "siapa kak?"
"Mas Andi sama istrinya" jawab Dio lalu menghentikan mobil karena lampu merah. Hari ini, Dio mengajak Aurora pergi ke pantai setelah beberapa kali Aurora meminta agar Dio mengajaknya pergi bermain untuk menghilangkan rasa pusing karena ujian yang baru saja dia selesaikan. Otaknya panas dan dia sangat butuh liburan. Titik.
Aurora mengangguk, dia tahu orang yang namanya Dio sebutkan, tapi tidak mengenalnya dekat, hanya sebatas tahu.
Setelah naik ke kelas tiga SMA, Aurora memang memilih untuk tidak menerima pekerjaan. Baik itu endorse atau model. Dia hanya ingin fokus kepada pendidikannya dan menggunakan media sosial seperti orang biasa, bukan untuk berbisnis atau mencari uang.
Begitupun dengan Dio, Dio bahkan melakukannya lebih awal dari Aurora. Dio juga tidak lagi menerima pekerjaan di i********:, urusan bisnisnya menjadi penyebab dia memilih berhenti menerima tawaran model. Cafe dan resto benar-benar membutuhkan banyak perhatian Dio. Tapi meskipun keduanya tidak lagi aktif menerima pekerjaan, pengikut keduanya di media sosial masih sangat banyak. Masih banyak orang yang tertarik untuk mengetahui kehidupan keduanya.
"Engga ah kak, aku beneran udah gak mau lagi. Aku pake mesdsos bener-bener buat seru-seru aja. Capek ngikutin maunya orang, harus begini dan begitu"
"iya, kamu fokus kuliah aja, biar cepet lulus"
"emang kalau aku cepet lulus mau apa?"
"kok nanya aku?" Dio balik bertanya sambil kembali menjalankan mobil karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
"gak boleh?"
"ya aneh, kamu kalau udah lulus mau jadi apa?"
"jadi dokter"
"nah itu. Terus ngapain tanya aku"
"kak ih!" Aurora memukul lengan Dio. Bukan itu maksud dari pertanyaannya. Dasar menyebalkan dan tidak peka.
***
"Capek?" Tanya Dio sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Aurora.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, sudah waktunya mereka pulang. Apalagi Om Ega sudah mengirim banyak pesan kepada Dio agar jangan membawa Aurora pulang terlalu malam.
Siang tadi, saat tiba, Dio langsung mengajak Aurora berjalan di bibir pantai untuk bersantai dan meregangkan tubuh setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, lalu menaiki speed boat, berfoto di beberapa spot, menanti matahari tenggelam dan terakhir makan malam.
"Lumayan, tapi seru banget. Pusing aku ialng semua, di ambil sama laut.” jawab Aurora.
Dio tersenyum hangat, lalu mengusap kepala Aurora dengan lembut.
“oh iya kak, Minggu depan mama sama papa mau Ke Belanda" lanjut Aurora saat Dio mulai menjalankan mobil menuju arah pulang.
"liburan?"
Aurora menggeleng "bukan, kata papa, ada rencana kerjasama sama perusahaan di Belanda"
Dio mengangguk, matanya tetap fokus menatap jalan "berapa lama disana?"
"jelasnya belum tahu, tapi katanya kalau cepet bisa lima hari, kalau lama, lebih dari seminggu"
"terus kamu di rumah sendiri dong"
"engga lah, kan ada bibi"
"nginep di rumah aja"
"emang boleh?"
"sejak kapan kamu gak di bolehin nginep?" Dio balik bertanya.
Aurora berdecak "kebiasaan banget sih, suka balikin pertanyaan"
Dio hanya mengangkat bahunya. "mau makan apa?"
"langsung pulang aja, udah kemaleman kak. Papa udah cerewet banget, kirim pesan lima menit sekali nanyain kapan pulang"
"yaudah, kalau lapar, bilang, nanti kita berhenti dulu"
"iy. Tapi kak, kalau aku tidur gapapa?"
"ya gapapa, kalau dingin, ac nya aku kecilin"
"gapapa, nanti sama aku aja"
"ambil jaket aku di belakang, pake"
Aurora membalikkan tubuhnya menghadap kursi belakang, lalu meraih jaket milik Dio dan memakainya.
