#R – Harapan Sederhana Seorang Risa

1633 Words
Tiga minggu sudah berlalu setelah Ujian Nasional  selesai, setelah itu seluruh murid kelas dua belas diminta untuk memberikan konfirmasi pada pihak sekolah tentang tujuan kelanjutan pendidikannya. Risa, gadis yang dikenal sebagai siswa berprestasi disekolahnya justru berlum memberi konfirmasi apapun, dia masih tenang disaat teman – temannya sibuk merencakan kamana mereka akan lanjut sekolah, atau rencana lain yang ingin dilakukan teman – temannya setelah lulus sekolah. “Ngapain sih gue pake disuruh ke sekolah, lagiankan udah bebas, kalau aja bukan kepala sekolah sama wali kelas yang nyuruh, gak bakal gue mau dateng” batin Risa, sedikit menggerutu kesal saat dia sedang berjalan di koridor sekolah menuju ruang kepala sekolah. “Silahkan duduk, Risa” ujar Bu Emil, saat Risa sudah masuk ke ruang kepala sekolah yang ternyata sudah ada Bu Emil juga. Perempuan berusia setengah baya itu nampak tersenyum saat dia melihat Risa sudah duduk disofa, bersama dengannya dan kepala sekolah. “Jadi, ada apa ya Pak, Bu ?” tanya Risa, langsung pada intinya karena dia sudah terlanjur bingung dengan alasan apa dia dipanggil kepala sekolah langsung. Bu Emil dan kepala sekolah nampak tersenyum saat mendengar pertanyaan Risa, hal itu tentu membuat Risa semakin merasa bingung. Matanya menatap Bu Emil dan kepala sekolah secara bergantian. “Jangan bingung kenapa kamu dipanggil ke sekolah, jangan tegang dan takut karena saya memanggil kamu ke sini bukan karena suatu yang tidak baik, tapi karena prestasi yang lagi – lagi kamu capai dan berhasil mengharumkan nama sekolah kita untuk yang kesekian kalinya” ujar  Pak Arif, selaku kepala sekolah sambil menatap Risa dengan pancaran kebanggaan yang terlihat jelas dari matanya. “Sebelunnya saya ingin menanyakan  sesuatu, Bu Emil bilang kamu belum memberikan konfirmasi pada pihak sekolah tentang Universitas yang kamu pilih untuk melanjutkan pendidikan, kenapa dan kemana sebenarnya kamu akan melanjutkan pendidikan ?” tanya Pak Arif, sambil menatap Risa. Selama beberapa saat, Risa sempat terdiam. Helaan nafas berat terdengar berhembus dari hidungnya. “Saya tidak tahu, Pak” jawab Risa, seadanya. Bingung, itulah memang yang Risa rasakan. Dia tidak tahu kemana dia harus melanjutkan kuliah, kampus mana yang harus dia pilih, dan yang paling membuatnya bingung adalah, apakah dia masih perlu melanjutkan pendidikannya atau cukup hanya sebatas menjadi lulusan SMA saja. “Kamu anak cerdas Risa, kemungkinan besar akan sangat banyak universitas ternama yang mau menerima kamu bahkan tanpa harus melakukan tes, apalagi dengan background pretasi kamu yang sangat bagus?” ujar Pak Arif, sambil menatap Risa penuh keseriusan, dia seakan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya Risa rencanakan dengan tidak memberikan konfirmasi kepada sekolah terkait kampus tujuannya. “Satu hal lagi, sebenarnya saya meminta kamu datang ke sini karena ada kabar baik yang ingin saya sampaikan kepada kamu” ujar ak Arif, membuat kepala Risa yang semula menunduk perlahan terangkat, menatap Pak Arif dan Bu Emil secara bergantian. Mata Risa langsung beralih menatap sebuah map yang tiba – tiba Bu Emil letakan diatas meja, dahinya mengerut bingung karena dia tidak memahami apa yang dimaksud kepala sekolah dan wali kelasnya. Kabar bahagia apa yang Pak Arif maksud, dan dokumen apa yang diserahkan Ibu Emil. “Apa ?” tanya Risa, kembali mendongakkan kepala menatap kepala sekolah dan wali kelasnya secara bergantian. “Kamu berhasil menjadi peraih nilai Ujian Nasional tertinggi se - Indonesia, nilai – nilai kamu yang gemilang berhasil mengharumkan nama sekolah kita lagi, saya ucapkan selamat dan terimakasih untuk hal itu” ujar Pak Arif, sambil menatap Risa dengan senyuman yang mengembang diwajahnya, dan tatapan yang terlihat memancarkan aura kebanggaan. Mendengar pernyataan Pak Arif, seulas senyum tipis sangat tipis nyaris tidak terlihat terbit dari bibir Risa. Karena tujuannya mendapatkan nilai terbaik sudah terpacai, bukan hanya terbaik disekolah tapi dia bisa menjadi peraih nilai ujian terbaik tingkat Indonesia, untuk pertama kalinya Risa bangga dan bahagia dengan pencapaian yang dia dapatkan, dan dia berharap jika pencapaiannya akan membuat orang tuanya bangga juga. “Karena prestasi itu juga kamu mendapat tawaran beasiswa dari dua universitas sekaligus, yang pertama dari Universitas Indonesia dan kedua dari salah satu kampus bergengsi di Singapore” ujar Pak Arif, berhasil membuat fokus Risa kembali menatapnya. Bahagia ? Risa tidak tahu apakah dia harus bahagia atau tidak mendengar kabar yang disampaikan kepala sekolahnya. Karena setelah mendengar kabar itu hatinya justru semakin dirundung perasaan bimbang, antara berhanti atau kembali melanjutkan. Karena pada hakikatnya hatinya sempat yakin jika dia ingin benar – benar berhenti, tapi saat hatinya sudah yakin tuhan justru kembali membuatnya bingung. “Singapore” gumam Risa, setengah berbisik tapi masih mampu terdengar oleh kepala sekolah dan wali kelasnya. Tatapan matanya terlihat kosong seakan saat itu dia berucap sambil berpikir, dengan tatapan matanya yang masih terlihat kosong dia menyentuh map cokelat yang masih tergeletak diatas meja. “Tolong pikirkan lagi Risa, ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kamu, banyak orang yang ingin berada di posisi kamu sekarang” ujar Pak Arif, sambil menatap Risa dengan sebuah harap yang terpancar dari matanya. “Map itu berisi dokumen rekapitulasi nilai ujian kamu, dan formulir dua Universitas yang menawarkan beasiswa kepada kamu, kamu bisa memilih salah satunya, dan batas akhir pengumpulan formulir itu hari Sabtu minggu ini” ujar Pak Arif, masih dengan posisi menatap Risa. Sesaat Risa terdiam, kemudian menatap kepala sekolah dan wali kelasnya yang sedang tersenyum kearahnya. Kemudian, Bu Emil mulai menjelaskan tentang beasiswa yang didapatkan Risa dengan sedetail mungkin.  Dari mata Bu Emil dan Pak Arif, Risa tahu jika mereka sangat berharap Risa mengambil salah satu beasiswa tersebut. Namun, Risa masih bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil setelah mendengar kabar dan penjelasan dari Bu Emil beserta kepala sekolahnya. Setelah semuanya selesai, Risa memutuskan untuk pamit dengan kebingungan yang membelenggu pikirannya. Karena pada awalnya hati Risa sudah hampir yakin jika dia tidak akan melanjutkan pendidikannya. Namun, dengan beasiswa yang berhasil dia dapatkan, semua keputusannya seakan kembali pada semula, yaitu kembali pada titik bimbang yang harus kembali dia pikirkan. “Tadi kenapa dipanggil kepala sekolah, Sa ?” Risa menoleh saat dia mendengar suara asing yang tiba – tiba menyapanya, tepat dibelakangnya Risa melihat sosok gadis yang sedang tersenyum cerah kearahnya. Sedangkan Risa, memilih diam dengan ekspresi dingin yang biasa dia tunjukan kepada setiap orang. Matanya menatap sosok yang saat itu sudah berjalan mendekat kearahnya, hatinya bertanya – tanya mengenai dia yang tiba – tiba datang menemuinya. “Kenapa lihatnya ko begitu amat, Sa” tanyanya, yang hanya dijawab sebuah gelengan kepala oleh Risa. Dia mendudukan tubuhnya tepat disamping Risa, yang sedang duduk disebuah bangku taman sekolah yang biasa digunakan anak – anak untuk bersantai saat istirahat. Sesaat dia menatap wajah Risa yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin tanpa rasa sungkan, seakan dia sedang membaca mimik wajah Risa. “Kamu kenapa Sa ? cerita dong siapa tahu aku bisa bantu” ujarnya lagi, tanpa rasa malu sedikitpun. “Kenapa kamu sangat ingin berteman sama aku” tanya Risa, sambil membuang tatapannya. “Karena kamu orang yang baik Sa, jadi kamu maukan temenan sama aku ?” jawabnya masih dengan senyum ceria yang mengembang diwajahnya. Dialah Amel, sosok gadis ceria yang tidak pernah lelah berusaha mengulurkan tangan menawarkan sebuah pertemanan kepada Risa. Seburuk apapun sikap Risa kepadanya, dia tidak pernah memprotesnya, setiap kata – kata tajam yang Risa ucapkan padanya hanya dia balas dengan tawa. “Aku dapat beasiswa kuliah dari Universitas Indonesia dan salah satu kampus di Singapore” jawab Risa, dengan tatapan lurus. “Waw, kamu keren  banget, kamu mau pilih yang mana Sa ?” tanyanya terdengar sangat antusias. Sebelumnya Risa sudah menebak seekspresif apa Amel akan bereaksi setelah mendengar ceritanya, dan ekspektasinya tidak meleset sedikitpun. Karena satu kelas sekaligus satu bangku selama tiga tahun membuat Risa tahu sifat Amel meskipun selama ini dia selalu berusaha untuk tidak mempedulikannya. Melihat reaksi Amel yang sesuai dengan ekspektasinya, Risa hanya menggelengkan kepala. “Kamu tahu Universitas Indonesia adalah kampus impian ku, dan untuk masuk Universitas Indonesia aku harus berjuang dengan sangat keras, sedangkan kamu Universitas Indonesia sendiri yang datang dan meminta kamu untuk kuliah di sana, belum lagi kampus yang dari Singapore itu, kamu memang megagumkan Sa, aku harap kamu mau mempertimbangkan lagi keputusan kamu” ujar Amel, sambil menyentuh bahu Risa. Sesaat Risa menoleh menatap pundaknya yang masih dipegang Amel, kemudian dia mengalihkan tatapannya menatap wajah Amel. Amel langsung menarik tangannya yang masih menempel dipundak Risa, dengan senyuman tanpa dosa yang biasa dia tunjukan. “Fakultas apa ?” tanya Risa, sambil memalingkan wajahnya. “Ekonomi” jawab Amel, dengan ceria. Risa mengangguk – anggukan kepalanya mendengar perkataan Amel, gadis itu memang terlihat sangat bersemangat. Melihat Amel, membuat Risa berpikir, jika dia juga mungkin perlu memikirkan ulang tentang keputusan yang harus dia ambil. *** Risa menatap dua mobil yang sangat dia kenal dan sedang terparkir dipekarangan rumahnya, matanya menatap map yang saat itu masih berada dalam genggaman tangannya dengan rumah yang tinggal beberapa langkah lagi akan segara dia masuki secara bergantian. Hatinya menimang antara memberi tahu kabar tentang nilai dan besiswa yang dapatkan atau tidak, karena Risa sendiri tidak tahu kabar itu akan menjadi kabar bahagia atau tidak untuk mereka.  Risa memberanikan diri untuk masuk, tapi seketika dia mematuung diambang punti saat dia melihat ada pertengkaran hebat yang lagi – lagi terjadi antara mereka. Risa langsung berlari menaiki anak tangga saat melihat tatapan tajam ayahnya, Karena dia yakin jika tetap bertahan dia akan menjadi korban kekerasan ayahnya lagi, dan Risa tidak ingin hal itu terjadi untuk malam ini. “Anak pembawa sial, mau kemana kamu ?” teriak ayahnya, saat dia melihat Risa berlari menaiki anak tangga. Risa langsung mengurung diri di dalam kamar, dia duduk dipojok sambil  memeluk lututnya sendiri dengan tangan yang bergetar ketakutan. Tangis yang hampir saja pecah Risa tahan dengan cara membekap mulutnya sendiri, saat dia mendengar pintu kamarnya digedor dengan kasar dari luar. Tangannya yang masih gemetar dia paksakan untuk memegang hanphone, kemudian dia mendial sebuah nomor dan berharap orang yang dihubunginya akan datang dan menyelamatkannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD