"Menikah?"
"Ya." angguk Luna semangat, "Menikah dengan Damian." wajah wanita itu melembut, "Kamu maukan menikah dengan Damian?"
'Demi Tuhan, lebih baik jadi gelandangan daripada menikah dengan Damian!'
'Lagipula, mana mungkin Damian mau!' tawa Mika hampir meledak mendengar ucapan sang ibu.
Mika dan Damian itu seperti anjing dan kucing, tidak akan pernah akur.
Menikahkan mereka berdua sama dengan membuka lahan perang secara terbuka bagi mereka.
"Maaf Nyonya..." Mika menarik nafas, "Saya tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Tuan Muda, saya tidak pantas. Lagipula kami berdua tumbuh bersama sebagai saudara bahkan kami juga menganggap kami ini saudara, akan sangat aneh jika kami tiba-tiba menikah."
"Tapikan faktanya kalian bukan saudara." ucap Luna memberi sanggahan.
"Anda membesarkan saya sejak bayi, sejak saya baru lahir, tidak mungkinkan saya tidak minum ASI anda?"
Apapun akan Mika katakan agar wanita paruh baya itu berubah pikiran.
Secara agamapun tidak boleh menikah antar saudara sepersusuan, kan?
Namun firasat Mika terasa tidak enak karena sang ibu angkat justru tersenyum atas perkataan Mika.
"Tahukah kamu yang namanya takdir?"
"Maksudnya?" Mika mengerut bingung.
"Tuhan seperti punya cara sendiri untuk menyatukan Kamu dan Damian." ucap Luna dengan senyum lebar.
"Kamu tidak pernah menyentuh air s**u Bundamu ini, bahkan setetes sekalipun?"
Dan sekarang justru Mikaila yang tergagap, bibirnya tak mampu berucap apapun.
"Mana mungkin, saat itu saya masih bayi, baru lahir dan kejadiannya sudah 20 tahun yang lalu. Anda mungkin lupa..."
"Kamu meragukan ucapan ibumu?" Luna tersenyum, meraih tangan Mika dan menggenggamnya erat, "Saat itu kamu masih merah saat ayahmu membawamu ke ruang rawat ibu. Saat itu kamu masih sangat kecil dalam gendongan ayahmu, melihat wajah cantikmu membuat ibu juga ingin menimangmu dalam buaian ibu, menyayangimu, mendekapmu bahkan memberikn ASI yang seharusnya kamu dapatkan." Luna terdiam sesaat sembari menarik nafas panjang.
"Namun sayang kamu justru tidak mau Bunda sentuh. Kamu menangis keras seolah bunda adalah penjahat. Jangankan minum ASI bunda, disentuh Bunda saja kamu sudah menangis." ucap Luna mengenang kejadian dua puluh tahun lalu dengan singkat.
"Saat itu Bunda berpikir kamu benci pada Bunda hingga membuat Bunda sempat stress dan menangis selama beberapa waktu karena merasa tidak kamu terima. Bunda hampir baby blues tapi beruntung ada Ayahmu yang terus menenangkan Bunda." Luna lantas menatap sang suami dengan wajah sendunya.
"Namun sekarang Bunda mengerti kenapa." senyum dibibir Luna terbit dengan lebarnya, "Mungkin Tuhan sudah merencanakan garis hidup untukmu dan untuk Damian." Tangan Luna memegang wajah Mika, mengelusnya, "Kalian bukan saudara dan selamanya akan seperti itu namun kalian ditakdirkan untuk hidup sebagai sepasang suami istri. Garis hidup kalian sudah ditentukan sejak kalian masih sangat merah."
Ucapan yang keluar dari bibir sang ibu membuat kepala Mika langsung berputar.
"Bunda..." suara itu tertahan di tenggorokan saat Luna tiba-tiba meraih tangannya untuk berdiri.
"Kita bicarakan hal ini dengan Damian. Dia pasti setuju dengan pendapat Bunda."
Langkah Mika linglung saat Luna membawanya keluar dari ruang kerja sang ayah dan kini dia sudah duduk di meja makan bersama dengan seluruh anggota keluarga.
"Kenapa tidak makan? Lauknya tidak cocok untukmu?" pertanyaan Sang Ibu membuat Mika yang sedari tadi bengong dengan kedua tangan memegang pisau akhirnya bersuara.
