Malam itu rumah yang baru saja mereka singgahi diliputi ketenangan. Di luar, angin berembus pelan, menyibak tirai jendela seakan ingin ikut menyaksikan kisah yang baru akan dimulai. Nu duduk di sisi ranjang, wajahnya tampak memerah bukan hanya karena lelah, melainkan karena kegugupan yang tak mampu ia sembunyikan. Ryan menatapnya dengan senyum lembut—senyum yang seakan berkata bahwa tak ada lagi alasan untuk ragu. “Nu…” suara Ryan nyaris seperti bisikan doa. “Apakah kamu yakin?” Nu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Aku yakin, Mas Ryan. Karena aku percaya padamu. Aku percaya cinta ini bukan sekadar rasa, tapi takdir.” Mata mereka saling menatap. Saat itu, seolah seluruh semesta ikut mendukung, memberi re