Wangi parfume Dio tercium jelas di indra penciuman Aurora, rasanya seperti dia tengah di peluk Dio. Biarkan saja di anggap berlebihan atau halu, toh itu yang memang Aurora rasakan kini, hangat dan wangi.
Setelah mengendarai mobil hampir tiga jam, Dio akhirnya menghentikan mobil di carport rumah Aurora, menarik rem tangan, lalu melepas sabuk pengaman. Menoleh kesamping, dia tersenyum lembut melihat Aurora yang masih terlelap. Perempuannya itu pasti begitu lelah.
"Ra, bangun" Dio membangunkan Aurora dengan suara lembutnya.
"Ra" usapan lembut Dio layangkan di kepala Aurora.
"Ra"
Tidak ada respon, Dio akhirnya memilih untuk menggendong Aurora. Dia turun lebih dulu dari mobil, lalu berjalan ke arah sisi lain, membuka pintu bagian Aurora, melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuh Aurora, lalu perlahan mengangkat tubuh Aurora ala bridal style. Semua Dio lakukan secara perlahan dan lembut, tidak ingin membangunkan Aurora.
Dio masuk lewat garasi yang terhubung dengan dapur, saat berpapasan dengan Ega, Dio langsung mengatakan dengan pelan jika Aurora tengah tertidur dan dia akan membawanya ke kamar.
Ega hanya mengangguk, membiarkan Dio membawa Aurora ke kamar hingga akhirnya kembali dengan waktu yang tidak lama.
"kemana aja hari ini?" tanya Ega langsung setelah Dio ada di hadapannya.
"cuma ke pantai, Rara minta kesana karena baru selesai ujian"
Ega mengangguk. "cuma ke pantai aja kan?"
"ke tempat makan juga"
Ega berdecak "inget ya Dio, kamu beneran gak pacaran sama anak om kan?"
"engga om, om bisa pegang ucapan aku"
Ega mengangguk "oke. Awas aja kalau om sampe tahu kalian ternyata pacaran."
"engga om"
"minggu depan om mau ke Belanda"
"iya, Rara udah bilang"
"Om titip Rara ya, selama di Belanda, Rara nginep di rumah kamu"
“rumah aku belum selesai om, adanya masih rumah bunda sama papa”
Ega berdecak “kamu nyebelin juga ya kaya bapakmu”
Dio tertawa pelan "iya om. Tenang, bunda pasti seneng kalau Rara nginep"
"jagain!"
"iya om"
"iya om, iya om terus kamu" kesal Ega.
Dio tertawa pelan "terus maunya aku jawab apa?"
Ega berdecak "dasara anak si Valdo"
"aku pamit pulang ya om"
Ega mengangguk "hati-hati, jangan ngebut"
"iya om, salam buat tante"
"iya. Salam juga buat bunda kamu"
"ooommm"
Ega tertawa "sampein aja, udah lama om gak denger papa kamu ngomel" satu hal yang tidak pernah luntur dari seorang Ega, yaitu hobi menggoda Valdo.
***
"ternyata kumpul di sini"
Aurora dan Chala yang tengah berbincang di atas kasur langsung menoleh ke arah pintu, mereka tersenyum lebar melihat kemunculan Qiana di kamar tamu yang beberapa hari ke depan akan di tempati oleh Aurora.
"sini bun" Chala menepuk tempat di sebelahnya. Meminta sang bunda bergabung.
"ngobrol apa sih? bunda jadi pengen tahu" Qiana masuk, lalu menutup pintunya kembali sebelum melangkah menuju tempat tidur.
"Chala katanya lagi deket sama cowok di sekolahnya bun" bocor Aurora.
"Kak!" protes Chala.
Aurora dan Qiana hanya tertawa. "Chala kan emang banyak yang deketin Ra, cuma Chalanya suka kelewat jutek"
Aurora mengangguk setuju dengan pendapat Qiana "bener banget bun, jutek"
"aku kan jual mahal"
"teteh, jual mahal boleh, harus malah. Tapi jangan terlalu jutek, kalau gak suka, respon dengan baik, jangan di jutekin, kita gak pernah tahu isi hati orang lain, bunda cuma takut, ada laki-laki yang hatinya kesal dan tidak terima karena teteh jutek dan akhirnya melakukan hal buruk ke teteh. Bunda gak mau" jelas Qiana.
"tapi bun, bunda tahu, Chala gak bisa pura-pura suka alias pura-pura ramah di depan orang yang Chala gak suka"
"belajar sayang, setidaknya ekspresinya biasa saja, bunda gak melarang untuk kamu mengungkapkan apa yang kamu rasakan, bunda cuma mau kamu menjaga demi diri sendiri. Bunda gak mau kalau anak bunda yang cantik ini kenapa-kenapa. Zaman makin aneh, kelakuan manusia semakin macam-macam, rasa takut kaya udah pada hilang kemana tahu. Bunda jadi parno sendiri" jelas Qiana yang menyampaikan ketakutannya selama ini.
Chala menghela napas "iya bunda, Chala akan lebih berusaha lagi menjaga diri Chala dan sikap Chala"
Qiana mengangguk "iya sayang. Terus Rara, gimana kuliahnya?" Qiana beralih menatap Aurora.
"seperti biasa bun, pusing" jawab Aurora lalu tertawa pelan.
"bunda salut banget sama Rara, semangat terus ya sayang"
"iya bunda"
"teteh juga di tingkatkan lagi belajarnya, biar tahun depan jadi juniornya Rara di kampus"
"siap bun. Aku yakin bakal keterima"
"Aamiin, bunda percaya. Anak bunda kan pinter-pinter, tapi tetep ya teh, belajar itu wajib"
"iya bunda sayang"
Obrolan hangat itu terus berlanjut, tidak ada rasa canggung yang terjadi karena kehadiran Aurora, bagaimanapun, perempuan cantik itu memang sudah memiliki tempat di hati mereka, Qiana sudah menganggap Aurora seperti anaknya dan mungkin akan menjadi menantunya? Mungkin. Hanya Dio yang bisa mewujudkan kemungkinan itu. Qiana tidak ingin menyuruh, memaksa atau mengatur.
***
Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah tiga bulan Aurora menjalani hubungan tanpa status dengan Dio, Aurora merasa berbagai macam rasa, bukan di indra pengecapnya, tapi di hatinya. Senang, terkejut, hingga kesal. Lika-liku rasa dia lewati. Sifat Dio yang romantis, yang menyebalkan dia hadapi. Dia benar-benar sudah cukup nyaman dengan status mereka. Tanpa status, Aurora bisa merasakan sosok Dio lebih dari seorang pacar.
"Lah Sin, mata lo kenapa sembab?" tanya Aurora saat masuk ke ruang kelasnya dan melihat mata temannya, Sinta, bengkak. Apalai Sinta juga memiliki bentuk mata belo, jadi terlihat semakin jelas dan bulat.
"jangan tanya" suruh Sinta.
Aurora mengangguk, memilih tidak bertanya lagi, dia tidak sakit hati dengan balasan Sinta, karena Aurora melihat mata Sinta yang sepertinya siap untuk mengeluarkan air mata lagi. Kasihan Sinta, dengan kondisi kacau harus tetap hadir di kelas yang sangat penting. Aurora salut.
Waktu terus berlalu, hingga suara dosen berpamitan akhirnya terdengar. Para mahasiswa menghela napas lega setelah sosok dosen tidak lagi berada di ruangan.
Aurora menoleh, menatap Sinta yang juga kini balas menatapnya. Tangis Sinta tiba-tiba pecah. Aurora langsung memeluknya, mengusap punggung Sinta, mencoba menenangkan.
Teman kelas yang lain menatap bingung ke arah mereka, tapi Aurora hanya menggeleng.
Setelah tangis Sinta reda, Aurora menemani Sinta pulang ke kosan. Beruntung kosan Sinta berada di belakang fakultas, jadi dengan jalan kaki saja sudah bisa cepat sampai.
"udah mau cerita?" tanya Aurora.
Sinta mengangguk, tapi air matanya kembali membasahi pipi.
"kalau mau nangis lagi, gapapa. Gue temenin Sin"
"air matanya gak mau berhenti" ucap Sinta sambil mengusap air mata yang memang terus keluar.
Aurora menghela napas, memberikan sinta segelas air. Rasa sakit di hati Sinta sepertinya benar-benar besar hingga membuatnya kacau seperti sekarang.
"Adov mau nikah" ucap Sinta di sela tangisnya.
"HAH?!! ADOV? ADOV PACAR LO?"
Sinta mengangguk.
"terus kenapa lo nangis Sin?! kan lo harusnya seneng. Akhirnya nikah"
"nikahnya bukan sama gue" tangis Sinta kembali pecah.
Aurora terkejut, menatap Sinta dengan pandangan tidak percaya. Dia tidak dengar kan?"
"dia nikah sama perempuan lain Ra" lanjut Sinta, masih sambil menangis.
"Dia selingkuh? lo sama dia kan udah dua tahun"
"gak tahu"
"kok?"
Sinta menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri "gue sama dia sebenernya gak punya status jelas"
"maksud lo?"
"kita sama-sama suka, tapi gak pacaran, tapi di bilang gak pacaran juga engga. Pokoknya kaya pacaran, intinya jalani ajalah. Toh yang penting udah jelas juga perasaan masing-masing."
Aurora menelan ludah, kenapa dia tiba-tiba merasa tersindir juga?
"kita jalani, kita happy, saling cemburu, saling kasih perhatian. Padahal dibilang pacar juga engga. Cuma dua orang saling suka. Terus tiba-tiba kemarin dia bilang kalau dia mau nikah sama perempuan lain. Bodohnya gue, ternyata cewek di hidup dia bukan gue aja Ra. Kayanya dia emang gak mau punya status yang jelas karena takut sama cewek yang lain deh, takut kalau cewek yang lain itu kabur atau sakit hati. Jahat banget gak sih? tapi gue juga b**o. Mau aja jalanin hubungan yang gak pasti, yang pasti aja bisa pisah, apalagi hubungan gak pasti, b**o!" maki Sinta pada dirinya sendiri.
Aurora memilih diam mendengarkan, karena untuk sekarang, Sinta memang hanya butuh orang yang menemani dan mendengarkan segala ucapannya. Tapi otak Aurora juga terus berpikir, apakah Dio juga sama dengan pria b******k yang meninggalkan Sinta? bagaimanapun, Aurora dan Sinta menjalani jenis hubungan yang sama. Jalani saja yang ada.
"lo gapapa sendiri? gak mau nginep di rumah gue?" tanya Aurora sebelum pulang. Sudah cukup lama dia berada di tempat Sinta, kondisi Sinta juga sudah jauh lebih baik. Sudah bercerita dan memuntahkan segala kesedihannya, Sinta juga sudah mau makan, meskipun Aurora memaksa.
"gapapa, thank you ya Ra. Maaf gue ngerepotin lo"
"basi. Lo gak minta, gue yang emang mau nemenin lo"
"semoga lo gak ngalamin kaya apa yang gue alami, cukup gue yang ngerasain sakit begitu. Lo jangan. Lo orang baik"
"terus lo kira diri lo gak baik?. Ngaco banget lo! udah lah, sekarang lo istirahat, makan yang banyak"
"Iya Ra, thank you pokoknya"
"iya. Taksi gue udah datang. Gue pulang ya"
"iya Ra, hati-hati"
Aurora mengangguk, lalu keluar dari kosan Sinta dan pulang dengan taksi online yang dia pesan.
Satu hal yang kini terngiang di kepalanya, semoga dia tidak senasib dengan Sinta. Semoga.
"fix! nanti malem gue bakal overthinking" ucap Aurora pelan.
"kenapa neng?" tanya driver ojek.
"gapapa pak" jawab Aurora setengah berteriak.
Aurora kembali diam, memilih untuk berusaha menikmati hembusan angin yang menerpanya lewat kaca mobil yang dia turunkan.
Dio. Entah akan seperti apa dirinya jika dia juga mengalami hal yang sama dengan Sinta. Satu harapannya, semoga saja tidak ada hati wanita lain yang tengah Dio jaga.
***