"besok aku jemput" ucap Dio sebelum Aurora turun dari mobilnya.
Aurora hanya diam, turun dari mobil Dio, menutup pintunya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun atau tanpa menunggu Dio pergi terlebih dahulu.
Dio menghela napas kasar, kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
"kakaaaak"
Bibir Dio langsung membentuk senyum saat kepulangannya di sambut Abian.
"Dia udah gak sabar pengen pamer" adu Qiana yang berada bebepa langkah di belakang Abian.
Dio tertawa pelan, lalu menggendong Abian "adek mau pamer apa sih?" tanya Dio sambil melangkah, menghampiri Qiana.
"Adek udah bisa bikin puzzle yang kakak kasih" lapor Abian.
"wah hebat, besok kakak kasih hadiah"
"yeeeeyyy" sorak Abian gembira.
"kenapa kak? ada masalah?"
Dio tersenyum sendu, hal yang paling membuat Dio kagum kepada sang bunda, selain perhatian dan sifat lemah lembutnya, sang bunda selalu bisa mengetahui bagaimana perasaan sang anak atau suaminya. Makanya, baik dia, Chala ataupun sang papa, tidak akan pernah bisa berbohong kepada Qiana. Seperti sekarang, baru menatap saja, Qiana langsung tahu jika ada sesuatu yang terjadi kepadanya.
"mau cerita sama bunda?" tanya Qiana lagi. Satu lagi, sang bunda tidak pernah memaksa untuk bercerita, bundanya itu pasti memberikan waktu terlebih dahulu.
"nanti bun"
Qiana tersenyum lalu mengangguk "adek, sama bunda lagi yuk, kita ganggu papa" ajak Qiana dengan nada bercanda.
Dio tertawa pelan, menurunkan Abian dari gendongannya.
"Istirahat kak, jangan banyak pikiran, nanti sakit" pesan Qiana sebelum melangkah bersama Abian menuju ruang kerja Valdo.
Dio menghela napas, lalu pergi ke kamar. Melepas pakaian dan melangkah ke dalam kamar mandi. Dia perlu mendinginkan kepalanya.
Selesai mandi dan mengenakan celana, Dio langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, tubuh bagian atasnya dibiarkan tanpa busana, sebuah kebiasaan. Terasa nyaman saat kulitnya menempel langsung dengan seprai.
"Aku suka sama Kak Dio. Suka sebagai pria, bukan kakak laki-laki"
Ucapan Aurora terus berputar di dalam kepalanya. Tadi, dia memilih diam, tidak menanggapi ucapan Aurora tentang pernyataannya. Tanpa Aurora mengaku, Dio tahu jika perempuan itu menyukainya.
Aurora Amara. Perempuan selain adiknya yang selalu Dio perhatikan, perempuan yang merupakan anak dari sahabat kedua orang tuanya. Perempuan cantik dengan mata bulat dan jernih, bibir tipis yang akan sangat indah jika tersenyum, pipi yang akan merona jika dia puji, perempuan yang Dio tahu bagaimana dia tumbuh dan perempuan yang harus dia jaga. Bukan hanya karena sosoknya yang dekat dengan keluarga Dio, tapi karena sebuah janji yang harus Dio tepati.
***
Menepati ucapannya, pagi ini Dio menjemput Aurora dan mengantarkannya ke kampus. Adiknya, Chala, pagi ini berangkat bersama sang papa yang juga harus berangkat pagi karena urusan pekerjaannya.
"Kuliah kamu sampe jam dua belas kan?" Tanya Dio saat dia mulai menjalankan mobil keluar dari pekarangan rumah Aurora.
Aurora mengangguk, merespon seadanya. Dia masih malas menanggapi Dio, masih merasa malu karena pernyataan suka nya kepada Dio kemarin.
"Udah beli kado buat Gerald?" Dio kembali bertanya, berharap keadaan tidak terlalu sepi. Bicara tentang Gerald, dia adalah salah satu selebgram yang cukup terkenal, dia juga mengenal Dio dan juga Aurora, tiga hari lagi, dia akan mengadakan pesta ulang tahun di salah satu hotel mewah.
Aurora menggeleng.
"Nanti kita sekalian cari"
Lagi, Aurora hanya mengangguk.
Dio menghela napas, merasa usaha membunuh sepinya gagal, Dio memilih fokus menatap jalan raya tanpa niat bertanya lagi.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di kampus Aurora. Suasana dalam mobil masih sepi, Aurora masih memilih bungkam, begitupun Dio.
"makas-" ucapan Aurora terputus, gerakan tangannya yang akan membuka pintu mobil juga terhenti saat Dio tiba-tiba menahan tangan kanan Aurora.
"jangan marah lagi" ucap Dio kemudian, demi apapun, Dio paling tidak suka jika Aurora marah kepadanya.
"Hmm" respon Aurora seadanya.
Dio menghela napas, tangannya masih menahan Aurora "kamu bukan penyanyi pelakor itu loh, yang ham hem ham ham. Jangan marah ya?" Bujuk Dio.
Aurora masih diam.
"Ra" panggil Dio lembut.
"Aku gak marah kok" lirih Aurora dengan suara begitu kecil,tapi karena di mobil cukup sunyi, Dio bisa mendengar dengan jelas.
"Ra" ulang Dio dengan lembut.
"beneran gak marah" Aurora kembali berbicara dengan suara cukup pelan dan kini wajahnya menunduk.
"lihat aku" suruh Dio.
Aurora diam.
Dengan lembut, Dio menyentuh dagu Aurora, mengangkatnya pelan agar Aurora mau menatapnya.
"bener gak marah?"
Aurora mengangguk.
"terus kenapa diem aja?"
"aku malu" cicit Aurora dengan mata menatap ke bawah, tidak berani menatap mata Dio.
"malu?"
"aku malu karena bilang suka, aku perempuan, tapi bilang suka duluan, aku malu, aku ngerasa gak punya harga diri, aku kaya perempuan murahan" jelas Aurora akhirnya.
Dio menghela napas, lalu membawa Aurora ke dalam pelukannya. "dimata aku, kamu wanita paling luar biasa, paling mahal, paling berkelas. Sama sekali aku gak anggap kamu murahan. No. Never. Jadi jangan malu"
"bisa lupain aja gak kak?"
"apa?"
"ucapan aku kemarin"
"kayanya gak bisa"
"kak, please. Aku ngerasa malu banget"
"gak perlu malu. Kita jalani seperti biasa, aku gak akan ledek kamu kok"
Aurora menghela napas. Lalu melepas pelukan dengan Dio "aku turun sekarang" ucapnya kemudian. Dalam hati, dia sempat berharap Dio akan merespon pernyataan sukanya. Dia juga ingin tahu perasaan Dio kepadanya! Dia lelah di positif-in tapi gak di kasih kepastian.
"aku jemput. Jangan lupa dan jangan pergi sama yang lain"
"iya"
Aurora turun dari mobil, Dio menunggu hingga Aurora masuk ke dalam gedung fakultasnya. Setelah sosok Aurora hilang dari pandangannya, Dio langsung menghela napas. Bukan tidak ingin merespon ungkapan suka dari Aurora, hanya saja, saat ini, belum waktunya dia berbicara bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya. Karena Dio takut tidak bisa menahan diri. Jika sampai itu terjadi, dia pasti akan merasa bersalah, ada hati yang harus dia jaga kepercayaannya.
***
"bener yang ini kak?" tanya Aurora memastikan.
Dio mengangguk "iya, Gerald suka pake topi" jawab Dio. Aurora memang sempat bingung ingin membeli kado apa untuk Gerald. Dia tidak terlalu akrab dengan Gerald, tapi karena memiliki teman yang sama dari kalangan selebgram, mereka jadi saling kenal. Lain dengan Dio yang bisa dikatakan cukup akrab.
"yaudah, aku ambil ini" putus Aurora lalu membayar topi tersebut. Meskipun cuma topi, tapi Aurora membayar dengan harga yang lumayan, mengingat topi tersebut berasal dari merek yang cukup terkenal. Terkenal mahal.
"mau makan apa? kita belum makan siang loh" tanya Dio setelah mereka keluar dari store.
"mau steak, boleh?"
Dio tertawa pelan "boleh dong. Mau di resto apa?"
"resto Om Valdo aja"
Dio mengangguk "oke, ayo" ajaknya sambil menggandeng tangan Aurora.
Karena jalanan cukup ramai dan macet di beberapa titik, Aurora dan Dio tiba di resto milik Valdo satu jam kemudian. Pegawai yang sudah sangat hafal siapa Dio dan Aurora langsung menyambut dengan ramah dan mengarahkan ke ruangan spesial, ruangan yang hanya diperuntukkan bagi keluarga pemilik resto.
"malam minggu nanti, kamu ada acara?" tanya Dio setelah makanan mereka tersaji.
"gak ada kayanya. Kenapa?" Aurora balik bertanya. Ada setitik harapan di hatinya yang muncul.
"gak apa-apa. Jangan pergi kemana-mana. Di rumah aja" jawab Dio.
Aurora mengerutkan keningnya "emang kenapa kalau aku pergi?"
"aku ada acara, jadi gak bisa anter kamu. Jadi, kamu di rumah aja"
Aurora mengeratkan genggamannya di garpu, dia kira, Dio akan mengajaknya jalan!
"papa punya sopir. Jadi, kalau Kak Dio gak bisa, aku tetep bisa pergi tanpa Kak Dio" Aurora membalas dengan santai.
"Ra, please. Kali ini aja, turutin kata-kata aku"
Aurora berdecak "gak kebalik? Kak Dio yang harusnya sekali aja nurut dan ngerti maunya aku" sahut Aurora dengan mata yang menatap sinis Dio.
Dio memang sudah cukup lama mengatur dan ikut campur kehidupannya. Awalnya dia suka, karena sikap mengatur itu dia anggap sebuah perhatian dan hal itulah yang menjadi salah satu alasan dia menyukai Dio. Tapi kini, sikap mengaturnya terasa berlebihan. Entahlah, atau memang karena Aurora yang sudah merasa gemas dengan status hubungannya dengan Dio, sehingga kini dia kesal jika Dio mengaturnya?
***
"Halo Kak Rara, kenapa?" tanya Chala langsung setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya, menerima panggilan telepon Aurora.
"aku keseeeeel"
"Kak Rara di apain lagi sama Kak Dio?" tanpa sulit, Chala sudah tahu jika yang membuat Aurora kesal adalah kakaknya sendiri, Dio.
"dia nyuruh aku untuk gak kemana-mana pas malam minggu"
"mau ngajak jalan?!" tanya Chala yang langsung antusias. Demi Kak Ros yang suka galak ke Upin Ipin. Chala sering sekali dibuat kesal hingga ingin menjambak rambut kakaknya. Sampai saat ini, dia masih bingung dengan apa yang sebenarnya kakaknya itu inginkan. Jika ingin Aurora, maka seharusnya segera di sahkan. Bukan malah di atur-atur tanpa kejelasan. Gereget!
"mana ada! dia mau pergi dan nyuruh aku diem di rumah karena kalau aku pergi, dia gak bisa anter. Emang aku gak bisa pergi sediri?! nyebelin banget kakak kamu!" kesal Aurora.
Chala menghela napas. Sepertinya dia harus memanggil ustadz untuk mengeluarkan setan-setan yang bersemayam di tubuh kakaknya itu "udah kak, jangan di denger. Pacar bukan, suami bukan. Aku dukung Kak Rara pokoknya. Meskipun Kak Dio kakak aku, tapi dia nyebelin. Kak Rara kalau mau jalan, jalan aja"
"iya. Rencana aku sih gitu, semakin dia larang, aku semakin aku lawan. Enak aja."
"betul. Kak Rara kan banyak yang deketin, coba aja dulu, siapa tahu iseng-iseng berhadiah"
Terdengar suara tawa Aurora di seberang telepon "iya, btw, ada nih, namanya Putra, lumayan oke. Dia DM aku"
"gasss kak"
"siap. Udah ya, curhatnya sekian dulu."
"okay kak"
Sambungan telepon terputus, Chala menghela napas, kesal dengan tingkah sang kakak. Saking kesalnya, kini dia turun dari tempat tidur, mengenakan piyama karena berencana untuk tidur lebih awal, dia melangkah keluar kamar, mencari sang kakak.
Tanpa mengetuk pintu, Chala langsung membuka kamar sang kakak "kak-" ucapannya terhenti saat tidak menemukan sang kakak. Tempat tidurnya masih rapih, tidak terdengar juga air dari kamar mandi. Jelas, kakaknya tidak ada di kamar. Menutup pintu, Chala melangkah menjauh dari kamar Dio menuju lantai satu.
"bun, liat Kak Dio?" tanya Chala pada Qiana yang tengah menonton drama China.
"di ruang kerja papa, teh. Ada apa?"
"gapapa. Papa kemana? kok gak temenin bunda nonton"
"ke kamar mandi, teteh jangan ribut sama kakak ya, udah malem"
"iya bundaaa" Chala mengecup pipi Qiana sebelum pergi menuju ruang kerja sang papa, tempat di mana Dio sekarang berada.
"kak!" panggil Chala dengan suara cukup kencang saat memasuki ruang kerja Valdo yang dipakai oleh kakaknya.
"Chaaal" geram Dio yang cukup kaget dengan kehadiran Chala.
"apa?!" tantang Chala dengan kesal. Melipat kedua tangannya di d**a, Chala masuk kedalam, menutup kembali pintu agar suara mereka tidak keluar. Lebih tepatnya, teriakan Chala agar tidak terdengar bunda dan papanya.
Dio menghela napas "daripada gak jelas, mending kamu belajar. Kamu udah kelas tiga Chal, katanya mau masuk kedokteran"
Chala berdecak, lalu duduk di kursi yang berada di hadapan Dio, terpisah oleh meja "gak usah di ingetin, aku masih inget. Lagian, kakak lupa? kakak itu pinter, kuliah 3,5 tahun. Udah di pastikan, kepintaran kakak juga bakal turun, kita satu darah, otak kita juga pasti sama"
"teori dari mana itu?"
"dari aku yang lagi males belajar dan kesel banget sama Kak Dio!"
Dio menatap Chala dengan satu alis terangkat, bingung, kurang mengerti dengan ucapan Chala, seingat dia, hari ini, dia tidak melakukan hal aneh kepada adiknya itu.
"Kak! aku minta, mulai sekarang Kak Dio stop atur-atur Kak Rara lagi. Aku harus bilang berapa kali sih kak?! Asal kakak tahu, kakak itu udah kelewatan, setelah kakak lulus kuliah, sikap kakak yang suka ngatur Kak Aurora udah gak masuk akal. Aku-" Chala menunjuk dirinya sendiri "yang adik kandung kakak, bahkan masih memiliki kebebasan, pergi sama si A atau sama si B. Sedangkan Kak Rara, Kak Dio kurung dia dengan segala larangan Kak Dio yang gak jelas!" bentak Chala meluapkan kesalnya. "sikap kakak, gak akan cocok disebut sebagai sikap laki-laki yang memperlakukan Kak Rara seperti adik. Jelas, sikap kakak itu sama dengan sikap pacar yang sangat posesif. Jadi kak, tolong. Kalau kakak suka Kak Rara, kasih kejelasan hubungan kalian. Kalau engga, tolong berhenti atur Kak Rara dan biarin dia pergi sama siapapun yang dia mau. Jangan egois."
"Chal, kakak lagi gak mau bahas itu"
"f**k you Dio!!!" bentak Chala.
"Chalandra!"
Dio menatap tajam Chala "dengar. Sedikitpun kakak gak pernah liat Aurora sebagai adik, apa yang kakak lakukan, semua demi kebaikan dia dan ada waktunya semua akan jelas" tegas Dio.
***