21.

837 Words
"Aku menemukan Mikaila dalam kondisi yang buruk dan sekarang dia berada di rumah sakit. Bisakah kau datang kemari sekarang?" Itu adalah pesan suara yang diterima oleh Damian beberapa saat yang lalu dan kini sosok paruh baya itu datang ke rumah sakit untuk kedua kalinya dengan air mata mengalir di pipi. "Devano, dimana Mika?" Luna mencengkram erat tangan Teman putranya itu dengan wajah panik dan takutnya. "Dia ada di dalam aunty. Dia tidur setelah diberikan obat oleh dokter." ucap Devano sembari membukakan pintu bagi paruh baya itu dan mempersilahkannya untuk masuk kedalam. "Dimana kau menemukannya?" Suara Damian mengalun begitu pintu ruangan tertutup. "Club' Axelo." "CK!" decakan dan tawa sinis terbit dibibir Damian, "Kupikir dia berubah menjadi lebih baik setelah tahu semuanya tapi ternyata kelakuannya tidak berubah." "Tapi menurutku tebakanmu kali ini salah." ucapan Devano membuat sudut alis Damian terangkat. "Sebaiknya kau cari tahu kegiatan yang terjadi di ruang VIP club' itu sebelum menuduh adikmu yang tidak-tidak." ucap Devano sembari menepuk pundak temannya itu, "Aku pergi, aku ada urusan." ucapnya sebelum pergi meninggalkan Damian tepat di depan ruang rawat Mika. Pria satu itu lantas mengambil ponselnya, menghubungi orang kepercayaannya. "Cari tahu kemana Mika satu minggu terakhir dan apa yang terjadi padanya di Club' Axelo. Saya mau laporanmu secepatnya." Damian menutup teleponnya kemudian membuka ruang rawat itu dengan intip sebentar. Disana dan untuk kedua kalinya sang ibu menangis untuk orang yang sama, menggenggam tangannya erat sembari menciumi buku-buku jarinya sembari meminta maaf. "Maafkan Bunda, Sayang. Bukan maksud Bunda marah padamu. Bunda seperti ini karena Bunda kecewa." Isak tangis itu keras, "Bunda sayang padamu dan sampai kapanpun kau adalah anak Bunda..." Damian menutup pintu dan memilih menunggu di luar untuk memberikan privasi kepada sang ibu dengan gadis yang beliau anggap anak bungsunya itu. Damian hampir memejamkan mata saat ponsel dalam satunya berdering nyaring dan nama orang suruhannya terpampang di layar. "Saya sudah dapatkan apa yang anda minta, Tuan. Saya akan mengirimkan lokasinya." Sambungan telepon tertutup dan sebuah pesan lokasi masuk. Sebelum pergi, Damian menyempatkan diri untuk melihat sang ibu, pria itu masuk ke dalam ruangan dan memindah tubuh sang ibu yang semula tertidur dalam duduknya sembari menggenggam tangan Mika erat ke sofa empuk yang ada di ruangan itu. "Damian pergi sebentar, Bunda." satu kecupan diatas dahi diberikan sebelum Damian pergi. *** Gang itu begitu sempit dan kumuh, Damian bahkan berulang kali menghindari genangan air yang ada didepannya sembari menutup hidungnya rapat-rapat karena bau busuk yang menyengat. "Anda sudah datang, Tuan." dan orang suruhannya itu langsung menyambut kedatangan Damian dengan wajah datarnya namun pria itu tidak mendapatkan atensi dari sang tuan karena Damian kini lebih tertarik dengan bangunan lantai dua yang ada di depannya. "Nona Mika selama ini menempati salah satu kamar kost ini." pernyataan orang itu membuat alis Damian naik dan tawa hampir meledak di bibirnya, "Kau pikir saya percaya dengan ucapan konyolmu? Saya tahu Mika dengan baik..." Namun pria itu justru tak merespon tawa Damian, pria itu malah membuka salah satu pintu di lantai 1 kemudian menunjukkannya pada sang tuan. "Ini adalah kamarnya, masih ada barang-barang Nona Mika didalam." Damian masuk dan manic tajam pria itu mengamati ruangan kecil tanpa fasilitas itu dengan bibir menipis. "Hebat juga dia mau bertahan di tempat seperti ini. Kupikir dia hanya bisa habiskan uang." "Dan kejadian di Axelo, Nona sengaja dijual." ucapan itu membuat Damian langsung menolehkan kepalanya. "Apa?" Dan anak buah Damian membuka pintu rumah induk kost itu dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang duduk diatas sofa dijaga oleh tiga orang berbadan besar. "Mau kalian apa, hah?" suara itu mengalun keras, marah, "Saya tidak ada urusan sama kalian! Saya tidak kenal kalian semua! Pergi dari sini atau saya telepon polisi!" Damian mendekat dan menatap paruh baya itu, menantang. "Anda mau lapor? Silahkan." Damian mengulurkan ponselnya pada wanita itu untuk dipakai. "Sialan! Kamu mengejek saya?!" bentaknya keras, tangannya terangkat, siap mencakar wajah Damian beruntungnya bodyguard dengan cepat menangkap gerak tangan wanita itu. "Wanita ini mengaku mendapatkan uang sepuluh juta dari seseorang." suara anak buah Damian mengalun, "Dengan syarat, dia harus memancing Mika untuk mau datang ke Axelo." "Siapa yang menyuruh anda melakukan itu?" Damian mengerutkan alisnya, menatap si pemilik kost tajam. "Saya tidak tahu! Saya tidak kenal! Dia tiba-tiba datang dan memberi saya uang." ucapnya jujur sembari memasang wajah angkuh, menutupi rasa takutnya. "Bagaimana rupa orang itu?" "Orangnya tampan mirip orang luar negeri, tingginya sekitar 180 cm, dia pakai mobil mewah warna putih." "Berapa nomor platnya?" "Kalau tidak salah B XxX Z." wanita itu mengerutkan alisnya, mencoba mengingat. "Baiklah." Damian lantas berdiri dan bersiap pergi dari tempat kumuh itu, "Lepaskan wanita itu, dia sudah tidak kita butuhkan lagi." "Baik Tuan." Damian pergi diikuti anak buahnya, "Apakah anda tidak berniat mencari orang itu?" "Tidak." gelengnya pelan, "Percuma kita menelusuri jejak mobil itu karena pada dasarnya plat mobil yang dipakai orang itu pastinya adalah plat nomor palsu." Damian tidak punya clue mengenai siapa yang melakukan hal ini pada Mika karena setahunya dia ataupun sang ayah tak punya musuh. Kalau dibilang orang iseng juga tak mungkin orang iseng mau mengeluarkan uang sepuluh juta cuma-cuma. 'Tapi siapa?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD