Sore hari, langit Semarang memudar menjadi jingga. Di balkon, Nu bersandar di pelukan Ryan, membawa secangkir teh hangat yang tak kunjung ia teguk. Angin lembut memainkan rambut panjangnya, dan Ryan berkali-kali menyelipkan helai-helai liar itu ke balik telinga Nu. “Mas, kamu pernah merasa kayak... hidup ini terlalu cepat?” tanya Nu pelan. Ryan mengecup pucuk kepalanya. “Tiap kali sama kamu, waktu selalu berasa kurang.” “Dan sekarang aku takut waktu habis. Aku takut kehilangan semua ini. Kita.” Ryan menoleh, menatap dalam matanya. “Kamu gak akan kehilangan apa pun. Yang kita punya ini bukan sementara, Nu. Aku bukan datang hanya untuk singgah. Aku datang untuk tinggal.” Nu tersenyum, tapi air matanya menetes juga. Ia genggam tangan Ryan dan menaruhnya di dadanya, tepat di atas jantungn