"E?" gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Ini enak kok." ucap gadis itu dengan seulas senyum bingung.
"Ya sudah makan yang banyak karena Bunda tahu kamu sering makan tidak layak." senyum Luna lebar, wanita itu lantas menolehkan wajahnya kearah Damian.
"Damian, bagaimana pekerjaanmu? Apakah kamu bisa menghandle semuanya dengan baik?" ini adalah pertama kalinya sang ibu menanyakan pekerjaan pada Damian dan pria muda itu sempat menaikkan alisnya heran sebelum menjawab.
"Pekerjaan Damian lancar."
"Kalau urusan pekerjaan lancar bagaimana dengan urusan hati?" pertanyaan Luna membuat Alex berdehem keras.
"Mas..." peringat Luna, "Diam dulu, Ok." Dan Alex langsung tutup mulut, tidak berani menentang sang istri.
"Damian sedang meniti karir dan Damian tidak mau repot mengurusi masalah hati untuk saat ini."
"Padahal putra Bunda tampan sekali tapi kenapa dia biarkan hatinya kosong tak ada yang memiliki." Luna nipiskan bibirnya, menatap Damian kasihan, "Damian, menurutmu Mika bagaimana?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Luna membuat Mika tersedak detik itu juga, gadis yang saat itu sedang minum langsung terbatuk-batuk diikuti dengan wajahnya yang memerah.
"Pelan-pelan, Mika." Sang ibu mengelus punggung sang putri lembut.
"Mika cantik dan menarik." ucap Damian tanpa ekspresi namun ucapan pria itu membuat Mika melotot lebar dengan bibir bergerak tipis, mengancam.
"Bunda juga merasa Mika itu cantik." ucap Luna sembari mengelus surai lembut si cantik yang justru terasa seperti digaruk dengan sisir paku bagi Mika.
"Damian, kamu tahu bukan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita?" pertanyaan Luna mengacu pada posisi Mika yang ternyata bukan anak kandung keluarga itu.
"Ya." angguk Damian tipis.
"Katamu tadi Mika cantik dan menarik. Berhubung kamu belum punya pasangan... bagaimana kalau kamu coba menjalin hubungan dengan Mikaila." ucap Luna dengan mata bersinar cerah dan bibir tersenyum lebar.
"Menjalin hubungan dengan Mika?" Damian mengangkat alisnya, menatap Mika tajam.
"Kalau Bunda memintamu untuk menikah dengan Mikaila, apakah kamu bersedia?" ucapan yang keluar dari bibir Luna membuat Damian meletakkan sendoknya.
"Menurut Bunda, apakah gadis seperti Mika mau menikah dengan Damian?" Damian seolah membalikkan situasi berat ini ke punggung Mikaila dan gadis itu tahu niat busuk pria yang ada didepannya itu.
"Bunda, Kan sudah Mika bilang kalau kami tidak cocok jadi suami istri." tolak Mikaila sembari menekan nada suaranya agar tidak meledak, "Ya, kan?" Mika menatap Damian, memberi kode pada pria itu untuk menolak permintaan penguasa rumah itu.
"Memangnya kenapa? Apakah menurutmu saya kurang menarik?"
'b******k!' makian itu Mika simpan dalam hati, 'Akan kubunuh kau Damian, b*****t!'
"Tuh kan, Damian mau!" ucap Luna dengan nada gembira.
"Sebentar, Mika ingin bicara dengan KAK DAMIAN." gadis itu bangkit dari atas kursi, meraih tangan sang kakak dan membawanya pergi dari ruangan itu.
Mika ingin bicara empat mata dengan si b*****t itu!"
"Lo mau nikah sama gue? Lo tertarik sama gue?" ucap Mika begitu mereka sampai di halaman samping, gadis itu berkacak pinggang, menatap Damian frustasi.
Pertanyaan Mika membuat Damian tertawa.
"Apa yang lucu, hah?!" pertanyaan Mika menggantung karena Damian melangkahkan kakinya tiba-tiba kearah gadis itu hingga membuat manic Mika melotot lebar terlebih lagi saat ini tubuhnya tiba-tiba terkunci diantara tubuh besar Damian dan tembok.
Pria itu menundukkan wajah hingga tatapan keduanya terkunci, "Menurutmu bagaimana, Mikaila?"