"Adek, nurut sama kakak dan teteh ya" pesan Qiana sebelum Abian masuk ke dalam mobil. Seperti rencana sebelumnya, Dio akan pergi ke Bandung, lengkap dengan Chala, Aurora dan juga Abian. Bocah kecil itu merengek ingin ikut bersama kakak-kakaknya.
"Iya bunda" jawab Abian sambil mengangguk.
Qiana tersenyum, lalu membantu Abian masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi belakang bersama Chala, sedangkan Aurora duduk di samping Dio yang menyetir mobil.
"Teh, jagain adiknya. Kakak, jangan ngebut. Ra, tante titip Bian ya" pesan Qiana kepada semua yang ada di dalam mobil.
"Siap bundaaaa" sahut Chala.
"Iya bun" Dio juga bersuara.
“iya tante” Aurora ikut menjawab.
"Sebentar, bunda cium dulu" Qiana langsung mencium pipi Abian. Lalu memasangkan sabuk pengaman dan menutup pintu mobil.
"Bundaaa, berangkat" pamit Chala setengah berteriak.
"Tante, berangkat dulu" Aurora ikut pamit.
"Dadah bundaaaa" Abian melambaikan tangannya.
Qiana tersenyum sambil melambaikan tangannya "Hati-hati" ucapnya saat mobil sudah mulai bergerak keluar carport.
Setelah mobil yang di kendarai Dio tidak terlihat lagi, Qiana kembali ke dalam rumah. Dia sendirian. Semalam, Valdo harus pergi ke Bali karena ada masalah yang muncul tiba-tiba. Tepat di depan restoran mereka yang ada di Bali, ada dua orang berkelahi, hingga mengakibatkan satu orang terluka karena di tusuk. Semua terjadi dengan cepat, petugas keamanan resto bahkan belum sempat melerai atau mengusir. Orang yang Valdo percaya untuk mengurus resto juga tengahh cuti untuk bulan madu, sedangkan pengganti sementara masih bingung menghadapi situasi. Jadi terpaksa, Valdo harus terbang untuk membantu memberi arahan sekaligus mengajarkan cara menyelesaikan masalah.
Baru mendaratkan tubuhnya di kasur, ponselnya yang ada di nakas berdering. Panggilan masuk dari Valdo.
"Sayang" sapa Valdo saat Qiana menerima penggilan telepon tersebut.
"Iya, kenapa pa?"
"Bun, anak-anak udah berangkat ke Bandung?" Valdo balik bertanya.
"Udah, baru aja"
"Bian jadi ikut?"
"Jadi pa"
"Papa udah di Bandara nih bun"
"Bandara mana?"
"Soeta. Ambil penerbangan paling awal"
"Udah selesai di Bali?"
"Udah sayang, aku kasih arahan, terus mereka yang beresin, kamu siap-siap ya"
Qiana mengerutkan kening "siap-siap apa? Emang mau kemana?"
"Mumpung anak-anak lagi pergi bun, di rumah sepi. Siap-siap simpen tenaga, aku mau minta rapel" jawab Valdo lalu tertawa pelan. Malu jika dia harus tertawa kencang. Dia masih ada di bandara.
Qiana langsung berdecak, mengerti dengan maksud Valdo "dasar, udah tua juga"
Valdo kembali tertawa "masih kuat kok bun. Kamu juga kan tahu gimana kuatnya""Udah ah, aku tutup. Hati-hati di jalan" ucap Qiana, demi Tuhan, dia dan Valdo sudah tidak lagi muda, mereka sudah lama hidup bersama, tapi entah kenapa, Qiana masih saja bersemu jika Valdo sudah mengatakan hal-hal seperti itu. Dasar Qiana.
"Iya sayang"
***
"Gimana kak? Udah selesai?" Tanya Chala pada Dio yang baru datang dan langsung duduk di sebelah Aurora.
Dio mengangguk, lalu meminum es teh manis yang dia tebak milik Aurora.
Tiba di Bandung, mereka langsung ke toko kue milik Qiana. Dengan bantuan Valdo, toko itu kini semakin besar, semakin banyak aneka kue yang di jual dan pastinya semakin dikenal sebagai toko kue yang berkualitas dan rekomendasi yang tepat untuk belanja oleh-oleh dari Bandung.
Aurora, Chala dan Bian menunggu di warung bakso yang ada di sebrang toko kue. Membiarkan Dio bekerja dan mengecek apa yang perlu di cek.
"Udah"
"Udah semua di cek?" Tanya Chala lagi.
Dio mengangguk "udah semua"
"Bagus. Jadi kerjaan udah selesai ya. Ayo, Kak Dio mau pesen apa? Bakso atau mie ayam?" Tanya Chala.
"Mie ayam"
Chala mengangguk, lalu pergi ke kasir untuk memesan mie ayam milik Dio.
Dio tersenyum melihat Aurora yang tengah menyuapi Bian dengan bakso. Beruntung adik bungsunya itu tidak rewel.
"Kamu udah makan?" Tanya Dio pada Aurora.
Aurora menoleh, gerakan tangannya yang akan memotong bakso agar menjadi ukuran lebih kecil terhenti "udah kak. Itu bekas aku" tunjuk Aurora dengan dagu pada mangkuk yang sudah kosong.
"Abis ini mau kemana?"
"kok tanya aku?" Aurora balik bertanya.
"kenapa? gak boleh?"
"engga sih, cuma aneh aja" jawab Aurora dengan wajah bingung.
Dio tersenyum, lalu menepuk kepala Aurora lembut "mau kemanapun, aku turutin" ucap Dio.
Aurora langsung tersenyum, bolehkan dia menganggap bahwa Dio tengah mengistimewakan dirinya?
***
Setelah seharian bermain di salah satu tempat wisata di Lembang, mereka bersiap untuk pulang. Seperti ucapan Dio sebelumnya, Auroralah yang memutuskan ke mana mereka akan pergi, dengan Abian menjadi pertimbangan, Aurora memilih tempat wisata yang ramah untuk anak kecil.
"kita makan dulu, terus langsung pulang ke Jakarta" ucap Dio setelah semua masuk kedalam mobil.
"iya kak" jawab Chala.
"mau sama Ka Raraaa" rengek Abian yang tidak ingin dipasangkan sabuk pengaman oleh Chala.
Auroa langsung menoleh ke belakang "kenapa sayang? mau sama kakak?"
Abian mengangguk.
"yaudah, kakak pindah ya, ke belakang. Kalau adek di depan, kan bahaya" ucap Aurora.
Abian kembali mengangguk.
Aurora tersenyum, lalu melepas sabuk pengaman, dia turun dari mobil, meminta Chala bertukar tempat dan dia duduk di samping Abian, di belakang kursi Dio.
Bisa saja Abian duduk bersama dia di depan, di pangkuannya, tapi itu bahaya, dalam berkendara, apapun bisa terjadi. Meskipun setiap orang pasti menginginkan keselamatan dalam berkendara. Sayangnya, di saat kita sudah berhati-hati, ada pengendara lain yang kurang hati-hati. Aurora tidak ingin mengambil resiko, pahitnya, jika terjadi apa-apa dan Abian berada di pangkuannya, bocah kecil itulah yang paling terkena dampaknya.
Dibalik kemudi, Dio tersenyum, Aurora benar-benar perempuan luar bias, meskipun mereka tumbuh bersama, dia masih selalu menemukan hal-hal yang membuat dia takjub. Bagaimana dia memperlakukan Abian, benar-benar seperti seorang ibu kepada anaknya, bukan kakak kepada adiknya.
Tiba di restoran, Chala memesan lebih banyak menu dengan alasan dia sangat lapar. I can eat horse kak! seru Chala saat Dio bertanya apa dia bisa menghabiskan pesanan mereka.
Makanan datang, Aurora langsung bergerak untuk menyuapi Abian. Bocah menggemaskan itu sudah terlihat lelah.
Chala menjadi orang pertama yang memulai makanannya. Sedangkan Dio memilih memperhatikan Aurora yang tengah menyuapi Abian, mengesampingkan perutnya sendiri.
Tidak mengeluarkan sepatah katapun, Dio langsung menyendokkan nasi ke atas piring, lalu menambahkan lauk pauknya.
"buka mulutnya" suruh Dio yang menyodorkan satu sendok nasi dengan lauk ke hadapan Aurora.
Aurora menoleh dan menatap Dio bingung.
"buka mulutnya, aku suapin" ucap Dio yang mengerti dengan tatapan Aurora.
Chala yang melihat keduanya, memilih diam sambil mengulum senyum. Dia akan pura-pura tidak melihat dan hanya fokus pada hidangan.
Aurora membuka mulutnya, menerima suapan Dio.
Lanjut Dio menyuap untuk dirinya sendiri sambil bergantian menyuapi Aurora dan Aurora tetap menyuapi Abian. Terus seperti itu hingga perut mereka kenyang. Bagi pengunjung lain yang melihatnya mereka, pasti akan mengira jika Dio dan Aurora adalah pasangan suami istri dan Abian adalah anak mereka. Pasangan muda romantis.
Selesai makan, mereka kembali ke mobil, waktunya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Ketika mobil baru dinyalakan, ponsel Dio berdering, panggilan masuk dan sang bunda.
"assalamualaikum kak"
"waalaikumsalam bunda"
"udah dimana?"
"ini baru selesai makan bun, mau pulang ke Jakarta"
"Bian rewel gak?"
"engga bunda, adek gak rewel"
"syukur deh kalau begitu""kak, padahal nginep juga gapapa. Papa gak masalah" suara langsung berganti dengan milik Valdo.
Dio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, dasar papanya! "enaknya papa kalau kita nginep!"
Valdo tertawa "iyalah, enak banget. Bulan depan, kamu punya adik lagi"
"nah itu, makanya Dio pulang biar gak kejadian"
"udah, jangan di denger. Kakak hati-hati bawa mobilnya, kalau capek, istirahat dulu" suara sudah kembali kepada sang bunda.
"iya bunda"
"udah ya kak, assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
"siapa kak?" tanya Chala setelah Dio meletakkan ponselnya.
"bunda"
"kenapa?"
"gapapa, cuma nanyain Abian aja"
Chala mengangguk, lalu memasang sabuk pengaman. Setelah semua siap, Dio mulai melajukan mobilnya. Mereka siap kembali ke Jakarta.
***
"Hati-hati ya Kak. Rara, makasih ya sayang" ucap Qiana tulus. Abian sudah ada di gendongan Valdo, bocah itu sudah terlelap.
"Iya tante. Rara pulang ya" pamit Aurora.
Qiana dan Valdo mengangguk.
Aurora masuk kedalam mobil, kembali duduk di depan. Sebelumnya, dia ikut turun bersama Chala dan Abian untuk menyapa Valdo dan Qiana.
Dio menekan klakson sebagai tanda pamit, dan mobil kembali meninggalkan rumah Qiana dan Valdo.
"Ngantuk?" Tanya Dio di pertengahan jalan.
"Udah engga. Tadi kan tidur" jawab Aurora.
Dio mengangguk, lalu terdengar panggilan masuk ke ponselnya, karena ponselnya terhubung dengan mobil, Dio langsung menekan tombol untuk menerimanya. Perjalanan Bandung-Jakarta memang diisi dengan lagu yang berasal dari ponsel Dio.
"Kenapa Gung?" Tanya Dio langsung pada Agung, salah satu temannya di komunitas motor.
"Di, besok lo jadi ikut kan?"
"Iya, jadi"
"Oke. Fix ya. Awas kalau gak ikut, kita geber rumah lo"
"Iya"
"Okedeh, gue tutup"
"Hmm"
Panggilan telepon itu sudah terputus, Dio kembali diam dan fokus menatap jalanan yang sepi karena waktu memang sudah tengah malam.
"Besok mau kemana?" Tanya Qiana yang penasaran dengan percakapan Dio.
"Ke puncak, besok ada acara di puncak"
"Acara apa?"
"Bagi-bagi di panti"
"Boleh ikut?" Tanya Aurora langsung.
Dio menggeleng "engga. Kamu gak bisa ikut"
Aurora menghela napas, sudah dia duga "kenapa sih kak, kalau acara sama temen-temen motor, aku selalu di larang ikut?" Sudah cukup Aurora menyimpan rasa penasaran, sejak dulu, setiap dia ingin ikut dengan kegiatan Dio bersama teman-temannya di komunitas, Dio selalu menolak.
"Bukan ngelarang, Ra"
"Terus? Apa karena aku gak punya motor dan Kak Dio gak mau aku repotin?"
"Bukan begitu"
"Atau Kak Dio gak mau Lalita marah karena ngeliat cowoknya datang sama perempuan lain?!"
Lalita, perempuan yang Aurora tahu namanya melalui i********:, perempuan yang selalu berada di samping Dio jika mereka sedang berkumpul dengan komunitas motor.
Perempuan yang selalu membuat Aurora bertanya, hubungan apa yang di miliki keduanya dan perempuan yang membuat Aurora merasakan cemburu untuk pertama kalinya.
***