20.

920 Words
"Apa harus pakai pakai pakaian seperti ini?" Pukul 9 malam sebuah mobil datang menjemput Mika beserta dua orang gadis lain menuju club' dimana mereka akan dipekerjakan dan kini gadis itu menampilkan wajah penuh keberatan saat sebuah gaun mini mirip lingerie disodorkan kepadanya. Mika biasa memakai pakai seperti itu jika main ke club' tapi saat ini situasinya berbeda, dia datang untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang dan entah kenapa, melihat pakaian seperti itu membuat Mika sangat tidak nyaman, risih. "Mau uang? Mau kerja,kan?" pria gempal dengan kaos hitam ketat itu membentak Mika, "Kalau tidak mau pakai ini ya sudah! Pergi sana! Kami bisa cari orang lain untuk dipekerjakan." tangan pria itu terangkat, mengusir Mikaila. "Maaf, maksud saya bukan begitu." Mika buru-buru meralat kata-kata, "Maksudnya kami ini bertugas sebagai pengantar minuman biasanya pengantar minuman pakai pakaian seperti..." "Kau pikir ini restaurant?! Ini club' malam, Nona!" pria besar itu mendekat kearah Mika, menundukkan wajahnya dan menatap Mika dengan gerakan keras, siap meremukkan tubuh kecil gadis itu, "Dan tamu yang akan kau layani adalah tamu-tamu VVIP yang bahkan bisa membeli apapun yang mereka mau, termasuk jalang sepertimu." Dulu Mungkin Mika sudah mengamuk dan mencakar-cakar wajah club' guard yang songong tanpa takut karena dia punya uang dan kuasa namun situasinya saat ini berbeda hingga dia hanya bisa menunjukkan kepala, pasrah. Mika butuh uang untuk bertahan hidup! "Baiklah saya akan memakainya." Mika meraih gaun seksi itu, masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya sekaligus membubuhkan make up di wajahnya. Ketiga gadis seksi bersepatu hak tinggi itu lantas digiring ke lantai atas, memasuki sebuah ruangan VIP di lantai atas. Mika menelan ludahnya serat, menatap beberapa orang pria duduk diatas sofa dengan suguhan minuman beralkohol yang sedang asyik menyaksikan penampilan pole dance yang hampir tidak mengenakan sehelai benangpun kecuali untuk menutupi area intimnya bahkan tidak hanya satu atau dua orang pria akhir usia 50 tahunan melakukan hubungan intim dengan lacur club' tanpa malu. Mika tahu dia bandel dan nakal tapi dia tidak pernah berpikir dia akan terjebak disituasi seperti ini. "Apakah mereka gadis-gadis yang kau janjikan?" seorang pria teramat tampan datang diikuti dengan tawanya yang mengalun merdu. "Ya, seperti permintaan anda." sang club' guard mengambil satu langkah mundur, memberikan pemandangan menggiurkan tiga orang gadis ranum didepannya. Dan pria tampan dengan kulit bak porselen itu, mengamati ketiga gadis itu dengan tatapan tajam, penuh penilaian sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Mika. "Saya rasa ini yang paling cantik." sudut bibirnya naik, menatap Mika dari ujung kaki hingga ujung kepala sembari tersenyum mengerikan, "Saya mau gadis ini." ucap pria itu sebelum duduk disalah satu sofa yang mana terdapat seorang pria sedang mencumbu Jalangnya. "Kau punya telinga, kan? Cepat layani tuanmu!" Mika lantas didorong hingga tubuhnya hampir jatuh tersungkur. "Hei kau! Kemarilah, layani saya!" ucap pria itu sembari mengelus bagian bawah tubuhnya. "Maaf Tuan, saya datang kesini hanya sebagai pengantar minuman." Ucap Mika berani. "Mengantar minuman dengan pakaian mirip lingerie?" tawa itu mengalun keras, pria itu lantas menunduk, mendekat kearah wajah Mika, "Kau tahu bedanya seragam pelayan dengan pakaian p*****r, kan?" pria itu lantas mencengkram wajah Mika, memaksanya untuk mendongak, menatap manicnya yang tajam. "Pilihanmu hanya ada dua, Nona. Puaskan saya atau kau menjadi pemuas pria-pria tua bangka itu." pria tampan itu menolehkan kepalanya, menunjuk kearah pria-pria tua dengan perut gendut dan wajah mengerikan yang kini menatapnya dengan senyum m***m menjijikkan. "Saya akan melayani anda." suara Mika mengalun keras dan tegas, " Tapi saya akan melayani anda sebagai gadis pengantar minuman tidak lebih sesuai dengan perjanjian diawal." Tidak masalah menemani pria itu minum meskipun menggunakan pakaian menjijikkan seperti ini asalkan pria itu tidak menyentuhnya. "Jangan bercanda, Nona!" tawa keras itu mengalun keras, pria itu lantas menarik tangan Mika hingga tubuhnya jatuh keatas pangkuannya. "Tahukah kau kalau kau dibawa kesini sebagai lacur?" Pria itu lantas berbisik di telinga Mika, "Seseorang telah menjualmu dengan harga tinggi, Nona." Pria itu lantas membawa wajah Mika untuk menatapnya, "Layani saya sekarang juga, JALANG!" sentaknya keras diikuti dengan robeknya lingerie yang dipakai oleh gadis itu. Mika berteriak marah dan ketakutan, gadis itu meronta, menghindari sentuhan pria asing itu dari tubuhnya. "Diam Jalang!" teriaknya marah, membanting tubuh Mika ke sofa, mencekik leher gadis itu sembari menjambak surainya. "Aku bukan p*****r! Aku tidak pernah jual diri! CUIH!" Semburan ludah itu meluncur tepat di wajah si pria asing. "Kurang ajar kau!" Plak! Wajah Mika terpental dengan bayang meraih tercipta di kulit pipinya. "Kau hanya lacur murahan tapi kenapa kau sok jual mahal, hah?!" sentaknya kasar sembari mencekik leher Mika, membuat gadis itu berteriak parau, berusaha melepaskan tangan besar itu dari lehernya ditengah nafasnya yang mulai menipis. "Argh!" Dan teriakan keras mengalun dari bibir pria itu diikuti dengan lepasnya cekikikannya di leher sang gadis. Pria itu memegang mata kirinya yang tadi di colok oleh jari kecil Mika. Dan kesempatan itu digunakan Mika untuk bangkit dan kabur. "b******k, kau harus Mati!" teriakan. itu keras, berusaha mengejar Mika sembari mendorong siapapun yang menghalangi langkahnya sedangkan Mika, gadis itu menangis tanpa bisa dicegah, berusaha kabur meskipun banyak mata menatapnya dengan pandangan mengolok-olok. "Pintu!" ruangan itu sangat besar dan Mika bersyukur bisa menemukan pintu keluar dan tak ada satupun guard club' disana. Tangannya dengan cepat meraih handle pintu dan tubuhnya langsung terjungkal saat pintu itu terbuka dan menabrak seseorang yang kebetulan melintas di depan ruangan itu. "Eh?!" Pria itu tentunya kaget, beruntungnya dia menangkap sosok itu dengan cepat hingga tubuhnya tidak membentur lantai. "Nona?" Dia membawa tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu bersandar didada bidangnya dan dalam satu detik, manicnya melotot lebar saat tahu siapa gadis dengan pakaian rusak dan wajah penuh luka itu. "Mika?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD