Tujuh: Hati Yang Dipukul

1210 Words
Aurora menatap Dio dengan pandangan tidak percaya, jelas keduanya saling mencintai, tapi kenapa Dio tidak bisa membuat sebuah komitmen yang jelas dengannya?. Bukankah itu aneh? Ya, sangat aneh. Dio benar-benar laki-laki paling aneh yang Aurora temui dan lebih anehnya lagi adalah dia tetap menyukai laki-laki itu. Ck, menyebalkan. "Kak, you say you love me, tapi kenapa kita gak bisa pacaran? ada hati lain yang harus Kak Dio jaga?" tuduh Aurora, matanya memicing, mencoba mengintimidasi Dio. "No! tidak ada" tegas Dio. Aurora masih memberikan tatapan meragukan kepada Dio. "aku serius. Tidak ada hati atau wanita lain yang harus aku jaga" Dio menegaskan. "ada perempuan lain yang kak Dio sukai?" tanya Aurora lagi. Dio mengangguk, sedangkan mata Aurora membulat karena respon Dio. "bunda dan Chala" jawab Dio santai yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Aurora. "nyebelin!" kesal Aurora. "gak usah mikir aneh-aneh" "terus? hubungan apa yang akan kita jalani di saat kita sama-sama saling menyukai? HTS?" cecar Aurora. Tidak peduli mereka berada cukup lama di dalam mobil dan membuat penjaga keamanan menaruh curiga. Urusan dia dengan Dio harus segera mendapat kejelasan. Secepatnya. "ya, bisa dikatakan begitu" Aurora menghela napas tidak percaya, Seriouslly?? HTS? Hubungan Tanpa Status? "kak! kamu sadar?!" Dio hanya mengangguk. "Demi Tuhan, apa sih mau Kak Dio? apa sih ada di otak Kak Dio?" geram Aurora. "kamu" Mata Aurora melotot, tidak percaya dengan ucapan Dio yang seperti gombalan. "aku serius!" "aku juga serius. Apapun tentang kamu, aku serius. Tapi aku mohon-" Dio meraih tangan Aurora untuk di genggam "saat ini, aku gak bisa membuat sebuah komitmen yang pasti dengan kamu. Tapi percayalah Ra, cuma kamu perempuan yang aku cinta. Gak ada yang lain dan gak pernah ada yang lain" Aurora seperti kehilangan kata. Entah kata apa yang patut dia sematkan ke dirinya sendiri yang mudah meleleh mendengar ucapan manis Dio. Perasaan berapi-api itu seperti di siram sebuah air es. "so, Ra. Please, permintaan aku gak sulit kan selama ini? aku cuma minta untuk kamu gak dekat ataupun menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Aku cemburu" "ngapain Kak Dio cemburu, kan cuma HTS" sindir Aurora. "Ra" Dio sedikit menekan suaranya. "oke. Aku ingin hak yang sama dengan apa yang Kak Dio miliki. Kak Dio ngelarang aku untuk dekat dengan laki-laki lain. Aku juga mau yang sama, aku ingin Kak Dio gak deket perempuan lain. Gimana?" tantang Aurora. Meskipun tanpa status, dia ogah menjadi pihak yang paling di rugikan, setidaknya, dia juga mendapat keuntungan dari hubungan yang akan mereka jalani kedepannya. "oke" Jawab Dio dengan yakin. Permintaan Aurora adalah sebuah hal yang mudah untuk dia lakukan, karena kenyataannya, dia memang tidak suka mendekati perempuan lain dan tidak pernah melakukan hal itu. "kalau Kak Dio bisa cemburu, aku juga berhak cemburu dan protes" "oke" lagi, Dio menjawab dengan yakin. "ada lagi?" lanjutnya menawarkan. "aku serius!" kesal Aurora. "aku juga serius. Ada lagi yang ingin kamu pinta dari aku?" tanya Dio dengan suara lembutnya. Aurora menghela napas, otaknya tiba-tiba buntu karena sikap manis Dio "sisanya aku pikirin dulu" Dio mengangguk, tanpa aba-aba, dia membawa Aurora ke dalam pelukannya "jangan bandel lagi ya, nurut. Kita jalani aja yang ada kaya air mengalir, dan tolong jangan menuntut lagi" "hmm" sahut Aurora yang dengan senang hati membalas pelukan Dio. Dasar Aneh! Hubungan Tanpa Status tapi saling memberi aturan, bukankah mereka berdua aneh? *** "Om Ega ada di rumah" ucap Dio sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Aurora, sedangkan Aurora tengah sibuk memakan es krim miliknya. Selesai makan, Aurora meminta agar mereka segera kembali ke Jakarta dan tidak ingin berlama-lama di mall. "kok tahu?" "tadi chat aku, nanyain kamu. Kamu bilang apa ke Om Ega?" Dio mulai menyalakan mesin mobil. Melihat spion untuk memastikan sekitar lalu mulai menjalankan mobil menuju arah keluar. "aku bilang kalau mau pergi sama Kak Dio" jawab Aurora sambil tersenyum lebar. Seolah tidak melakukan kebohongan. "dasar. Kayanya aku harus mulai pasang tarif deh ke kamu, lumayan, kamu kan sering bohong dan pake nama aku buat alasan" Aurora langsung cemberut "ya gimana lagi, susah banget izin sama papa. Cuma pake nama Kak Dio aja yang boleh. Nyebelin, papa pilih-pilih banget. Nama Kak Dio tuh udah kaya password tahu!" "Om Ega itu tahu kalau anaknya cantik, pinter, baik dan gampang di bohongi-" "kak! maksudnya aku itu bodoh?" Aurora langsung protes. "engga Ra, cuma gampang di bohongi. Makanya, ketat banget pengawasannya dan aku sudah teruji seratus persen sebagai orang yang bisa di percaya" jelas Dio. Aurora berdecak, lalu menyimpan tempat es krim yang sudah kosong di pintu mobil. Tapi, jika di pikir lagi, ucapan Dio tidak semuanya salah, sejak dulu, meskipun Aurora sering membangkang, ujung-ungnya dia akan setuju dengan Dio. Seperti sekarang, awalnya mengabaikan peringatan Dio, tapi akhirnya? Dia di bohongi, hampir celaka dan berakhir dengan Dio yang menolongnya.Dio lagi, Dio lagi. "Kedepannya, kamu jangan bohong lagi" pinta Dio. "hmm" respon Aurora. Dio hanya tersenyum tipis dengan respon Aurora. Iya, kedepannya Dio tidak akan membiarkan Aurora berbohong lagi, karena dia akan melakukan lebih banyak cara agar Aurora tidak pergi dengan yang lain. Maka saat Aurora bilang kepada Om Ega jika dia akan pergi bersama Dio, maka itu benar yang terjadi. Tidak ada laki-laki lain lagi yang bisa mengajak Aurora, hanya dia. Biar saja dia di sebut berlebihan dan posesif, dia hanya ingin menjaga wanitanya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, mereka tiba di rumah kedua orang tuanya. Saat Aurora akann turun, Dio segera menahannya. "Ra" panggil Dio lembut "udahan diemnya" pinta Dio. Sepanjang perjalanan dari Bogor hingga Jakarta, Aurora memang diam. "hmmm" "Ra, aku bingung loh" dan Dio memang bingung, semua ucapannya benar dan Aurora tahu itu tapi kenapa Aurora nampak marah? apa perempuan memang seperti itu? dia yang salah tapi dia juga yang marah? "gak tahu ah" Dio menghela napas, mencoba sabar "sayang" panggil Dio dengan begitu lembut. Aurora langsung menatap Dio dengan mata membulat sempurna. Terkejut "apa? kamu panggil aku apa?!" cecar Aurora. Dio menahan diri untuk tidak tersenyum, dia sedang ada di tahap usaha agar membuat Aurora tidak cemberut lagi, sedangkan jika dia ternyum atau tertawa, sudah dapat di pastikan Aurora kembali cemberut atau bahkan marah dan mengamuk karena merasa di ejek. "sayang" ulang Dio sesuai permintaan Aurora. Aurora langsung menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum, wajahnya langsung bersemu. Mulutnya ingin berteriak, tubuhnya ingin bergoyang saking senangnya. Pertama kali, Dio memanggilnya dengan sebutan itu. Apalagi nada suara Dio begitu lembut. ''jangan cemberut lagi. Oke?" "oke" jawab Aurora sambil tersenyum malu. Seperti sebelumnya, dia mengakui apa yang dikatakan Dio adalah benar, dia gampang di bodohi, hanya saja, terlalu gengsi dan malu jika dia harus mengakuinya di depan Dio. Dio tertawa, gemas dengan respon malu-malu Aurora. "yuk turun" Aurora mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan turun, begitupun dengan Dio. Dengan senyum lebar, Aurora melangkah memasuki rumah bersama Dio. "om" Dio langsung menyapa Ega setelah ayah dari Aurora tersebut menjadi orang yang pertama kali mereka temui di dalam rumah. "papaa" Aurora langsung memeluk Om Ega. Ega mengerutkan kening, anaknya nampak begitu bahagia, seolah sudah ada sesuatu hal yang terjadi. Dia menatap Dio dengan kening mengerut "kalian abis ngapain?" selidik Ega langsung dengan pandangan tajam kepada Dio dan tangan yang membalas pelukan Aurora. "apaan sih papa. Aku cuma nemenin Kak Dio ke panti" jawab Aurora sambil melepas pelukan dengan Ega. Ega menatap Aurora dan Dio bergantian "kamu pacarin anak Om?" tuduh Ega dengan ekspresi galaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD