#R – Cinta Sama dengan Luka

1635 Words
Setelah kejadian dimana Risa yang tiba – tiba menangis histeris, akhirnya Dimas dan Zahra memutuskan untuk menamani Risa tidur dikamarnya, karena meraka khawatir Risa akan kembali mengalami hal serupa jika dibiarkan sendirian. Pagi ini, seperti yang Dokter sarankan, Dimas berencana mengajak Risa berkonsultasi pada temannya yang kebetulan bekerja sebagai dokter jiwa atau psikiater dirumah sakit jiwa milik keluarganya. Namun, Dimas tidak mengatakan secara jelas kepada Risa, dia hanya mengajak Risa bertamu dengan teman lamanya, yang Dimas yakin Risa juga akan mengenalnya, karena dulu saat Risa masih kecil, mereka sangat dekat. Zahra dan Nenek Rianty yang meminta ikut, sengaja Dimas larang karena jika mereka ikut pasti akan membuat Risa curiga. Dimas sengaja sudah menyeting semuanya bersama temannya yang berprofesi sebagai Dokter jiwa itu, agar saat bertemu nanti semuanya akan benar – benar terlihat seperti pertamuan biasa saja. “Om, kenapa kita ke tempat ini ?” tanya Risa, saat mereka sudah sampai parkiran sebuah bangunan cukup tinggi dengan plang bertuliskan Rumah Sakit Jiwa Pelita. Dimas tersenyum berusaha tetap terlihat tenang agar tidak membuat Risa merasa curiga, “Revankan kerjanya di sini Sa, dia jadi kepala dirumah sakit jiwa ini menggantikan ayahnya yang sudah pengsiun, tadi pas telepon dia bilang mau ketemu dan dia juga minta supaya Om ajak kamu, karena katanya kangen tuh dia” ujar Dimas, sambil menyenggol lengan Risa, yang hanya dijawab dengusan saja, sehingga membuat Dimas tertawa melihatnya. Revan dan Risa, sejak dulu mereka memang tidak pernah bisa akur, sama seperti Risa dan Dimas. Revan dan Dimas yang selalu usil kepada Risa membuat gadis itu selalu menangis dan merengek manja kepada neneknya agar memarahi Dimas dan Revan yang sudah menganggunnya. Selain itu, karena yang Risa tahu Revan adalah teman Dimas, jadi Risa selalu memanggil Revan dengan sebutan om sama dengan sebutan Risa kepada Dimas, hanya saja Revan selalu protes karena dia merasa tidak terima diusianya yang masih SMA harus dipanggil om oleh Risa yang saat itu masih kecil. Risa juga tidak pernah mau mendengar protesan Revan, karena ketika Revan protes, Risa kecil selalu mengatakan dengan tegas jika dia hanya ingin memanggil Revan dengan sebutan om. “Sibuk banget kayanya Dok” ujar Dimas, saat masuk kedalam ruangan Revan dan mendapati dia masih sibuk dengan pekerjaannya.  “Eh hai Dim, udah dateng lo, Ini ..,” Revan menunjuk kearah Risa yang pada saat itu berdiri disamping Dimas dengan wajah datarnya. “Risa, masa lo lupa, bilangnya pengen ketemu sekalinya udah ketemu malah enggak kenal, gimana sih” jawab Dimas, sambil mengeplak pundak Revan, membuat laki – laki itu terkekeh karena merasa pangling dengan penampilan Risa setelah sekian lama mereka tidak pernah bertamu. “Yaampun ini beneran Risa nih, udah gede ya sekarang, makin cantik lagi, udah punya pacar belum Sa, masih jomblo nih” ujar Revan, sambil menatap Risa dari atas hingga bawah. Revan pasti akan sangat merasa pangling dengan penampilan Risa, karena terakhir mereka bertemu adalah saat Revan lulus SMA, tepatnya ketika Risa masih berusia 7 tahun. Revan yang selalu bicara seenaknya dengan jiwa pecicilan yang sangat melekat dalam dirinya dulu, selalu berhasil membuat Risa kecil kesal. Namun, Dimas yakin jika Revan masih menunjukan sikap yang sama pada Risa yang sekarang, pasti dia hanya akan mendapat tatapan dingin dan dengusan tidak suka dari Risa. “Enggak, aku masih kecil, inget yang dirumah jangan ganjen, inget umur udah tua” ujar Risa, terdengar dingin dan menatap Revan sinis, membuat Dimas hampir saja menyemburkan tawanya karena mendengar Risa meledek Revan tua dengan wajah dingin dan kakunya, Revan hanya melempari Dimas dengan pulpen saat tahu Dimas menertawakannya. “Sensi amat sih, abis putus cinta ya ? udah ngaku aja deh keliatan banget dari wajah kamu” jawab Revan, sambil menatap Risa dengan tatapan menggoda, berharap dinginnya sikap Risa bisa luluh, dan Risa yang dulu dia kenal bisa kembali lagi. “Wajah kamu kaya bilang kalau kamu itu lagi putus cinta, udah bilang aja kamu abis putus sama siapa sih ?” tanya Revan, masih belum menyerah begitu saja. Risa menoleh menatap Revan tepat dibagian matanya dengan tajam, tapi dari tatapan mata itu Revan bisa melihat dengan jelas ada sebuah kekecewaan yang sedang Risa pendam.  “Bahkan aku pernah merasakan sebuah rasa sakit melebihi sakitnya putus cinta dengan seorang pacar, aku pernah merasakan sebuah kehancuran hingga aku merasa tidak punya sebuah alasan untuk tetap bertahan, dan aku pernah merasakan sebuah derita melebihi derita ditinggal pacar, jadi jangan pernah bahas masalah rasa sakit, kehancuran dan derita dengan ku, karena sekarang aku sudah tidak bisa merasakan itu, hatiku sudah mati rasa termakan keadaan dan waktu” jawab Risa, sambil menatap Revan dengan tatapan dingin dan tajam tepat dibagian matanya, membuat Revan seakan bisa merasakan seberapa besar kekecewaan yang Risa rasakan. Dimas yang sejak tadi hanya duduk diam disamping Risa, bagai merasakan sebuah tamparan keras mengenai hatinya saat dia mendengar perkataan Risa. Dia jadi semakin yakin jika selama ini Risa sudah banyak melalui hal sulit diusianya yang bahkan masih cukup kecil, dan sebagai seorang paman, Dimas merasa gagal menyelamatkannya. “Gak percaya, gimana dong ?” ujar Revan, sambil menatap Risa dengan wajah yang pastinya sangat terlihat menyebalkan. “Bagi ku, di dunia ini tidak ada yang namanya cinta atau kebahagiaan semuanya hanya kebongan saja, aku pernah mencintai dan menyayangi dengan tulus,  tapi ketulusan itu malah berakhir dengan sebuah rasa sakit dan kekecewaan, dari sana aku mengerti, jika cinta dan sayang ku yang tulus saja berbalas dengan kesakitan dan kecewa, berarti di dunia ini sudah tidak ada lagi cinta dan kasih sayang, bagi mereka diluar sana yang mengaku cinta mencintai aku pikir mereka hanya berbicara kepalsuan” ujar Risa, sambil tersenyum kecut diakhir  ucapannya. Diam, baik Revan ataupun Dimas tidak ada yang berani mengeluarkan suara setelah mendengar pernyataan Risa. Mereka tahu jika cinta yang Risa bahas bukanlah masalah cinta dan kekecewan dengan seorang pacar, tapi membahas cinta kepada orang tuanya sendiri dan berbalas kekecewaan yang besar dan mendalam. “Om aku mau jalan – jalan ya, lama – lama ngobrol sama orang nyebelin ketularan” ujar Risa, sambil melirik kearah Revan, sangat kentara jika saat itu dia sedang menyindir Revan, membuat laki – laki itu terkekeh melihatnya. “Ditemenin suster ya” tawar Revan, yang disetujui oleh Risa, karena saat itu Risa sadar jika dia sedang berada dirumah sakit jiwa, dia tidak mau menerima resiko apapun jika nanti ada salah satu pasien yang mengejar – ngejarnya, untuk menghindari hal itu Risa pikir harus dikawal oleh orang yang bisa menjinakannya. “Jadi ?” tanya Revan, sambil menatap Dimas penasaran setelah kepergian Risa. Sesaat Dimas menghela nafasnya berat, kemudian dia mulai menceritakan semua hal terntang keadaan Risa sebelum dia ajak menemui Revan. Tentang Risa yang tiba – tiba menangis histeris, tidurnya selalu terlihat gelisah, dia juga selalu berteriak jangan pukul aku. “Ada sesuatu yang udah terjadi sama Risa sebelum dia  bersikap kaya gitu, apa ?” tebak Revan, langsung mengenai sasaran. Dimas manatap kearah Revan selama beberapa saat, tidak salah memang dia memlih membawa dan mengonsultasikan masalah yang Risa hadapi kepada Revan, dia terlihat jeli dan teliti mendengar semua hal yang berhubungan dengan Risa. Bahkan Dimas tidak menyangka jika sahabatnya yang dulu selalu pecicilan, menyebalkan, dan sikap lainnya yang bisa membuat orang kesal, bisa membuat Dimas merasa terintimidasi karena dia terlihat sangat serius hingga Dimas merasa tidak mampu mengatakan satu kata kebohongan. “Sebenernya …..” ujar Dimas, menggantung kalimatnya karena ragu, jika dia membeberkan semua hal yang dialami Risa, sama halnya seperti Dimas membicarakan keburukan sifat kakak kandungnya sendiri. “Santai aja Dim, gue udah biasa jaga rahasia pasien gue, lagi pula bagi gue Risa bukan orang lain atau pasien, dia udah gue anggap kaya adek gue sendiri, jadi mana mungkin seorang kakak membocorkan rahasia adiknya sendiri” ujar Revan, masih terlihat serius. Mendengar perkataan Revan, Dimas menganggukan kepalanya, kemudian dia mulai menceritakan semua yang berhubungan dengan Risa dengan sebenar – benarnya, tanpa ada kebohongan. “Tugas lo sekarang Dim, jadilah orang yang selalu ada disamping Risa, jangan buat dia merasa sendirian, dan pastikan jika semua yang udah terjadi sama Risa enggak akan pernah terulang lagi, kali ini Risa udah kena gangguan PTSD ( Post – Traumatic – Stress – Disonder)” ujar Revan, sambil menatap Dimas penuh keseriusan. “Dia akan ketakutan dan berteriak histeris kalau, liat atau merasakan secara langsung pengalaman buruk yang selama ini dia rasakan” lanjut Revan, sambil menatap Dimas dengan penuh keseriusan. Mendengar pernyataan Revan, tentu saja Dimas merasa sangat terpukul, sebagai paman Risa, Dima merasa sangat tidak berguna, dia sudah terlambat menyelamatkan Risa. Dia tidak bertindak lebih awal, dia lalai karena membiarkan Risa teraniaya oleh tangan orang tuanya sendiri. “Apa masih bisa disembuhkan, Van ?” tanya Dimas, sambil menatap Revan khawatir dan penuh harap. “Mereka penderita PTSD bisa sembuh kalau memang mereka mempunyai semangat yang besar dalam diri mereka, tugas kita hanya memberi dia semangat, buat dia sadar bahwa dunia ini terlalu indah untuk dia lewatkan begitu aja, kita harus bantu dia keluar dari ketakutan dan keterpurukannya, dan satu hal lagi jangan sampai dia stress atau mengalami hal yang sama lagi karena hal itu bisa memperburuk keadaannya” jelas Revan, berusaha memberikan pemahaman kepada Dimas yang belum mengetahui apapun tentang PTSD atau Post – Traumatic – Stress – Disonder. “Thank Van, gue harap lo mau tarus bantu gue sama Risa” ujar Dimas, sambil menyalami tangan Revan layaknya dua sahabat. “Pasti Dim” jawab Revan, dengan pasti. Ada sebuah kelegaan yang muncul dalam hati Dimas setelah dia berbicara dengan Revan, setidaknya jika ada Revan, Dimas tidak terlalu merasa kebingungan, dia punya sosok yang bisa dia jadikan teman dan pegangan untuk berjalan bersama menyelamatkan Risa. “Udah jalan – jalannya ?” tanya Revan, saat Risa sudah kembali masuk ke ruangannya. “Udah, om pulang yu” ujar Risa, yang langsung diangguki oleh Dimas. Kemudian mereka langsung berpamitan kepada Revan, karena mereka harus segera pulang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD