"bunda, liat deh, ganteng gak?" tanya Chala sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Qiana.
"lumayan, siapa teh? pacar teteh?" Qiana balik bertanya sambil menyerahkan kembali ponsel Chala.
Mendengar kata pacar, Dio yang tengah memangku Abian langsung menatap adik keduanya. Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, tanpa Valdo, karena kepala keluarga itu sedang berada di Bali untuk urusan pekerjaan.
"bukaaaan. Aku kan gak mau punya pacar dulu bun" sangkal Chala.
"preeet. Cowoknya banyak tuh bun" sahut Dio.
"kakak! apaan sih. Sok tahu! semua cuma temen kak, aku gak ada niat buat pacaran, aku mau fokus sama pendidikan dulu" kesal Chala.
"bohooong, orang main terus kerjaannya"
"terus, itu cowok siapa?" Qiana membawa topik pembicaraan kembali ke awal.
"Calon pacarnya Kak Rara, pdkt-an nya bundaaa, ganteng kan?"
Sontak saja, ucapan Chala kembali membuat Dio menatapnya setelah beberapa detik menatap Abian yang ada di pangkuannya.
"calon pacar?" ulang Qiana sambil melirik Dio.
"iya bun, Kak Rara itu kan cantik, dari kecil udah jadi model, baik, terus pinter. Daripada di posesifin gak jelas, mending cari pacar. Mau larang ini dan itu juga jelas. Pacaarrr!" jelas Chala sekaligus menyindir Dio. Dia memang sengaja melakukan hal itu.
Dio menghela napas, dia harus segera membahas ini dengan Aurora, jangan sampai perempuan itu terlanjur dekat dengan laki-laki bernama Putra.
"bunda, kakak mau ke kamar duluan ya, masih ada kerjaan" pamit Dio sambil meletakkan Abian di kursi.
"jangan begadang kak" pesan Qiana.
Chala langsung menampilkan wajah meledek "kerjaan cenaaah"
Mengabaikan Chala, Dio langsung pergi ke lantai dua, lantai di mana kamarnya berada.
"siapa Putra?" tanya Dio tanpa basa-basi setelah sambungan teleponnya di angkat oleh Aurora. Tiba di kamar, Dio memang langsung meraih ponselnya dan menghubungi Aurora.
"apa sih kak?"
"Ra, siapa Putra?" ulang Dio.
"siapapun dia, gak ada urusannya sama Kak Dio"
"Aurora" geram Dio."
"aku mau tidur"
Dan sambungan telepon terputus.
"siaaal!!!" geram Dio lalu melemparkan ponselnya ke kasur.
***
"Chala mana?" tanya Valdo saat Dio memasuki rumah. Ayahnya sudah kembali dari Bali siang tadi dan dia baru saja pulang setelah berkumpul dengan komunitas motornya. Lingkup pertemanan Dio memang cukup luas, mengingat bagaimana Dio sibuk melakukan banyak hal sejak masih sekolah. Bagi Dio, selama itu hal yang bisa membanggakan orang tuanya, dia akan lakukan. Orang tuanya tidak menuntut apapun, tidak meminta timbal balik atau balas budi. Tapi Dio sangat menyayangi mereka, bersedia melakukan hal agar mereka bangga kepadanya.
Dio mengerutkan kening "Chala? gak tahu pa"
"loh, papa kira kamu jemput Chala"
"aku kan abis kumpul sama anak motor"
"dia belum pulang Do"
"belum pulang?"
"iya, terakhir di grup yang dia bilang mau nonton, tapi sekarang belum juga pulang." jelas Valdo. Adiknya memang sempat mengirim chat di grup keluarga, memberi tahu jika dia akan pulang terlambat karena akan menonton film terlebih dahulu.
"aku susul ke mall nya" putus Dio dengan cepat.
***
Dio menghela napas, sedangkan Aurora dan Chala hanya menampilkan senyum lebar kepada Dio. "bandel kalian gak ilang-ilang ya" omel Dio saat Chala dan Aurora tiba di titik temu yang di tentukan Dio saat dia berhasil menghubungi Chala.
Chala langsung memeluk lengan Dio, bergelayut manja kepada sang kakak "lupa bilang kak, kalau film yang kita tonton jadinya jam sepuluh malem"
"janji pulang jam sembilan, jam dua belas belum ada kabar. Kalian bikin orang tua pada panik, tahu gak?!"
"tahu kok. Makanya, sekarang kita pulang. Yuk!" sahut Chala.
Dio kembali menghela napas "kamu, kalau di bilangin, pasti nyaut mulu" kesal Dio sambil menyentil kening Chala.
Chala hanya tersenyum lebar. Lalu mengajak Aurora masuk kedalam mobil saat Dio sudah lebih dulu masuk.
"btw, aku bukan sopir ya" celetuk Dio saat mereka sudah didalam mobil dan Dio duduk sendiri di depan.
"Sana kak!. Duduk di depan. Kalau aku didepan, Kak Dio cerewet kaya kaleng rombeng" Chala mendorong bahu Aurora.
"Teteh!" Protes Dio yang tidak terima dibilang kaleng rombeng. Adiknya itu memang minta di tenggelamkan ke rawa-rawa ya!
"Kamu aja deh Chal" Aurora menolak pindah.
"Udah sana kak!. Kalau sama Kak Aurora, Kak Dio jinak"
"Oke. Kita nginep disini ya" sahut Dio yang kesal mendengar perdebatan keduanya.
Aurora berdecak, lalu keluar mobil, berjalan ke arah pintu depan, membukanya, masuk dan duduk di sebelah Dio.
Setelah sabuk pengaman terpasang, Dio menyalakan mobil. Mereka pergi meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.
Setelah empat puluh lima menit, akhirnya mereka tiba di rumah.
"Kak Rara, aku duluan ya. Kak Dio Hati-hati" pamit Chala lalu keluar mobil.
Perjalanan akan dilanjutkan, mengantar Aurora pulang. Meskipun sudah larut, Aurora tetap harus pulang karena ayahnya terus mencereweti Dio. Dasar Paman Ega lebay!.
"aku chat kenapa gak di balas?" tanya Dio saat mobil sudah kembali melaju menuju rumah Aurora. Saat akan berkumpul dengan teman-teman anak motornya, Dio memang sempat mengirim chat kepada Aurora.
Aurora menoleh ke arah Dio yang fokus menatap jalanan. Meskipun jalanan sudah cukup sepi karena waktu memang sudah sangat larut, fokus mengemudi tetap tidak boleh oleng.
"kakak chat aku? aku gak tahu" Jawab Aurora tak acuh lalu kembali menatap jalanan.
Dio menghela napas "Ra, kamu marah?"
Aurora masih diam.
"kamu beneran marah?" ulang Dio.
"tahu ah"
Dio meraih tangan Aurora dengan sebelah tangannya, membawanya ke pangkuan. Membuat Aurora langsung menoleh dan menatapnya.
"aku gak suka Putra. Aku gak suka kalau kamu pergi sama dia. Aku gak suka kamu deket sama dia. Aku gak mau kamu berhubungan sama dia lagi" ucap Dio lalu menatap Aurora saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Pesan yang dia kirim kepada Aurora, memang berisi permintaan agar Aurora tidak lagi menghubungi Putra dan menerima ajakan pria itu.
"Kak Dio gak ada hak ngatur aku" kesal Aurora tapi tidak menarik tangannya yang di genggam oleh Dio.
"tapi aku punya tanggung jawab untuk menjaga kamu"
"sebagi apa?"
"sebagai orang yang papa kamu percaya"
Aurora menghela napas "lampu udah ijo" hanya itu yang bisa Aurora katakan untuk saat ini. Memilih tidak menanggapi lagi ucapan Dio.
***
"Kak, minggu ini sibuk gak?" tanya Qiana.
"engga bun, kenapa?" Dio balik bertanya sambil mengoles selai kacang ke rotinya.
"kalau bunda minta tolong ke Bandung, bisa?"
Dio mengangguk, lalu meletakkan pisau bekas mengoles selai ke piring "bisa bun, mau apa memangnya?"
"tolong cek toko bunda, kemarin dapet laporan gitu tentang beberapa yang butuh di renov. Kakak tolong cek ya. Biar lebih detail" jelas Qiana sambil memperhatikan Abian, si bungsu yang tengah makan. Memastikan jika dia bisa makan dengan benar.
"oke bun. Bisa" ucap Dio lalu menyuapkan roti kedalam mulutnya.
"Chala ikut dong. Mumpung libur" sahut Chala.
"teh, udah kelas tiga, kurangin mainnya. Belajar. Katanya mau nyusul Kak Rara masuk kedokteran" Valdo mengingatkan.
Chala menghela napas, "papa, teteh kan gak sering ke Bandung" Chala menatap sang papa yang tengah membaca sesuatu di tab miliknya.
"alasan mulu kaya bajaj"
"ih papaaa" rengek Chala.
"minggu lalu ke Bogor, alasannya gak sering ke Bogor. Terus ke mall, alasannya gak sering ke mall. Terus-" Valdo menatap Qiana "terus kemana lagi bun?" Lanjut Valdo.
"Ke pantai, pa" jawab Qiana.
"iya, ke pantai. Gak sering sih kak, tapi ke sini dan kesitu"
Chala langsung cemberut "mumet pa, belajar terus. Boleh ya?"
"tanya bunda"
Chala langsung tersenyum dan menatap Qiana "boleh ya bunda? Teteh kan pinter, jadi kalau weekend jalan-jalan juga gak bikin teteh bodoh kok bun. Biar gak stress bun" rayu Chala.
Valdo menggelengkan kepala mendengar bagaimana Chala meminta izin.
"Bilang sama kakak, kalau dia mau bawa teteh ke Bandung, bunda bolehin aja" jawab Qiana sambil mengulum senyum.
"Ah gampaaaang. Kalau aku sekalian ajak Kak Aurora, pasti dibolehin kok kak, ya kan?" Chala menatap Dio sambil menarik turunkan alisnya.
Dio hanya memutar bola matanya, dan tetap melanjutkan makan.
Setelah sarapan, Dio mengantar Chala ke sekolah.
"Belajar yang bener" pesan Dio setelah menghentikan mobil di depan sekolah Chala.
"Iya kak." Chala menciumnya tangan Dio. "Mau kasih aku tambahan uang jajan gak?" lanjut Chala bertanya sebelum membuka pintu mobil.
Dio menghela napas, lalu mengambil dompet nya yang ada di dashboard, mengelurkan satu lembar uang seratus ribu "uang jajan kamu banyak juga" keluh Dio tapi tetap memberikan uang tambahan kepada Chala. Entahlah, rasanya sulit menolak permintaan adiknya.
Chala tertawa sambil menerima uang dari Dio "kak Dio ngomel mulu, tapi tetep ngasih. Makasih ya" Chala membuka pintu mobil, lalu turun. Melambaikan tangan kepada Dio, lalu masuk kedalam sekolah.
Dio lanjut melajukan mobilnya ke arah cafe. Didalam mobil, Dio bersenandung mengikuti lagu yang di putar di radio. Hingga dia harus menginjak rem karena lampu merah. Matanya bergerak melirik suasana jalanan, hingga saat dia menoleh ke samping pintu mobilnya. Dia melihat Aurora yang tengah duduk di motor besar, di bonceng oleh seorang laki-laki yang Dio tahu adalah Putra.
"Sial!" geram Dio lalu memukul stir mobil. Menghela napas dan mencoba tenang. Dio menurunkan kaca mobil.
Seolah sadar adanya pergerakan disebelahnya, Aurora menoleh. Matanya membulat saat tahu jika Dio ada disebelahnya.
Dio hanya diam, menatap tajam kepada Aurora yang tidak menuruti ucapannya. Saat lampu hijau, Dio kembali melanjutkan perjalanan. Dio pastikan, dia akan membuat perhitungan dengan Aurora.
***
"Iya Dio"
"Om, kenapa om ingkar janji?" tanya Dio langsung setelah sambungan teleponnya di angkat oleh Ega.
"ingkar janji apa Dio? kamu ngomong apasih?"
Dio menghela napas "kenapa om biarin Rara berangkat sama cowo lain?"
"hah? ngaco kamu. Cowok lain siapa?"
"om, aku serius"
"tadi pagi, Rara bilang kalau dia di jemput kamu kok. Makanya om gak anter dia atau nyuruh sopir anter"
Dio kembali menghela napas "bohong"
"maksud kamu?"
"Rara bohong. Aku gak jemput dia dan aku liat dia naik motor sama cowok lain"
"Kamu jangan bercanda Dio"
"Om, aku serius"
"Ya Tuhan, Rara. Serius Dio, om sama sekali gak kasih izin buat Rara pergi sama cowok lain. Rara pamitnya di jemput kamu, ya om kasih izin. Kamu tahu sendiri gimana kerasnya larangan om tentang dia yang gak boleh di bonceng naik motor"
Dio menarik napas dalam, lalu mengembuskannya "yaudah om, nanti Rara jangan om tegur ya, biar aku yang tegur langsung. Aku gak mau Rara marah karena aku laporan sama om"
"Iya, om gak tegur, tapi kalau Rara sampe berani bohong lagi. Om gak janji"
"Iya om, aku tutup"
"Iya"
Setelah sambungan telepon dengan Ega terputus, Dio langsung mengirim pesan kepada Aurora. Memberitahu jika dia yang akan menjemput Aurora pulang kuliah. Ega memang sangat melarang Aurora naik motor, karena pernah saat Aurora kelas dua SMA, Aurora mengalami kecelakaan saat di bonceng oleh teman laki-lakinya. Beberapa jari kakinya patah, belum lagi luka lecet yang cukup banyak. Hanya Dio yang Ega percaya untuk membonceng Aurora dengan motor.
AuroraGak mau! aku mau jalan dulu!
Dio menghela napas saat membaca balasan pesan dari Aurora. Segera Dio menghubungi Aurora.
"kamu pulang sama aku. Titik" ucap Dio langsung saat Aurora mengangkat teleponnya.
"kak, bisa baca kan? aku bilang kalau aku mau jalan dulu!"
"Aku yang jemput atau aku lapor Om Ega?" ancam Dio.
Dio mendengar Aurora berdecak. Kesal dengan apa yang Dio ucapkan.
"oke! Kak Dio yang jemput!" kesal Aurora lalu menutup telepon begitu saja.
Dio menggelengkan kepala dengan tingkah Aurora. Semakin hari, Aurora memang semakin suka melawan. Memasukkan ponselnya ke kantong celana. Dio mulai fokus bekerja. Banyak dokumen yang harus dia periksa hari ini.
***
"mau kemana dulu?" tanya Dio langsung saat Aurora masuk kedalam mobilnya.
"apa?"
"mau kemana dulu? kamu bilang pulang kuliah mau jalan dulu"
"gak jadi"
"sama aku"
"hah?"
"jalan sama aku. Kamu mau kemana?" tanya Dio dengan sabar.
Aurora mengigit bibir dalamnya. Rasa kesalnya hilang begitu saja "mau nonton, boleh?" tanya Aurora coba-coba.
Dio mengangguk "pake sabuk pengaman kamu" suruh Dio kemudian menyalakan mesin mobil.
Aurora langsung memasang sabuk pengamannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini adalah kali pertama dia jalan bersama Dio. Berdua. Maksudnya menonton film. Selama ini, mereka selalu pergi bersama Chala dan itupun Dio harus di paksa.
"kenapa masih jalan sama Putra?" tanya Dio dengan pandangan yang tetap fokus menatap jalan.
"gak ada alasan untuk aku gak jalan sama dia" jawab Aurora.
"kamu suka dia?"
Aurora menggeleng "engga"
"dia suka kamu?"
"katanya begitu"
"kalau gak suka. Kenapa mau jalan sama dia? kamu lagi coba kasih harapan?"
"bukan urusan Kak Dio"
"urusan ku juga"
Aurora langsung menatap Dio "kenapa? karena Kak Dio adalah orang yang dipercaya papa?"
"kalau gak suka sama Putra, jangan jalan dan jangan terima tawaran apapun lagi dari dia. Kecuali kamu memang mencoba kasih kesempatan" Dio memilih tidak menjawab pertanyaan Aurora.
"kakak juga! jangan pernah ajak aku jalan kecuali kakak mau kasih aku harapan" ketus Aurora sambil membuang pandangannya ke luar.
Dio langsung menoleh sekilas, menghela napas, Dia mencoba tetap fokus mengendara.
'Aku gak kasih kamu harapan. Semua yang aku lakukan karena memang aku suka. Aku hanya menunggu waktu' ucap Dio dalam hati.