22.

1001 Words
"Kamu sudah sadar, sayang?" Luna yang yang semalaman menjaga Mika segera bangkit dari duduknya, menekan tombol disamping ranjang untuk memanggil sang dokter saat sang putri mulai membuka matanya perlahan. "Mana yang sakit, sayang. Coba katakan pada Bunda." Luna menggenggam tangan Sang Putri menatapnya dengan mata punuh air mata. "Maaf..."suara Mika begitu pelan akibat tenggorokannya yang kering, Gadis itu berusaha menarik tangannya dari cengkraman Luna namun wanita paruh baya itu tidak mau melepasnya. "Jangan takut pada Bunda. Jangan marah pada Bunda. Bunda minta maaf atas segala sikap kasar Bunda padamu, sayang." Mika menundukkan wajahnya, menciumi buku-buku jari gadis itu dengan sayang, "Bunda tidak pernah marah padamu. Bunda hanya kecewa pada keadaan yang terjadi. Kamu tidak salah." "Maafkan Bunda. Maafkan Bunda, Sayang." "Mika sudah memaafkan, anda Nyonya Bayu." suara Mika lirih namun masih bisa didengar. "Bagaimana mungkin kamu memanggil ibumu sendiri dengan sebutan Nyonya?" Luna menatap Mika kecewa, "Kalau kamu marah sama Bunda bilang saja jangan seperti ini, Mika." Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Alex dan sang dokter datang bersamaan. "Mas, bagaimana mungkin putri kita memanggilku nyonya." adunya dengan tangis terus mengalir. "Kita bicarakan ini nanti, biarkan Mika diperiksa oleh dokter terlebih dahulu." Alex membawa istrinya untuk mundur beberapa langkah ke belakang, memberi ruang pada sang dokter untuk memeriksa Mika. Pasien dinyatakan mengalami cedera ringan dan bisa pulang hari itu juga. Dan kini, Mika yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang normal menundukkan kepalanya, sopan pada Alex dan juga Luna. "Terima kasih telah menolong saya, maaf saya masih belum bisa membalas budi anda berdua." Senyum Mika terpatri tipis, "Kalau begitu saya permisi." "Mika, kamu mau kemana, Nak?" Luna bersuara, "Tempatmu adalah rumah kami. Kami adalah rumahmu." "Saya bukan bagian dari keluarga Bayu, saya tidak pantas berada disana." "Kamu putri kami, kami yang merawatmu sejak bayi. Bagaimana mungkin kamu bilang kalau kamu bukan bagian dari keluarga Bayu?" "Maaf, saya permisi." Mika tidak mau membalas ucapan sang ibu karena wanita itu bisa membuatnya goyah dan berubah pikiran. Mika membalikkan tubuhnya, hendak pergi dari hadapan kedua paruh baya itu saat suara Alex mengalun, "Apakah kau tidak mau tahu bagaimana rupa ibumu?" Pada akhirnya Mikaila kembali memasuki rumah keluarga Bayu, gadis itu duduk di sofa ruang kerja pemilik rumah itu bersama sang ibu yang terus menggenggam tangannya erat, seolah tidak mau melepasnya. Kedua wanita itu menatap sang kepala keluarga, menunggu pria itu membuka berkas yang selama ini dia simpan di brangkas. "Ini adalah semua dokumen mengenai ibumu." Alex mengulurkan sebuah dokumen yang cukup usang karena terlalu lama disimpan dan Mika menerima file itu dengan tangannya yang bergetar, "Saya sengaja menyimpan semua dokumen itu karena suatu saat kamu berhak tahu siapa dirimu dan apa yang sebenarnya terjadi." "Ibumu meninggal saat proses melahirkanmu, beliau tidak sempat melihat rupa putri kecilnya dan bahkan belum sempat memberikan nama untukmu." Wulandari Ningsih, lahir di Solo 12 Januari 1975 meninggalkan di Jakarta tanggal 22 Oktober 2002 pukul 23.50 saat melahirkan putrinya. Wulandari Ningsih, yatim piatu tanpa saudara satupun dan suaminya meninggal 5 bulan setelah pernikahan mereka. Dan keterangan lain hanyalah mengenai sekolah yang pernah di tempuh oleh Ibu kandung Mika. Berkas itu tak banyak dan jemarinya bergetar hebat saat potret usang wanita Wulandari Ningsih didepan matanya. "Ini ibuku?" wajah Mika terangkat, menatap wajah Alex dengan mata berlinang air mata. "Ya. Itu adalah ibumu." ucap Alex tegas hingga membuat Mika kembali menundukkan kepalanya. Wajah Mika adalah bayang muda dari sosok Wulandari Ningsih , mata kelamnya, hidung kecilnya bahkan bibirnya. Isak tangis itu secara perlahan. mengalir di pipi, menyebut nama sang ibu dengan rasa sakit yang teramat sangat. "Ibu..." Tangan Luna dengan cepat membawa Mika dalam dekapan hangatnya, membelai punggung rapuh itu untuk memberinya kekuatan. "Kamu tahu yang namanya takdir?" Alex merendah tubuhnya di depan Mika, menghapus lelehan air matanya. "Kamu datang disaat ayah dan Bundamu sedang rapuh. Kamu datang membawa kebahagiaan untuk kami. Dan kami ada untuk melindungimu, kamu adalah bagian dari keluarga kami." ucap Alex dengan seulas senyum tipisnya. "Maukah kamu melihat rumah ibu kandungmu saat ini?" tawaran Alex langsung diangguki oleh Mika. "Ya. Aku ingin melihat rumah ibuku." Dan mereka bertiga bertolak ke Solo untuk melihat rumah dari Wulandari Ningsih, ibu kandung Mika. Gadis itu bersimpuh di makam sang ibu, menangis keras sembari memeluk nisannya sembari meminta maaf karena baru datang setelah sekian lama untuk menjenguk ibunya. Sebelum pergi, Mika memanjatkan doa kepada sang kuasa, meminta sang ibu diberikan tempat terindah disisinya. Mereka kembali ke Jakarta malam itu juga karena Alex ada pekerjaan keesokan harinya dan tak mungkin meninggalkan Luna dan Mika di Solo sendirian. Sepanjang perjalanan ke Jakarta, Mika sudah memikirkan semuanya dengan matang, dia mengambil keputusan karena memang sudah saatnya dia mandiri dan tak merepotkan orang lain meskipun mereka sudah menganggap Mikaila anak mereka sendiri. Dan Mika langsung menemui Tuan Nyonya pemilik rumah besar itu saat mereka sedang menikmati pemandangan sore dihalaman samping rumah. "Kenapa kamu bawa ransel?" Luna yang semula mengangkat gelas tehnya langsung meletakkan cangkir itu kembali keatas meja. "Saya memutuskan untuk belajar hidup mandiri." suara Mika tegas. "Belajar hidup mandiri? Baiklah kalau begitu, kamu bisa menempati apartement yang tak jauh dari kampusmu." "Saya hidup mandiri tanpa ada fasilitas apapun dari anda. Saya ingin hidup sebagai Mikaila." "Bagaimana bisa begitu, Mika..." "Namamu adalah Mikaila Az-Zahra Bayu dan selamanya akan seperti itu. Dan siapapun yang menyandang nama Bayu, berhak untuk mendapatkan fasilitas yang sepantasnya." ucap Alex tegas. "Taun Alex, saya sangat berterima kasih karena anda telah memberi kado terindah untuk saya dengan memberi nama secantik itu pada saya." Mika menarik nafas panjang, "Tapi saya sadar dan saya harus tahu diri. Maka dari itu saya meminta ijin untuk hidup mandiri. Saya tidak akan kabur kemana-mana, Anda bisa mencari saya..." "Mencarimu di gang sempit dengan bau lingkungannya seperti sampah?" Alex mendesah berat, "Saya tidak setuju Mika." "Tapi Tuan..." "Status saya masih ayahmu, Mika. Tidak ada satupun yang boleh menentang perintah saya, termasuk kamu." Dan saat itulah Luna melihat bayang si sulung yang baru pulang dan menghilang di balik tembok lantai dua, wanita itu menatap Mika cukup lama sebelum akhirnya sebuah kata keluar dari bibirnya. "Mikaila, maukah kamu menikah dengan Damian?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD