#R – Kasih Sayang

1545 Words
           Dimas menjatuhkan tubuh diatas sofa ruangan kerjanya saat dia baru saja kembali setelah melakukan meeting, matanya melirik jam yang sudah menunjukan pukul 16.30. Kemudian, dia bersiap untuk segara pulang karena memang waktu pulang sudah masuk bahkan sudah melebihinya, tapi sebelum benar – benar melangkahkan kaki keluar dari ruangannya, Dimas mengecek handphone yang sejak dia silent, dan ternyata terdapat banyak panggilan dan beberapa pesan dari nomor yang sama yaitu Risa. Hati Dimas tiba – tiba dirundung perasaan cemas, dia langsung membuka pesan yang Risa kirim padanya, hatinya melapalkan sebuah do’a semoga Risa baik – baik saja. “Om tolong, om Risa takut, tolong Risa om” Tolong, menemukan satu kata itu dalam pesan yang Risa kirim membuat Dimas sempat merasa linglung selama beberapa saat, tapi kemudian dengan sigap laki – laki itu langsung berjalan dengan cepat keluar dari ruangannya, karena dia harus segera menemui Risa yang dia sendiri yakin jika dia berada dalam keadaan tidak baik – baik saja. Selama diperjalanan, isi kepala Dimas hanya dipenuhi oleh Risa, dia benar – benar sangat menyesal karena sudah mensilent handphone hingga membuat keadaan menjadi kacau. Dia benar – benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Risa. Tepat ketika mobil yang dia kendarai sampai didepan pekarangan rumah orang tua Risa, Dimas langsung berjalan masuk dengan terburu – buru tanpa salam dan permisi, tanpa menghiraukan keadaan ruang tamu yang sangat berantakan sebagai tanda jika memang sudah terjadi pertengkaran. “Risa … Sa … Risa…” panggil Dimas, sambil berjalan pelan masuk ke dalam kamar Risa yang ternyata tidak di kunci. Dima memperhatikan sekeliling kamar Risa yang nampak sepi, hanya ada pas bunga pecah yang tergelatak diatas lantai. Kemudian, Dimas berjalan mendekati pintu kamar mandi yang ada dikamar Risa, dia mengetuk pintu kamar mandi itu, berusaha mencari tahu apakah Risa ada didalam atau tidak. Namun, tidak ada jawaban yang terengar dari dalam tapi saat Dimas coba untuk buka pintu itu terkunci, akhirnya Dimas memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi, memastikan Risa ada didalam atau tidak.  Tubuhnya mematung diambang pintu saat dia sudah berhasil mendobraknya. Matanya menatap Risa yang sedang tergelatak diatas lantai kamar mandi dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat, bibir yang sudah membiru karena dingin. Kemudian, setelah dia sadar dari keterpakuannya, dia langsung berjalan dan memangku tubuh Risa. “Dingiin om….” Gumam Risa, sempat membuka matanya saat Dimas sudah membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dimas mengangguk kecil, kemudian dengan sigap dia langsung menyelimuti tubuh Risa, tangannya sibuk menggosok tangan Risa agar gadis itu bisa mendapatkan kehangatan. “Bibi …” panggil Dimas setengah berteriak.  Tidak lama setelah Dimas memanggil, Bi Imah datang. Wajahnya yang semula nampak biasa berubah jadi terlihat kaget saat dia melihat Risa yang sedang menggigil kedinginan. Perempuan berusia setengah baya itu langsung berjalan menghampiri Risa, melihat keadaan Risa dalam jarak yang lebih dekat. “Ya ampun non Risa kenapa ?” tanya Bi Imah, sambil menatap Risa. “Dia kekunci di kamar mandi Bi, tolong gantiin bajunya ya Bi, saya mau hubungi istri saya dulu” ujar Dimas, yang langsung diangguki oleh Bi Imah. Setelah itu. Dimas memutuskan untuk keluar agar lebih leluasa menghubungi istrinya tanpa mengganggu Risa. Namun, saat kakinya hendak melangkah keluar, tanpa sengaja Dimas mengijak sebuah map berwarna cokelat yang tentunya berhasil memunculkan rasa penasaran didalam hatinya. Mata Dimas terbelalak kaget saat dia membuka map tersebut dan menemukan sebuah transkrip nilai hasil Ujian Nasional yang menurut Dimas sangat sempurna, dengan nilai hampir semua seratus kecuali Bahasa Indonesia yang hanya mendapat nilai 90, dan dalam dokumen itu tertera dengan jelas nama Diana Merissa. “Kenapa Risa enggak cerita nilai Ujiannya sesempurna ini” gumam Dimas, dengan mata yang masih terlihat kagum menatap kertas yang saat itu masih dia pegang. “Masih ada ternyata, ini apa ya ?” gumam Dimas, sambil kembali memeriksa isi map saat dia sadar jika di dalam masih ada. Dahi Dimas seketika mengernyit bingung saat dia melihat dua formulir perndaftaran masuk perguruan tinggi ada di dalam map. Bahkan, Dimas sempat tidak sadar jika salah satu dari formulir itu adalah formulir yang dikeluarkan oleh kampus yang ada di Singapore. Saat itu, dalam kepala Dimas berputar banyak pertanyaan, apakah mungkin Risa berniat melanjutkan pendidikannya di Singapore. “Mas non Risa sudah bangun” ujar Bi Imah, berhasil membuat Dimas tersadar dari lamunannya. Mendengar Risa sadar, Dimas langsung memasukan dokumen yang sempat dia keluarkan dari dalam map, kemudian masuk untuk menemui Risa. “Aku takut” ujar Risa, saat Dimas sudah duduk dipinggir ranjang dan menatap Dimas dengan tatapan yang terlihat sangat ketakutan.             Mendengar perkataan Risa, hati Dimas benar – benar merasa sangat terluka, dia tidak suka melihat Risa terluka, dia tidak suka melihat Risa menderita. Pelan – pelan, Dimas membawa tangan Risa ke dalam genggaman tangannya, dengan cara itu Dimas berharap Risa paham jika dia tidak pernah sendirian, karena dia akan selalu ada untuk Risa. “Jangan takut lagi, karena mulai sekarang om akan selalu ada buat kamu, kamu enggak akan sendiri lagi, gimana kalau mulai sekarang kamu tinggal dirumah om sama nenek aja ?” tanya Dimas, sambil menatap Risa lekat – lekat. “Tapi om …”, Dimas langsung menempelkan jari telunjuknya dibibir Risa, karena dia tahu apa yang akan keponakannya itu katakan. “Risa mereka enggak peduli sama kamu, jadi kenapa kamu harus peduli sama mereka” ujar Dimas, memotong ucapan Risa sambil menatap dia tepat dibagian matanya. Dimas tahu jika perkataannya pasti akan sangat menyakiti perasaan Risa, karena semua itu sangat terlihat jelas dari matanya Risa yang tampak menunjukan luka, luka yang terlihat sangat sakit. “Aku enggak pernah tahu gimana rasanya disayang sama Mamah dan Papah, aku gak pernah melewati waktu liburan sama Mamah dan Papah om, jadi meskipun aku tidak bisa selalu menghabiskan banyak waktu bersama mereka, setidaknya tinggal didekat mereka walau tidak dalam waktu yang lama sudah cukup membuat aku bahagia” ujar Risa, dengan suara yang terdengar bergetar dan mata yang terlihat berkaca – kaca. Itulah Risa yang sebenarnya, dibalik ketegasannya, dibalik sikapnya yang dingin, kaku, dan terlihat tangguh, dia merupakan sosok yang rapuh dengan segudang luka yang selalu dia pendam sendiri, tanpa dia bagi pada siapapun. Gadis yang terlihat sangat kuat itu nyatanya adalah gadis yang tidak berdaya dengan semua beban dan luka – lukanya. “Om tahu Sa om tahu, dan om mohon mulai sekarang kamu tinggal dirumah om sama nenek dan Tante Zahra juga” ujar Dimas, sambil mengelus dahi Risa yang terlihat berkeringat dingin karena rupanya gadis itu benar – benar terserang demam. “Jika memang kamu sayang sama Om, maka Om mohon ikutlah tinggal di rumah nenek agar kita bisa tinggal bersama – sama, anggaplah Om dan Tante Zahra sebagai orang tua kamu mulai sekarang, Om mohon jangan buat om selalu dihatui oleh rasa khawatir dengan kamu lebih memilih untuk tinggal dirumah ini” lanjut Dimas, sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Risa. Risa mendongak menatap mata Dimas yang sedang menatap kearahnya juga, dari mata itu Risa bisa melihat ada sebuah ketakutan yang terpancar sangat besar, dan Risa juga tahu dari setiap kata yang baru saja Dimas sampaikan, pamannya itu sedang tidak becanda. Meskipun Dimas sosok paman yang sering kali usil dan jahil, tapi Risa tahu jika dia merupakan orang yang paling peduli dan sangat menyayanginya. “Sekarang ayo kita kerumah sakit badan kamu tambah panas” ujar Dimas, sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Risa. Mendengar rumah sakit, Risa langsung menggelengkan kepalanya, gadis itu dengan keras kepalanya selalu saja menolak ketika Dimas ajak ke rumah sakit. Tidak peduli separah apapun sakitnya, dia selalu menolak ketika Dimas ajak untuk pergi ke rumah sakit.  “Badan kamu demam tinggi Sa, ayo kita kerumah sakit sekarang” bujuk Dimas, ketika Risa tetap tidak mau diajak ke rumah sakit. “Pokoknya aku enggak mau Om” jawab Risa, sambil memejamkan matanya pura – puura tertidur. Dimas menghela nafas saat dia sudah tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa untuk membujuk Risa. Karena keras kepala Risa memang sudah sangat akut, hingga Dimas sendiri sudah tidak punya kekuatan apapun untuk menghadapinya. “Risa, kamu harus ke rumah sakit sayang,” suara yang terdengar lembut itu tiba – tiba hadir memecah suasana sunyi yang sedang tercipta dikamar Risa, membuat Dimas yang sejak tadi diam memikirkan cara untuk membujuk Risa, dan Risa yang sedang pura – pura tidur langsung menoleh kearah ambang pintu. “Tapi aku enggak mau Tan” ujar Risa, dengan suara yang lebih terdengar seperti rengekan manja. Melihat Risa yang tiba – tiba bisa berubah manja setelah kehadiran Zahra, dahi Dimas tiba – tiba berkerut bingung karena dia merasa heran melihat Risa yang bisa bertingkah manja kepada Zahra yang belum lama dia kenal. Sedangkan, kepadanya saja yang selalu membersamai Risa sejak gadis itu masih kecil, Risa masih sering bersikap biasa bahkan terkesan dingin. “Kenapa ? paling lama dirawat dua hari aja” bujuk Zahra, sambil membelai kepala Risa yang masih berbaring diatas ranjangnya. “Okey, kalau gitu gimana kalau kamu periksa aja ke rumah sakit, abis itu langsung pulang gak usah dirawat” bujuk Zahra lagi, saat Risa masih tidak mau diajak ke rumah sakit. Selama beberapa saat Risa terdiam, dia nampak berpikir, baru setelah itu dia menganggukan kepalanya. Melihat hal itu, Dimas dan Zahra sama – sama tersenyum karena merasa lega akhirnya Risa bersedia diajak ke rumah sakit meskipun hanya untuk diperiksa saja.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD