Delapan: Let It Flow

1741 Words
"engga om" jawab Dio langsung. Aurora yang mendengarnya langsung cemberut. Mana ada pa! anaknya cuma di jadiin HTS!. Rasanya Aurora ingin meneriakkan itu. Maunya pacaran, tapi Dionya gak mau! malang sekali Aurora. "Ga, lebay lo!" sahut Valdo dari arah belakang sambil membawa Abian di gendongannya. "Kakaaaakkk!" teriak Abian sambil memberontak, meminta Valdo menurunkannya. Valdo menurunkan Abian, bergerak cepat, bocah lucu itu menghampiri Dio dan merentangkan kedua tangannya, meminta di gendong. "gendongnya nanti ya dek, kakak mau mandi dulu" tolak Dio dengan lembut. Seharian ini dia berada di luar, bajunya pasti kotor. "udah, ngapain pada diem-diem disitu, sana ke ruang makan. Ibu-ibu lagi pada ngerumpi di sana" lanjut Valdo. Aurora mengangguk, lalu pergi menuju ruang makan untuk bertemu para wanita kesayangannya.Sang mama dan calon mertuanya, kalau jadi! "aku ke kamar dulu" pamit Dio pada Valdo dan Ega. "Di, awas ya kalau pacarin anak om" Ega kembali bersuara. "bawel lo!" bukan Dio, tapi Valdo yang menyahut ucapan Ega. Ega berdecak "rese lo! liat aja, Chala di pacarin orang, nangis lo!" kesal Ega kepada Valdo. "iya om, gak akan" jawab Dio lalu pergi ke lantai atas untuk mandi. Di sisi lain, Aurora yang memang melangkah pelan langsung merasakan hantaman di hatinya saat mendengar jawaban Dio. Jadi maksud Dio adalah dia yang tidak akan pernah mengajak Aurora berkomitmen? selamanya mereka akan menjalani hubungan tanpa status? what the? Gak akan?! sial! Aurora merasakan hatinya di pukul. *** "Kak, langsung berangkat aja. Papa lagi di kamar mandi, gak usah pamit" jelas Aurora yang sudah masuk ke dalam mobil Dio. Pagi ini, Dio yang akan mengantar Aurora kuliah, karena jalanan sedikit macet, dia datang sedikit terlambat. "oke. Belum telat kan? tadi macet di deket puteran" jelas Dio sambil kembali melajukan mobil menuju kampus Aurora. "belum kok, cuma mepet aja" Dio mengangguk, matanya fokus pada jalanan "pulang aku jemput ya" "iya" "gak ada acara kan?" Aurora menggeleng sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas "gak ada, kenapa? mau ngajak jalan?" tanya Aurora asal. "iya" Aurora langsung menoleh "ke mana?" "kerja" "kerja?" ulang Aurora dengan kening mengerut. "iya, temenin aku kerja. Aku ada meeting di salah satu mall, kamu ikut" "nanti aku kaya batu, gak di anggap" "engga, meetingnya santai kok" "tetep aja judulnya meeting, yang ngobrol pasti Kak Dio sama rekan bisnisnya. Aku? diem aja pastinya!" "kalau mau goyang juga boleh, kalau gak malu" "kak!" protes Aurora sambil memukul lengan Dio. Dio hanya tersenyum dan tetap fokus mengemudi. Tiba di kampus, Dio menahan Aurora sebelum turun dari mobil "inget ya, jangan deket-deket cowok lain. Jangan terlalu baik sama mereka." "iya, bawel, dasar posesif" "belajar yang bener. Nanti aku jemput" "iya. Aku turun ya" Dio mengangguk, lalu mengusap kepala Aurora sebentar. Aurora turun dari mobil. Dio masih menunggu hingga sosok Aurora masuk ke dalam gedung fakultasnya, setelah sosok Aurora tidak lagi terlihat, barulah dia pergi menuju cafe. Ada beberapa pekerjaan yang sudah menunggunya. *** Dio menghela napas, urusan cafe miliknya sudah selesai dia kerjakan, tapi pekerjaannya tidak selesai begitu saja, masih ada pekerjaan renovasi toko milik sang bunda dan juga resto milik sang papa yang berada di Bali untuk dia periksa. Pertama, Dio memeriksa rancangan untuk renovasi toko kue milik sang bunda, setelah dia menyampaikan hasil kunjungannya ke Bandung kepada sang bunda, Dio kemudian dipercaya untuk mengurus renovasi tersebut. Bunda Qiana hanya mengatakan ide-ide yang ingin dia salurkan di tokonya, lalu Dio menyampaikan ulang kepada arsitek kepercayaannya. Memeriksa hasil yang dia terima, Dio kemudian mengirimkan ulang kepada sang bunda, meminta masukan, apakah ada yang harus di ubah lagi atau cukup. Lima menit setelah mengirim hasil rancangan, ponsel Dio berdering, panggilan telepon dari sang bunda. "halo bun" "kak, bagus design nya" "bunda udah liat? suka? ada yang mau di tambah gak?" tanya Dio beruntun. "engga. Cukup. Bunda suka." "oke kalau begitu, nanti aku sampaikan" "iya kak. Makasih ya. Semangat kerjanya" "iya bunda. Aku tutup ya" "iya kak" Setelah menutup sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dio kembali fokus menatap layar laptopnya. Membalas pesan kepada arsitek dan membicarakan proses selanjutnya. Selesai dengan urusan renovasi toko milik sang bunda, Dio lanjut memeriksa laporan dari restoran milik sang ayah yang berada di Bali. Hingga ponselnya berdenting, mengintrupsi. Meraih ponselnya, Dio langsung memeriksa pesan yang dikirim Aurora. Aurora Kak, nanti aku pulang lebih cepet. Satu mata kuliah dosennya gak masuk Tanpa menunggu lama, Dio langsung membalas pesan Aurora. Mengatakan jika dia akan menjemput, tidak peduli Aurora pulang lebih awal atau telat. Aurora Oke. Jangan telat yaa. aku gak mau nunggu lama di kampus, kalau gak bisa jemput, kabari. Dio kembali membalas, mengakatan iya dan akan segera mengabarkan Aurora jika dia masih sibuk. Selesai membalas pesan dan tidak ada lagi balasan dari Aurora, Dio kembali menatap layar laptop untuk melanjutkan pekerjaannya, membaca laporan. Jika ditanya, apakah Dio merasa pusing dengan pekerjannya, Dio akan menjawab iya. Namanya bekerja, meskipun suka, rasa pusing, lelah dan jenuh pasti akan selalu ada. Tapi itulah hidup, dia tidak akan pernah dihadapkan pada kenyataan yang selalu indah. Dio menyukai apa yang dia kerjakan, mengurus bisnis, membaca laporan keuangan, membuat bisnis baru, dia menyukainya. Tapi itu bukan jaminan untuk dia bebas dari rasa pusing. Apalagi Dio adalah anak pertama, anak yang di tuntut oleh keadaan agar bisa lebih kuat, ada adik-adik yang harus dia beri contoh baik. Orang tuanya tidak pernah menekan, mereka membebaskan apapun yang ingin Dio lakukan, tapi kebebasan itu bukan berarti Dio bisa memakainya untuk semua hal, tentu saja, ada hal buruk yang tidak boleh dia sentuh. ada kepercayaan orang tua yang harus dia jaga. *** "kita jadi ke mall?" tanya Aurora setelah mobil yang di kendarai Dio mulai pergi meninggalkan kampus. Beruntunya Dio tidak datang terlambat. "iya, jadi. Gapapa ya?" "udah naik mobil juga, ya terpaksa gapapa, udah gak bisa nolak" Dio hanya tersenyum samar dengan pandangan tetap ke arah jalan. "kak, nanti meetingnya jangan lama-lama ya" pinta Aurora kemudian. "Iya, aku usahakan selesai dengan cepat" "Nanti kalau aku bosen, aku kasih kode ya" "Kode?" "Iya, misalnya narik lengan baju Kak Dio, atau nyubit Kak Dio. Apapun itu, pokoknya Kak Dio harus peka" "Iya" Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah mall di kawasan Jakarta Pusat, keduanya turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mall. "Pelan-pelan, yang mau meeting itu kamu atau aku?" Dio meraih tangan Aurora untuk di genggam saat merasa Aurora berjalan terburu-buru. Aurora hanya tersenyum lebar, berjalan lebih santai dengan tangan yang bertautan dengan tangan Dio, hatinya terasa menghangat. "Mau meeting apa sih kak? Ada proyek baru?" "Iya, tentang kolab, aku udah pernah bilang belum?" "Gak tahu, lupa" Tidak ada pembicaraan lagi antara keduanya. Aurora hanya diam mengikuti ke mana Dio akan membawanya. Hingga mereka masuk ke dalam sebuah restoran, menghampiri meja yang sudah terisi dua orang, Aurora ingat, satu dari dua orang tersebut adalah perempuan yang dia temui sebelumnya. "Maaf terlambat" ucap Dio setelah mereka tiba di hadapan dua orang tersebut. "Santai, kita juga baru lima menit" Dio mengangguk "ini Aurora" lanjut mengenalkan Aurora. Aurora tersenyum ramah. "Hai, Aku Kei, kita pernah ketemu sebelumnya" "Iya kak" sahut Aurora dengan ramah. "Di, Ra, kenalkan, ini Lini, asisten aku" Kei mengenalkan orang yang datang bersamanya. Aurora dan Dio mengangguk ramah, lalu duduk di hadapan Kei dan Lini. Rapat dimulai, seperti dugaan Aurora, dia menjadi pihak yang hanya diam dan mendengarkan sambil sesekali memainkan sedotan yang ada di dalam gelasnya. Aurora benar-benar tidak mengerti tentang bisnis, selain karena ayahnya yang tidak pernah mengajarkan, Aurora juga kurang tertarik dalam hal itu. Mengetahui Aurora yang mulai bosan, di bawah meja, Dio meraih tangan Aurora untuk di genggam, membawa tangan yang saling bertautan ke atas pahanya. Memberitahukan kepada Aurora bahwa Dio tidak mengabaikan kehadirannya, Dio menganggapnya ada. Satu jam berlalu, pembicaraan belum selesai, dengan sebelah tangan masih di genggam Dio, Aurora sibuk memainkan ponselnya dengan satu tangan lain untuk mengisi rasa bosan. Ketika Aurora merasa obrolan sudah mulai keluar dari urusan bisnis, Aurora meletakkan ponselnya ke atas meja. Kemudian tangannya yang bebas langsung menangkup tangan Dio yang masih menggenggam sebelah tangannya. Memberi kode agar Dio segera menyudahi obrolan mereka. "Baiklah, sepertinya semua sudah jelas. Terimakasih untuk pertemuan hari ini, semoga proyek ini bisa berjalan dengan baik dan menu nya bisa berhasil" ucap Dio mulai membawa pembicaraan ke bagian akhir. Dia mengerti dengan kode Aurora. "Yapp. Semoga kolab ini berhasil, Terimakasih juga sudah memberikan wadah untuk aku bisa berkreasi" ucap Kei. Dio mengangguk. "Dio, nanti aku boleh chat kamu kan?" Tanya Lini yang langsung mendapat tatapan heran dari Dio dan tatapan terkejut dari Aurora. "Urusan kerjaan, kalau nanti Kei bingung, aku boleh chat kamu kan?" Jelas Lini lagi. Dio mengangguk "ya silahkan, jika ada yang perlu di tanyakan dalam hal kerjasama ini" "Oke" ucap Lini. Dio menoleh ke Aurora, Aurora mengangguk singkat sebagai tanda bahwa mereka harus segera pergi. "Sekali lagi terimakasih, saya undur diri" *** "Ra, kenapa?" Tanya Dio saat Aurora hanya diam. Sejak keluar dari restoran hingga Dio membawanya ke bioskop dan kini mereka sedang menunggu teater di buka, Aurora hanya diam. Tidak protes atau request. "Gak" Dio menghela napas, memilih diam dan kembali meraih tangan Aurora untuk dia genggam. Setelah pintu teater di buka, Aurora lebih dulu bangun dan melangkah, sedangkan Dio memilih mengikuti dan menyerahkan tiket saat tiba di depan pintu. "Sayang, kenapa?" Ulang Dio setelah mereka duduk di kursi mereka. "Sayang" lagi, Dio memanggil Aurora dengan lembut karena belum ada respon. "Kesel" jawab Aurora akhirnya. "Kesel kenapa?" "Gak suka sama Lini" jujur Aurora. "kenapa? Lini ada salah?" "dia liatin Kak Dio segitunya, Dia kayanya suka deh sama Kak Dio" Dio tersenyum, rupanya Aurora tengah merasa cemburu. Merangkul Aurora, Dio menarik tubuhnya agar mendekat meskipun terhalang pembatas kursi "biarin aja, yang penting aku liatnya cuma kamu, sukanya cuma sama kamu." Aurora berdecak "gombal" "Ra, semua orang punya hak buat suka sama siapapun yang dia mau, termasuk suka sama aku. Tapi itu hak mereka dan yang paling penting, aku gak punya kewajiban untuk membalas rasa sukanya, yang suka yang nanggung resiko. Begitulah kira-kira. Selain itu, aku juga kan gak bisa nuntut Lini untuk liatin akunya biasa aja. Mata punya dia, masa aku ngatur" Aurora menghela napas, lalu menoleh, menatap Dio "tapi kalau dia chat di luar hal kerjaan, jangan di respon" Dio mengangguk "gak akan" "kalau ngajak ketemu di luar kerjaan jangan di terima" "gak akan" "janji?" "janji" Aurora tersenyum lebar, begitupun Dio yang ikut tersenyum. Rasanya senang karena bisa meminta hal ini dan itu kepada Dio meskipun hubungan mereka tanpa status yang jelas. Kini, rasanya tidak buruk juga, toh meskipun tidak pacaran, Dio sudah terasa seperti pacar. So Let it flow. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD