#R – Cinta Pencipta Trauma

1694 Words
Luka lebam dan perban yang menghiasi beberapa bagian tubuh Risa bisa menjadi bukti jika keadaan Risa belum baik – baik saja. Namun, Risa tetap memaksa ingin berangkat sekolah, Nenek Rianty dan Zahra berusaha memberikan Risa pengertian agar sebaiknya gadis itu beristirahat dirumah saja selama beberapa hari. Namun, Risa dengan sikap keras kepalanya berhasil membuat Dimas, Nenek Rainaty dan Zahra untuk mengizinkannya berangkat sekolah saja dengan syarat Risa harus mau diantar oleh Dimas. Pagi itu, keadaan jalanan cukup lenggang sehingga Risa bisa tiba disekolah lebih pagi dari biasanya. Awalnya, Risa pikir belum ada siapapun dikelasnya karena masih terlalu pagi, tapi ternyata sudah ada beberapa temannya yang sudah datang termasuk Amel teman sebangku Risa. “Sa kemarin kemana ? kenapa kamu enggak masuk sekolah ?” tanya Amel, saat melihat Risa datang. “Wajah kamu kenapa biru – biru begitu Sa ?” tanyanya lagi, saat Risa sudah berhasil duduk disampingnya, tempat dimana Risa selalu duduk. Amel terusa berusaha mengajak Risa bicara, tapi Risa saat itu tetap saja diam, seakan tidak tertarik untuk menanggapi pertanyaan Amel. Risa duduk dengan tenang, berusaha untuk tidak menggubris teman disampingnya yang tidak pernah bisa diam. “Sa Senin besok kita UN, pasti kamu bakal dapet nilai paling gede, padahalkan usia kamu yang paling muda diantara kita semua, kamu enam belas tahun dan kita delapan belas hapir sembilan belas malah” ujar Amel, sambil membalik posisinya jadi menghadap kearah Risa. “Sa kamu enggak mau cerita apa tentang luka – luka kamu ini ?” tanyanya lagi, dia berusaha untuk terus mencari topic pembicaraan bersama Risa, karena saat itu Risa benar – benar diam tidak tertarik dengan pembicaraan Amel. Seperti itulah memang sosok Amelia Ananta, sosok gadis ceria yang selalu berusaha menarik dan mencuri hati Risa agar mau berteman dengannya. Namun, hampir tiga tahun Amel berusaha untuk bersikap ramah kepada Risa, berusaha mencuri hati Risa, tapi semua itu tidak pernah berakhir dengan Risa yang luluh padanya. “Apa yang kamu mau ? kamu selalu ganggu aku, kamu selalu membuat aku pusing dengan melawan mereka yang enggak suka sama aku, kamu selalu berusaha mendekati aku, asal kamu tahu aku enggak butuh pembelaan apapun dari kamu, aku tanya apa sebenarnya yang kamu mau dari aku ?” tanya Risa, sambil menatap Amel dengan tatapan dingin dan tajam. Akhirnya, kalimat yang selama ini selalu Risa pertanyakan pada hatinya sendiri, keluar dan dia benar – benar tanyakan pada Amel. Amel selalu mengusik Risa dengan berbagai cara, dan Risa tidak menyukainya. Mencari teman, bergaul bersama teman, itu terserah jika ingin dia lakukan karena itu adalah haknya, hanya saja yang Risa inginkan, jika Amel ingin melakukan hal itu jangan melibatkan dirinya karena Risa tidak akan mau, dia hanya ingin tenang tanpa ada yang mengusiknya sedikitpun. “Pengakuan sebagai teman dari kamu Sa, aku mau kamu mengakui aku sebagai sahabat kamu,  itu yang aku inginkan, bisa kamu berikan itu sama aku Sa ?” tanya           Amel, sambil menatap Risa penuh keseriusan. “Aku bahkan tidak pernah menganggap kamu” jawab Risa, dingin, tajam dan menusuk. Seperti itulah memang Risa, dia selalu mengatakan apa yang memang ada dalam kepalanya. Kalimatnya yang terdengar dingin dan tajam akan sangat mungkin membuat orang – orang yang mendengarnya merasa sakit hati, dan itulah yang Risa harapkan, Amel merasa sakit hati dengan ucapannya barusan dan setalah itu dia tidak lagi mengganggu kehidupannya lagi. Namun, beberapa kali Risa melakukannya, Amel seakan tidak pernah merasa sakit hati, seakan ucapan yang Risa sampaikan hanyalah ucapan biasa saja. “Maka belajarlah menerimaku” ujarnya sambil tersenyum tulus. Amel membawa tangan Risa ke dalam genggaman tangannya, merasakan tangannya yang berada dalam genggama tangan Amel, hati Risa menghangat. Dia merasa seperti ada orang yang mepedulikannya, dan selama ini dia hanya merasakan kehangatan itu dari sosok Dimas dan Neneknya saja. Namun, saat Risa tersadar dia  langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Amel, hatinya yang hampir saja luluh, seakan kembali mengeras, seakan ada sesuatu yag berusaha membentengi dirinya sendiri, agar jangan mempercayai orang lain. Selama ini, sudah cukup dia hancur karena orang tuanya sendiri, sudah cukup dia terluka karena ulah orang tuanya sendiri. Bongkahan hatinya sudah hancur berkeping – keping karena semua penderitaan yang dia alami selama ini, dan semua itu terjadi karena orang tuanya sendiri. Jadi, atas semua luka, derita dan kehancuran yang dia rasakan, Risa merasa sudah sepantasnya jika dia tidak mempecayai orang lain lagi, karena dia tidak ingin memberi peluang hatinya terluka semakin besar lagi. *** Setelah selesai jam istrirahat kedua, mata pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia, karena minggu ini adalah minggu terakhir melakukan pembelajaran, jadi guru mata kuliah Bahasa Indonesia memutuskan untuk memberi tugas akhir kepada murid – murid. Mereka diminta membuat sebuah alat praga yang bertemakan tata surya, mata pencaharian, dan kebudayaan. “Yes, kita satu kelompok Sa” ujar Amel, yang sudah terlihat senang karena dia tahu akan satu kelompok dengan Risa. Sementara Risa, memilih untuk diam, karena dia tidak pernah tertarik dengan yang namanya tugas kelompok. Dia hanya sibuk mencoret – coret bukunya tidak jelas. Tidak peduli dengan siapa akan bekerja kelompok bahkan jika tidak mendapat teman kelompokpun Risa seakan tidak mempedulikannya. “Sa, kita kerjainnya sekarang aja yu, kamu maunya kita kerjain dimana ? aku ngikut kamu aja” tanya Amel, terlihat sangat antusias. “Dirumah aku apa dirumah kamu ?” lanjutnya, sambil menatap Risa. Amel kembali bertanya karena Risa tidak kunjung memberikan jawaban apapun, tapi Amel tetaplah Amel yang tidak pernah mudah menyerah dan tidak mudah tersinggung juga dengan sifat dan perlakuan Risa kepadanya. Sebagai seorang teman Amel merasa jika dia hanya perlu memakluminya saja, dia hanya harus membiasakan diri dengan sikap dingin, kaku dan cuek Risa. “Terserah” jawab Risa, sambil bangkit dari posisi duduknya. Amel tersenyum mendengar jawaban Risa yang terkesan tidak peduli, Amal pikir jika memang Risa tidak peduli bukan berarti dia tidak peduli pada tugas mereka, tapi tidak peduli dimana mereka akan mengerjakan tugasnya. Amel merasa jika sekarang adalah kesempatan terbesar baginya untuk bisa berkunjung ke rumah Risa dan menjalin pertemanan lebih dekat dengan Risa. “Gimana kalau dirumah kamu aja ?” tanya Amel, sambil menatap Risa dengan harap – harap cemas. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Risa, dia hanya diam sambil terus melanjutkan langkah diikuti Amel yang masih setia mengekor disampingnya. Namun, diamnya Risa saat itu bisa Amel simpulkan jika dia setuju untuk mengerjakan tugas di rumanya. Hal itu, semakin membuat senyuman mengembang dibibir Amel, karena dia bahagia akan segera berkunjung ke rumah Risa. Diperjalanan pulang, mereka memutuskan untuk mencari bahan – bahan untuk pembuatan alat praga mereka. Baru setelah semua alat didapatkan, mereka memutuskan langsung pulang ke rumah Risa menggunakan taxi. Sesampainya dirumah Risa, mereka langsung mengerjakan tugas, mereka memilih tema sistem tata surya sebagai tema tugasnya. Keduanya fokus dalam pengerjaan tugas hingga tidak menyadari jika hari sudah mulai malam. Dengan sedikit buru – buru Amel langsung merogoh tasnya, mencari ponsel agar bisa segera menghubungi ibunya, tapi baru saja dia ingin menelpon, handphone justru mati lebih dulu, Amel berusaha untuk menyalakannya lagi, tapi baru saja menyala handphonenya kembali mati lagi. Melihat hal itu Risa langsung menyodongkan ponsel miliknya, Amel tersenyum melihat tindakan Risa, karena Amel tahu jika Risa meminjamkan ponselnya. “Kalau kemaleman mending nginep aja” ujar Risa, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya kearah Amel, dia bicara sambil fokus merapihkan beberapa bagian dari tugas mereka yang belum rapih. Lagi – lagi Amel menganggukan kepalanya, dia bahagia dan bersyukur mendengar ajakan Risa, karena jika dia sudah mengajak Amel bicara bahkan mengajak Amel menginap, kemungkinan besar Risa sudah mulai membuka diri untuk menerima dia sebagai temannya. Jadi, Amel berusaha meyakinkan dirinya, jika dia hanya perlu berjuang sebentar lagi agar bisa benar – benar meluluhkan hati Risa. Akhirnya, seperti yang Risa tawarkan Amel memutuskan untuk menginap dirumah Risa, mereka tidur dikamar Risa bersama – sama. Amel tidak pernah menyangka jika dia akan mengalami hal itu, diizinkan mengerjakan tugas dirumah Risa saja Amel sudah sangat bahagia, apalagi jika ditambah menginap dan tidur besama Risa didalam kamarnya. Tidak tahu jam berapa mereka memutuskan untuk tidur, tapi yang pasti sudah sangat larut. Karena saat Amel meminta izin kepada Risa untuk mengambil air minum di dapur, lampu dirumah Risa sudah dimatikan tanda jika Bi Imah juga sudah beristirahat. Namun, tidur lelap Amel sedikit terusik dan membuat dia akhirnya terbangun saat mendengar suara seseorang, atau lebih tepatnya suara Risa yang sedang mengigau didalam tidurnya. “Jangan Mah, jangan kepala aku sudah sangat sakit, perut aku juga sakit Pah, ampun Mah, ampun Pah sakit” ujar Risa, masih dengan mata terpejam, tapi dia terlihat bergerak gelisah dengan tubuh yang banjir dengan keringat. Melihat Risa yang mengigau Amel berusaha membangunkannya dengan pelan agar tida membuat dia kaget, tapi bukannya terbangun Risa justru kembali merintih, “Aaah sakit Pah, jangan, jangan tendang perut aku Pah, Mah jangan jambak rambut aku, sakit” ujar Risa, masih dengan suara ringisan dan mata terpejam, yang berhasil membuat Amel merasa kebingungan. “Mamaaaaah jangaaaaaan” teriak Risa, dengan mata yang tiba – tiba terbelalak terbuka. Melihat keadaan Risa, Amel tentu jadi merasa khawatir, dengan sedikit ragu Amel menyentuh pundak Risa, karena saat itu Risa terlihat sangat ketakutan, dia memeluk lurutnya sendiri sambil menatap awas sekitarnya, seakan lingkungannya tidak aman. “Tenang Sa, kamu cuma mimpi buruk aja” ujar Amel, saat dia sudah berhasil menyentuh pundak Risa. Namun, setelah Amel mengatakan hal itu, bukannya tenang Risa justru terlihat semakin ketakuutan, dia semakin mengeratkan pelukan pada lututnya sendiri, matanya yang semula kering tanpa air mata, tiba – tiba menangis begitu saja. Melihat keadaan itu, Amel tentu merasa kebingungan, karena selama dia megenal Risa dia tidak pernah melihat Risa dengan keadaan yang sekarang dia lihat, yang Amel tahu Risa adalah sosok genius, pendiam, dingin, dan cuek. Amel menyodorkan segelas air minum kepada Risa, karena biasanya saat dia mimpi buruk maka ibunya akan memberi dia minum kemudian memeluknya agar tenang. Namun, bukannya menerima Risa justru mendorong tangan Amel hingga membuat gelas yang sedang Amel pegang terlempar dan pecah. Amel melihat jam yang menempel di dinding kamar Risa yang masih menunjukan jam tiga dini hari, masih butuh satu jam lagi untuk sampai diwaktu subuh, Amel merasa tidak enak jika harus membangunkan Bi Imah, tapi saat itu Amel juga sudah bingung dan tidak mengerti mengenai apa yang sedang terjadi pada Risa.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD