Dengan kesal Aurora keluar dari aplikasi i********:. Mood nya semakin buruk setelah melihat story milik Dio, di mana kegiatannya bersama teman-teman komunitas motornya akan segera di mulai. Hal yang tidak Aurora sukai adalah, Talita yang berada di samping Dio. Menyebalkan!
"Kenapa Ra?"
Aurora langsung menoleh ke kanan, di mana Putra tengah menyetir. Kesal karena Dio tidak mengizinkan dia ikut pergi, akhirnya Aurora menerima ajakan Putra untuk pergi ke sebuah pesta ulang tahun di sebuah vila yang berada di puncak. Benar-benar sebuah kebetulan bagi Aurora. Meskipun dia tidak tahu, apakah vila tempat ulang tahun tersebut dekat dengan panti yang Dio kunjungi.
"gapapa" jawab Aurora. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia tengah kesal karena Dio.
Putra mengangguk singkat, dan tetap fokus menatap jalan.
Aurora menghela napas, memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela. Meratapi nasib hatinya yang tidak jelas.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah vila yang cukup indah, bangunannya tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman yang cukup luas.
"yuk turun" ajak Putra setelah membuka sabuk pengaman.
Aurora mengangguk, lalu membuka sabuk pengaman, membuka pintu mobil, lalu turun.
"kok cuma ada mobil kamu aja? yang lain ke mana? gak salah vila?" tanya Aurora beruntun saat tidak melihat satupun kendaraan yang terparkir.
"mereka udah di jalan, kita yang datang pertama. Kalau yang ulang tahun, datang terakhir. Aku sama yang lain mau hias vilanya dulu, kasih kejutan, nanti kamu bantu ya" jelas Putra.
"iya" jawab Aurora tanpa ragu.
Mereka masuk ke dalam vila, Aurora menatap ke sekeliling, cukup nyaman dan terasa hangat di tengah udara puncak yang pastinya akan terasa menusuk, apalagi menjelang malam. Beruntung mereka datang pagi, di mana matahari pagi masih terasa.
"Ra, kamu bisa tunggu sebentar? aku diminta beli sesuatu ke mini market depan. Sebentar kok. Gapapa?" tanya Putra setelah memasukkan ponselnya ke saku dan menatap Aurora.
"beneran sebentar? nanti temen kamu datang, kamunya masih pergi, aku malu"
Putra tertawa "beneran sebentar, santai aja sama mereka. Aku udah kasih tahu kok kalau kamu ikut"
Aurora mengangguk "yaudah kalau gitu. Jangan lama-lama"
"sip. Sebentar ya"
"iya"
***
Dio mengantre dengan sabar, menunggu pengunjung mini market di depannya membayar belanjaan. Menghela napas saat melihat kasir mengulum senyum karena pengunjung mini market tersebut membeli pengaman atau a*********************n yang cukup banyak. Dio yakin, para kasir itu akan menjadikan orang yang berdiri di hadapannya ini sebagai topik pembicaraan dengan karyawan lain.
Setelah tansaksi selesai, Dio maju ke meja kasir, mengeluarkan belanjaan dia yang hanya berisi cokelat dan permen untuk anak-anak di panti asuhan. Barang-barang yang dia dan teman-temannya bawa memang cukup, tapi Dio ingin memberikan lebih, apalagi kedua jenis barang yang dibelinya adalah kesukaan anak-anak.
"terima kasih" ucap Dio setelah menerima belanjaannya yang sudah di bayar.
Keluar dari mini market, Dio membuka pintu belakang mobilnya. Hanya dia dan satu temannya lagi yang memakai mobil, sedangkan teman yang lain memakai motor, bukan tanpa alasan, mobil Dio cukup besar dan cocok untuk membawa barang-barang ke panti.
Saat menutup pintu setelah meletakkan belanjaan. Dio berjalan ke lain arah, membuka pintu mobil dan masuk, duduk di depan kemudi. Dio mulai melanjukan mobil, dan sekilas, matanya melihat pria yang membeli cukup banyak a**************i memasuki warung kecil yang menjual obat 'kuat'. Orang itu benar-benar akan 'pesta' pikir Dio.
Tiba dipanti, Dio langsung menyerahkan belanjaannya ke pengurus untuk segera di bagikan, lalu menghampiri teman-temannya yang sudah bersantai. Dio pergi ke mini market saat pembagian bingkisan selesai. Jadi acara mereka memang hanya tinggal bersantai dan main bersama anak-anak.
"udah Di?" tanya Agung.
Dio mengangguk, mengambil duduk di sebelah Indra, pria dua puluh delapan tahun yang sudah memiliki istri dan anak berusia delapan bulan.
"abis ini kita danau lah, kuy gak?" tanya Muel.
"Kuyyy" sahut yang lain, dan seperti biasa, Dio hanya akan mengangguk.
"anjiiiirrr, Di, Aurora sekarang pacarnya si fucek boi?" tanya Kino pada Dio.
Dio mengerutkan kening mendengar pertanyaan aneh Kino.
"lo gak tahu? bukannya dia deket sama lo?" tanya Kino lagi.
"apaan sih No, gak jelas lo" ucap Dio.
"nih!" Kino menunjukkan layar ponselnya "itu si Aurora kan? dia pacaran sama Putra?" tanya Kino.
Dio yang sudah merebut ponsel Kino langsung menahan emosinya yang tiba-tiba menaik.
"jagain deh Di, itu orang fucek boi, sering banget ganti cewek buat di pake sekali. Abis itu di buang gitu aja. Ganteng emang, duit juga banyak, tapi brengseknya ngelewatin kelakuan setan. Itu juga, paling dia mau eksekusi si Aurora" lanjut Kino.
"shiiit!" umpat Dio saat tersadar jika laki-laki yang di mini market, membeli banyak pengaman adalah Putra. Dio memang hanya melihat dari belakang, dia tidak melihat sosok itu dari depan.
"lo tahu ini di mana?" tanya Dio pada Kino.
"Gak tahu, coba lo tanya Di Birly" suruh Kino. Birly, pria yang mereka juluki Google maps.
"Lo tahu ini di mana?" tanya Dio langsung sambil menyodorkan ponsel Kino yang menampilkan story Putra. Story itu bersifat close friend, jadi hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.
"vila Grey inimah" jawab Birly.
"di mana?"
"dari gang depan panti, lurus terus, keluar di jalan raya, ada gang di sebelahnya, masuk situ, lurus terus, udah deh, keliatan vilanya, warna abu, halamannya luas" jelas Birly.
Tanpa banyak kata, Dio langsung melangkah pergi, menyerahkan kembali ponsel Kino dan meraih kunci motor milik Kino yang tergeletak di atas meja "pinjem" ucap Dio.
Menyalakan mesin motor, Dio langsung melaju pergi, mengikuti petunjuk dari Birly, beruntung, tidak butuh waktu lama, Dio menemukan vila yang di tujunya.
Memarkirkan motor sembarang, Dio langsung melangkah cepat memasuki vila.
"RARA!" teriak Dio memanggil Aurora, tidak peduli dia berada di tempat orang lain, tidak peduli dengan sopan santun, yang dia pedulikan hanya Aurora.
"RARA!" teriak Dio lagi sambil melangkah lebih dalam.
"Kak Dio?" tanya Aurora yang terkejut sekaligus bingung melihat kedatangan Dio.
"LO SIAPA?!" Putra datang dari arah belakang Aurora dan membentak Dio.
Menyadari akan terjadi pertengkaran, Aurora langsung menghalangi keduanya "tenang oke. Tenang" ucap Aurora sambil menatap Dio yang tengah menahan marah.
"pulang" tegas Dio.
"Gak bisa! lo Siapa ngajak Rara pulang gitu aja?! dia sama gue!" sahut Putra.
"Pulang Ra" ulang Dio.
"Kak Dio kenapa?" tanya Aurora dengan lembut, berusaha agar emosi Dio turun. "Putra ajak aku untuk datang ke pesta ulang tahun temannya, aku pulang setelah pesta selesai ya?" lanjut Aurora masih dengan nada lembut, dia sama sekali tidak ingin ada adu jotos, karena jika sampai itu terjadi, Putra pasti masuk rumah sakit. Demi Tuhan, Dio sangat ahli bela diri.
"pestanya gak pernah ada. Dia bohong" ucap Dio.
"ngomong apa lo?!"
"Put. Bisa santai gak?! gak usah marah-marah" tegur Aurora.
"jam berapa pestanya?" tanya Dio yang seolah mengabaikan Putra.
"jam sebelas" jawab Aurora.
Dio melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah jam sepuluh "oke. Aku tunggu di sini. Kamu pulang sama aku" tegas Dio.
"lo gak di undang!"
"gue gak akan ganggu. Sebaliknya, kalau pesta itu gak ada, lo tahu akibatnya" ancam Dio yang langsung melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai.
Aurora yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi langsung menatap Putra "gimana, kita mau kapan ngedekor? temen-temen kamu lama banget nyampenya" tanya Aurora yang memang sudah mulai merasa bosan.
"sebentar, mereka sebentar lagi datang" jawab Putra sambil melirik Dio.
Dio tersenyum sinis melihat Putra yang mulai panik, dalam hati, dia merasa tenang karena hal buruk belum terjadi kepada Rara dan Dio pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi.
"sebentar-sebentar mulu" kesal Aurora lalu melangkah menghampiri Dio dan duduk di sebelahnya. Memainkan ponsel.
Setelah satu jam menunggu, Dio langsung bangun dari posisi duduknya, menghampiri Putra yang menatap Dio awas.
Satu pukulan Dio layangkan pada wajah Putra.
"KAK DIO!" teriak Aurora yang langsung menghampiri Dio dan Putra.
"b******n LO! BERANI BANGET LO PUNYA RENCANA BUSUK KE AURORA!" Amarah Dio pecah, dia tidak bisa untuk menahan u*****n dari mulutnya.
Lagi, Dio memukul wajah Putra dua kali, membuat Aurora semakin panik.
"KAK DIO, PLEASE! DIA BISA MATI KAK!" Aurora mencoba melepas cengkraman tangan Dio di kerah baju Putra.
"RA, denger, dia ini b***t, dia bawa kamu kesini buat jebak kamu, dia mau lakuin hal buruk ke kamu" tegas Dio.
"bohong Ra, aku gak gitu. Dia bohong!" sangkal Putra, wajahnya benar-benar panik.
Dio kembali memukul putra. "berisik lo!" bentaknya karena Putra terus menyangkal.
"Ra, please. Kamu percaya aku kan?" tanya Putra dengan mata sayu, menahan sakit karena pukulan Dio.
Melepaskan cengkraman di kerah baju Putra, Dio melangkah pergi, mengambil tas pria itu, membukanya, mengeluarkan isinya dengan sembarang.
Aurora membulatkan matanya melihat barang-barang dalam tas Putra yang berantakan, beberapa kotak pengaman, atau a*********************n.
"dia mau jebak kamu Ra, ayo pulang" Ajak Dio.
Aurora langsung menatap tajam Putra, tangannya dengan ringan melayang di pipi Putra "k*****t! b******n!" maki Aurora lalu melangkah pergi, meraih tasnya lalu memeluk lengan Dio dan keluar dari vila.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Aurora naik ke atas motor dan Dio membawa mereka pergi meninggalkan vila tersebut.
"Kak Dio tahu dari mana aku di vila tadi?" tanya Aurora akhirnya setelah mereka tiba di Panti.
"nanti" jawab Dio.
Aurora mengangguk, Dio sedang berada di mood yang buruk dan tidak bisa diberi pertanyaan.
Dio melangkah menuju ke belakang panti, Aurora segera mengikuti dan meraih ujung baju Dio sebagai pegangan. Di tempat ini, hanya Dio yang dia kenal.
"aman Di?" tanya Kino langsung.
Dio langsung melemparkan kunci motor dan di tangkap dengan mudah oleh Kino.
"kenalin, ini Aurora" Dio mengenalkan Aurora kepada teman-temannya.
Aurora mengangguk canggung "Aurora" ucapnya.
"aslinya lebih cakepppp, pantess aja gak pernah di bawa" celetuk Adam.
"Ra, lo baik-baik aja?" tanya Kino.
Aurora hanya mengangguk, belum terlalu mengerti dengan siatuasi yang terjadi.
"kok lo mau aja pergi sama si Putra?" tanya Kino lagi.
"kenal sama Putra juga?" Aurora balik bertanya.
"kenal, gue satu sekolah pas SMP sama SMA. Si dajal dia mah. Gue kaget pas liat story dia dan ada lo"
"story?"
"iya, dia kan punya dua akun. Mungkin lo gak follow"
"gak tahu lebih tepatnya"
"bejatnya dia ada di Ig satu itu, syukur deh lo belom di apa-apain"
Aurora hanya mengangguk. Tidak tahu harus merespon apa. Selain bersyukur karena hal buruk tidak terjadi kepadanya.
***
"Kak, tolong. Jelasin, aku mau tahu apa yang terjadi dengan sebenarnya" pinta Aurora yang menahan Dio agar tidak turun dari mobil terlebih dahulu. Selesai dengan segala urusan di puncak, Dio membawa Aurora ke salah satu mall di Bogor kota untuk belanja dan kini mereka berada di parkiran mall tersebut.
Dio menghela napas, lalu menatap Aurora "aku gak tahu harus jelasin dari mana, aku liat dia belanja kontrasepsi, terus masuk ke toko yang jual obat kuat, aku gak sadar kalau itu Putra karena emang liat dia dari belakang. Nyampe Panti, Kino tunjukin story Putra di IG, terus aku sadar kalau yang beli kontrasepsi sama masuk toko obat kuat itu dia. Kino bilang kalau Putra b******k, dan aku langsung nyusul kamu ke vila" jelas Dio.
Aurora langsung memeluk Dio "makasih ya kak, gak kebayang kalau Kak Dio gak datang, nasib aku bakal kaya gimana"
Dio membalas pelukan Aurora, mengusap lembut punggungnya "aku gila kalau terjadi apa-apa sama kamu. Satu lagi, aku gak pernah bawa kamu kumpul bukan karena gak mau kamu repotin atau karena Talita, aku cuma gak suka mereka natap kamu. Kamu cantik dan mereka bisa aja deketin kamu" jelas Dio. Kemarin, Dio memang memilih diam saat Aurora bertanya kenapa Dio tidak pernah mengajaknya.
Aurora tertawa pelan, lalu melepas pelukan dengan Dio. Rasanya seperti ada pesta di perutnya. Jantungnya bahkan berdegup begitu kencang karena senang.
"udah ya Ra, mulai sekarang nurut kalau aku bilangin, jangan ada bandel lagi, apa yang aku bilang, semua demi kebaikan kamu" pinta Dio dengan lembut dan menggenggam tangan Aurora.
"you like me?"
"yes. So much" jawab Dio tanpa lama.
Aurora mengangguk. Jika Dio tidak menyukainya, Dio tidak akan banyak melakukan hal untuknya "you love me?" tanya Aurora dengan suara kecil lalu menunduk. Ragu dan takut dengan jawaban yang akan dia dapatkan.
"yes. I love you more than you think" tegas Dio.
Aurora langsung menatap wajah Dio, terkejut dengan jawabannya
"I say, I love you. Aku beneran gila kalau terjadi hal buruk ke kamu, kalau kamu gak nurut ucapan aku. Aku marah Ra. Kesal. Aku seneng bisa lindung kamu, jaga kamu"
Aurora masih terdiam, terkejut. Perasaannya terbalaskan!. Sekarang perasaan Dio sudah jelas.
"tapi maaf Ra, sebesar apapun cinta aku ke kamu, aku gak bisa jadikan kamu pacarku. Aku bisa melindungi kamu, aku bisa menyayangi kamu, aku bisa mencintai kamu, tapi untuk menjadi pacar, aku gak bisa. Maaf" Lanjut Dio yang kembali membuat Aurora terkejut. Lalu, hubungan jenis apa yang Dio inginkan??
***