#R – Pertemuan Pertama

1248 Words
Senyuman tidak sedikitpun pudar dari wajah Dimas setelah kemarin Risa menyatakan jika dia akan kembali melanjutkan pendidikannya, perasaannya yang semula sempat  khawatir akhirnya terasa sedikit lega saat dia yakin jika Risa sudah kembali menjadi Risa yang peduli pada kehidupannya sendiri. Pagi ini Dimas sengaja mengajak Risa dan Zahra jalan – jalan, mereka hanya bertiga tanpa ada Nenek Rianty yang ikut karena dia sedang pergi keluar kota mengontrol salah satu cabang butiknya. Seperti itulah memang kegiatan Nenek Rianty di usianya yang sudah tidak lagi muda, dia masih terlihat semangat mengelola bisnis butiknya. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak tahu, mereka akan mengira jika Dimas, Zahra, dan Risa adalah keluarga harmonis yang sedang jalan bersama. Padahal, Risa hanya keponakan Dimas saja, tapi saat itu Risa memang lebih pantas menjadi anak Dimas dan Zahra saja. “Sa, kamu mau kita kemana ?” tanya Dimas, sambil menatap sekitar mall, berusaha mencari sesuatu yang sekiranya bisa menjadi keinginan Risa. “Kamu kenapa diam aja ?” tanya Dimas lagi, saat Risa tidak kunjung memberikan respon apapun. Zahra dan Dimas kompak menoleh kearah Risa karena sejak tadi gadis itu hanya diam, keduanya seakan menelisik keadaan Risa apakah gadis itu baik  -  baik saja atau tidak. Padahal diamnya Risa saat itu karena dia bingung, tadi dia ikut pergi ke mall karena dia  diajak oleh Zahra dan Dimas tapi sebenarnya dia tidak tahu pergi ke mall untuk apa. “Enggak tahu, aku ikut kalian aja, kenama kalian pergi aku ikut” ujar Risa, dengan wajahnya yang masih terlihat dingin tanpa ekspresi. “Atau gini aja, om sama tente mau kemana ?” “Loh, loh ko ini malah jadi kamu yang nanya sama kita” ujar Dimas, merasa heran. Pasalnya, rencana Dimas dan Zahra mengajak Risa pergi ke mall adalah untuk mengajak Risa jalan – jalan dan menuruti semua yang Risa inginkan, sebagai bentuk hadiah karena dia sudah berani mengambil keputusan untuk melanjutan pendidikannya lagi. Meskipun kampus mana yang akan dia pilih masih belum pasti, tapi setidaknya keberanian Risa untuk mau memutuskan sekolah lagi itu sudah sangat luar biasa menurut Dimas. “Kitakan niatnya ajak kamu jalan – jalan, jadi harusnya kamu dong yang putuskan kita mau kemana” ujar Paris, sambil menatap sekeliling mencoba mencari ide kemana dia harus mengajak Risa pergi. “Sekali – kali jangan aku mulu dong yang diajak jalan – jalan, Tante Zahra tuh ajak jalan – jalan, liburan keliling eropa ke, makan malam romantis ke, apaan ke, ini punya istri cantik malah di suruh diem aja dirumah, kan kasihan Tante  Zahra harus tinggal di rumah terus dan liat wajah Om Dimas yang nyebelin dan enggak enak dipandang itu” ujar Risa, dingin yang berhasil membuat Dimas menoleh dengan tatapan sinisnya. Sadar jika saat itu Dimas sedang menatapnya karena kesal mendengar perkataannya, Risa berusaha terlihat biasa saja, dia berusaha tidak peduli. Sedangkan disampingnya, Zahra terlihat menahan senyum karena mendengar perkataan Risa sekaligus karena melihat ekpresi kesal suaminya. “Oh jadi sekarang kamu maunya gitu Sa, ko nyebelin, kamu tahukan kalau kamu nyebelin apa hukumannya ?” tanya Dimas, sambil mengangkat sebelah alisnya. “Enggak” jawab Risa, sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Dimas dan Zahra dibelakangnya. Risa bukan tidak tahu atau lupa, justru dia mempercepat langkahnya dan meninggalkan Dimas bersama Zahra karena dia masih ingat dengan jelas, hukuman yang akan dia terima jika membuat Dimas kesal adalah di kelitiki hingga Dimas merasa puas mengelitikinya. Setelah berhasil menghindari Dimas, Risa terdiam sambil menatap sekeliling, mencoba berpikir kemana dia harus pergi untuk menghabiskan waktu selama dia menunggu Dimas dan Zahra berpacaran. Sampai akhirnya mata Risa melihat keberadaan sebuah toko buka, kakinya langsung melangkah tanpa ragu memasuki toko buku tersebut. “Aku ditoko buku, kalian yang anteng aja pacaran,” pesan itu Risa kirim sebelum dia memilih buku – buku. Karena jika dia membiarkan dirinya bersentuhan dengan buku – buku terlebih dahulu, maka Risa tidak akan ingat untuk mengabari Dimas atau Zahra sampai mall benar – benar akan tutup. Risa melangkah kakinya pertama kali pada bagian buku novel, dia sempat memilih beberapa judul dan membaca blurd ceritanya. Hanya saja, belum ada satupun novel yang berhasil menarik perhatian Risa. Akhirnya, Risa mencoba melangkahkan kakinya menuju deretan rak yang berisi kumpulan buku – buku keagamaan. Matanya dengan jeli menelisik setiap judul yang selama ini belum pernah dia dengar, KETEGUHAN MUHAMMAD DAN SEJATINYA CINTA FATIMAH  BERSAMA ALI. Judul itu tanpa sengaja Risa baca diantara beberapa deretan buku yang lainnya, judul buku itu berhasil membuat Risa merasa penasarasan dengan bagaimana isinya, karena dari judul bukunya saja sudah berhasil membuat Risa merasa penasaran. Risa langsung mengambil buku tersebut. Namun, di waktu bersamaan ada seseorang yang ingin mengambil buku yang Risa inginkan juga, sehingga bukannya memegang buku tangan Risa justru memegang tangan orang itu. Risa langsung menoleh ke sampingnya, di sana berdiri seseorang yang sedang menatap Risa menggunakan mata hazelnya. Selama beberapa saat keduanya sempat terdiam, sampai akhirnya Risa langsung menyingkirkan tangan orang itu dan dengan cepat langsung mengambil bukunya lebih dulu. Sedangkan dia masih berdiri mematung menatap kearah Risa, bahkan dia sampai tidak menyadari jika buku yang menjadi incarannya juga sudah diambil Risa. “Eh Mbak, Mbak, itu buku saya” ujarnya, sambil berjalan menyusul Risa menuju meja kasir. “Mbak itu buku saya" ujarnya lagi, saat dia sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan kaki Risa. “Saya mau beli bukunya” ujarnya, sambil mendahului langkah Risa kemudian berdiri dihadapan Risa, menghalangi jalan Risa yang ingin pergi ke kasir untuk membayar buku. Namun, bukan Risa namanya jika dia bisa beramah tamah kepada orang lain, apalagi orang itu adalah orang yang sudah mengusiknya. Risa hanya menatap sosok dihadapannya dengan wajah dingin dan tatapan tajam. Namun, orang dihadapannya saat itu, seakan tidak peduli dengan seberapa dinginnya wajah Risa, seberapa tajamnya tatapan Risa. Karena setelah berhasil mecegat langkah Risa dia terus memaksa agar buku yang ada di tangan Risa diserahkan kepadanya. “Saya juga” ujar Risa, sambil mengangkat bukunya tepat di depan mereka, kemudian langsung menyembunyikannya di belakang badan, saat sosok dihadapannya hendak mengambil buku itu. “Tapi yang pertama kali melihat bukunya itu saya, Mbak” ujarnya, tidak mau kalah. Namun, menurut Risa untuk mendapatkan buku yang saat itu sudah berada ditangannya bukan perkara tentang siapa yang pertama kali melihatnya, tapi tentang siapa cepat dia yang dapat. Sekarang, buku itu sudah ada di tangannya, maka menurut Risa dia yang berhak mendapatkannya. Risa tidak peduli dia atau dirinya yang melihat buku itu pertama kali, karena yang pasti buku itu sudah ada ditangannya, berarti dia yang berhak mendapatkannya. “Awas saya mau lewat” ujar Risa, saat dia sudah mulai kesal karena orang yang berada dihadapannya tidak kunjung mau menyingkir. Risa menatap sosok dihadapannya masih dengan tatapan tajam, saat itu dia baru menyadari jika sosok orang dihadapannya jauh lebih menyebalkan dari pada Amel yang selama ini selalu menguntitnya kemanapun dia pergi selama di sekolah. Bahkan, Risa pikir jauh lebih baik Amel karena dia menunjukan sifat menyebalkannya itu ketika mereka sudah saling mengenal, sedangkan orang dihadapannya bahkan Risa baru pertama kali melihat wajahnya, tapi dia sudah bertingkah menyebalkan dengan menghalang – halangi jalannya.  “Tapi saya mau bukunya” ujarnya, masih berusaha meminta buku yang jelas sudah ada ditangan Risa. “Bukunya ada ditangan saya, berarti buku  ini milik saya” ujar Risa, dengan tatapan dingin, tajam dan datar. Risa sedikit mendorong tubuh sosok dihadapannya yang terus saja mengahalagi jalannya. Kemudian, Risa kembali melanjutkan langkahnya menuju kasir untuk membayar buku. Risa tidak peduli apa yang nanti akan di pikirkan orang itu, karena yang pasti dia sudah mengusiknya dan Risa tidak ingin mengalah darinya.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD