#R – Imajinasi Yang Menyakitkan

1651 Words
Risa terbangun dalam sebuah ruangan bernuansa putih, matanya mencoba menelisik dimana dia berada karena dia sadar jika saat itu bukan berada dikamarnya. Helaan nafas terdengar dari mulut Risa saat dia sadar jika saat itu dia sedang berada dirumah sakit. Disampingnya, duduk seorang perempuan cantik yang sedang tersenyum menatap kearahnya, dialah Zahra sosok perempuan baik berstatus istri pamannya. Mengapa bisa Risa mengatakan dia perempuan baik ? karena menurut Risa setiap perempuan yang sudah menutupi tubuhnya dengan hijab dialah perempuan baik, seburuk apapun sikapnya, tapi dia masih menjalankan kewajibannya sebagai perempuan tidak seperti dirinya. “Sayang, kamu sudah bangun, apa yang kamu rasain ? bagian mana yang sakit ? Tante panggilin Dokter ya”  Risa menggelengkan kepalanya dengan pelan, meskipun saat itu Risa merasakan hampir seluruh tubuhnya terasa sakit, tapi Risa sedang tidak ingin bertemu dengan Dokter. Karena menurut Risa, Dokter selalu banyak bertanya, dan Risa sangat malas menjawab pertanyaannya yang pasti seputas keadaannya. “Yaudah, kalau gitu gimana kalau kamu makan dulu” Zahra menawarkan makanan kepada Risa, karena dia sudah pingsan sejak tadi pagi dan baru tersadar hampir memasuki jam dua siang, Zahra pikir Risa pasti akan merasa kelaparan. Namun, lagi – lagi Risa kembali menggelengkan kepalanya dengan pelan, melihat hal itu, Zahra mengelus kepala Risa dengan penuh kasih sayang, dia tahu pasti hati Risa merasa terluka, dengan semua hal yang dialaminya pasti akan membuat jiwa Risa terguncang, hingga membuat gadis itu kehilangan nafsu makan. “Mamah mana Tan ? Papah mana ?” tanya Risa, sambil menatap Zahra tepat dibagian matanya. “Mereka masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sayang, tapi nanti saat pekerjaan mereka selesai mereka pasti akan datang menjenguk kamu” jawab Zahra, sambil membawa tangan Risa ke dalam genggaman tangannya. Saat itu, Risa tahu jika jawaban Zahra hanyalah sebuah alasan yang tentu Zahra katakan karena tidak ingin membuat hati Risa terluka. Karena tanpa bertanya sekalipun, Risa tahu dimana dan apa yang sedang kedua orang tuanya lakukan, mereka pasti sedang sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan. Karena, nyatanya dia memang ada tanpa pernah diinginkan, jadi jika sekarat sekalipun Risa yakin orang tuanya tidak ada yang mau peduli, karena bagi mereka Risa hanyalah sampah yang mengotori hidup mereka. “Aku mau pulang Tan, di sini bosen” ujar Risa, sambil mengalihkan tatapannya dari mata Zahra, berusaha menyembunyikan kepedihan yang sedang dia rasakan.   “Tidak sayang, kamu masih sakit” jawab Zahra, sambil mebelai kepala Risa dengan penuh kasih sayang, berharap dengan kelembutan Risa bisa luluh dan mengikuti saran Dokter untuk dirawat selama beberapa hari ke dapan. “Aku mohon Tante, aku mau pulang tolong jangan paksa aku” jawab Risa, sambil kembali menoleh dan menatap Zahra masih dengan ekpresi datar, membuat Zahra sulit menebak bagaimana saat itu keadaan suasana hati Risa yang sebenarnya. “Baiklah, Tante akan coba bicarakan sama Om Dimas dulu, ya” ujar Zahra, sambil bangkit dan mengelus kepala Risa sebelum dia benar – benar pergi menemui Dimas yang sedang menunggu diluar. Seperti itulah dia, sosok Zahra Aisyah istri dari paman Risa yang bernama Dimas Rianto. Dia merupakan sosok penyayang yang penuh dengan kelembutan. *** Setelah terjadi perdebatan antara Risa yang ingin tetap pulang, dan Dimas yang tetap memaksa Risa untuk dirawat minimal satu hari, akhirnya Dimas mengalah dengan membiarkan Risa pulang. Karena, Risa dengan segala kecerdasannya tahu jika kelemahan paman tercintanya yaitu tidak bisa melihat dia menangis, jadi dia menggunakan tangisannya untuk membujuk Dimas agar membawanya pulang, dan ternyata rencananya itu berhasil. Jadwal yang seharusnya Risa dirawat minimal satu minggu berubah menjadi kurang dari satu hari, dan semua itu karena ulah keras kepalanya Risa,  “Hari ini kamu nginep dirumah Om aja ya” ujar Dimas, sambil fokus ke jalanan karena saat itu mereka sedang berada diperjalanan menuju pulang. “Enggak, ke rumah aja, nanti Mamah sama Papah cariin aku lagi” jawab Risa, sambil menatap kearah luar jendela, menikmati kemacetan jalanan. Mendengar jawaban yang Risa ucapkan, Dimas melirik Risa melalui kaca depan. Dimas tahu dengan pasti, jika jawaban yang Risa katakan hanya sebuah alasan klise yang tidak akan pernah terjadi. “Nanti om bilang sama mereka” jawab Dimas, sambil kembali fokus pada jalanan. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara mereka, Risa lebih memilih diam karena jika sudah seperti itu, dia tahu keputusan Dimas tidak bisa diganggu gugat. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing – masing, Risa yang duduk dikursi penumpang belakang lebih memilih melanjutkan kegiatannya yang sejak tadi menikmati kemacetan kota melalui kaca mobil. Sampai akhirnya, mobil yang Dimas kendarai berhenti didepan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Rumah itu, adalah rumah tempat tinggal Dimas, Zahra, dan ibunya yang tidak lain adalah nenek kandung Risa. “Sayang, apa yang terjadi dengan kamu ?” tanya Nenek Rianty, saat dia melihat keadaan cucu semata wayangnya tidak dalam keadaan baik – baik saja. Risa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, karena dia memang tidak ada niatan sedikitpun untuk menceritakan apa yang sudah terjadi kepadanya. Nenek Rianty, menatap Risa dengan tatapan sedih, kemudian dia membawa tubuh Risa ke dalam dekapannya.  “Aku mau langsung ke kamar aja ya, mau istirahat” ujar Risa, saat Nenek Rianty sudah melepaskan pelukannya.  “Ayo biar Tante antar ya, Sa” “Enggak usah Tan, aku sendiri aja” ujar Risa, sambil tersenyum kecil tapi masih jelas terlihat. Setelah itu, Risa berlalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan tiga orang berbeda generasi yang Risa yakin masih sangat mengkhawatirkan keadaannya. Risa memilih untuk langsung merebahhkan tubuhnya diatas ranjang setelah dia sampai dikamar, karena memang tubuhnya masih merasa sakit dan sedikit lelah juga, jadi Risa ingin tertidur dengan lebih tenang dan nyaman tanpa ada kegaduhan, teriakan pertengkaran yang biasa selalu membangunkan tidurnya jika ada dirumah orang tuanya. Setelah Risa memutuskan untuk beristirahat, tidak ada satupun yang menganggu Risa, mereka berusaha memberikan ruang kepada Risa untuk menyendiri dan beristirahat dengan tenang. Namun, saat jam sudah memasuki waktu makan malam, Zahra memutuskan untuk membawakan makan malam Risa ke kamarnya, karena sejak tadi siang belum ada satupun makanan yang masuk ke dalam perut Risa, karena gadis itu selalu menolaknya. Zahra berusaha mengetuk pintu kamar Risa sedikit lebih keras, karena sejak tadi dia berusaha mengetuk pintu, tapi Risa tidak kunjung membukanya. Namun, sekalipun Zahra sudah mengetuk lebih keras masih tidak ada jawaban dari dalam, dengan sedikit keberanian, Zahra membuka pintu kamar Risa yang ternyata tidak terkunci, dahinya mengerut bingung saat dia mendapati kamar Risa yang gelap gulita, selian itu terdengar suara isak tangis yang membuat Zahra semakin merasa penasaran. Tepat ketikan Zahra menyalakan lampu kamar Risa, saat itulah dia melihat Risa sedang menangis dipojok kamar sambil memeluk lututnya sendiri, dia menatap Zahra dengan tatapan seperti ketakutan, seakan Zahra orang yang akan menyakitinya. Zahra berusaha medekati Risa dengan pelan  - pelan, saat tangannya hendak menyentuh pundak Risa, tiba – tiba Risa menjerit sambil mengatakan ‘jangan pukul aku’,  seakan saat itu Zahra hendak memukulnya. “Risa, kamu kenapa sayang ?” tanya Zahra, khawatir sekaligus bingung dengan keadaan Risa yang menurutnya sedikit aneh. “Jangan, jangan pukul aku, jangaan” Hanya kalimat itu yang terus Risa katakan saat melihat Zahra akan mendekatinya, melihat keadaan Risa tiba – tiba mata Zahra terasa memanas, meskipun dia dan Risa jarang melakukan komunikasi tapi Zahra menyayangi Risa. Dia merasa tidak kuasa melihat keadaan Risa. sampai akhirnya Zahra langsung menarik tubuh Risa ke dalam dekapannya, dia berharap cara itu bisa membuat Risa merasa jauh lebih tenang. Namun, ternyata Risa semakin terlihat kacau, dia terus menjeritkan satu kalimat yang sama yaitu ‘jangan pukul aku’ sambil mendorong tubuh Zahra yang sedang memeluknya. “Tidak sayang, di sini tidak ada yang ingin menyakiti kamu, kami semua di sini sangat menyayangi kamu” ujar Zahra, dengan suaranya yang sudah mulai terdengar bergetar. Air mata Zahra jatuh begitu saja saat dia melihat Risa yang masih terlihat sangat ketakutan. Zahra sedih, takut, dan khawatir melihat keadaan Risa, Zahra bingung dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Risa, karena sejak dia mendapat kabar tentang Risa yang masuk rumah sakit, belum ada penjelasan apapun dari Dimas. Ada apa dengan Risa ? hanya pertanyaan itu yang terus memenuhi kepala Zahra saat dia melihat keadaan Risa yang dia yakin bukan hanya mengalami hal biasa. “Jangan, tubuhku sudah sangat sakit, aku mohon jangan pukul aku, jangan” ujarnya, dengan suara yang terdengar sangat lemah dan lirih, hingga membuat siapapun yang mendengarnya akan sangat merasa tidak tega, lalu setelah itu tiba – tiba tubuh Risa terkulai lemah karena kehilangan kesadarannya. “Apa yang sudah terjadi pada Risa ?” Zahra langsung meneloh saat dia mendengar suara Dimas yang tiba – tiba ada didekatanya, Zahra tidak tahu kapan Dimas datang, karena dia terlalu panik melihat keadaan Risa ditambah tubuhnya yang tiba – tiba pingsan. “Ada apa ? kenapa Risa bisa seperti ini ?” tanya Dimas, untuk yang kedua kalinya, karena Zahra belum memberikan jawaban atas pertanyaan pertamanya. “Aku tidak tahu Mas, tadi aku menemukan Risa sedang menangis sambil memeluk lututnya dipojok kamar dengan keadaan kamar yang gelap dan berantakan seperti ini” jelas Zahra, dengan air mata yang sudah membanjiri kedua belah pipinya. Kemudian, Dimas langsung mengangkat tubuh Risa yang saat itu masih barbaring dilantai dengan kepala berada dipangkuan istrinya. Dari arah pintu, Nenek Rianty baru datang, perempuan berusia senja itu terlihat kebingungan sekaligus khawatir tantang apa yang terjadi pada cucunya. “Tolong panggilkan Dokter, Ra” ujar Dimas, setelah dia membaringkan Risa diatas ranjang. Mendengar permintaan Dimas, Zahra langsung melaksanakannya tanpa harus disuruh dua kali. Selama menunggu Dokter, Dimas, Zahra, dan Nenek Rianty tidak ada yang meninggalkan Risa. Karena mereka berharap Risa bisa bangun. Namun, sampai Dokter datangpun Risa masih belum kunjung membuka mata, gadis itu masih terlihat betah dalam tidurnya. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan, awalnya hanya mengatakan jika Risa mengalami kelelahan, tapi karena merasa janggal dengan sikap Risa sebelum pingsan akhirnya Dimas  menceritakannya. Ternyata, Dokter justru menyarankan agar Risa dibawa ke psikeater, hal itu tentu membuat Dimas, Zahra, Nenek Rianty kaget, karena meraka tidak menyangka jika perlakuan orang tua Risa berimbas juga pada mentalnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD