Di bilik pengap Panti Pijat Lestari, setelah kurir Nyai Srintil menyampaikan ancaman, Dewi terduduk di tepi ranjang. Punggungnya menempel pada dinding dingin yang lembap. Ia tidak lagi peduli pada make up yang luntur atau gaun yang kusut. Yang ada hanyalah palung gelap di dalam jiwanya, tempat segala sesal, kebiasaan buruk, nafsu, dan ketakutan bercampur menjadi satu kekacauan abadi. Pikirannya berputar liar, tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Baginya, setiap tindakan adalah pembenaran. Membohongi Nu? Itu demi pendidikan Nu. Melayani p****************g? Itu demi lunasnya cicilan motor dan kredit mobil yang ia beli beberapa bulan lalu. Menggunakan ilmu hitam? Itu demi kebahagiaan yang ia yakini mutlak, yaitu memiliki Ryan. Ketakutan akan kemiskinan dan gaya h

