#R – Bayangan Menyakitkan

1069 Words
Setelah membayar buku yang sempat diperebutkan bersama seseorang yang tidak dia kenal, Risa langsung pergi meninggalkan toko buku tersebut. Selama beberapa saat, Risa sempat terdiam saat dia tidak tahu kemana lagi harus pergi, karena dia tidak mungkin menghampiri Dimas dan Zahra yang dia biarkan menghabiskan waktu bersama. Sejurus kemudian Risa langsung berjalan mengelilingi area mall, mencari tempat yang sekiranya bisa nyaman untuk dia duduk sambil membaca buku yang baru saja dia beli. Namun, dari arah belakang orang yang sempat berebut buku bersama Risa, ternyata masih belum menyerah untuk memiliki buku yang jelas saat itu sudah menjadi milik Risa. “Mbak, Mbak buku itu milik saya, tolong kembalikan” ujarnya, saat dia sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan langkah Risa, nafasnya terdengar sedikit terengah tanda jika beberapa saat lalu dia sempat berlari untuk mengejar Risa. “Mbak denger enggak saya itu bicara sama kamu” ujarnya lagi, sedikit emosi karena Risa hanya diam tidak memberikan tanggapan apapun dengan wajah dingin dan acuhnya. Risa langsung menghentikan langkah kakinya, kemudian dia menatap sosok manusia yang menurut Risa sangat menyebalkan dengan tatapan dingin, datar, dan tajam. Risa merasa tidak terima saat dia mengatakan jika buku yang saat itu sudah jelas milik Risa  dia klaim sebagai miliknya. Saat itu, Risa merasa seperti di tuduh mengambil barang orang, padahal buku itu sudah jelas Risa beli dari tokonya. “Saya yang bayar, berarti buku ini milik saya” jawab Risa, tidak kalah tegas dan mengangkat buku yang saat itu masih dia pegang tepat di depan wajah orang yang sejak tadi mengejarnya.  Setelah itu. Risa langsung berlalu meninggalkan orang itu begitu saja. Kemudian, Risa langsung mencari tempat ternyaman yang bisa dia gunakan duduk sambil membaca buku.  Tepat ketika dia melihat kursi panjang yang di sediakan pihak mall untuk para pengunjung, Risa langsung mendudukan tubuhnya di sana. Setelah itu, Risa mulai hanyut dengan isi buku yang sudah mulai dia baca, dengan teliti matanya mulai menyusuri setiap untai kata yang tertulis, dan otaknya mencerna makna setiap rentetan kalimat yang ada didalamnya. Terlalu asik membaca buku, Risa sampai merasa kehausan, beruntung dia selalu siap sedia membawa tas selempang sedang yang selalu dia bawa kemana - mana. Namun, bersamaan saat Risa mengeluarkan botol dari dalam tasnya, ada sebuah foto yang ikut tertarik keluar, tiba – tiba bibirnya melukiskan senyuman kecil saat ingat memori dimana Dimas mengambil foto itu secara diam – diam. Kemudian, Risa menyelipkan foto tersebut dalam halaman buku yang terakhir dia baca.  Sejauh jumlah halaman yang sudah Risa baca, dia masil belum menemukan hal menarik dari dalam buku yang baru saja dia miliki itu. Selain itu, mungkin karena Risa membacanya di tempat umum jadi mengurangi tingkat konsentrasi Risa memahami makna dari buku tersebut. “Makannya jadi anak itu jangan bandel, kamu itu menyusahkan sekali tahu enggak ?”  Kepala Risa yang sejak tadi tertunduk karena membaca buku, akhirnya mendongak saat dia mendengar suara seseorang yang memanggil – manggil namanya. Tidak jauh dari tempat duduk, Risa bisa melihat seorang perempuan sedang memarahi sambil menjewer telinga anak kecil yang Risa yakin adalah anaknya. Anak kecil itu terlihat menangis menerima perlakuan ibunya, kemudian dari dalam toko mainan tidak jauh dari tempat ibu dan anak itu sedang berdiri, Risa bisa melihat seorang laki – laki yang Risa yakin adalah ayahnya keluar dan menghampiri ibu dan anak itu. “Lihat apa yang kamu lakukan, memalukan, udah nangis – nangis jatuhin mainan lagi, Ayahkan jadi harus ganti rugi !!”  Laki – laki yang Risa yakin berstatus ayahnya itu ikut memaki – maki anak kecil yang Risa yakin masih belum mengerti apapun. Risa yang masih duduk ditempatnya bisa melihat dengan jelas bagaimana cara sepasang suami istri itu memperlakukan anaknya. Melihat anak kecil tidak berdosa  yang sedang terisak menangis, hati Risa merasa iba, dia tahu bagaimana rasa sakit yang anak itu rasakan, rasanya sangat sakit sekali. Terlalu hanyut memperhatikan anak kecil itu, tiba – tiba Risa terbayang masa – masa dimana dia yang sering kali menangis sendiri, dalam kesakitan yang tidak tampak, karena rasa sakit itu terbentuk di dalam hatinya. Semua bayang – bayang perlakuan ke dua orang tuanya tiba – tiba berseliweran dalam pikiran dan ingatan Risa. Risa berusaha menghilangkan bayang – bayang yang tiba – tiba memunuhi kepalanya, tapi semakin Risa berusaha menghilangkannya bayang – bayang tatapan kebencian ayahnya justru seakan terlihat nyata di mata Risa, ujaran kebencian ayahnya seakan terngiang jelas di sampingnya. "HEH ANAK PEMBAWA SIAL, KENAPA KAU MASIH HIDUP, AKU TIDAK MENGHARAPKAN MU," untuian kalimat yang syarat akan kebencian dengan tatapan tajam yang terpancar dari mata ayahnya kembali terngiang semakin nyata. Membuat Risa semakin tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, semua kenangan menyakitkan itu berhasil membuat Risa kembali merasa terluka padahal saat itu dia hanya mengingat dan terbayang saja. Risa berusaha menutup telinganya, berusaha menghentikan teriakan – teriakan yang tiba – tiba bersahutan masuk ke dalam terlinganya. Risa semakin berusaha menutup telinganya lebih keras, tapi teriakan ayahnya semakin terdengar jelas dalam telinganya, padahal saat itu yang Risa dengar bukan muncul dalam nyata melainkan dari sugesti pikiran dan ingatannya. Risa yang semula duduk tenang, kemudian berubah menjadi Risa yang duduk dengan keadaan gelisah. Sekarang, Risa justru terlihat ketakutan, saat matanya tiba – tiba melihat semua yang ada di mall menjadi berwajah ke dua orang tuanya. Risa berusaha mengucek matanya, tapi saat itu yang Risa lihat benar – benar wajah orang tuanya yang sedang sedang menatap Risa dengan tatapan penuh kemarahan. Bahkan sekarang, orang – orang berwajah ayah dan ibunya terlihat mentap kearah Risa, dan berjalan menghampirinya, seakan mereka hendak mengepung Risa. Semua itu, tentu membuat Risa semakin ketakutan, padahal jika Risa bisa melihat semua dengan lebih tenang, di sekelilingnya masih terlihat baik – baik saja, tidak ada satupun orang yang sedang menatap atau berniat mengepung Risa, karena semua yang Risa lihat muncul dari sugesti rasa takutnya. “Enggak mah, pah jangan, aku sudah terlalu sakit jika harus kembali menerima perlakuan kasar kalian” gumam Risa, sambil menutup telinga dan memejamkan matanya erat – erat. “Aku  mohon jangan” lanjut Risa, yang sudah terisak menangis masih sambil menutup telinga dan matanya erat – erat. Beberapa orang – orang yang berlalu lalang di sekitar Risa ada yang menatap dengan tatapan heran, ada yang menatap Risa bingung, dan ada juga yang sudah menghampiri Risa, menanyakan apakah keadaan Risa baik – baik saja atau tidak. Namun, karena saat itu Risa sudah kehilangan kontrol, tidak ada satupun pertanyaan dari beberapa orang yang sedang menanyakan keadaannya yang Risa jawab. Justru, Risa terlihat ketakutan saat orang – orang mulai mengerumuninya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD