Pagi itu udara di rumah Dewi lebih segar daripada biasanya. Jendela yang kemarin masih terbuka sejak Ryan memutuskan untuk membiarkan cahaya masuk, kini kembali ditutup oleh Dewi tanpa sepengetahuan Nu. Meski begitu, suasana masih terasa lebih ringan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Nu duduk di kursi ruang tamu, rambutnya tergerai, wajahnya tampak lebih sehat meski belum sepenuhnya pulih. Ryan menatapnya lama, seolah ingin merekam setiap detik kebersamaan itu ke dalam memorinya. “Nu,” suara Ryan lirih, penuh ragu, “Hari ini… aku harus pamit pulang.” Nu spontan menoleh. Matanya melebar, wajahnya memucat. “Pulang? Maksud kamu apa, Mas Ryan? Kamu ninggalin aku? Sekarang?” Ryan menghela napas panjang. Ia duduk di samping Nu, menggenggam jemarinya. “Sayang, aku sudah menunda banyak pe

